Kisah Pilu Seorang Kembang Desa

Kisah Pilu Seorang Kembang Desa
#10. Ita belum pulih


__ADS_3

Sari kesal kepada ayahnya Alex, tidak mau menjual kerbau untuk mengurus pengobatan Ita secara medis. Padahal dulu Sari yang membeli kerbau itu, sebagai modal apabila ada kebutuhan yang mendesak, Sari dulu membeli 2 ekor kerbau jantan dan betina yang masih muda, artinya butuh beberapa tahun lagi untuk bisa melahirkan. Sekarang kerbau itu sudah melahirkan 2 ekor anak.


'Mengapa ayah takut Tiur marah, Tiur tidak berhak atas kerbau itu, karena kerbau itu ada sebelum Tiur masuk dalam keluarga atau tepatnya, kerbau itu ada sebelum Tiur menikah dengan ayah', gumam Sari penuh kemarahan atas tingkah laku ayah yang tidak tegas, dan tidak peduli atas kesembuhan Ita.


Sudah sebulan lebih, Ita hanya mengandalkan pengobatan dirinya hanya mengandalkan kusuk saja, perubahannya pun kurang memuaskan, karena Ita masih tiduran, Ita tidak bisa duduk sendiri, apalagi berjalan.


Sari melihat Alex baru keluar dari kamarnya, buru buru Sari menghampiri dan mendatangi Alex, sebelum Alex pergi ke warung untuk nongkrong di warung kopi. Suatu kebiasaan ayah, sore sore begini untuk nongkrong di warung kopi, sebelum makan malam tiba, Alex sudah kembali ke rumah.


"Ayah tunggu", pinta Sari memanggil Alex.


"Apalagi Sari", ucap Alex datar.


"Ayah tolong pikir kan masa depan Ita baik baik", ucap Sari tegas.


"Maksud kamu apa?", ucap Alex bingung.


"Mengenai Ita ayah, apa ayah mau Ita lumpuh selama nya?", ucap Sari kepada Alex.


"Maksud kamu apa?, Ita kan masih terus lanjut pengobatan nya secara kusuk", Alex membela diri.


"Iya sih ayah, tetapi apa ayah tidak lihat, perubahannya tidak terlalu baik, Ita masih saja belum bisa menggerakkan kaki, bahkan sekedar untuk duduk pun tak bisa", Sari berusaha menyakinkan Alex.


"Memang seperti itu kusuk, nanti juga akan semakin membaik, kita lihat saja dulu", ucap Alex sambil meninggalkan Sari, dan hendak keluar rumah.


"Kumohon ayah, pikir kan baik baik, sebelum terlambat, kita harus segera membawa Ita berobat secara medis, sebelum terlambat" Sari terus membujuk Alex.


"Sudahlah, nanti kita bicarakan lagi, ayah mau pergi sekarang", ucap Alex terus lanjut membuka pintu untuk keluar.


Sari hanya diam saja, kesal dan sedih melihat Ita masih terbaring, Sari menitikkan air mata melihat Ita yang lagi tidur di kamar. Ita harus di suapi kalau makan, bahkan untuk buang air kecil atau buang air besar harus di tempat tidur dan menyediakan pispot.

__ADS_1


****


Sari terus melatih Ita untuk bisa duduk sendiri, awal nya sakit dan susah, Ita selalu menangis bila di latih untuk duduk, entah karena tulang nya sudah kaku, karena terbiasa rebahan terus.


Sari terus membujuk adiknya Ita, agar mau dilatih, padahal Sari pun sangat sibuk. Terkadang kalau Sari melatih Ita, Tiur marah, karena telah meninggalkan pekerjaannya untuk menenun.


" Selesaikan dulu tenunan mu, kamu dan adik adikmu mau makan apa nanti, kalau hasil tenunan nanti berkurang" teriak Tiur dengan suara kencang kepada Sari.


Sari harus kejar target, ulos harus bisa minimal 4 lembar bisa dibawa untuk dijual ke pekan.


Sari sedih tidak bisa rutin setiap hari untuk melatih Ita.


Melihat Tiur marah kepada Sari, Ita jadi tergerak hatinya untuk berlatih duduk sendiri, Ita berusaha menahan rasa sakitnya, terus saja Ita mencoba, walaupun akhirnya jadi jatuh terguling ke samping, Ita tidak menyerah.


Akhirnya setelah berlatih secara rutin dan gigih, Ita bisa duduk sendiri, walaupun harus dengan susah payah dan harus menggapai sesuatu untuk dijadikan pegangan.


Sari senang melihat perubahan Ita, walaupun hanya masih sekedar duduk.


Ketika malam hari sebelum mereka tidur. Di kamar Sari dan adik adiknya berbicara dan terus menyemangati Ita, agar terus berlatih. "Sekarang berlatih untuk berjalan ya dek, semangat ya dek, jangan menyerah", ucap Sari, Siti, Sita, dan Vina kepada Ita. Dan mereka berlima menangis sambil berpelukan.


****


Sari melihat kerbau di kandangnya tidak ada lagi, hanya ada 2 ekor anaknya saja. Sari teriak memanggili adik adiknya, tadinya Sari bermaksud untuk mengeluarkan kerbau dari kandang nya, menunggu sebentar lagi Sita dan Vina akan membawanya ke lapangan untuk sehari an disana memakan rumput, sore harinya baru akan dibawa kembali ke rumah. Tetapi sekarang, kerbau itu tidak ada di dalam kandang nya. Sari masuk ke rumah dan bermaksud mengetuk pintu kamar Alex, memberi tahu bahwa kerbau dewasa mereka telah hilang.


"Ayah, ayah, ayah", teriak Sari sambil mengetuk pintu kamar Alex.


Tiur membukakan pintu, memarahi Sari karena telah berteriak-teriak dengan kencang.


"Ada apa Sari?, mengapa kamu teriak teriak dengan kencang?", tanya Tiur dengan penuh emosi.

__ADS_1


"Kerbau kita yang dewasa telah hilang Bu, sekarang hanya tinggal anaknya saja di kandang", ucap Sari memberitahu kan, atas kejadian pagi ini, yang baru diketahui nya.


"Oh itu, sudah dijual", ucap Tiur dengan santai.


"Apa!, dijual, mengapa", tanya Sari ingin tahu, karena memang Alex tidak memberitahu nya mengapa kerbau itu dijual dan untuk keperluan apa.


Tiur kesal karena Sari terus bertanya, mungkin Tiur masih merasa ngantuk, dan telah terganggu tidurnya karena ketukan pintu Sari yang telah membangun kannya.


"Sudah lah Sari, mengganggu tidur ku saja, besok kau tanya saja ayah mu", ucap Tiur kesal sambil menutup kan kembali pintu kamarnya.


Sari tidak terima Alex menjual kerbau itu, tanpa memberitahu kanya kepada Sari. Padahal dari kemarin Sari ingin kerbau itu dijual untuk pengobatan Ita secara medis, Alex tidak mengizinkan nya, sekarang telah dijual untuk keperluan mendadak apakah itu, tanya Sari dalam hati penuh gejolak dan penasaran.


Sari tidak sabar menunggu Alex bangun dan menanyakan perihal dijualnya kerbau tersebut. Tetapi tiba saatnya Sari harus pergi kesekolah, dan Sari harus membawa rasa penasaran nya hingga ke sekolah.


Sepulang dari sekolah Sari buru buru berlari menuju rumah, ingin segera bertemu dengan Alex dan menanyakan perihal dijualnya kerbau itu.


Sesampainya di rumah, Sari langsung mengetuk pintu kamar ayahnya.


tok..tok.." ayah, ayah", teriak Sari.


"Ayah dan ibu, tidak ada kak, tadi mereka pergi bersama sama sambil membawa Reni", ucap Vina.


"Kemana mereka pergi Vin", tanya Sari ingin tahu.


"Tidak tahu kak, ayah dan ibu tidak ada memberitahu kanya, mereka langsung pergi tadi, setelah aku pulang sekolah tadi", ucap Vina menjelaskan.


Vina pulang sekolah lebih awal dari Sari, karena Vina kelas 1, secara Sari kelas 6 SD.


Lagi lagi Sari kesal, dan semakin penasaran, mengapa kerbau itu dijual.

__ADS_1


Sari kembali melakukan rutinitas nya melanjutkan untuk menenun ulos, Sari harus kejar target. Bisa bisa Tiur akan marah besar bila tidak mencapai target.


Sampai sore hari pun. Alex dan Tiur belum juga tiba di rumah, bahkan hingga tiba waktunya untuk makan malam pun, Tiur dan Alex belum juga tiba di rumah. Sari dan adik adiknya akhirnya memutuskan untuk terlebih dulu makan malam. 'Mungkin Tiur dan Alex akan pulang larut malam', gumam Sari dalam hati.


__ADS_2