Killing Me Softly

Killing Me Softly
62


__ADS_3

#Sebelumnya.


Moeis hanya duduk terdiam di ruangan kantornya setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan untuk esok hari. Pikiran nya terus berputar mengenai perceraian tersebut.


Belum lagi pesan dari Abe.


Apa hal itu sudah membuat Lyra berpikir bahwa Abe adalah orang yang lebih baik dari pada dirinya. Mungkin bisa jadi itu benar, begitu pikir Moeis.


Tetapi, Lyra sudah bertindak terlalu jauh untuk berpisah dengannya. Sementara ia tidak tau apa yang akan terjadi bahkan 1 hari setelah ini.


Matanya mengikuti suara detikan jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 6 pagi.


Sebentar lagi para karyawan akan mulai berdatangan. Sebaiknya ia pergi sekarang.


Tetapi bukan pulang ke rumah. Karena ia sudah memikirkan semalaman tentang ini. Moeis hanya berjalan kaki melewati trotoar kota dan penyeberangan. Ia menuju ke apartemen nya.


Setelah membuka pintu, tentu saja tujuan utama nya adalah mencari surat cerai yang pernah Lyra berikan. Ia meninggalkan nya disini saat itu.


Di meja. Terlalu banyak dokumen. Semakin berceceran ketika Moeis mencarinya dengan tidak sabar.


"Ini dia.." ucap Moeis spontan ketika melihat surat tersebut.


Buru-buru ia membukanya dan membaca secara keseluruhan. Ini lebih mendebarkan dari pada melihat keputusan-keputusan bisnis.


Kini ia tau. Ia mengerti alasannya. Juga beberapa tuntutan yang Lyra inginkan.


......


......


Moeis baru saja pulang dan memasuki rumah dari pintu utama. Ia telah memegang surat yang telah Lyra berikan.


Terlihat diruang keluarga, ibu dan Lyra sedang berbicara disana.


"Apa semua yang telah Ibu lakukan tidak cukup? Apa menurut mu ibu terlalu ikut campur?" tanya nyonya Dave tegas.


Bagaimana pun juga ia tetap menahan amarah nya yang sudah hampir meledak.


"Bu??"


Mereka menoleh melihat kedatangan Moeis yang tanpa disadari.


Nyonya Dave menarik nafas nya berat.


"Moeis, kamu pulang..." ucap Lyra.


"Ya.." jawabnya.


Mendengar ucapan Ibu nya tadi, cukup membuat Moeis mengerti apa yang sedang terjadi saat ini. Terlebih ekspresi Lyra yang terlihat gugup dan tidak siap.


"Ibu ingin bicara dulu dengan Lyra.."


"Lebih baik, ibu pulang. Saya lelah.. saya juga perlu bicara dengan Lyra"


"Tidak bisa. Berikan ibu sedikit waktu"


"Bu.." ucap Moeis sekali lagi.


Mata mereka saling bertatapan. Tetapi nyonya Dave mengalah, ia mengerti maksud tatapan Moeis yang dingin tersebut.

__ADS_1


Baiklah. Mungkin tidak sekarang, ia bisa kembali lagi besok atau jika perlu nanti malam. Batin nyonya Dave.


Setelah ibu pergi. Moeis berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya dengan membawa surat ditangan kiri. Lyra membuatkan Moeis teh hangat terlebih dahulu sebelum akhirnya menyusul.


"Minumlah selagi hangat.. aku taruh di sini. Ada cookies juga.."


Dengan tubuh yang lelah. Moeis memeluk Lyra. Matanya memerah sejak datang tadi.


"Kamu sudah membaca nya?" tanya Lyra pelan. Ia melihat Moeis membawa nya sejak tadi.


"Bagaimana kamu bisa memikirkan ini? Pasti berat untukmu.. maafkan saya, Lyra. Maaf..." ucap nya dalam. Ia menciumi kening Lyra.


"Itu adalah keputusan terbaikku saat ini. Kamu lebih penting dari pada kesalahan mu. Sejak awal mungkin kamu bisa mengabaikan aku, tetapi aku tidak kehilangan kamu. Tetapi apa kamu baca dan menerima isi surat tersebut?" ucap nya berusaha tersenyum meskipun matanya berkaca-kaca.


Kini mereka duduk di sofa bersama. Moeis terus menggenggam tangan Lyra dengan erat.


"Keegoisan saya terlalu besar hingga menghancurkan diri saya sendiri. Ini salah, saya mengakuinya.. /untuk persyaratan itu sudah saya pahami dan gandakan suratnya. Sudah saya tandatangani juga.."


Moeis tidak pernah mengira, bahwa Lyra memikirkan keputusan seperti ini. Ia mengira, ketika membuka surat tersebut maka semuanya usai.


>>Tetapi yang ada yaitu surat perjanjian.


Lyra bersama penasihat hukumnya telah berbicara dengan serius selama 4 pertemuan dirumah. Awalnya ia begitu keras kepala ingin cerai. Tetapi memikirkan kembali semua yang telah terjadi, hingga pembelaan mertuanya, juga penyesalan Moeis.


Akhirnya Lyra memutuskan untuk tidak melepaskan apa yang telah ia miliki. Semuanya akan terus ia jalani apapun itu yang terjadi. Meskipun mungkin, Moeis melakukan nya lagi. Ia tidak akan lemah. Ia akan mempertahankan rumah tangga ini.


Maka dari itu ia berdiskusi dengan penasihat hukum untuk membuat surat perjanjian. Yang berisi beberapa aturan, jika Moeis melanggarnya. Hingga yang terfatal dan tidak dapat Lyra terima lagi. Maka perceraian adalah final nya diikuti dengan permintaan saham.


Ya, Lyra meminta saham. Ini bukan berarti ia mencari keuntungan. Hanya sebuah syarat agar membuat Moeis berpikir lagi.


"Kamu membuat perjanjian itu dengan baik. Dan saham tersebut termasuk besar, tetapi saya akan berikan...saya juga tidak akan menyewa perempuan lagi seperti yang tertulis di surat tersebut" ucap Moeis.


"Tidak perlu pikirkan saham, kamu hanya harus memberikan kepada ku jika kamu melanggar kontrak nya..."


"Tidak masalah sayang.. saya akan berikan.. terima kasih sudah memberi saya kesempatan terbaik ini"


Ciuman yang Moeis berikan kali ini dibalas oleh Lyra dengan begitu dalam.


......


Sore hari dengan jendela terbuka dan matahari yang hendak terbenam. Lyra duduk di sofa panjang dengan Moeis yang tertidur menyandarkan kepalanya dipangkuan nya.


Tangan Lyra terus mengelus kepala Moeis sesekali menyentuh wajah nya.


Ini bukan keputusan bodoh. Ini adalah rumah tangga.


Ibu nya pernah berkata, perceraian bukan solusi dari masalah. Ia hanya harus memilih antara ego atau suaminya.


Dan ini lah yang terbaik untuk saat ini. Ia tidak merasa menyesal dan justru lega. Membuktikan bahwa keputusan nya sudah tepat. Ini karena ia sudah memaafkan Moeis. Sudah terlalu banyak yang telah di korbankan.


.......


Sementara Moeis mendapatkan tamu dibawah.


Lyra menerima panggilan masuk dari Becca. Sudah lama sejak terakhir kali mereka bicara.


"Kamu serius?" tanya Lyra.


"Iya, ini menunjukkan 2 garis. Apa artinya aku hamil???" ucap Becca.

__ADS_1


Suara nya terdengar goyah sekaligus senang.


Lyra pun ikut bahagia mendengar nya. Saat ini Becca sedang melakukan testpack dan meminta kepastian jawaban dari Lyra.


"Yaaa. aku benar-benar senang, Becca. Tidak heran, kamu melakukan honeymoon berkali-kali.." jawabnya dengan bercanda.


"Itu karena sponsor dari mertuaku.. di terus-terusan memberi kami tiket pesawat" ucap nya tertawa.


"Justru itu sangat membantu kan. Kapan kamu akan memberitahu Max??"


"Aku sih berencana untuk ke dokter dulu melakukan USG. Lalu memberikan foto nya kepada Max. Bisa temani aku?"


"Tentu saja... kamu ingin kapan?"


"Kamu bisa kapan pun kan?"


"Tentu saja. Katakan..."


"Bagaimana kalau siang ini? Kita bisa sekalian pergi ke mall atau kemana pun.."


Benar, Lyra sedang membutuhkan suasana seperti itu sekarang.


"Baiklah. Nanti pukul 13.10 aku akan menjemput mu ya.."


"Oke..."


Setelah membereskan kamar dan melakukan kegiatan lainnya. Lyra bersiap-siap di meja rias.


Dan Moeis kembali setelah tamu nya pulang.


"Kamu mau pergi? Kemana?"


"Bertemu Becca, mungkin jalan-jalan sebentar. Apa ada yang kamu perlukan?"


"Tidak ada. Perlu saya antar?" tanya Moeis. Ia membuka baju nya untuk berganti pakaian dan hendak pergi juga.


"Tidak perlu..."


Melihat Lyra yang akan pergi sambil berkutik dengan ponselnya. Membuat Moeis ingin menanyakan sesuatu.


"Lyra... ada yang ingin saya tanyakan"


"Apa itu?"


"Saya harap ini bukan seperti apa yang saya kira.."


Ekspresi Moeis yang terlihat ragu membuat Lyra semakin penasaran.


"Saat kita makan malam bersama investor, dan kamu ke toliet. Saya memang sengaja melihat ponsel mu karena itu menyala menerima pesan di notifikasi. Dan Abe menanyakan kapan kamu ke German. Apa maksudnya...?" . Moeis to the point dengan tenang.


Lyra tersenyum mendekat dan memeluk Moeis sebelum pergi.


"Jadi kamu melihatnya.. lihatlah.. dia ingin mengundang ku ke acara pertunangan nya. Mereka di jodohkan oleh teman-teman kami. Dan ingin serius. Aku dan Abe sudah bersahabat lama, jadi kami ingin terus bersahabat. Apa kamu keberatan?" tanya nya perlahan.


"Syukurlah kalau begitu. Tidak masalah.."


Lyra senang mendengar nya.


"Terima kasih banyak, Moeis" ucap nya lalu mencium nya singkat dan berangkat untuk menjemput Becca.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2