
Sekarang Beni sudah kelas 3 SMK, beberapa bulan lagi Beni akan tamat dari SMK.
Beni merancang beberapa target di dalam otak nya. Setelah tamat SMK Beni akan merantau ke kota untuk beberapa tahun untuk mencari pekerjaan, Beni punya banyak saudara yang mempunyai jabatan tinggi bekerja di kantor pemerintah bagian kelistrikan, 'tidak apa apa sedikit minta bantuannya, untuk selanjutnya tes dan qualitas kerja, Beni sanggup memberikan yang terbaik', bathin Beni dalam hati.
Beni menjadi lebih serius belajar mempersiapkan untuk ujian Nasional, yakni ujian kelulusan. Beni lebih mempergunakan waktu mengurung diri dikamar untuk belajar mengerjakan berbagai contoh latihan dari buku, atau mengerjakan soal soal ujian nasional tahun tahun lalu, agar banyak bentuk bentuk soal yang bisa diketahuinya dan tentu nanti nya ketika ujian tidak kewalahan menjawabnya. Daripada harus nongkrong nongkrong di warung kopi membuang buang waktu saja, bathin Beni dalam hati.
Hendra, Hendri Roni datang menggoda dan mengejek Beni karena seharian telah mengerjakan soal, Beni hanya keluar ketika sedang mandi dan mau makan. Selain dari kegiatan itu, yah di kamar mengerjakan soal soal ujian.
"Sudahlah Beni, lama lama kamu jadi gila nanti", ledek Hendri karena melihat Beni belajar terus, mereka menggoda dan mengajak Beni untuk nongkrong di warung kopi, atau sekedar keluar melihat keramaian di pinggir jalan. Tetapi Beni kekeh tidak peduli ajakan teman nya.
"Maaf teman teman kalian saja yang pergi ya, aku lagi sibuk", ucap Beni menolak ajakan teman temannya.
"Sesekali saja loh Beni, kurasa tidak apa apa, Sari pun pasti marah kalau kamu belajar terus", ucap Hendra serius.
Beni hanya senyum saja menanggapi teman temannya. Akhirnya Beni pun tergoda untuk mengikuti ajakan teman temannya, tidak enak menolak terus, bathin nya dalam hati, lagian Hendri dan Roni sudah bela belain datang dari kosan sebelah.
Akhirnya empat sekawan itu pergi berjalan menyusuri keramaian kota. Tiba tiba mereka berhenti di depan bioskop di kota tersebut.
"Bagaimana kalau kita menonton film saja", ajak Roni menggoda teman temannya.
"Aduh, menonton film kan lama, padahal aku maksudnya keluar rumah hanya sebentar saja", tolak Beni spontan.
"Elleh kamu ini", teriak Roni, Hendra dan Hendri seketika sambil menjitak kepala Beni.
__ADS_1
Roni langsung masuk duluan memperhatikan film film yang sedang tayang di bioskop itu. Kebetulan ada film yang mau tayang 10 menit lagi, dan spontan Roni langsung menawarkan film itu kepada teman temannya.
"Bagaimana kalau kita menonton film ini", ucap Roni sambil menunjukkan Foster film yang akan mereka tonton.
"Diujung Penantian", ucap Beni membaca judul film yang akan mereka tonton.
Beni pun setuju untuk menonton film tersebut. Melihat Beni setuju untuk film yang akan mereka tonton, Roni langsung lari secepat mungkin menuju kasir, takut kehabisan tiket dan telat karena waktunya sudah mepet, karena filmnya segera diputar.
Setelah tiket sudah ditangan, di depan pintu masuk ada pegawai yang memeriksa tiket dan mengarahkan mereka untuk duduk sesuai nomor bangku, dan menunjukkan arah nomor bangku yang tertera di tiket.
Mereka berempat pun masuk perlahan sambil memperhatikan nomor J1, J2, J3 dan J4 ternyata posisi bangku mereka berada disebelah kanan bagian tengah bioskop.
Cukup strategis posisi duduk mereka, tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat juga terhadap layar bioskop.
'Diujung penantian',
Sedikit banyak mengisahkan tentang sepasang kekasih yang berpacaran lama di desa. Si lelaki pergi merantau ke kota, si lelaki berjanji untuk setia dan akan serius terhadap si perempuan.
Sepasang kekasih itu pun masing masing berjanji untuk setia.
Masih berkirim kabar melalui surat menyurat, hingga akhirnya lama kelamaan kekasih lelaki tiba tiba tidak mengirimkan surat lagi terhadap si kekasih perempuan.
Orangtua si kekasih perempuan sudah terus menuntut si perempuan untuk tidak menunggu lagi kekasihnya dan segera menikah dengan lelaki yang lain, tetapi si kekasih perempuan tetap kekeh tidak mau menuruti apa kata orang tua nya, dan tetap menunggu kekasih pilihannya yang sudah lama merantau dan tidak pernah memberi kabar.
__ADS_1
Hingga akhirnya jenazah kekasih lelaki dibawa pulang ke kampung, jenazah itu melewati rumah si kekasih perempuan, dengan penuh tanda tanya, dan memang tidak ada firasat atau pihak keluarga kekasih lelaki pun tidak ada memberitahukan sebelum nya.
Dengan rasa penasaran si kekasih perempuan terus mengikuti mobil jenazah itu, dan betapa terkejutnya dirinya bahwa, ambulans itu berhenti di rumah orang tua kekasih lelaki nya, dengan spontan perempuan itupun berlari mencoba mencari tahu siapa jenazah itu, dengan menerobos kerumunan orang orang.
Perempuan itu tidak habis pikir melihat jenazah yang datang itu adalah kekasih yang ditunggu tunggu nya selama ini, tidak percaya dengan pandangan mata, perempuan itu mencoba memastikan nama yang tertera di peti jenazah tidak salah lagi adalah kekasih hatinya yang sudah lama merantau, padahal kekasih hatinya sudah berjanji akan pulang, dan segera melamar dirinya, tetapi takdir berkata lain, hanya Tuhan yang berkehendak seluruh umatnya hanya bisa pasrah terhadap apa yang sudah disurat kan, entah itu suka maupun tidak suka.
Kekasih perempuan hanya bisa menangisi peti jenazah, dan sesekali terbangun dan kembali pingsan karena tidak menyangka atas apa yang terjadi pada dirinya.
Bagaimana ia akan menjalani hidup, karena yang membuatnya semangat hidup selama ini hanyalah kekasih hatinya, sekarang kekasih hatinya telah pergi meninggalkan nya untuk selama lamanya, untuk membuka hati terhadap lelaki lain, mungkin butuh waktu dan tidak tahu, apakah masih bisa membuka hati untuk orang lain.
Filmnya begitu sedih, hampir semua orang yang menonton di ruangan itu menitikkan air mata, begitu juga Beni, sedikit mengisah tentang hubungannya dengan Sari, dengan spontan Beni pun berdoa dalam hati 'mudah mudahan hubunganku dengan Sari kedepannya akan baik baik saja, apa yang kami cita citakan semoga tercapai', segera mengucapkan amin di dalam hatinya.
"Bagaimana filmnya Beni?", tanya Roni ingin tahu pendapat Beni, karena sedari tadi Beni yang paling susah diajak untuk keluar dari kamar, karena terlalu fokus dan serius untuk belajar mempersiapkan ujian kelulusan nanti.
"Bagus", ucap Beni datar sambil manggut manggut.
"Lain kali kita nonton lagi yah, apakah kamu menyesal telah keluar rumah?", ledek Roni.
"Tidak apa apa lah, sesekali tidak apa apalah itung itung ngresfresh kan otak, agar tidak jenuh dan stress", bela Beni tidak mau dipojokkan terus.
"Tetapi filmnya menurut ku terlalu sedih, tidak happy ending ", ucap Beni.
"Ben, Ben, hidup tidak terus harus happy, terkadang hidup tidak sesuai harapan kita", ucap Hendri.
__ADS_1
Keempat sekawan itu pun, hanya berjalan beriringan menuju tempat kos kosan nya. Masing masing punya tanggapan dan pemikiran masing masing, bahkan siapa yang tahu jalan hidup mereka kedepannya seperti apa.