
Lyra keluar dari club dengan lemas dan masih sesenggukan. Ia bahkan berada di dalam mobil cukup lama untuk menangis tersedu-sedu.
Jika bukan hanya karena Barack, lalu apa lagi? Apa yang membuat Moeis berubah separah ini?
Lyra tidak dapat memikirkan dengan akal sehatnya lagi. Semua yang terbayang hanyalah hal-hal buruk dan menganggap semua ini salahnya.
Tengah malam ia menyetir pulang sendirian. Rasanya hanya ingin segera berbaring ditempat tidur dan melupakan semuanya.
Ia juga tidak tau Moeis pergi kemana. Mereka berpisah begitu saja.
....
Malam hari Lyra menangis saat ingin tidur. Sebab hampir pukul 2, Moeis belum juga pulang.
Hingga akhirnya pagi pun datang tanpa kepulangan Moeis.
Lyra bangun dengan kepala yang terasa sakit dan berat, merasa tidak enak badan. Ia benar-benar sakit.
Saat hendak menyalakan lampu, tiba-tiba ia merasa mual dan segera berlari ke kamar mandi. Perut nya serasa sedang di urut dan setelah nya menjadi sangat lemas.
Lyra ingin kembali ke tempat tidur tetapi tidak bisa, rasa mual nya juga masih terasa dan terus-terusan muncul.
Tanpa di sadari air matanya mengalir begitu saja.
"Ah, hh.. sejak kemarin aku belum makan apa-apa" ucap nya berusaha berdiri. Makan malam nya semalam tidak ia sentuh sedikit pun.
Lyra langsung bersandar di sofa. Ia memejamkan mata sejenak.
Setelah di rasa bisa berdiri, ia berganti pakaian dan menelepon pelayan untuk mengantarkan sarapan nya sekarang dan teh hangat.
Masih pukul 6.23 pagi.
Tidak berselang lama. Pelayan mengetuk pintu dan Lyra berteriak untuk masuk saja, karena tidak di kunci.
"Maaf, nyonya kami tadi belum siap. Karena masih terlalu pagi untuk sarapan seperti biasanya"
"Ya, tidak apa-apa" ucap nya lemas.
Pelayan memajukan tubuhnya.
__ADS_1
"Ya tuhan. Nyonya, apa anda sakit? Suara anda gemetar dan wajah anda juga sangat pucat. Bagaimana ini...." ucap nya panik.
"Saya tidak enak badan. Bisa beli kan obat di apotik?".
"Tapi nyonya. Anda lebih baik pergi ke dokter saja. Biar saya panggilkan sopir untuk membantu anda turun"
Namun Lyra menolak dengan menggelengkan kepalanya. Pelayan pun tidak berani berkata apa-apa lagi melihat Lyra yang sudah enggan bicara.
Ia pergi untuk segera mencarikan obat.
Untuk memegang sedok saja terasa tidak sanggup. Sudah lama ia tidak jatuh sakit. Hingga rasanya sangat menderita. Namun ia berusaha untuk tetap kuat.
Lyra tidur setelah mencoba untuk menghabiskan makanan nya meskipun sempat di muntah kan juga. Ia meneguk obat yang telah di beli kan sehingga terlelap karena efek kantuk pada obat.
....
Pukul 14.22
Lyra bangun dengan keadaan yang lebih baik. Namun ia hanya bersandar di tempat tidur dan berdiam diri.
Ia memutuskan untuk menghubungi Becca. Hari ini mereka ada janji bertemu, tetapi Lyra benar-benar tidak bisa kali ini.
"Hai, Ra. Kenapa? Kita bertemu masih sore nanti kan?"
"Mm.. itu dia. Sepertinya aku tidak bisa datang, maaf ya"
"Ada apa? Kamu ada urusan lain?"
"Tidak, tapi aku sedang tidak enak badan. Benar-benar tidak enak, padahal sudah lama aku tidak sakit seperti ini"
"Kamu sakit? Sudah ke dokter? Bagaimana kondisi mu sekarang?" tanya Becca panik
"Sejujur nya baru pagi tadi.. tetapi sudah membuatku lemas tidak karuan. Aku hanya meminta obat dari apotek, sekarang sudah lebih baik setelah tidur"
"Tunggu.. sejak pagi? Apa kamu mual?"
"Ya... sangat mual"
"Ya tuhan... kamu hamil kan Ra? Kenapa tidak bilang?"
__ADS_1
Lyra terkejut mendengar hal itu. Sebab ia tidak terpikirkan sama sekali.
"Ah.. tidak lah. Tidak mungkin, ini benar-benar seperti masuk angin. Kamu jangan asal menyimpulkan seperti seorang dokter saja"
"Justru kamu yang menyimpulkan terlalu sederhana tau! Coba ingat-ingat, apa kamu telat bulan ini?"
Lyra mencoba untuk melihat kalender di nakas.
"Aku tidak yakin, Becc. Sebab beberapa bulan terakhir terkadang maju dan telat. Sudahlah, sepertinya bukan hamil"
Becca kesal mendengar jawaban Lyra.
"Aku memberitahu mu kemungkinan besar. Jadi pikiran baik-baik.. kamu sudah menikah, dan pagi-pagi terasa mual itu pasti hamil. Cepat beli test pack, sekarang!!"
Lyra menjauhkan ponselnya mendengar teriakan Becca. Apa ia harus mencoba nya? Tetapi rasa nya tidak yakin.
"Ah ya sudah iya. Aku akan beli, bye"
"Ok! Langsung kabari aku apapun hasilnya. Bye"
Karena tidak ingin memunculkan spekulasi diantara pekerja. Lyra memutuskan untuk memesan di apotek terdekat menggunakan jasa antar.
Ia menunggu didepan selama kurang lebih setengah jam. Hingga akhirnya datang dan ia kembali ke kamar nya.
Tidak hanya 1, ia memesan 2. Untuk memastikan kebenarannya. Saat ingin masuk ke kamar mandi, Lyra merasa sangat gugup dan tidak yakin.
Setelah selesai, ia berdiri didepan cermin memandangi 2 test pack yang ia coba.
Lyra terkejut bukan main melihat 2 garis biru di kedua test pack tersebut. Tubuhnya membeku sejenak, begitu juga dengan otaknya.
'Apa? Hh... apa ini nyata?' batin Lyra.
Ia menangis terharu dan semakin pecah tangisan nya. Tidak tau karena apa. Mungkin emosi nya keluar, apalagi mengingat sikap Moeis akhir-akhir ini.
Mengapa ia hamil di saat hubungan nya dengan Moeis justru sedang buruk.
....
Malam hari, rasa mual nya kembali terasa. Tetapi, ada kebahagiaan kecil yang bisa Lyra rasakan. Ia berkutik dengan ponselnya untuk membuat janji pemeriksaan di rumah sakit. Dan besok pagi ia akan pergi USG.
__ADS_1
Bersambung...