Kisah Pilu Seorang Kembang Desa

Kisah Pilu Seorang Kembang Desa
#12. Ita tidak bisa sembuh lagi


__ADS_3

Bibi Ati menyarankan supaya Ita dilakukan pengobatan secara medis, ayah menolak keras dan mengatakan "Tidak usah, nanti juga sembuh sendiri dan lama kelamaan Ita pasti bisa berjalan lagi, Ita saja yang terlalu takut untuk menggerak gerakkan dan melatih kakinya untuk berjalan",


Bibi Ati marah dan mengatakan "Seluruh biaya pengobatan nya aku yang akan menanggung nya".


Setelah bibi mengatakan bahwa pengobatan nya akan ditanggung oleh bibi, Alex pun terdiam dan tidak bisa berkata kata lagi.


****


Sari dan bibi Ati membawa Ita pergi berobat ke rumah sakit. sesampainya di rumah sakit dokter pun memeriksa kondisi Ita. Sebelumnya nya terlebih dahulu dokter menyarankan untuk Rontgen bagian punggung dan pinggang. Dokter pun geleng geleng kepala dan marah kepada bibi Ati, karena bibi Ati adalah keluarga yang membawa Ita. "Apakah ini pertama kali pasien dibawa ke rumah sakit?", tanya dokter kepada bibi Ati.


"Iya dok, ini baru pertama kali pasien berobat setelah 3 bulan lebih setelah terjadi kecelakaan", jawab bibi Ati.


"Mengapa baru sekarang dibawa, mengapa tidak langsung dibawa setelah kecelakaan", balas dokter agak marah.


" Iya dokter, ayah nya terlalu sibuk dan tidak sempat membawanya", jawab bibi Ati sekedarnya.


"Ini sudah terlambat, ada pergeseran tulang dibagian pinggangnya, tulang itu kan sifatnya ada pertumbuhan otot-otot dibagian engsel tulang, setelah tulang bergeser, otot ototnya sudah tumbuh, sehingga untuk mengembalikan tulang yang bergeser sudah tidak ada tempat lagi, makin lama kakinya akan semaki mengecil tidak berfungsi lagi, ini sudah terlambat, adik anda akan lumpuh selamanya", ucap dokter menjelaskan.


Sari menangis sedih mendengar keterangan dokter yang mengatakan bahwa Ita akan lumpuh selamanya."Tidak bisa kah diobati lagi dokter, walaupun di kusuk?", tanya Sari sedih.


"Mengkusuk justru akan memperparah keadaan nya, apalagi tukang kusuk tidak tahu detail letak permasalahan nya", jawab dokter menyakinkan Sari.


'Ya Tuhan, kesalahan apa yang telah kulakukan kepada Ita, mengapa aku tidak memaksa membawanya ke rumah sakit, harusnya biaya pengobatan kupikirkan belakangan, aku harusnya datang lebih awal minta bantuan kepada bibi Ati', Sari terus menyalahkan dirinya, Sari terus menangis.


Bibi Ati berusaha membujuk dan menghibur Sari.

__ADS_1


"Sudahlah mungkin ini sudah takdir, jangan menyalahkan dirimu terus menerus, sudah terlambat, sekarang kamu harus terus memotivasi adikmu Ita, menyemangati nya, agar tidak putus asa, melatihnya, agar Ita bisa menggerakkan tubuhnya melakukan aktifitas setidaknya untuk memenuhi kebutuhannya, mandi sendiri, buang air, walaupun itu dengan ngesot di lantai", ucap bibi Ati memberi arahan dan nasehat apa yang harus dilakukan Sari untuk kedepannya untuk masa depan Ita.


Sari pun terdiam mendengar penjelasan bibi Ati.


Semua penjelasan dokter, tidak disampaikan di depan Ita, Ita tidak tahu apa yang telah terjadi pada dirinya.


Setelah mereka keluar dari rumah sakit, di perjalanan pulang, Ita menanyakan kondisinya "Bagaimana hasil pemeriksaan bibi?, apakah Ita akan sembuh?", tanya Ita.


Bibi Ati dan Sari hanya diam saja. Sari tidak bisa membohongi adiknya, tetapi untuk berkata jujur Sari pun tidak berani, tidak tega rasanya mengatakan bahwa Ita akan lumpuh seumur hidupnya.


Bibi Ati pun langsung saja menjawab "Tentu saja kamu bisa sembuh Ita, asal kamu rajin berlatih berjalan iya!, kamu harus semangat dan tidak boleh berputus asa, kamu tidak boleh minder terhadap teman temanmu, semangat iya sayang!", ucap bibi Ati menyemangati Ita sambil memeluk erat tubuh Ita.


Mereka pun sampai di rumah, Ita pun tertidur karena kelelahan naik angkutan bak terbuka, karena Ita harus berbaring, tidak bisa duduk.


Alex datang menghampiri bibi Ati menanyakan bagaimana kondisi Ita setelah berobat kerumah sakit.


"Sudah terlambat Alex, selama nya Ita akan lumpuh, kamu adalah ayah yang jahat, kamu tega tidak membawa Ita secepatnya berobat ke rumah sakit, sungguh kamu adalah ayah yang tidak punya perasaan, ayah yang tidak memikirkan bagaimana masa depan anak anaknya", ucap bibi Ati penuh amarah kepada Alex.


Alex pun hanya diam saja, tidak berani lagi bicara, kenyataan nya memang sekarang sudah terlambat, penanganan secara medis pun tidak ada gunanya.


Alex langsung pergi meninggalkan bibi Ati menuju ke kamar, takut bibi Ati akan bicara panjang lebar dan pasti akan terus memarahi Alex.


****


Sari rajin mengajari Ita untuk ngesot di lantai, dan berusaha berdiri dengan menggapai sesuatu sebagai pegangan.

__ADS_1


Sari terus menyemangati adiknya Ita "Pelan pelan saja dek, yang penting kamu harus terus semangat dan berusaha terus", ucap Sari menyemangati Ita.


Ita pun tersenyum dan menjawab "Baik kak".


Berangsur angsur gerakan Ita semakin gesit, untuk menggapai sesuatu untuk jadi pegangan nya untuk duduk dan berdiri, Ita pun melakukan gerakan berpindah tempat dengan ngesot di lantai.


Ada raut kebahagiaan di wajah Ita, karena bersyukur bisa pindah tempat, setidaknya tidak hanya tergeletak ditempat tidur, sesekali keluar melihat ada teman temannya bermain dihalaman depan.


Melihat Ita keluar rumah, ada temannya datang menghampirinya untuk mengajaknya bermain "Ita main yuk", ucap teman teman Ita bersamaan.


Ita hanya diam saja tidak bisa menjawab. Sari melihat raut wajah Ita, Sari segera menghampiri teman teman Ita "Main nya besok besok saja ya, Ita sekarang belum bisa bermain dengan kalian", jawab Sari.


Ita pergi ngesot ke dalam kamar dan mengurung diri. Sari membiarkan saja adiknya, mungkin Ita butuh sendiri, gumam Sari dalam hati.


Sejak saat itu, Ita tidak berani lagi menampakkan wajahnya didepan rumah, takut teman temannya mengajak Ita lagi bermain.


****


Setahun sudah Ita tidak bisa berjalan, Ita pun bertumbuh menjadi gadis yang minder.


"Ita, jangan merasa minder dengan kondisi kamu saat ini iya, setidaknya kamu bisa beraktifitas dan tidak tergantung kepada orang lain itu sudah cukup, kamu mau sambil mencoba untuk belajar memasak boleh, apa yang ingin kamu lakukan, lakukan lah, jangan putus asa iya, harus optimis dan semangat", ucap Sari menyemangati adiknya.


Karena suatu hari nanti pun, tiba waktunya Sari akan meninggalkan Ita, begitu juga kakaknya yang lain, Sita, Siti, Vina suatu hari nanti pasti meninggalkan Ita sendiri di rumah, Ita harus bisa melakukan kegiatan rumah memasak, atau apa saja setidaknya tidak bergantung terhadap orang lain.


Untung lah Ita mau mendengarkan nasihat kakak kakaknya. Ita pun sudah mau keluar rumah, walaupun sampai ngesot di tanah, Ita sudah mau bergabung bermain dengan teman temannya. Teman Ita pun begitu pengertian tidak mengejek kondisi Ita dan mau bergabung bermain dengan Ita. Ita dan teman temannya bermain congklak ditanah, mereka tidak mengajak Ita untuk bermain petak umpet atau bermain tali. Bila ada temannya yang ingin bermain tersebut Ita pun langsung mengatakan "Tidak apa apa teman, silahkan kalian bermain petak umpet dan bermain tali, aku akan melihat kalian saja di pinggir lapangan ini", ucap Ita kepada Teman-teman nya.

__ADS_1


Ita pun sesekali tertawa dan tersenyum melihat tingkah laku teman temannya.


__ADS_2