
Lyra terus menatap Ellie menunggu jawaban dari pertanyaannya. Tetapi tiba-tiba Ellie mengalihkan pandangan.
"Kenapa? kenapa kamu tidak menjawab??" bentak Lyra.
"Apapun itu, aku tetap akan berada dirumah ini. Meski anda tidak suka" singkat Ellie.
"Apa??"
"Anda bisa pergi dari kamar belakang ini, nyonya. Tempat anda bukan disini…" ucapnya mencoba untuk meredam emosi.
Tetapi tidak dengan Lyra. Ia sudah terlanjur tersulut emosi dengan kelancangan Ellie.
"Katakan apa yang kau rencanakan? Kamu benar-benar menyukai Tuan mu sendiri??!!"
Kali ini Ellie bahkan menarik tangan Lyra keluar dari kamar nya.
"Nyonya! Berhenti ikut campur dengan urusan saya. Lagi pula, saya sudah melayani anda dengan baik…" ucap nya lalu menutup pintu.
Lyra tidak habis pikir dengan apa yang baru saja ia dengar. Apa yang sebenarnya terjadi dirumah ini? Apa seorang pelayan baru saja mengisyaratkan bahwa dia menyukai Tuan nya di hadapan nyonya nya?
Berkali-kali Lyra mencoba menghubungi Moeis di kamar nya. Namun tidak ada jawaban.
Malam ini Lyra menahan kesal di dada nya, namun harus tetap membereskan koper tanpa bantuan satupun pelayan. Mulai dari pakaian hingga tiket penerbangan, semua ia siapkan sendiri. Sebenarnya tidak banyak, tetapi tetap saja lebih mudah menggunakan koper untuk mengisi barang yang mungkin ia beli di Bali nanti.
Setelah semuanya beres, Lyra menghela nafasnya sambil menutup koper dan mendorongnya ke dekat pintu kamar. Sementara pakaian Moeis bisa ia siapkan besok pagi saja.
Beberapa kali melihat layar ponsel tetapi belum ada notifikasi dari Moeis.
Meskipun sudah semakin malam, Lyra belum terasa mengantuk. Ia turun kebawah untuk mengambil camilan dan es krim.
Terlihat pelayan Yuan sedang membereskan dapur.
"Nyonya, apa ada yang dapat saya bantu?"
"Tidak. Lanjutkan saja pekerjaan mu. Saya hanya ingin mengambil camilan…" ucapnya beberapa kali menoleh ke belakang.
Untuk saat ini rasanya tidak ingin melihat wajah Ellie.
Setelah selesai, Lyra langsung kembali ke kamar dan menikmatinya di meja dekat jendela, menaikkan kedua kakinya. Melamun ke arah jendela.
Lyra menoleh melihat layar ponselnya menyala. Terdapat pesan balasan dari Moeis.
Moeis: Ada apa? Saya masih sibuk
__ADS_1
Meski begitu Lyra mencoba untuk menghubungi Moeis.
"Kenapa belum pulang? kamu dimana?" tanya Lyra.
"Saya masih di kantor bersama yang lain. Dan, ada yang ingin saya katakan juga"
"Benarkah? apa…?"
Untuk beberapa saat Moeis tidak langsung menjawabnya.
"Besok pagi saya harus terbang ke Kalimantan untuk meninjau proyek bersama investor dan orang penting. Maafkan saya Lyra, tidak bisa menemanimu menghadiri wedding di Bali .."
Seketika kekecewaan dihati Lyra bertambah hampir membuatnya sesak.
"Tapi kamu sudah janji, Moeis. Apa perusahaan mu akan lenyap jika tidak kamu tangani satu hari saja??!"
"Ini adalah step terpenting dari kesibukan saya akhir-akhir ini. Lyra tolong mengertilah.."
"Kenapa tidak ada yang berjalan sesuai dengan keinginanku? Kenapa ada saja yang membuatku kesal hari ini, bahkan kamu"
Terdengar suara Lyra yang gemetar membuat Moeis frustasi.
"Saya akan menyelesaikan nya secepat mungkin. Lalu menyusulmu ke Bali. Jadi tenanglah.. akan tetap saya usahakan.. "
"Bagaimana jika kamu tidak datang??" tanya Lyra dengan tajam.
"Jika kamu tidak datang, apapun yang terjadi. Aku akan memecat Ellie"
"Ini permasalahan kita, mengapa kamu membawa Ellie? Dia tidak tau apapun!"
"Hari ini dia berani bersikap lancang kepadaku. Dia menyimpan cincinmu, tetapi mengatakan bahwa cincin itu tidak ada! Dia mengatakan hal-hal yang membuatku seakan rendah. Dia bahkan, mungkin menyukai mu!!!"
Dari sambungan telepon ini, akhirnya Lyra meluapkan kekesalan. Terdengar desisan suara Moeis dari handphonenya.
"Sudah cukup, tenangkan dirimu..."
"Aku tidak main-main, Moeis…"
"Baiklah… kapan kamu berangkat?"
"Pagi-pagi besok"
"Kirimkan saja alamat kalian, saya usahakan…"
__ADS_1
Mendengar jawaban Moeis seperti itu. Lyra sudah tidak tau ingin berkata apa. Ia tidak ingin marah lebih jauh lagi dan lebih memilih untuk menutup telepon.
Nafasnya terdengar tidak beraturan.
Disisi lain, Moeis sangat frustasi dengan keluhan Lyra. Ia pun langsung menghubungi Ellie.
"Apa yang kau lakukan???"
Ellie terkejut mendengar intonasi tinggi dari Moeis.
"Ada apa? Mengapa anda berteriak?"
"Saya diam untuk membiarkanmu tetap tinggal dirumah. Tetapi kamu yang memulai masalah dengan Lyra. Jadi bersiaplah untuk pergi kali ini.."
Ellie langsung mengerti maksud ucapan Moeis. Lyra pasti sudah mengadu kan nya. Tetapi mengapa Moeis semarah ini?
"Lalu? kenapa anda marah? Sedang membela nyonya?"
"Jangan macam-macam atau kau tau akibatnya! Dengarkan… besok saya ada jadwal penting. Tetapi saya juga harus menyusul Lyra ke Bali. Apa itu mungkin??? Pikirkan!! Dan kamu akan di pecat oleh Lyra jika saya tidak datang.. itu karena ulah mu sendiri!"
"Apa?? Dan anda mengiyakannya? Tuan.. anda yang lebih berkuasa, hanya anda yang berhak mengatur saya. Bukan dia!"
"Tidak ada yang dapat saya lakukan..."
Belum sempat berkata apa-apa lagi, Moeis sudah menutup panggilan tersebut.
Amarah Ellie sangat memuncak kali ini. Ia membanting ponselnya dengan keras hingga hancur di lantai.
///
Tepat pukul 4.30 pagi.
Lyra sudah dalam perjalanan menuju bandara. Penerbangan adalah jam 5.10
Semalam ia sudah membatalkan tiket atas nama Moeis. Suasana hatinya tidak terlalu bagus.
Terdapat pesan masuk dari Moeis.
Moeis: Kamu sudah berangkat?
>Ya.. sudah dekat bandara
Moeis: Baiklah. Jaga dirimu..
__ADS_1
Lyra hanya melihat pesan tersebut dari notifikasi dan enggan untuk menjawabnya.
Bersambung...