
Sari dan adik adiknya mempunyai adik tiri yang bernama Reni dari ibu kedua mereka, Tiur. Ita adik bungsu dari Sari sudah berumur 2.5 tahun, kini sudah bisa berjalan dan sudah bisa bicara, sedikit banyak Ita sudah mengerti apa yang diucapkan orang kepadanya, dan sudah bisa menjawab pertanyaan orang kepadanya.
Sedangkan Vina yang tadinya belum bersekolah, sekarang sudah duduk di bangku kelas 1.
Hanya Ita teman Tiur di rumah kalau pagi hari, karena anak anak semua pergi kesekolah, tidak banyak yang bisa dilakukan Ita.
Terkadang kalau Reni rewel Ita menjadi pelampiasan kemarahan Tiur, Ita sering di marahi dan dibentak bentak.
****
Karena beban tanggukan keluarga sudah bertambah 1 orang, banyak sanak saudara, bahkan guru Sari. Ingin Sari menjadi anak angkat mereka, tetapi Sari tidak ingin, Sari kasihan dan tidak mau jauh dari adik adiknya, walaupun Sari tidak bisa berbuat apa apa, namun Sari nyaman bisa dekat dan tahu kondisi adik adiknya.
Siang hari Sari semakin repot dan bertambah kerjaannya karena yang mengasuh dan menjaga adik tirinya Reni adalah Sari. Padahal Sari harus menyelesaikan tenunan, agar ada di bawa untuk dijual pada hari pekan, terkadang Tiur banyak tidur dari pagi hingga sore setelah makan siang, mungkin Tiur kelelahan tidak bisa tidur ketika malam, karena yang mengasuh Reni pada malam hari adalah Tiur.
walaupun Sari yang menenun ulos, ibu tirinya Tiur tidak pernah mau membelikan jajanan kepada keempat adiknya ketika pulang dari pekan. Tiur masih saja perhitungan kepada Sari dan adik adiknya, padahal Tiur sudah berjanji untuk tidak berlaku tidak adil kepada Sari dan adik adiknya, ketika Tiur sulit untuk melahirkan Reni. Setelah melahirkan Tiur tidak ingat lagi terhadap janjinya.
****
Alex selalu marah dan cuek kepada Tiur, karena Tiur ternyata melahirkan anak perempuan, padahal Alex sangat menginginkan Tiur melahirkan anak laki-laki, karena tujuan Alex untuk menikahi Tiur adalah memang untuk mendapatkan keturunan laki-laki.
Alex memberi peringatan kepada Tiur, "Seandainya kamu tetap melahirkan anak kedua nanti perempuan, kamu siap siap lah kuceraikan" ucap Alex dengan tegas kepada Tiur.
Tiur hanya diam saja dan pasrah atas apa yang diucapkan Alex kepadanya. Sesungguhnya Tiur pun merasa was was, takut diceraikan Alex.
Tiur sedikit merasa lega, setidaknya untuk saat ini Tiur tidak memikirkan untuk hamil anak kedua, karena Reni masih 3 bulan.
Tiur sengaja menjarak kan kandungan nya, agar bisa melahirkan anak laki-laki, begitu perintah orang orang tua, dan Tiur pun turut saja apa kata orang.
******
__ADS_1
Ita, adik bungsu Sari. Terkadang pergi ikut kakak nya untuk mengembalakan kerbau. Siti dan Sita bertugas untuk mengembalakan kerbau, memang sering mengajak Ita ikut, ini adalah sebagai hiburan tersendiri untuk sekedar melepas kan penat dan jenuh, karena di rumah pun Ita sering dimarahi ibu tirinya Tiur, apabila Ita tidak bisa membujuk baby Reni.
Ita diangkat keatas punggung kerbau, maksud Siti dan Sita supaya Ita senang bisa duduk diatas punggung kerbau, Ita tidak lelah berjalan menuju rumah. Karena jarak rumah ke tempat pengembalaan kerbau memang jauh.
Entah mengapa, tiba tiba kerbau berlari kencang. Dan Ita terjatuh dari punggung kerbau. Dengan secepat kilat dan sekencang kencangnya Sita dan Siti berlari mengejar kerbau dan tempat terjatuh Ita. Ita menangis sekencang kencangnya, dan tidak bisa berdiri, Ita mengatakan bahwa punggung nya terasa sakit. "aduh..u..u.sakit sekali" tangis Ita, dan masih saja terus menangis.
Siti dan Sita ketakutan dan segera menggendong Ita dan membawa Ita kerumah. Sita dan Siti terus membujuk Ita agar diam dan tidak menangis. Sesampainya di rumah, Sari panik mendengar suara tangisan Ita dan segera menghampiri Sita dan Siti dan menanyakan apa yang terjadi.
"Ada apa ini Siti?" tanya Sari bingung
"Ita, jatuh dari atas kerbau kak" ucap Siti dengan penuh ketakutan dan penyesalan.
"Kok bisa", ucap Sari ingin tahu.
"Tadinya kami bermaksud mengangkat Ita keatas punggung kerbau, supaya Ita tidak kelelahan berjalan dari tempat pengembalaan kerbau menuju rumah, tetapi entah mengapa tiba tiba kerbau berlari sekencang kencangnya, sehingga Ita terjatuh", ucap Siti menjelaskan kepada kakaknya Sari.
"Aduh bagaimana ini, ayo kita bawa Ita ke ibu Opi tukang kusuk", ucap Sari dengan tegas dan sambil segera menggendong adiknya Ita dan membawanya kerumah ibu Opi, tukang kusuk.
Sari pun langsung menitikkan air mata mendengar tangisan adiknya. Sari pun sangat sedih tidak bisa menjaga adiknya dengan baik.
Setelah selesai di kusuk, akhirnya Ita tertidur lelap, mungkin karena kecapean menangis, dan karena terlalu sakit nya ia menahan sakitnya seluruh badannya karena telah jatuh dari punggung kerbau, hingga terpelanting.
Tukang kusuk mengatakan ada pergeseran tulang, ada tulang yang retak dan mungkin juga syaraf yang terjepit. Pengobatan harus rutin, dan sesekali dianjurkan untuk berobat secara medis, agar bisa lebih detail pemeriksaannya, dan pengobatan nya juga lebih pasti.
Sari hanya diam saja, darimana ayahnya mendapatkan uang untuk pengobatan Ita, yang pegang kendali keuangan selama ini adalah Tiur, hasil penjualan ikan dari tangkapan ayah.
Tiur yang menjual dan menyimpan uangnya, bahkan hasil penjualan menenun ulos, padahal Sari yang menenun nya, semua Tiur yang menyimpan nya.
****
__ADS_1
Sudah hampir sebulan Ita berobat dengan cara di kusuk, sekali seminggu Ita wajib kusuk, sudah 4 kali Ita di kusuk ke tukang kusuk, biaya kusuk diberikan setiap kali kusuk. Tiur merasa keberatan bila mengeluarkan biaya untuk kusuk, terkadang Alex dan Tiur harus bertengkar bila tiba waktunya pembayaran uang kusuk.
Walaupun Ita sudah 4 kali kusuk, tetapi perubahan untuk kesembuhan belum terlihat. Ita takut untuk menggerakkan kakinya, disuruh untuk sekedar duduk payah Ita lakukan, bahkan Ita sering menangis bila sekedar memiringkan badannya ke kanan atau ke kiri, walaupun dalam kondisi rebahan.
Sari selalu menemani Ita untuk melatih menggerakkan kakinya pelan pelan,
"Tidak apa apa Ita, awal awal mungkin sakit untuk menggerakkan nya, tetapi lama kelamaan pasti akan terasa biasa", ucap Sari menyakinkan Ita.
"Sakit sekali kak", tangis Ita.
"Iya pasti sakit sekali rasanya dek, tetapi kamu harus banyak latihan, agar kaki mu yang sakit ini tidak menjadi kaku, dan akhirnya kamu nanti akan lumpuh selamanya", ucap Sari menasihati adiknya Ita.
Sesering apapun Sari menasihati Ita, Ita tetap tidak mau melaksanakan apa yang diperintahkan Sari. Karena Ita terlalu takut, dan mungkin karena Ita masih kecil, tidak mengerti efeknya di masa yang akan datang.
Sari menganjurkan agar ayah mau menjual kerbau untuk pengobatan Ita.
***
Sari menganjurkan kepada ayahnya, agar menjual saja kerbau milik mereka, agar Ita bisa fokus dan rutin berobat ke dokter.
"Ayah, bagaimana kalau kita jual saja kerbau itu, untuk pengobatan Ita secara rutin ke rumah sakit!", bujuk Sari kepada ayahnya.
Alex hanya diam saja.
"Ayah, bila berobat secara medis, melalui scan atau Rontgen, bisa terlihat jelas, apa yang terjadi sebenarnya kepada Ita, apakah patah tulang, atau saraf terjepit. Seandainya patah tulang, padahal selama ini kita mengusiknya saja, apa tidak semakin memperparah kondisi Ita?", ucap Sari menyakinkan ayahnya.
Alex tetap diam saja, pikirannya berkecambung, 'pasti Tiur tidak setuju dan mereka pun pasti akan ribut dan berantam', gumam Alex dalam hati.
Sari terus membujuk Alex, tetapi Alex hanya diam saja tanpa memberi tanggapan.
__ADS_1
Sari kesal dan langsung meninggalkan ayahnya. 'Mengapa ayah tidak setuju, tidak adakah lagi perhatian ayah terhadap anaknya sendiri', Sari terus saja berpikir, tidak mengerti jalan pikiran Alex.