
Pengumuman untuk kelulusan dari sekolah kepolisian telah keluar.
Ternyata Robert dinyatakan tidak lulus padahal sudah banyak biaya yang dikeluarkan Sari. Sari kecewa, cincin nya pun tidak bakalan tergantikan lagi.
Robert tidak mengucapkan sepatah katapun yang menyatakan "Kak aku minta maaf telah mengecewakan kakak, nanti kalau ada rezeki atau kalau aku kerja bakalan ku ganti",
kata-kata itu tidak keluar dari mulut Robert, bahkan hanya sekedar basa-basi pun, karna sesungguhnya Sari sudah ikhlas bahwa cincinnya tersebut bakalan tidak kembali lagi.
Juan pun seperti itu, seperti biasa saja tanggapannya, tidak merasa menyesal atau merasa bersalah.
"Keluarga Juan seperti keluarga yang tidak menghargai keringat dan kebaikan orang", pikir Sari dalam hatinya.
Bukan saja mengenai Robert, bahkan Ita, adik perempuan Juan juga, seolah-olah tidak peduli perasaan Sari, pakaian dan kain sarung Sari dipilih yang paling cantik dan paling bagus, lalu di ambil tanpa sepengetahuan Sari, "Kalau bukan Ita siapa lagi", pikir Sari dalam hati, tidak mungkin mertua perempuan yang mengambil pakaian dan sarung Sari.
Sari berkeluh kesah kepada Juan, maksudnya sekedar mengungkapkan kekesalan Sari maksudnya, bukan maksud menjelek-jelekkan Ita, atau keluarga Juan.
"Aku kehilangan pakaian ku dan sarungku, kenapa Ita tidak permisi saja kepadaku, kenapa mengambil tanpa sepengetahuan ku, itu namanya mencuri" keluh Sari kepada Juan.
"Sudah lah ikhlas kan saja, pakaian bekas saja masak kamu tidak bisa ikhlas" Juan ketus, tidak memikirkan perasaan Sari.
"Bukannya minta maaf atau membujuk, malah Juan marah-marah menyalahkan aku", pikir Sari kesal.
Sari mencoba menahan emosinya, Sebenarnya Sari kesal, Juan seperti menyalahkan Sari. tetapi Sari mencoba untuk berbicara lembut dan pelan kepada Juan.
"Bukannya tidak mau memberi pakaian atau sarungku, maksudnya permisi, supaya aku tidak capek mencari-cari" Sari berbicara sopan.
Juan malah makin emosi, dan langsung bicara keras dan kasar.
"Kamu pikir keluargaku, keluarga pencuri " Juan langsung marah.
Mendengar Juan marah -marah, Sari pun tidak berani lagi berbicara atau menyinggung Ita, Sari langsung meninggalkan Juan sendirian duduk di ruang tamu.
Sari menangis dalam kamar nya, "Pernikahan apa yang telah kupilih dan kujalani, aku yang kehilangannya pakaian dan sarung, kenapa kok aku yang jadi dihina dan dimarahi" pikir Sari dalam benaknya.
Juan sangat kaku, bukannya membujuk Sari, Juan tahu Sari menangis, malah Juan tidak peduli perasaan Sari.
__ADS_1
Kekesalan Sari pada Ita, sudah dilupakan Sari, "lebih baik tidak menyinggung itu lagi, nanti malah salah paham", pikir Sari dalam benaknya.
Esoknya, Sari beraktifitas seperti biasanya, Sari tidak menyinggung pembicaraan mengenai Ita. Begitu juga Juan, diam dan tidak mengucapkan sepatah dua patah kata pun.
Setelah selesai masak satu menyajikan makanan di meja makan dan mengajak Juan untuk makan bersama, Juan menuruti.
Juan dan Sari makan bersama di meja makan tanpa ada sepatah katapun keluar dari mulut Juan. Sari kesal dan langsung mengumpulkan piring dari meja makan selanjutnya mencuci piring tersebut di kamar mandi.
Sari kesal dengan sikap Juan yang begitu dingin dan kaku.
"Kalau aku tidak menyapa Juan, pasti Juan pun tidak akan menyapa Sari seumur hidup" pikir Sari dalam benaknya.
Untuk membuka percakapan,
"Jam berapa kamu berangkat" sapa Sari membuka obrolan, karena memang hari ini Juan akan berangkat ke Jakarta, karena Juan sudah dua hari tinggal di rumah. dan sekarang waktunya mau berangkat lagi ke Jakarta.
"jam 3 sore" jawab Juan seadanya.
Sari pun segera mempersiapkan pakaian-pakaian bersih untuk dipergunakan Juan selama di perjalanan nanti.
tiba-tiba "uuuuuaaaak, uuuuuaaaak" Sari muntah-muntah, Sari merasa pusing dan lemas.
Juan hanya terpaku melihat Sari, tanpa mendekati Sari, padahal Sari berharap Juan mau memijit kepala atau pundak Sari, agar sedikit reda rasa mualnya,
tetapi itu tidak dilakukan Juan, Sari merasa kesal dan dikacangin, Juan begitu luar biasa cuek dan dingin, tidak ada rasa pengertian dan perhatian nya sedikit pun kepada istrinya.
Hanya berkata "Kamu kenapa" tanya Juan singkat.
"Tidak tahu, sedikit pusing, lemas dan tidak bertenaga" ucap Sari manja ingin di perhatikan.
"Pergilah ke warung beli obat" ucap Juan polos.
"Ya ampun, harusnya kalau mau menolong, Juan lah yang membelikan obatnya, sudah sakit, disuruh beli obat sendiri" , Sari kesal di dalam hatinya.
Sari sudah menunjukkan muka cemberut, tetapi Juan pun, tidak juga beranjak dari tempat duduknya, tetap tidak peduli atas keinginan Sari.
__ADS_1
Mendengar Sari muntah-muntah, tetangga sebelah datang menghampiri Sari, maklum rumah Sari dan tetangga hanya dibatasi dinding kayu,
tetangga Sari kebetulan begitu ramah dan perhatian, Sari banyak cerita kepada tetangganya, ibu Hesti, dan ibu Hesti tahu, bahwa Sari dan Juan adalah pasangan suami-istri yang baru saja menikah.
"Mungkin kamu sedang hamil Sari!" ucap Bu Hesti menyakinkan Sari.
"Apa" Sari dan Juan saling bertatapan mata.
"Ibu Hesti tahu darimana?" tanya Sari tidak percaya.
"Tahu lah, itu ciri-ciri orang yang lagi hamil muda Sari, kamu percaya deh sama Tante" ucap Bu Hesti tersenyum.
Sari jadi malu, "bagaimana kalau aku benar-benar hamil", pikir Sari dalam hatinya.
Bu Hesti tahu kekhawatiran Sari "Tidak apa-apa Sari, kamu tidak perlu takut dan khawatir,
kamu jaga kandungan kamu, jangan mengangkat yang berat-berat, jangan stress dan banyak berpikir, santai saja, kamu banyak minum dan makan makanan sehat dan bergizi" Bu Hesti menyarankan.
Sari mendengar penjelasan Bu Hesti dengan seksama, maklum Sari belum berpengalaman.
Bu Hesti juga menegur Juan
"Kamu Juan, jangan terlalu kaku dan dingin kepada istrimu, tidak apa-apa kau tanyakan istri mu, sudah makan, mau makan apa, sini ku bantu, atau sini ku pijit, bukan tidak perduli begitu, istri itu harus diperhatikan" ucap Bu Hesti menegur Juan.
Juan hanya manggut-manggut.
"Kamu istirahat saja Sari, kalau rasa mualnya datang lagi, minumlah air hangat, jangan minum obat sembarangan, nanti akan menggangu pertumbuhan dan perkembangan janinmu dan pembentukan otak pada bayi,
makanlah makanan yang bisa kamu makan, artinya kamu jangan sampai merasa lapar, sebentar-sebentar kamu makan, tidak apa-apa sedikit demi sedikit, karena kalau perut kamu kosong tidak berisi makanan, kamu akan terus merasa mual dan muntah-muntah" nasihat Bu Hesti panjang lebar.
Sari hanya bisa menjawab " Iya Bu".
Setelah jam 3, tibalah waktu nya bagi Juan untuk berangkat ke Jakarta, Juan pamit kepada Sari "Aku pergi dulu ya, jaga dirimu baik-baik" ucap Juan pamit dan segera naik becak menuju pangkalan tempat singgah para supir truk, dari pangkalan itu Juan berangkat ke Jakarta.
Sari hanya manggut-manggut.
__ADS_1