
Lyra berjalan keluar lift dan menuju ruangan Moeis. Beberapa karyawan membungkuk memberi hormat kepadanya.
Ia sampai di depan ruang kerja Moeis, tepatnya di meja Helena.
Lyra terheran-heran. Lihatlah pakaian itu. Body nya memang lebih berisi dari pada dirinya, tetapi setidaknya jangan dipamerkan dikantor.
"Saya akan langsung masuk.."
Namun Helena menghentikan nya, berjalan seolah-olah mencegah.
"Maaf, nyonya. Tuan sedang ada diskusi penting didalam. Anda bisa menunggu disana sebentar, mari saya antar.."
Ia di arahkan ke ruang tunggu khusus. Terlihat Helena kembali menghampiri nya membawakan secangkir teh.
"Terima kasih.."
Melihat Helena yang hendak kembali ke mejanya. Tiba-tiba ia sangat ingin mengatakan sesuatu.
"Helena…"
"Ya, nyonya?"
Lyra benar-benar sudah menahan ingin mengatakan ini sejak lama. Ia tidak tahan lagi.
"Saya rasa pakaianmu terlalu terbuka. Apa tidak ada yang menegur sebelumnya?" tanya Lyra dengan serius.
Sementara wajah Helena masih biasa-biasa saja.
"Style saya tidak pernah berubah sejak 4 tahun lalu. Dan tidak ada yang keberatan. Apa saya membuat nyonya merasa tidak nyaman?"
'Bagus, bagus jika dia menyadarinya' batin Lyra.
"Ya, saya merasa tidak nyaman. Bisa sedikit merubahnya? Ketat dan memperlihatkan bagian dada, ubah itu" ucap Lyra dengan tegas.
"Baik, Nyonya…"
Benar kata Ellie, Lyra akan membuatnya pusing dan banyak mengatur.
Ya, Helena dan Ellie memang sudah lama saling mengenal. Mereka mengurusi setiap aktivitas Moeis dan memanage nya bersama.
Helena kembali ke meja nya sementara Lyra hanya berkutik dengan ponselnya selama hampir 2 jam. Ia sudah berganti-ganti posisi sampai bersandar lesu. Beberapa kali juga mengirim Moeis pesan untuk segera keluar.
Pukul 7 malam, akhirnya pintu ruangan terbuka. Moeis mengantar tamu nya hingga di depan lift. Lalu kembali sambil membuka kancing jas nya.
"Tuan, nyonya menunggu anda diruang tunggu"
"Ya.."
Ia hanya berjalan begitu saja. Begitu masuk, Moeis melihat Lyra sedang berfoto dengan kepalanya bersandar disofa.
"Apa yang kamu lakukan?"
Lyra terbangun dari posisinya.
"Kenapa lama sekali? Aku sudah 2 jam lebih menunggumu…"
Moeis menghela nafasnya, mendekati Lyra.
__ADS_1
"Apa aku belum mengatakan nya? Kita tidak bisa sering berangkat bersama. Apalagi saat pulang, masih banyak yang harus saya lakukan. Dan kamu harus pulang sesuai jam kerja.."
"Tapi aku sudah menunggumu hari ini. Apa kamu akan memintaku untuk pergi sendiri?"
Kalau begitu, tidak ada yang dapat Moeis lakukan.
"Saya sudah harus pergi menemui seseorang…"
Siapa yang Moeis maksud? Jadi pekerjaan sudah selesai kan?
"Seseorang??"
"Teman bisnis saya. Baiklah.. ikut saja"
Lyra tersenyum lega merangkul tangan Moeis keluar ruangan.
"Helena, bereskan meja saya…"
"Baik, Tuan"
Moeis meminta Lyra untuk melepaskan tangannya karena akan berjalan keluar kantor. Ia tidak ingin memamerkan kemesraan di perusahaan nya.
//
Moeis menunjukan sebuah black diamond card kepada seorang resepsionis. Mereka pun diantar menaiki lift ke lantai 62. Sejak tadi lyra tidak diberitahu akan kemana. Tetapi tentu saja menyadari bahwa ini adalah hotel bintang 5.
"Kita mau kemana? Kenapa tidak memberitahu?"
"Rooftop bar.."
Pertanyaan Lyra berhasil membuat resepsionis tersebut sedikit tersenyum.
"Kamu bisa lihat nanti"
Jari-jari Lyra tidak bisa berhenti bergerak. Kenapa lama sekali sampai diatas? Ia sangat penasaran siapa yang akan Moeis temui.
Lyra menoleh. Apa yang Moeis lakukan? Ia membuka jas nya dan memberikan kepada resepsionis. Membuka kancing atas kemeja dan menggulung kedua lengannya.
Mengapa Moeis menjadi sangat keren dan tampan?
Mereka akhirnya sampai. Tempat ini terlihat sangat mahal, banyak orang-orang dari kalangan atas. Suasana remang-remang dengan lampu yang hanya beberapa, tetapi begitu melihat outdoor. Terlihat pemandangan kota Jakarta dari tempat setinggi ini.
"Hey, Bro.." sapa Moeis kepada kedua teman lelakinya.
Mereka terlihat tampan dan berkelas juga.
"Bro…"
"Lyra, mereka sahabat baik saya. Aiden dan Robin"
"Halo…" sapa Lyra.
"Kita tidak tau kau akan datang dengan istrimu.." ucap Robin.
"Ya, kita baru saja selesai dari kantor"
__ADS_1
Aiden tersenyum "Moeis, istrimu lebih cantik dari pada yang ku bayangkan"
"Benar, seharusnya kau perkenalkan dia sejak dulu" sahut Aiden.
Sebelumnya Lyra sama sekali tidak membayangkan Moeis memiliki teman dekat. Tetapi tetap saja, mereka nampak sama mengerikannya dengan Moeis. Meskipun sedikit lebih ramah.
"Begitukah.."
Sementara Moeis masih mengobrol kan banyak hal dengan kedua temannya. Lyra pergi ke toilet untuk memperbaiki riasan dan penampilan nya. Ternyata obrolan mereka hanya seputar bisnis dan cerita-cerita beberapa kasus.
"Hey… lehermu sangat indah"
Lyra terkejut dengan kehadiran pria tampan bertubuh tinggi dengan kacamata hitamnya.
"Apa??"
"Ya, tubuhmu sangat indah. Aku menyukainya.. mari bersenang-senang. Aku akan mengingat wajahmu.."
Berani nya dia membicarakan tentang tubuhnya.
Lyra ingin berjalan begitu saja. Tetapi pria itu menahannya, mengeluarkan sesuatu dari saku jas.
"Buka ini dimejamu.."
Setelah pria itu pergi, ia pun juga langsung bergegas karena takut. Sementara tidak sadar masih menggenggam tissue berwarna cokelat yang diberikan oleh pria tadi.
"Kenapa lama?"
Lyra tidak menjawab, ia menatap Moeis gugup.
"Ada apa?" tanya Aiden.
Lyra membuka tissue yang ia genggam. Mencari-cari apa didalamnya.
Moeis pun langsung merebutnya. Terdapat 4 digit angka yang langsung membuat mereka mengerti.
"Kamar hotel..." Moeis meremas dan membuangnya begitu saja.
Robin mengangguk, "Banyak pria seperti dia disini. Mereka akan menunggumu dikamar itu. Karena ya, ini adalah hotel…"
"Apa terjadi sesuatu saat kamu ke toilet? Kamu mengobrol dengannya?" tanya Moeis.
Lyra masih diluar kesadarannya. Ia kesal karena diperlakukan seperti tadi. Diminta pergi ke kamar hotel? Yang benar saja, awas saja jika bertemu pria gila tadi lagi!!
"Tidak, aku tidak tau. Itu terjadi begitu saja…"
"Lyra…"
"Sebaiknya kau pulang, bro.." ucap Robin.
"Ya, benar. Bawa istri mu dari sini.." sahut Aiden.
"Ok.. mari bertemu lagi besok.."
Lyra dan Moeis akhirnya pulang. Tetapi, Lyra hanya diam saja tanpa berbicara apa-apa lagi.
Bersambung...
__ADS_1