Killing Me Softly

Killing Me Softly
21


__ADS_3

Moeis selesai berganti pakaian sehabis mandi malam. Ia baru saja pulang setelah pertemuan tepatnya pukul 22:24. Lebih malam dari perkiraan nya. Tetapi ia tidak melihat keberadaan Lyra dikamar padahal di luar sedang hujan deras.


Seperti biasa, Moeis akan langsung ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan banyak hal disana. Matanya fokus berkutik dengan ponsel.


Berjalan memasuki ruangan, pandangannya teralihkan melihat Lyra yang sedang duduk di kursi kerjanya memakai piyama. Entah apa yang sedang dilakukan nya. Bersandar lesu sambil memainkan pulpen dan bergumam sendiri.


"Apa yang kamu lakukan" tanya Moeis mendekat dengan santai.


Lyra tersenyum melihat kehadirannya.


"Apa kursi ini lebih nyaman dari pada tempat tidur? Sepertinya tidak.." ledek Lyra.


Ia tidak bangun dari kursi dan membiarkan Moeis masih sibuk mencari sebuah folder di rak dokumen.


"Selama ini saya lebih banyak tertidur di kursi kerja. Kembali ke kamar hanya untuk mandi dan bersiap"


"Tidak berat bagi kamu hidup seperti itu?"


Moeis menggelengkan kepalanya, menaruh sebuah dokumen di meja. Lyra pun bergegas pindah ke kursi didepan meja.


"Tidak ada yang membuat saya begitu merasa tertarik selain bekerja"


Apa hatinya benar-benar terbuat dari batu?


"Begitu ya.."


Selagi mengerjakan laporan, Moeis sesekali melihat ke arah Lyra. Sejak dulu ruangan ini begitu sunyi dan tenang, hanya ada dirinya dan pekerjaan saja. Tetapi akhir-akhir ini, ada wanita yang membuatnya berbicara lebih banyak.


"Katamu ada yang ingin ditanyakan?"


Hampir saja Lyra melupakan alasannya berada di ruangan ini lebih awal sebelum Moeis pulang tadi. Ia tidak berharap banyak dengan reaksi Moeis, bahkan berharap bahwa cincin itu masih ada.


Langsung bertanya saja atau bagaimana? Lyra merasa tidak yakin dan gugup.


Akhirnya, ia menyodorkan tangan. Memperlihatkan jari manis nya yang terpasang cincin mewah. Sementara Moeis melihat sejenak lalu menatap Lyra.


"Ada apa?"


Lyra menghela nafasnya. Jadi dia tidak ingat dengan bentuk cincin yang bahkan diberikannya langsung. Lantas siapa juga yang memilihnya kala itu. Lyra bahkan tidak tau dari mana asal muasal cincin tersebut.


"Ini… ini cincin pernikahan kita. Apa kamu benar-benar lupa?"


Terlihat ekspresi Moeis berubah.

__ADS_1


"Kamu masih menyimpan nya?"


"Ya. Aku simpan di rumah orang tuaku dan baru saja mengambilnya. Kita sudah bersama sekarang, hubungan kita juga sudah jauh lebih baik kan. Jadi aku ingin mulai memakainya. Lalu… dimana milikmu? Apa kamu membuangnya?"


Mendengar pertanyaan Lyra, sebenarnya Moeis tidak tau apa yang harus dikatakan. Ia mengalihkan pandangannya selagi mengingat-ingat.


Moeis mendesis kecil. Ia tak kunjung mengingatnya.


"Saya rasa itu… disimpan oleh Ellie"


"Apaa???"


Lyra membelalakan matanya. Bisa-bisa nya cincin menikah pun Ellie yang mengurus nya. Bagaimana jika sudah dimusnahkan?


Moeis mengambil ponselnya untuk menghubungi Ellie. Jika saja cincin nya memang sudah tidak dapat ditemukan, ia hanya tinggal membuat yang baru.


Tidak berselang lama, pintu ruangan terbuka. Ellie menghampiri mereka lalu membungkuk.


"Maafkan saya Tuan, saya juga sudah tidak mengingat nya dengan pasti. Didalam ruang penyimpanan saya pun tidak ada. Tetapi, akan saya coba cari lagi. Mohon beri kelonggaran waktu.."


Dalam seperkian detik, Lyra menyadari sorotan mata Ellie yang mengarah padanya dengan sedikit garis senyum.


'Apa yang dia lakukan? Lirikan apa itu tadi? Berani-beraninya…'


"Baiklah. Terus cari sebisa mu.."


"Baik, Tuan" jawab nya berlalu pergi.


Lyra terus memandangi punggung Ellie hingga keluar ruangan dan menutup pintu. Di otak nya terus memunculkan kecurigaan, apa lagi setelah melihat lirikan mata Ellie tadi.


"Apa kamu marah? Kita hanya perlu menunggu Ellie untuk menemukan nya" tanya Moeis.


"Sudahlah.. lagi pula hanya cincin lama"


Bukan rasa marah kepada Moeis yang Lyra rasakan saat ini. Ia hanya tidak bisa mempercayai Ellie, wanita itu benar-benar lancang.


Melihat Lyra yang hendak berdiri. Moeis langsung meraih tangan nya.


"Ini bukan masalah besar. Kamu mau kemana?"


Lyra menatap mata Moeis.


"Kau mempercayai Ellie?"

__ADS_1


"Kau tau itu…"


Sudut pandang mereka terhadap Ellie 180 derajat berbeda. Jadi percuma saja jika Lyra mengeluhkan hal tersebut kepada Moeis.


"Peluk aku.." pinta Lyra.


Moeis pun memeluk sesuai permintaan istrinya. Mereka tidak berbicara apa-apa untuk beberapa saat.


"Apa kamu menginginkan sesuatu?"


"Sesuatu.. yang seperti apa?" tanya Lyra mendongakkan kepalanya.


"Berlibur ke luar negeri, atau menghadiri acara fashion ternama di eropa?"


Mendengar tawaran Moeis yang terkesan berlebihan membuat Lyra sedikit terhibur. Tetapi, ia tidak membutuhkannya.


"Apa kamu akan menemaniku?"


Oh shit. Moeis sepertinya salah memberikan tawaran. Bagaimana pun juga ia tidak mempunyai waktu untuk berlibur untuk saat ini. Mana mungkin untuk menemani Lyra.


"Aku sibuk" jawab Moeis singkat.


Yang benar saja. Lyra justru tertawa memukul dada Moeis.


"Tidak bisa juga kan?"


Moeis menarik kursi kerjanya, ia duduk dan membuat Lyra berada di pangkuan nya. Tangannya melingkar pas di pinggang istrinya.


"Lalu, mintalah hal lain. Saya akan coba berikan…"


Benarkah? Lyra memikirkan hal apa yang ingin ia minta kali ini.


"Besok, temani aku ke mall? Bagaimana? Tidak perlu seharian…"


Melihat ekspresi harap-harap cemas dari wajah Lyra yang amat dekat dengan wajahnya saat ini, membuat Moeis sedikit mempertimbangkan nya. Tetapi besok ia memang tidak ada pertemuan setelah jam makan siang.


Akhirnya Lyra senang melihat anggukan itu. 1 kecupan ia berikan di bibir Moeis. Namun Moeis melanjutkan dengan ciuman mesra sambil memegangi leher belakang Lyra.


"Kamu sangat harum, dan cantik.." ucap Moeis tepat di telinga nya.


Lyra tersenyum bahagia mendengar pujian dari Moeis yang amat sangat sulit didapatkan. Setelah itu, ia tetap berada diruangan menemani Moeis bekerja hingga larut malam.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2