
Setelah Tiur melahirkan anak laki laki, tidak terkira kebahagiaan Tiur, karena Tiur tidak jadi diceraikan Alex, begitu juga dengan Alex, ini adalah anak laki laki pertama nya, begitu luar biasa kebahagiaan Alex.
Dikampung sudah suatu kebiasaan bila ada yang melahirkan, maka banyak tetangga yang datang untuk menemani, bahkan kaum bapak bapak pun tidak ketinggalan, kaum bapak biasanya main kartu bareng, agar bisa terus berjaga dan tidak cepat tertidur. Karena begitu bahagianya Alex, sehingga warga yang datang untuk menjenguk di sajikan makanan dan minuman ringan.
Alex menamai anak laki lakinya dengan nama Mariot, Sebelum nama itu sah disandangkan kepada baby Mariot, Alex harus membuat perayaan berupa syukuran kepada warga dan tidak lupa mengundang penatua adat dan mensyahkannya juga secara agama, yakni membawanya ketempat rumah ibadah.
Sejak kelahiran si baby Mariot, rumah selalu ramai, Alex harus rela menjual 2 Anak kerbau yang tersisa, dan setelah beberapa tahun ini dipelihara, ternyata lumayan besar ukuran berat badannya, 1 anak kerbau di peruntukkan untuk dikonsumsi untuk disajikan kepada tamu undangan yang datang, satunya lagi dijual untuk membeli keperluan bumbu bumbu dan biaya biaya yang lain. Sari pun ikhlas agar kerbau itu dijual, Sari senang ayahnya sudah memperoleh garis keturunan laki laki.
Setelah 1 bulan penuh kelahiran baby Mariot, para warga sudah tidak ada lagi yang datang untuk berkunjung. Tiur pun sudah bisa beraktifitas seperti biasa, tetapi ada yang beda dari sifat Tiur setelah melahirkan anak laki laki, belakangan Tiur menjadi banyak permintaan makanan, "Pak, aku pengen makan ikan mas arsik lah", rayu Tiur kepada Alex. "Iya nanti aku suruh Sari yang masak", ucap Alex kepada Tiur.
Lantas Alex pun segera memerintahkan Sari untuk segera masak ikan mas. Bukan sekali dua kali bahkan berkali-kali Tiur selalu minta permintaan yang tidak tidak terkadang.
Bahkan tidak jarang juga Tiur minta di pijitin, terkadang Sari, Siti, Sita, dan Vina bergantian untuk memijit Tiur, Alex selalu mengiyakan permintaan Tiur, walaupun Sari dan adik adiknya sedang repot sekalipun.
Padahal Sari dan adik adiknya masih harus mengerjakan pekerjaan rumah, berkebun, bahkan harus mengasuh dan memenuhi kebutuhan Reni dan Mariot.
Tiur hanya tiduran dan makan. Tiur lupa dengan janjinya ketika sulit melahirkan, Tiur sudah berjanji tidak akan mengulangi segala perbuatan jahatnya kepada Sari dan adik adiknya, semua hanya dibibir saja gumam Sari dalam hati.
__ADS_1
Tiur selalu minta dipijitin, padahal untuk menjual tangkapan ikan ayah dari danau Tiur tidak pernah absen. Tiur sanggup dan tidak merasa lelah, Sari sudah menawarkan diri, agar Sita dan Siti saja yang menjualnya, tetapi Tiur tidak mau, Tiur takut uang hasil penjualan ikan tidak akan diberi kepadanya. " Bu, kalau ibu kecapean, biar Sita atau Siti saja yang menjual hasil tangkapan ikan ayah", ucap Sari menawarkan.
Langsung dijawab ketus oleh Tiur "Tidak usah, nanti kamu sembunyikan uangnya", tuduh Tiur kepada Sari.
"Bukan seperti itu maksud ku Bu, masalahnya ibu selalu minta dipijitin, kalau ibu kecapean biarkan saja Siti atau Sita yang menjual hasil tangkapan ikan ayah", Sari mencoba tegas kepada Tiur, agar Tiur bisa melihat situasi dan kondisi, tidak seenaknya menyuruh pijitin padahal semua sedang melakukan pekerjaan masing masing.
Tiur pun diam saja, setelah Sari menyindir nya seperti itu, raut muka masam Tiur sungguh sangat tidak enak dilihat, Tiur pun melampiaskan kemarahannya dengan sengaja menutup pintu kamarnya dengan sekuat tenaga, dan kedengaran sekali dibanting dengan keras.
Gubrak....pintu di dibanting. Baby Mariot yang sedang berbaring di ruang tengah ikut terkejut, tetapi Tiur tidak peduli, Tiur mengurung diri di kamar, sebentar kemudian keluar, Tiur teringat bahwa Tiur harus menjual hasil tangkapan ikan ayah dari danau, lumayan banyak gumam Tiur dalam hati.
" Iya memang, ibu sih tidak pernah ke ladang dan ke sawah, makanya tidak tahu kebiasaan warga, jam segini memang sudah tidak ada warga yang berada di rumah, kalaupun ada warga yang menenun, mereka akan menenun setelah makan siang, sekembali dari ladang atau sawah", sindir Sari kepada Tiur.
"Tutup lah mulutmu, tidak usah kamu sok menasihati orang tua", bentak Tiur sambil melotot kan matanya kearah Sari.
Kembali Tiur, menghempas kan pintu dengan sekuat tenaga, Gubrak...pintu dibanting dengan keras, Tiur kembali mengurung diri di dalam kamar. Tetapi karena bantingan pintu yang terlalu kencang, baby Mariot menangis karena terkejut.
Sari pura pura tidak mendengar suara baby Mariot menangis, 'biar saja ibu yang mengeloni baby Mariot kali ini, karena akupun lagi sibuk mau membersihkan hasil tangkapan ikan yang tidak terjual, kemudian mengolah nya menjadi lauk yang akan disantap untuk seluruh keluarga', gumam Sari dalam hati.
__ADS_1
Biasanya kalau ada ikan yang tidak laku terjual, Tiur memasak dan menyantapnya bersama Alex karena ikan itu dibawa dan disimpan di kamar setelah selesai di masak. Mungkin kali ini Tiur sedang tidak bersemangat untuk memasak, pikir Sari dalam hati.
Karena Sari tidak mengindahkan suara tangisan baby Mariot akhirnya Tiur keluar dari dalam kamar sambil kembali mengoceh.
"Apa tidak ada yang mendengar apa, apa semua orang di rumah ini sudah tuli?", teriak Tiur sambil mengangkat dan menggendong baby Mariot dan segera menyusuinya.
Sari pura pura tidak mendengar ocehan Tiur, toh Sari lagi sibuk di dapur, dan Sari masih banyak aktifitas yang mau dilakukan termasuk menenun.
Sari harus bisa menyelesaikan minimal 6 lembar per minggu agar bisa di jual ke pekan.
Tiba tiba Alex datang dari warung kopi, biasanya kalau jam segini Alex mau tidur sebentar, untuk sekedar melepas ngantuk nya karena pagi subuh tadi Alex menangkap ikan di danau, sebelum Alex tidur, Tiur menceritakan kejadian hari ini, mengenai hasil tangkapan ikan ayah yang tidak laku terjual, Tiur menceritakan nya seolah oleh menjelek jelek kan Sari, karena Sari lah yang menyebabkan Tiur terlambat menjual nya.
Tiur pikir Alex akan memarahi Sari, tetapi Alex hanya bicara santai " Sudah lah, tidak apa apa sekali kali kita makan enak, sudah lama kita tidak menikmati makan ikan bersama", ucap Alex santai.
Mendengar tanggapan Alex seperti itu, raut muka Tiur kembali masam, Tiur tidak menyangka kalau Alex memberi tanggapan seperti itu.
Sari senyum senyum di dapur mendengar Alex memberi tanggapan seperti itu.
__ADS_1