Killing Me Softly

Killing Me Softly
60


__ADS_3

Moeis dan Lyra bangun di waktu yang lebih pagi saat embun masih terasa dan matahari belum muncul. Mereka kembali turun dengan berkuda dan sesekali berhenti untuk melihat tanaman yang belum pernah di lihat sebelumnya.


Lyra sedikit canggung tetapi Moeis biasa saja. Bagaimana tidak? Ia telah mengajukan cerai tetapi kini justru berduaan di tempat yang jauh dari rumah.


Mereka terlebih dahulu ke rumah kayu dekat pertenakan kuda milik keluarga Moeis untuk mandi dan sarapan pagi.


"Ayo kita pulang sekarang. Kamu juga pasti banyak pekerjaan kan?" ucap Lyra gugup.


"Tidak ada" jawab Moeis singkat.


"Pasti ada, coba lihat ponselmu. Mungkin Helena sudah menunggu.." kekeh Lyra.


Moeis yang baru saja selesai mandi, kemudian duduk dan langsung sarapan.


"Saya sudah meminta Helena untuk mengosongkan jadwal hingga makan siang nanti. Kenapa kamu buru-buru?"


Pertanyaannya Moeis membuat Lyra tidak dapat menatap matanya.


"Mm.. aku .. harus menurunkan pakaian kotor di kamar. Kamu tidak tau seberapa banyak baju-baju itu.. jas-jas mu, kemeja. Lebih banyak dari pada aku.." jawab nya asal.


Moeis mencoba untuk mengingat-ingat kembali apakah pakaian ganti nya sebanyak itu. Tetapi rasanya tidak.


"Benarkah.. /kamu tidak sedang mencari-cari alasan kan??"


"Tentu saja tidak.. memang nya apa.."


Moeis tertawa ringan. Sebab sikap Lyra aneh dan berbeda pagi ini.


"Apa karena semalam? Kamu begitu agresif.."


Lyra membelalakan matanya mendengar Moeis mengucapkan hal tersebut begitu saja. Bagaimana jika pekerjaan di sini dengar?


"Apasih yang kamu bicarakan.." ucap Lyra ketus.


"Kamu tidak ingat? Kita tidak mabuk semalam, harusnya kamu ingat.."


"Iya iya aku ingat. Tidak perlu di bahas lagi… sudah"


Lyra segera berdiri mengambil teh lagi didapur. Rasanya mau gila mendengar kekonyolan Moeis.


"Dia malu atau marah…" gumam nya.


.....


.....


Setelah Lyra memaksa untuk menyetir, mereka sampai dirumah 20 menit lebih lambat dari pada saat Moeis yang menyetir saat berangkat.


Mereka masuk dan berjalan didepan dan belakang.


"Tuan, nyonya.. apa ingin di siapkan sarapan?"


"Tidak perlu, Bi. Kami sudah sarapan di luar.." ucap nya berlalu pergi.


Saat masuk kamar, Moeis langsung mendekati keranjang kotor. Dan memilah pakaian nya. Ia menghitung dengan sengaja.


"Aneh, pakaian saya hanya ada 5 dan kamu sebanyak ini.." sindir Moeis.


Lyra merolling kan matanya. Ia tau Moeis sengaja melakukan itu untuk membuat dirinya merasa malu.


"Berikan.." ucap Lyra menarik keranjang tersebut dengan asal dan hendak membawa nya keluar kamar.


Namun Moeis tiba-tiba mencium pipi Lyra kemudian keluar untuk ke ruang kerja.


"Moeissss..." tegur Lyra.


Apa-apan ini. Romansa yang tidak masuk akal.


Tetapi Lyra justru tersenyum sendiri memikirkan hal tersebut.

__ADS_1


Ia membantu sedikit demi sedikit pekerjaan rumah. Sebab sekarang ia hanyalah seorang pengangguran.


"Semua piring sudah di cuci, Bi??"


Pelayan mendekat kepada Lyra.


"Iya nyonya. Lagi pula tuan dan nyonya tidak sarapan dirumah.."


"Ya, piring para pekerja kan banyak. Lalu apa kalian sudah mencuci??"


Hal itu membuat pelayan bingung. Ia tidak tau mengapa Lyra menanyakan hal tersebut. Apa maksud nya Lyra ingin mencuci piring kotor bekas pekerja juga??


"Kami baru saja membilas pakaian di belakang. Tetapi belum semuanya.."


Lyra mengangguk. Ini adalah giliran nya.


"Ya sudah. Jangan di apa-apakan dulu, Bi. Jangan di jemur..." ucap nya yakin.


"Maksud nyonya?" tanya pelayan ragu.


"Nanti, biar saya yang menjemur nya. Cuaca sedang bagus.. lagi pula saya ini tidak punya kegiatan apa-apa, Bi"


Pelayan resah mendengar hal tersebut. Ia sungkan dan takut di marahi Moeis.


"Tapi, nyonya..."


"Tidak apa-apa, bi. Nanti saya turun lagi setelah ini.." ia naik membawakan air madu hangat untuk Moeis. Udara semalam sangat dingin, jika sampai sakit perut dapat mengganggu pekerjaan Moeis nantinya.


"Minumanlah selagi hangat.. aku juga sudah meminum ini dibawah..."


"Terima kasih... bagaimana kamu tau, saya baru saja ingin meminta nya?"


Lyra menaikan bahunya. "Tidak tau juga.. sudah ya aku ke bawah. Ada pekerjaan berat.."


"Pekerjaan??"


"Ya.. pekerjaan berat.." ucap nya berlalu pergi.


....


"Wah, ternyata banyak ya, Bi?"


Setelah melihat beberapa bak besar ini. Lyra kemudian ragu bisa menjemur semuanya sendiri. Semuanya termasuk baju-baju pekerja.


Beberapa pelayan tersenyum.


"Memang sebanyak ini nyonya. Tetapi, baju tuan dan nyonya kami pisahkan.. kami jemur di atas sana agar tidak terkena debu.. sebaiknya nyonya menjemur pakaian anda dan tuan saja.. hanya 1 bak.."


Meski begitu, Lyra akan tetap berusaha.


"Baiklah, saya akan menjemur pakaian kami di atas. Setelah selesai akan turun membantu pakaian kalian.."


"Baik, nyonya.."


Tetapi, pelayan cepat-cepat ingin menjemur semuanya. Agar Lyra tidak perlu membantu lagi.


"Ah, jas dan celana panjang kerja Moeis sangat sulit di atur. Tangan ku sudah kram rasanya.."


Satu persatu pakaian sudah terjemur. Beberapa kali memiringkan badan untuk peregangan otot.


...... setelah beberapa lama. Akhirnya Lyra turun dengan tarikan nafas berat. Di atas sangat panas matahari jam 10 pagi.


"Bi, saya akan bantu yang dibawah sekarang.."


"Baik la, nyonya. Tinggal tersisa beberapa lagi saja.."


Lyra seketika terheran. Dari banyak bak besar. Hanya tersisa beberapa pakaian saja. Bagaimana mereka melakukan dengan cepat.


"Cepat sekali. Kalian melakukan nya ber tiga?"

__ADS_1


"Iya, nyonya.."


"Ya sudah, saya akan bantu untuk potongan terakhir.." Lyra kemudian memulainya tanpa rasa ragu sedikitpun. Meskipun itu baju milik bawahan nya.


...


"Tuan, biar saya bawakan gelas nya.." ucap pelayan melihat Moeis turun tangga menuju dapur.


Ia menengok kanan dan kiri.


"Dimana nyonya, Bi?"


Pelayan nampak cemas. Sedangkan Lyra masih di sana.


"Itu, tuan... nyonya.. ada di halaman belakang.."


"Sedang apa? Dan pekerjaan apa yang nyonya maksud??"


"Kami juga tidak mengerti, mengapa nyonya mau melakukannya. Itu kemauan nya sendiri, tuan. Nyonya sedang .... menjemur baju.."


Pelayan mengikuti langkah Moeis ke jendela belakang.


"Tapi, baju siapa itu?"


"Baju kami tuan.."


Awalnya Moeis ingin menegur dan melarang Lyra melakukan hal tersebut. Karena takut pelayan tidak akan terbiasa untuk segan kepada Lyra lagi. Tetapi, terlihat wajah nya tersenyum cerah mengobrol dengan pelayan lain.


Hal tersebut membuat Moeis mengurungkan niatnya.


"Ada-ada saja..." ucap nya kembali ke kamar.


....


....


Moeis berada di kamar sudah bersiap dengan kemeja hendak berangkat ke kantor. Tiba-tiba pintu terbuka dan Lyra masuk dengan wajah lelah.


Ia langsung mengambruk kan tubuhnya di tempat tidur sambil mengatur nafas.


"Ada apa??" tanya Moeis pura-pura tidak tau apa-apa.


"Aku hanya lelah biasa.." jawab nya yakin.


"Tetapi terlihat tidak biasa.." sahut Moeis.


Lyra melihat ke arah Moeis. Pria itu begitu banyak bicara akhir-akhir ini.


"Aku baik-baik saja..."


Moeis mendekatinya.


"Apa kamu habis mencangkul??"


"Apa?? Kenapa juga aku harus mencangkul? Apa itu penting.."


"Kelihatan nya begitu.. lihatlah wajahmu sedikit pucat.."


Lyra menyingkirkan tangan Moeis yang hendak menyentuh pipi nya.


"Lalu kenapa..."


Moeis hendak memajukan tubuhnya untuk mencium Lyra, tetapi ia ditahan dan tidak diperbolehkan sehingga memicu perlawan kecil dengan sedikit tawa.


"Sudahlah.. kamu berangkat saja. Aku bau keringat..."


"Tidak masalah.."


"No way.." Lyra langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sementara Moeis selesai dan berangkat bekerja.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2