Killing Me Softly

Killing Me Softly
50


__ADS_3

-Konflik part-



( Tokoh Moeis Meyers ) *silahkan barangkali mau di santet ^


*


*


*


*


Mama memasuki kamar Lyra untuk mengantar kan makanan. Ia menjaganya selama 24 jam dan mengajar kan banyak hal. Tetapi kedatangan Lyra dirumah orang tua nya tidak di curigai sama sekali. Sebab Lyra mengatakan ingin menginap karena Moeis sedang di luar negeri dan ia ingin menghabiskan waktu bersama keluarga.


Tepatnya sudah 4 hari.


Lyra juga tidak tau apakah Moeis sudah pulang atau belum. Tidak ada yang mencarinya sejak saat itu.


"Apa Moeis akan menjemput mu?"


"Tidak, ma. Aku bisa pulang sendiri"


"Kalau begitu biar papamu antar. Tetapi kenapa Moeis lama sekali? Bukan kah hanya sekedar pertemuan bisnis?"


"Mama tau sendiri. Dia sangat sibuk, banyak hal yang harus dilakukan nya. Aku lebih baik di sini. Kalian selalu ada untuk menjaga ku…"


Mama mengelus kepalanya.


"Ya.. kami akan menjagamu. Tetapi tidak baik jika meninggalkan rumah terlalu lama. Nanti jika Moeis sudah pulang, kamu juga harus pulang" tegas mama.


Lyra seperti tidak ingin kembali. Beberapa hari ini ia ngidam banyak hal dan selalu di turuti oleh orang tua nya. Itu membuat Lyra semakin nyaman di sini.



Moeis baru saja pulang dari bandara setelah perjalanan nya dari Singapore. Ia melihat seisi kamar nya yang rapi dan terlihat tidak tersentuh beberapa hari.


Ia hanya berganti pakaian dan bersiap turun sambil menggulung lengan nya.


Ellie datang menghampiri.


"Tuan anda harus makan malam dulu.."


"Apa Lyra belum pulang?"


"Belum.. anda mau ke mana?"


Moeis sudah siap dengan kunci mobil di genggamannya.


"Menjemput Lyra.."


Namun Ellie menahan nya. Ia melarang Moeis untuk pergi.


"Untuk apa? Lagi pula nyonya ada di rumah orang tua nya, biarkan mereka memiliki waktu luang bersama.."


"Di mana akal mu?? Saya tidak ingin mereka sampai mengetahui permasalahan kemarin. Jika saya tidak datang, maka bisa kamu bayangkan apa yang akan terjadi nanti!"


"Apa harus seperti itu?" tatapannya menyorot.


"Sudahlah.." ucap nya berlalu pergi.


Dengan laju mobil di atas rata-rata, Moeis bisa sampai hanya dalam waktu 40 menit saja. Ia telah memasuki pagar rumah keluarga Lyra.


Moeis sudah siap jika memang Lyra ternyata menceritakan semua hal buruk tentang nya selama ini. Ia terus berjalan masuk tanpa ragu.

__ADS_1


Bibi membuka kan pintu dan mempersilakan untuk masuk.


"Moeis.. kamu datang" sambut papa.


"Ya, pa.."


Moeis berpikir semua nya masih terkendali.


"Pasti sangat sibuk hingga harus bepergian dalam waktu yang cukup lama"


"Memang ada beberapa urusan yang harus saya tinjau langsung. Tetapi sudah aman.."


Mereka mengobrol diruang keluarga. Tetapi tidak terlihat Lyra atau pun mama mertuanya.


"Tujuan saya datang adalah untuk menjemput Lyra. Maaf karena harus merepotkan.."


"Tidak.. tidak. Kami senang merawat anak kami sendiri yang sedang mengandung. Mama nya juga sangat bahagia.. beberapa kali Lyra ngidam di sini. Sangat lucu karena ingin memakan papeda jam 5 pagi. Kami benar-benar kaget dan bingung ya.. tetapi untunglah mama nya bisa membuatkan saat itu juga"


Moeis mengangguk.


"Benarkah.. syukurlah dia mendapatkan nya"


"Ya…"


Mama keluar dari kamar Lyra membawa nampan piring kotor sehabis Lyra makan.


Ia berjalan mendekat.


"Ingin menjemput?"


"Ya, ma"


"Baik... masuklah ke kamar nya. Lyra baru saja selesai makan. Setelah bersiap-siap kalian bisa langsung pulang"


"Terima kasih, ma. Saya akan masuk"


"Bereskan barangmu, kita pulang sekarang" ucap Moeis.


"Apa itu yang harus kamu ucapkan saat ini?"


"Lalu apa? Apa yang ingin kamu dengar??"


Lyra memalingkan wajah nya. Tentu saja air matanya tidak terbendung.


"Kamu sama sekali tidak mengerti perasaanku. Aku bisa gila kalau seperti ini, pergi saja jangan menjemput aku!!"


Moeis sudah khawatir jikalau suara Lyra terdengar hingga luar.


"Saya sudah datang menjemput kamu. Ada apa dengan sikapmu? Apa saya yang meminta mu pergi?!!"


"Kamu yang membuatku ingin pergi!! Moeis .. kamu pernah membuatku mulai mencintai mu, kita pernah sangat bahagia. Tetapi sikap mu, kamu yang berubah!" amarah Lyra memuncak memukuli tubuh Moeis. Tangisan nya juga tidak tertahankan lagi.


Moeis hanya diam berusaha menahan Lyra.


"Lyra!!!" bentak nya dengan penekanan suara.


"Apa kamu berselingkuh?? Kamu berubah karena ada wanita yang lebih kamu inginkan? Katakan!! Katakan saja supaya aku tau apa yang salah denganmu…"


"Ini tidak mudah bagi saya, apalagi untukmu" ucap nya pelan.


Lyra menatap Moeis setelah ucapan itu.


"Apa maksud mu??"


Ia dapat melihat mata Moeis yang memerah. Pria di hadapan nya terpaku dengan beban berat yang terpancar.

__ADS_1


"Di mana tas mu?"


Moeis mengalihkan pembicaraan bergegas mengambil tas Lyra di meja, memasukan semua barang milik Lyra seperti ponsel, susu dan syal.


"Pulanglah… kita selesaikan nanti"


Lyra yang masih sesenggukan berusaha mencernah kembali apa yang terjadi 1 menit sebelumnya. Terlebih dengan ucapan Moeis.


Akhirnya Lyra pun pulang bersama Moeis. Tetapi pikiran nya membeku. Ia memikirkan banyak hal kemungkinan. Namun semuanya hanya yang buruk-buruk saja.


Saat sampai kembali di rumah. Lyra langsung turun dari mobil dan ke kamar nya. Moeis membawakan tas Lyra menyusul ke kamar. Ia mengusap wajah nya frustasi. Mengapa harus mengucapkan hal tersebut.


Lyra menunggu nya. Tatapannya terus mengikuti gerak Moeis menaruh tas dan kunci mobil.


"Katakan lagi.."


"Lyra…"


"Kamu berselingkuh. Aku benar??"


Moeis menghela nafasnya. Dia sudah terjebak dengan situasi ini.


"Bukan seperti itu.."


"Lalu apa?!!!" murka Lyra.


"Bagaimana kamu akan menyikapinya? Lebih baik tidak usah ikut campur, tolong.."


Kali ini Moeis memohon dengan sangat di hadapan Lyra. Dengan segala penekanan ucapan.


"Kamu tidak takut kehilangan aku. Aku bisa melihat nya sekarang.." ucap Lyra tidak percaya.


Moeis mendekat mencengkram bahu Lyra.


Bagi orang dengan mindset seperti Moeis. Tak ber'hati dan sangat berkuasa bahkan dekat dengan banyak wanita sudah cukup untuk membutakan nurani nya.


"Tempat mu di sini. Tempat saya di sini. Tidak ada kata kehilangan. Saya juga tertekan dengan segala tuntutan perasaan dari mu. Tenang lah, jika sudah waktunya saya pasti bisa menyelesaikan nya. Saya bisa menjadi seperti yang kamu harapkan!"


"Siapa wanita itu?" tanya Lyra pelan.


Ia menunggu jawaban Moeis dengan tatapan.


"Ada…" jawab Moeis singkat.


Akhirnya kata-kata tersebut keluar. Tetapi, Ia terlalu dingin untuk menunjukkan rasa bersalah nya.


Seketika Lyra lemas dan terduduk di sofa. Kekecewaan dan amarah bercampur menjadi satu di dadanya.


Lyra menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan menangisi keadaan.


"Sudah… kamu sudah tau sekarang. Tetapi, mana yang lebih penting? Memikirkan masalah ini atau mengurus kandunganmu? .."


Lyra menampar wajah Moeis dengan keras.


"Aku mengerti. Kenapa kamu tidak bahagia mendengar kehamilan ku. Karena kamu ingin memilih dia, tetapi aku justru hamil… kamu pasti kesal??"


"Itu tidak benar… aku memilih mu"


Lyra tersenyum mengusap air matanya. Dia pasti sudah gila.


"Memilih ku? Apa kamu sudah melepaskan dia?"


"Tidak bisa.." jawab Moeis putus asa.


"Kenapa tidak??!!!"

__ADS_1


"Bukan saya yang tidak mau melepaskan dia, tetapi keadaan yang tidak bisa untuk saat ini"


Bersambung..


__ADS_2