Killing Me Softly

Killing Me Softly
67


__ADS_3

"Bi, dimana nyonya? Apa dia pergi ke luar?"


Pagi-pagi Moeis sudah kebingungan mencari Lyra yang tidak ada di kamar nya. Ponsel pun tergeletak saja si meja.


"Kami belum melihat nyonya, tuan. Ingin kami bantu cari?" tanya pelayan.


Moeis berjalan melanjutkan mencari Lyra. "Tidak perlu, Bi. Kalau melihat nyonya, antar ke kamar nya saja"


"Baik tuan"


Sudah lama Lyra tidak berjemur, di halaman samping dan depan pun tidak ada. Moeis bahkan belum sempat mandi sudah hampir pukul 7 saat ini.


Begitu membuka sebuah ruangan, Moeis terdiam. Perasaan nya berangsur lega setelah melihat Lyra yang sedang mendengarkan musik di ruangan bayi yang telah siap 100% tersebut.


"Sayang, sejak kapan kamu disini?" . Moeis mendekat memeluk bahu Lyra dengan kedua tangannya.


"Sudah cukup lama sebelum kamu bangun. Maaf sayang, kamu mencari ku ya?"


Mereka duduk bersama memandangi ruangan yang sangat nyaman ini.


"Tidak masalah jika kamu disini. Kamu pasti sudah tidak sabar untuk bertemu dengan nya.."


Lyra mengangguk lalu menyandarkan kepalanya di pundak Moeis. "Benar, aku ingin memeluk nya. Ingin menggenggam tangan mungil nya. Dann.. melihatnya berada diruangan ini" ucap nya tersenyum cerah.


Melihat aura kebahagiaan Lyra, sudah cukup membuat Moeis bahagia juga.


"Bersabarlah, 4 hari lagi kita akan berangkat ke rumah sakit. Apa kamu sudah menyiapkan tas yang akan dibawa?" tanya Moeis ingin memastikan. Dokter sudah memberi tanggal persalinan dan mereka akan mengikuti proses nya.


"Tentu saja. Kamu lihat itu?" tunjuk nya pada sebuah tas lucu di atas meja salin baby. "Semua keperluan nya sudah ku siapkan"

__ADS_1


"Bagus sekali sayang, tidak hanya kamu. Baby pasti juga sudah tidak sabar untuk di peluk kamu"


Mereka tertawa ringan.


"Benarkah..." gumam Lyra.


"Baiklah, ayo kita sarapan sekarang.." ucap nya menuntun Lyra keluar.


Waktu berjalan begitu cepat di momen kehamilan Lyra yang sangat mereka jaga. Saat ini sudah berada di usia 9 bulan.


Lyra juga selalu memikirkan, nama apa yang Moeis siapkan untuk baby. Bagaimana mereka akan memanggilnya hingga dewasa nanti. Apapun itu, Lyra akan sangat bahagia sebab suaminya lah yang memberikan nama tersebut.


"Kenapa kamu tersenyum menatap saya?" tanya Moeis di sela-sela sarapannya. Ia juga tidak bisa menahan senyum kalau begitu.


"Tidak..." jawab Lyra membuat Moeis penasaran.


Lyra tertawa ringan meletakkan alat makan nya. "Baiklah.. / aku hanya memikirkan nama yang telah kamu siapkan untuk nya.. apa terdengar gagah?"


Akhirnya Moeis tidak penasaran lagi.


"Kamu harus tau, saya mempunyai 3 kandidat nama dan memikirkan mana yang lebih baik 2 bulan ini..." ucap Moeis.


"Benarkah, tetapi kamu sudah memutuskannya kan? Hanya tinggal menghitung hari hingga baby terlahir.."


Mendengar Lyra yang hampir panik, itu lucu bagi Moeis.


"Jangan khawatir, nama nya bahkan sudah saya urus untuk catatan lahir dan persiapan dokumen lainnya. Saya harap tidak akan bocor hingga waktunya tiba.." jawab Moeis menggoda nya.


Lyra menepuk lengan Moeis.

__ADS_1


"Kamu ini.. bisa ya membuatku lebih penasaran"


Moeis berdiri hendak bersiap mandi untuk ke perusahaan sebentar, ada klien yang harus ia temui.


"Tunggu saja, sayang" ucap nya mencium kening Lyra. Lalu pergi menaiki anak tangga.


Sementara Lyra tersenyum menggelengkan kepalanya. Ada-ada saja tingkah nya semakin hari.


.........


.........


"Halo Michelle...?? Ah cantiknya... gemas sekali..." puji Lyra kepada anak perempuan Becca yang sudah berusia 4 bulan.


Saat ini mereka sedang melakukan panggilan video. Lyra benar-benar gemas melihatnya.


"Hai aunty .. aduh tidak sabar ingin melihat teman baru Elle.." jawab Becca. Ia tidak bisa berhenti tersenyum melihat Lyra. Pipi Lyra yang lumayan berisi saat ini. Efek dari usia kandungan.


"Doa kan aku supaya bisa melahirkan dengan lancar ya, Becc. Aku sudah menyiapkan semuanya termasuk jiwa dan raga.." ucap Lyra.


Becca mengangguk. "Tentu saja, ini adalah saat yang di tunggu-tunggu. Kamu akan melewatinya dengan bahagia../ Oh ya, jangan lupa kirimkan alamat rumah sakit dan ruangan mu nanti ya? Agar aku bisa cepat menjenguk kalian.."


"Baiklah.. aku tunggu kamu, Max dan Michelle disana yaa.." ucap Lyra dengan manis.


Saat Becca melahirkan, Lyra datang dan menemani nya. karena Max dalam perjalanan pulang dari Seoul saat itu.


Ya, ini lah kenyataannya. Meskipun Lyra yang lebih awal menikah. Tetapi Becca yang lebih dulu mempunyai anak. Sebab Lyra harus melewati terjal nya kehidupan rumah tangga yang panjang.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2