
Pagi hari, Lyra terbangun tepat diatas dada Moeis yang juga masih tertidur. Untuk beberapa saat, ia masih mengumpulkan kesadarannya.
Hingga akhirnya Lyra pun bangun sambil mengikat rambutnya asal. Ia berjalan memasuki kamar mandi tanpa pakaian. Ah, tubuhnya begitu lelah tetapi suasana hatinya sangat baik.
Lihatlah semua tanda yang Moeis tinggalkan di tubuhnya. Ia segera menyelesaikan urusan mandinya lalu keluar dengan croptop dan celana yang cukup pendek dan tipis.
Terlihat sinar matahari mulai memasuki jendela dan angin yang menggerakkan tirai putih.
"Moeis, bangunlah…".
"Hmmm.."
"Ponselmu terus berbunyi.."
Mendengar hal itu, barulah Moeis perlahan terbangun sambil mengusap wajahnya.
"Jam berapa sekarang?" Tanya Moeis begitu melihat sinar matahari.
"Jam 7 lewat.. kapan kamu akan kembali ke Jakarta?"
Ini seperti pertama kalinya bagi Moeis, bangun disaat matahari sudah terang. Mungkin terakhir kali saat ia masih berada di London jaman kuliah dulu.
"Belum tau. Dimana ponsel saya?"
"Ini…"
Lyra masih duduk ditempat tidur, menunggu Moeis yang sibuk dengan ponselnya.
"Kamu sudah memesan tiket pulang?"
"Belum.." jawab Lyra menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu saya ingin mandi dulu. Helena akan segera kirimkan jadwal terbaru saya hari ini.."
Lyra meraih tangan Moeis.
"Bisa kah kamu meluangkan waktu beberapa jam lebih lama lagi? Kenapa kita tidak berjalan di pantai dulu? Hanya sebentar… ya?"
"Kita lihat nanti…"
Seketika Lyra memalingkan pandangan nya.
__ADS_1
Bagaimana tidak? Moeis melepas selimutnya begitu saja untuk pergi ke kamar mandi, tanpa busana apapun.
'Auhh, harusnya dia minta handuk atau apa. Kenapa berjalan begitu saja..' Batin Lyra.
Selagi menunggu Moeis selesai mandi. Lyra menyiapkan pakaian ganti dan sudah memesan sarapan untuk di kamar saja. Melihat tempat tidur yang begitu berantakan cukup membuat nya malu akan yang terjadi semalam. Buru-buru Lyra membersihkannya.
Makanan telah di antarkan, dan Lyra menata nya di meja dekat jendela. Ia memesan nasi campur, beberapa tumis, buah dan hot coffee.
"Sudah selesai?"
"Ya.."
Terlihat Moeis keluar hanya dengan handuk yang di lilitkan di pinggang nya sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil. Ia lalu mengambil kaos putih polos dan langsung memakainya.
Mereka berdua duduk untuk sarapan bersama.
"Helena sudah memesakan tiket penerbangan untuk kita berdua. Kita bisa ke bandara 2 jam lagi.. ingin kemana?" ucap Moeis sambil menyeruput kopi nya dan membaca pesan.
"Kalau begitu jalan ke pantai dan lihat-lihat ke pasar saja.. Tapi, apa hari ini kamu akan langsung ada kesibukan?"
Moeis mengangguk.
"Kita berpisah di bandara Jakarta. Karena saya akan melanjutkan penerbangan ke Beijing untuk menemui orang penting"
Ya, kemarin Tuan Zhang Jing tiba-tiba membatalkan pertemuan nya dan meminta Moeis untuk mengunjungi nya ke Beijing keesokan paginya dan berdiskusi lebih serius lagi mengenai kerjasama dengan skala besar yang telah lama Bara Group targetkan.
"Apa?? …. Moeis, mana bisa kamu memperlakukan hidupmu seperti ini? Kesibukan kamu benar-benar! Yasudah, kita istirahat disini aja sampai nanti, tidak perlu berjalan-jalan.." ucapnya yakin.
Mendengar ucapan Lyra yang seakan marah, membuat Moeis tidak menyetujui nya.
"Tidak masalah. Pantai hanya didepan.. memang nya kenapa?"
Lyra menghela nafasnya. Menyudahi sarapannya.
"Kamu tidak bisa begini.. harus ada waktu untuk istirahat juga. Atau biarkan aku saja yang ke Beijing…" ucap Lyra asal.
Ucapan nya membuat Moeis terkekeh.
"Kemari…"
"Ada apa?"
__ADS_1
Tangannya mengisyaratkan Lyra untuk mendekat.
"Kenapa???" Tanya Lyra sekali lagi.
Moeis memegangi tangan Lyra dan memangkunya. Semalam ia mendengar ucapan Lyra yag mengatakan bahwa Lyra mencintai dirinya. Tetapi, sayang sekali. Selama ini Moeis tidak pernah benar-benar merasakan cinta. Yang ada hanya lah rasa ingin memiliki, sebatas teori bahwa laki-laki harus didampingi oleh wanita cantik.
"Ada apa? Kenapa kamu senang sekali memangku-ku? Aku berat…"
"Tubuhmu sangat harum. Saya menyukainya.."
"Sudah, kamu nikmati saja sarapan dulu. Aku akan membereskan koper kita…" jawab Lyra gugup.
"Jangan terburu-buru. Jika tidak jadi ke pantai, maka sepeti ini saja .." ucap Moeis menciumi bahu Lyra.
Lyra mencoba untuk meraih ponsel di meja.
"Mari berfoto, seperti ini.."
Meskipun awalnya Moeis sempat menolak dan menutupi wajah, akhirnya ia mau hanya dengan ekspresi itu-itu saja. Foto di ambil dengan posisi yang sama dari tangan Lyra. Terlihat begitu mesra.
Kemudian Lyra juga mengajak Moeis untuk keluar balkon, dan berfoto dengan pemandangan pantai dan pohon-pohon kelapa. Beberapa pose terjadi begitu saja, mulai dari Lyra yang memeluk tubuh tegap Moeis, hingga berciuman.
Kalau di pikir-pikir, ini adalah foto pertama mereka setelah foto pernikahan yang bahkan juga tidak terpasang satupun di dinding rumah sebesar itu.
//
Moeis dan Lyra memasuki pesawat oleh maskapai penerbangan terbaik di Indonesia dengan tiket First Class. Mereka juga berada di seat yang berdampingan.
"Boleh aku memposting foto tadi?" Tanya Lyra.
"Lakukan apapun yang kamu suka.."
Mendengar jawaban Moeis yang begitu santai. Lyra langsung memposting nya di sosia media dan memilih salah satunya untuk dijadikan foto profil Messenger.
#Di sisi lain.
Begitu foto tersebut terpasang menjadi profil. Ellie tidak sengaja melihatnya dan kehilangan kata-kata.
Sementara Daniel dan Carrie juga melihatnya di sosial media. Sebab, Carrie sempat mencari tahu tentang istri Moeis.
Bersambung...
__ADS_1