Killing Me Softly

Killing Me Softly
24


__ADS_3

"Terima kasih pak"


Setelah turun dari taksi, Lyra dibantu oleh petugas resort untuk menuju ke kamarnya. Kebetulan resort ini telah di pesankan oleh Becca dan mereka semua juga ada disini. Acara nanti pun akan di adakan di disini.


Ia mendapatkan kamar dengan tempat tidur ukuran king size, tentu saja. Mereka mengharapkan kedatangan Moeis. Seseorang yang amat sangat sahabat nya ingin temui.


Lyra hanya sibuk mempersiapkan dress, dan make up nya.


Ponselnya berdering.


"Halo, Kamu sudah sampai ya? Semua baik-baik saja kan?" tanya Becca.


"Iya, aku baru saja sampai Bec"


"Kalau begitu turunlah untuk sarapan bersama"


"Baiklah, aku akan segera turun"


Sebelum memulai acara, mereka masih bisa untuk sarapan bersama dan sekedar saling menyapa memberikan ucapan selamat. Terlebih acara ini hanya di hadiri keluarga besar Becca dan para sahabat.


Melihat dari kejauhan, mereka benar-benar bersama pasangan. Lyra pun berjalan mendekat.


"Hai, Bec…"


"Lyraaa.. aku merindukan mu" ucapnya memeluk Lyra.


"Aku juga. Oh, hai Max. Selamat ya untuk kalian berdua"


Mac menyalami Lyra dengan ramah.


"Helo, thank you.."


"Makasih ya, kamu udah mau dateng. Pokoknya acara ini ga sempurna kalo kamu ga dateng. Hmm lalu dimana suami mu?"


Lyra berusaha untuk tetap tersenyum meskipun masih merasa sedikit kecewa.


"Ya.. dia meminta maaf padamu karena tidak bisa hadir di wedding karena ada pertemuan penting di Kalimantan. Mungkin kalau sempat dia akan menyusul saat kita dinner"


Mendengar hal itu pun, Becca hanya mengangguk. Mereka akhirnya sarapan bersama dimeja besar dan ada yang berada di meja lain.


Lyra duduk bersama Becca, Max. Sahabatnya Kikan dan suaminya nya bernama Rudy. Lalu Olla dan Kelvin, pacarnya.


"Ku dengar Rudy yang memproduseri film Angkasa? wah, itu sukses besar" ucap Olla.


"Ya, aku melakukan bersama team tentunya" jawab Rudy.


"Benar...dan aku juga menonton film itu bersama Max" sahut Becca.


"Aku mengajak Kikan datang ke red carpet penayangan perdana film. Tetapi dia malah memilih spa di salon, benar-benar!"


Mereka tertawa bersama-sama, melanjutkan obrolan yang sangat menyenangkan.


"Kita semua bisa dikatakan hidup dengan baik, masih bisa traveling dan lainnya. Tetapi, Lyra adalah yang terbaik. Pantas saja suamimu sangat sibuk" ucap Olla.

__ADS_1


"Tidak juga, dia memang selalu seperti itu.." jawab Lyra dengan rendah.


Kelvin penasaran, "Suami mu bekerja dimana?"


"Bukan bekerja dimana. Suami Lyra adalah CEO, dia itu penerus tunggal Bara Group. Kamu tau kan?" ucap Olla.


Rudy dan Kelvin terwah-wah tidak menyangka.


"Benarkah? Perusahaan besar itu sangat kuat. Beberapa teman ku bekerja disana dengan jabatan bagus, mengatakan bahwa kantor mereka sangat disiplin dan memiliki standar tinggi. Penghasilan mereka juga sangat terjamin" ucap Rudy.


"Kalau tidak salah namanya Meyers?" tanya Kelvin.


"Meyers adalah nama keluarga kami. Suamiku bernama Moeis Meyers…" jawab Lyra.


"Ah benar. Dia selalu masuk di jajaran atas, pengusaha terkaya dan tersukses di berbagai majalah bisnis. Dan.. sekarang istrinya sedang makan bersama kita..?"


"Yaa.. dia adalah sahabatku" sahut Becca.


Hal Itu juga membuat Lyra tertawa menggelengkan kepalanya. Mereka terlalu melebihi lebih kan sehingga membuatnya malu.


"Aduh, ibu konglomerat ku…" Olla menggeser bangkunya dan merangkul tangan Lyra.


"Tetapi, sayang sekali kita tidak bisa bertemu dia"


Kelvin membenarkan ucapan Rudy.


"Dia akan menyusul, kalian bisa mengobrol nanti malam" jawab Lyra dengan tenang. Meskipun ia juga tidak yakin Moeis benar-benar akan datang.


Pria itu selalu membuatmu kesulitan sendiri. Lihat saja, kali ini pun sama.


…..


Tidak berlama-lama, Lyra menuju tempat pernikahan di outdoor dan bersiap untuk menyaksikan janji suci Becca dan Max.



Sebelumnya ia sudah berfoto dengan gaun cantik yang sedang ia kenakan sekarang dan mengirimkan nya kepada Moeis. Ia berharap Moeis meluangkan waktunya untuk kali ini saja.


"Lyraaa.. duduk disini…" panggil Olla dan Kikan.


Ia pun segara berjalan mendekat.


Suasana Bali pagi ini sangat indah dan segar. Ia menyaksikan Becca yang berjalan sambil merangkul lengan ayahnya.


Lalu diserahkan kepada Max.


Mereka terlihat sangat serasi. Setelah janji terucap, akhirnya Becca dan Max resmi menjadi pasangan suami istri.


Lyra sangat bahagia melihatnya. Andaikan dulu, saat ia menikah Moeis, sudah ada cinta. Pasti sama bahagianya dengan sekarang melihat sahabatnya. Mungkin juga, sahabatnya bisa datang dan menemani nya.


"Selamat Becca dan Max. Kalian akhirnya dipersatukan… aku sangat bahagia"


"Terima kasihh, aku sangat bersyukur kamu hadir"

__ADS_1


///


Pukul 17.11 di Kalimantan.


Moeis masih menemani rekan penting dan dan briefing bersama kepala proyek disebuah apartemen. Ia terus melakukan evaluasi dan arahan kepada mereka. Menerima berbagai data dan juga masukan.


Ia tidak sendiri, melainkan datang bersama Helena. Semuanya nampak lancar tetapi begitu banyak yang harus dikerjakan.


Sebenarnya ia sudah selesai sejak tadi siang, tetapi peninjauan didaerah lain masih harus dilakukan. Semua ia lakukan sekaligus, karena tidak akan ada waktu lagi untuk berkunjung kedepannya.


Moeis melihat ke arah jam tangannya. Lalu kembali menyimak pembicaraan.


Berselang setengah jam, akhirnya semuanya selesai. Moeis segera kembali ke hotelnya bersama Helena.


"Sudah siapkan penerbangan?"


Helena mengikuti langkah Moeis sambil mengecek catatannya.


"Saya memesan beberapa penerbangan. Dan untuk yang tercepat adalah 30 menit lagi. Tetapi, Tuan Zhang Jing baru saja menghubungi saya agar mengatur makan malam dengan anda di hotel ini. Dia akan segera berangkat, Tuan"


Moeis menghentikan langkahnya dan menatap Helena.


"Kau sudah iya'kan? Saya sudah harus menemui Nyonya…"


Nampak Helena gugup.


"Tetapi sepertinya ini penting, Tuan. Bisa saja mengenai penawaran kerja sama dalam skala besar yang anda minta tahun lalu.."


"Lalu? menurut mu lebih baik saya temui?"


"Ya, Tuan. Anda tidak bisa kehilangan kesempatan kali ini. Tuan Dave juga sudah membantu banyak agar Tuan Zhang Jing mau mempertimbangkan nya.."


Moeis menghela nafasnya. Ia terdiam melihat ke arah jam tangan.


Ia membuka ponselnya dan melihat pesan dari Lyra. Tetapi tiba-tiba sebuah panggilan masuk atas nama Tuan Zhang Jing.


"Halo, selamat sore Tuan Zhang"


……


"Ya, baik. Baiklah…"


…..


"Terima kasih atas tawaran kerja sama anda"


….


"Sampai jumpa"


Setelah menutup panggilan. Moeis meminta Helena untuk kembali ke Jakarta. Sementara ia akan langsung ke Bali.


Ya, Moeis akan segera menemui Lyra.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2