Killing Me Softly

Killing Me Softly
11


__ADS_3

Tidak mendengar jawaban apapun dari Moeis cukup membuat Lyra tau apa itu artinya. Sudah jelas, Moeis pasti tidak tertarik. Atau mungkin tidak ingin membuang waktu untuk hal-hal yang tidak penting.


Sementara Moeis sedang mandi. Lyra mengering kan rambut nya menggunakan hairdryer dimeja rias dan melakukan perawatan wajah.


Tidak berselang lama terdengar pintu ruang pakaian terbuka. Lyra hanya berpikir, Moeis sudah selesai dan kini saatnya ia berganti pakaian juga.


Lyra berbalik dan melihat Moeis berpakaian rapi.



"Saya tunggu dimobil.."


Ucapan nya mampu membuat Lyra terjeda. Berkali-kali meyakinkan apa yang didengarnya.


"Maksudmu kita akan pergi? bersama?"


Moeis mengangguk sembari memakai jam tangannya dan langsung berjalan keluar.


Entah apa yang baru saja terjadi. Lyra tetap bergegas berganti pakaian dan memakai make up natural. Kali ini ia hanya berpakaian santai, cardigan berwarna cokelat muda. Menuruni anak tangga dengan membawa kaca mata hitam dan merapikan rambut belakangnya.


Ellie berdiri dibalik jendela besar dengan curtain terawang. Ia sudah melihat Moeis keluar dan meminta kunci mobil Jaguar pada seorang supir, dan kini Lyra berjalan menuju mobil. Ia mulai mencurigai perubahan sikap Moeis kepada Lyra. Semua yang ia lihat nampak mengkhawatirkan.


Lyra berjalan mendekat ke garasi besar di pekarangan samping. Sebuah mobil mewah berwarna hitam dengan mesin menyala dan seorang supir yang melihat kondisi ban dan lainnya.


Ini juga pertama kalinya Lyra melihat garasi terbuka lebar, memperlihatkan jajaran mobil mewah terparkir didalam sana.


"Silahkan, Nyonya" supir tersebut membuka kan pintu untuk Lyra.


"Terima kasih"


Melihat Moeis memegang kendali setir dengan tampilan seperti ini membuat jantung nya berdebar. Moeis juga memakai kacamata hitam sambil mengetest suara mesin mobilnya.

__ADS_1


Ia menoleh sesaat melihat kehadiran Lyra.


"Kita akan kemana? apa kau sudah memiliki tujuan?" tanya Lyra.


"Tidak jauh. Pakai sabuk pengaman mu.."


Mobil telah keluar dari gerbang dan melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Selama perjalanan mereka tidak berbicara apa-apa, sementara Lyra sibuk berkirim pesan dengan Becca. Mereka membicarakan bar yang semalam dikunjungi dan bagaimana mereka terbangun di pagi hari.


Hingga waktu berjalan begitu cepat. Mereka telah sampai didaerah Bogor, dengan pemandangan hijau lapangan pacu kuda yang luas, rumah kayu dan kandang kuda.


Lyra turun dari mobil dengan bahagia, ia tidak percaya akan pergi ke tempat seperti ini. Ia sudah sangat lama menginginkan suasana sejuk.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya. Mari ikut saya"


'Wah ternyata Moeis sudah memesan area ini?' Batin nya. Begitu banyak kuda dengan berbagai jenis disini.


"Ini peralatan anda, Tuan"


Lyra mengangguk.


"Aku bisa.."


"Kalau begitu kita perlihatkan kemampuan masing-masing. Pak, tolong pasangkan untuk Nyonya"


Ia sempat gugup dan menolak, namun akhirnya tidak ada pilihan lagi. Beruntung ia adalah gadis bebas saat di Jerman, semua hal telah ia coba termasuk berkuda. Tetapi mungkin akan sedikit belum terbiasa lagi setelah sekian lama.


Melihat Lyra berkuda, sudah meyakinkan Moeis jika memang Lyra bisa. Mereka hanya berkuda masing-masing dengan beberapa putaran dan kelokan. Moeis dengan kuda berwarna hitam kuat, dan Lyra memilih kuda cokelat muda.


Namun baru 20 menit mereka bermain, langit mendung sudah menghampiri dengan rintikan hujan yang semakin lebat.


Beberapa pawang dan penjaga area berlari membawa payung untuk melindungi Moeis dan Lyra dari hujan.

__ADS_1


Lyra tidak menyangka ada rumah mewah kayu didaerah seperti ini. Seorang bibi memberikan handuk dan membawakan secangkir cokelat panas ke ruang tengah dekat per'apian yang cukup menghangatkan.


Ia terkejut melihat bingkai foto besar di dinding memajang foto Moeis dan keluarganya. Kepalanya menoleh ke seluruh penjuru ruangan.


'Apa yang ku lihat??? Foto Moeis dan mertuaku? apa artinya rumah kayu mewah ini milik mereka??'


Moeis meletakkan ponselnya setelah bertelepon.


"Moeis… kenapa ada fotomu disini?"


"Ini rumah saya"


"Oh..h..m…. begitukah.. Kamu mendapatkan rumah yang bagus didekat area pacu kuda, sangat nyaman" ia mengangguk meniup-niup cangkirnya.


Bibi tersebut kembali menghampiri mereka.


"Tidak hanya rumah ini, Nyonya. Wilayah pacu kuda ini memang milik keluarga. Saya sudah mengurusnya selama 30 tahun. Dan Tuan muda sering mengunjungi saya disini" ucapnya tersenyum ramah.


Mendengar hal tersebut jelas membuat Lyra terkejut bukan main. Yang benar saja, lahan seluas ini dengan kuda-kuda besar. Wah, kekayaan mereka tidak dapat lagi Lyra bayangkan hanya dengan melihat halaman rumah.


"Saya di hubungi polisi wilayah kota, jalan untuk keluar terhalang longsor dan perkiraan hujan lebat hingga tengah malam. Jadi kita akan menginap untuk malam ini"


"Apa? menginap? Aku tidak membawa apa-apa, produk perawatan tubuh bahkan satupun pakaian. Bagaimana bisa aku tidur begitu saja?"


Bibi tersenyum, "Benar, Nyonya. Jalan itu adalah satu-satunya akses dan hujan disini memang awet semalaman. Jika hanya bodycare, saya akan siapkan"


"Tuan, ini laptop anda" seseorang datang membawakan laptop milik Moeis dari dalam mobil.


Lyra mendengus kesal.


"Lihat, kamu bahkan membawa laptop"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2