
"Apa saja yang dia ketahui?"
…..
"Cari tahu siapa saja yang membantunya"
…..
"Dia mengatakan itu?"
…..
"Maka sekarang adalah saatnya. Lenyap kan bersama penimbunan limbah, setelah kau melihat tranferan sejumlah dana yang kau minta. Pergi lah ke luar negeri untuk beberapa tahun"
…..
"Jangan lupa beritahu siapa saya.. sebelum dia tiada" ucap nya sambil tersenyum menunduk.
Lyra yang sejak tadi berada didepan pintu ruangan kerja hanya terdiam melihat Moeis berdiri menghadap jendela sambil bertelepon dengan seseorang. Percakapan mereka sangat menakutkan, hingga Lyra tidak tau harus bereaksi seperti apa.
Setelah menutup teleponnya, Moeis berbalik dan mendapati Lyra yang sedang melihat ke arahnya. Namun ia hanya berjalan ke meja kerjanya dengan santai sambil meletakkan ponsel dimeja.
Matanya saling bertatapan.
"Jika kamu ingin mendengarkan semuanya, harusnya bukan berdiri disana. Tetapi di samping ku" ucapan Moeis terdengar menantang.
Lyra mengalihkan pandangannya dengan gugup. Ia berjalan masuk membawa sebuah data perusahaan. Sebenarnya ia juga sedang banyak membaca dokumen di kamar, tetapi karena ada yang ingin ia tanyakan, ia pun pergi ke ruang kerja Moeis.
"Bisakah kamu memberitahuku, mengapa ada perbedaan yang cukup signifikan diantara 2 data ini?"
Moeis memperhatikan Lyra yang hanya menggunakan lingerie tipis.
"Karena perbedaan lama waktu pengiriman sangatlah berpengaruh dalam sebuah laporan transaksi. Kamu bisa bandingkan dengan yang ini.. lalu lihat contoh-contoh yang lain...seperti ini"
Moeis menunjukan hal-hal yang masih Lyra tidak ketahui.
Mereka bahkan sudah berbicara selama 15 menit dengan posisi Moeis yang duduk dan Lyra berdiri disampingnya.
Namun saat sedang berbicara, tiba-tiba Moeis meraih pinggang Lyra dan menariknya ke pangkuan. Lyra pun spontan menoleh, wajah mereka kini sangatlah dekat.
"Lanjutkan ucapanmu…" seru Moeis.
Meskipun tidak tau apa yang sedang terjadi, Lyra tidak ingin berkomentar apa-apa dan melanjutkan konsultasi nya.
'Kenapa situasinya seperti ini? aku tidak mengerti sama sekali. Padahal selama ini dia yang selalu meminta untuk berjauhan' Batin Lyra.
Setelah merasa cukup dengan penjelasan yang ia terima, Lyra berusaha untuk berdiri namun tatapan Moeis justru semakin lekat.
"B- bisakah aku berdiri saja? ini tidak nyaman"
"Mengapa kau berpakaian seperti ini ke ruangan ku?"
"Aku sudah memakainya sejak tadi. Memangnya harus berganti pakaian lagi hanya untuk berpindah ruangan?"
Moeis mengangguk.
Pada akhirnya Lyra tetap dalam posisi itu sementara Moeis sedang mengangkat telepon.
'*Apa aku tidak berat ya?'
Tokk..tokkk..
Suara ketukan pintu membuat Lyra menoleh dan terlihat Ellie memasuki ruangan.
Ellie memperlambat jalannya melihat situasi di hadapannya. Apa yang terjadi dengan mereka, mengapa Tuan memangku Nyonya seperti itu? Mereka bahkan tidak memiliki hubungan yang baik. Ellie terus bertanya-tanya didalam hati.
__ADS_1
Ia membungkuk.
"Maaf Tuan, saya harus masuk dan menyampaikan hal penting"
Moeis lalu meminta Lyra untuk kembali ke kamar.
Setelah melihat pintu tertutup. Baru lah mulai Ellie berbicara.
"Tuan, aku sudah menerima begitu banyak ancaman dari Daniel jika kamu tidak mau menghadapi nya" keluhnya.
Selama satu minggu terakhir, Moeis terlibat permasalahan yang serius dengan Daniel dan Carrie.
"Tenang lah, aku pasti akan menghadapi hal itu. Tetapi ini masih begitu berat untukku"
"Aku sudah meminta Carrie untuk melakukannya, tetapi dia tidak ingin. Dia hanya mau bertemu denganmu dulu"
Moeis menarik nafas berat menyandarkan tubuhnya.
"Baiklah, jadwalkan saja penerbangan ke Singapore setelah pengumuman jabatan baru Lyra"
Melihat wajah tertekan Moeis, membuat Ellie begitu khawatir. Padahal ia sudah mengusahakan banyak hal untuk menyelesaikan permasalahan ini.
"Yasudah.. apa kamu lelah? ingin ku buatkan teh hijau?"l
"Bagaimana jika memijat pundakku saja"
Mendengar permintaan tersebut, Ellie langsung berjalan mendekat.
"Apa yang terjadi antara kamu dan nyonya?"
Moeis tersenyum sambil memijat pelipisnya.
///
'kenapa aku harus keluar?'
Ia memasuki kamar hanya untuk menyimpan kembali semua dokumen, setelah itu berganti pakaian untuk pergi.
Lyra mengangkat panggilan masuk.
"Apa kamu baik-baik saja? yakin ingin pergi ke bar?"
Ia pun segera berangkat menggunakan taksi untuk pergi ke salah satu bar di Jakarta.
Terlihat Becca sudah menunggunya didepan.
"Lyraa… wah lihatlah pakaianmu sangat indah malam ini. Apa Moeis tidak keberatan? mungkin kau akan mendapat banyak godaan dengan tampilan seperti ini"
Lyra tertawa sambil merangkul Becca dan masuk bersama.
"Harusnya dia marah kan?"
"Tentu saja haha"
"Jadi apa masalahnya?" tanya Lyra.
"Aku akan bercerita setelah meneguk cocktail.. ini sangat membuat ku frustasi"
Mendengarkan alunan masuk yang sedang diputar membuat mereka berdua menikmati malam dengan pikirannya sendiri-sendiri. Terutama Lyra yang teringat dengan situasinya di rumah itu. Kenyataannya, ia harus menghadapi suami seperti Moeis, padahal sejak dulu ia sudah menginginkan pernikahan yang normal dan bahagia.
Lyra masih menunggu Becca siap untuk bercerita.
"Apa kau sudah mabuk?" tanya Becca dengan suara sumbang.
__ADS_1
"Belum.."
"Ah, kurasa aku sudah. Sekarang aku ingin bercerita"
"Ya…"
"Kau tau? seperti kata orang tua dulu, menjelang pernikahan pasti selalu ada masalah yang membuat kita ragu. Membuat kita berpikir agar tidak menyesalinya. Tetapi, perasaan ku terus bercampur aduk. Aku tidak bisa sejalan dengan Max kali ini. /Kau bisa ceritakan bagaimana pengalamanmu dulu?"
Lyra tersenyum menggoyangkan gelas kecil tersebut.
"Tidak ada yang benar-benar ku rasakan. Itu sudah lama sekali…"
Becca menengok dengan heran.
"Benarkah? tetapi aku dan Max bertengkar pagi ini. Kami saling melemparkan kata-kata kasar dan aku bahkan menampar nya"
"Kalian harus mendinginkan kepala dan mau berdiskusi, perbaiki apa yang kurang. /Kamu tau? itu hanyalah fase sesaat, jika kamu gegabah akan lebih menyesalinya. Nanti saat kalian sudah menikah. Kalian pasti akan berkata, kita mampu menghadapi awan mendung itu. Jadi, jangan terlalu terbawa emosi…."
Becca terus menatap wajah Lyra yang layu. Meskipun hampir mabuk, ia bisa merasakan kebenaran itu dari ucapan Lyra.
"Hhhhfft.. kamu benar. Aku pasti orang yang memulai permasalahan itu. Ku harap Max bisa mengerti .."
Lyra mengangguk dan terus meneguk minumannya.
"Haruskah kita mabuk berat saja malam ini? tidak masalah jika berakhir di jalanan atau ditempat tidur lelaki yang tidak kita kenali? bagaimana??"
Becca tertawa menepuk pipi Lyra.
"Lupakan saja. Kita ini sudah bukan lagi wanita single lagi. Kamu sudah bersuami dan aku hampir bersuami. Cukup sampai pusing saja" ucapnya tertawa.
Lyra ikut tertawa menggelengkan kepalanya. Ia juga tidak percaya dengan apa yang baru saja ia ucapkan.
Sudah pukul 3 menjelang pagi, mereka berdua masih disana berada di kumpulan pria yang sedang bermain kartu. Tertawa dengan bebas dan duduk berdekatan.
Malam ini menjadi malam yang paling menyenangkan bagi Lyra setelah sekian lama. Ia berpikir mungkin akan lebih sering menghabiskan waktu seperti ini saja kedepannya.
///
Tubuhnya sedikit sempoyongan dan kepalanya terasa pusing. Lyra baru saja turun dari taksi tepat didepan gerbang besar rumahnya.
"Byee, Becca.."
Ia mendadahi Becca yang berada didalam taksi untuk melanjutkan perjalanan pulang.
"Ah, kepalaku.. Bagaimana cara membuka gerbang ini?" ia pun memukulkan tas nya ke gerbang dan berteriak.
Pintu gerbang terbuka dan seorang petugas keamanan membantunya untuk masuk kedalam.
Saat sampai di kamar, semuanya gelap ia berjalan dan mengambrukkan tubuhnya di kasur begitu saja. Sepertinya tidak ada Moeis. Ia pun tertidur karena rasa kantuk yang berat.
…..
Setelah memejamkan mata beberapa jam di kursi kerjanya, pukul 7 Moeis berjalan menuju kamar untuk mandi dan bersiap-siap pergi bekerja.
Begitu menyalakan lampu, matanya terus tertuju kepada Lyra yang tertidur dengan pakaian minim. Dress itu sangat membentuk badan dan pendek juga heels yang masih dipakainya. Serta bau alkohol yang kuat begitu ia memasuki kamar.
Ia tidak sedikitpun menganggu Lyra dan melanjutkan apa yang ingin ia lakukan.
Moeis menuruni anak tangga dengan pakaian formal dan tatapan dinginnya. Ia melewatkan sarapan untuk pagi ini dan langsung pergi ke mobil.
"Cari tahu kemana Nyonya pergi semalam.." ucapnya kepada petugas keamanan yang sedang membuka kan pintu mobil.
"Baik, Tuan"
Bersambung...
__ADS_1