
Melihat Ita bersemangat dan tidak minder kepada teman temannya, Sari pun bahagia, tidak ada juga gunanya menyesali apa yang telah terjadi, hidup terus berlanjut semua harus dijalani dengan ikhlas dan lapang dada, niscaya ada kebahagiaan kelak di lain waktu. Hanya itu saja yang bisa menjadi pegangan bagi Sari, Sari berharap kehidupannya dan adik adiknya bisa bahagia dalam berumah tangga kelak.
Dalam lamunannya, Sari yang termenung duduk di meja makan sambil meneguk segelas air putih hangat, untuk menghilangkan rasa menggigil pada pagi subuh ini, sebelum akhirnya memulai aktifitas dan rutinitas di pagi hari. Tiba tiba Sari disentakkan dengan suara, Tiur yang sedang muntah muntah di kamar mandi. 'Gumam Sari dalam hati apakah Tiur akan hamil lagi?'.
Sudahlah tidak ada juga gunanya memikirkan apakah Tiur hamil lagi atau tidak, karena Tiur tidak pernah menganggap Sari dan adik adiknya sebagai anak kandung Tiur, Tiur tidak pernah peduli dan pilih kasih terhadap Sari dan adik adiknya.
Yang bisa dilakukan Sari adalah hormat terhadap orang yang lebih tua darinya, Reni yang merupakan anak kandung Tiur, tetap Sari dan adik adiknya menganggap nya sebagai adik, Sari tidak membalaskan sikap Tiur yang jahat terhadap Reni.
Sudah lah lebih baik melakukan aktifitas, takut nanti terlambat pergi ke sekolah, Sari membuyarkan lamunannya dan segera beberes rumah dan membangun kan adik adiknya, agar tidak terlambat ke sekolah.
Tiur keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat dan lemas. Tiur sudah merasa bahwa bawaan muntah muntah nya adalah bawaan hamilnya. Tiur senang bisa hamil lagi, tetapi Tiur takut dan was was, 'bagaimana nanti anak yang dikandungnya ini berjenis kelamin perempuan lagi, pasti Alex akan marah dan akan menceraikan dirinya' pikir Tiur dalam hati.
Tiur tidak memberi tahukan kehamilan nya kepada Alex.
...****************...
Sari sudah tamat SD, Sari bingung apakah akan melanjutkan sekolah nya ketingkat SMP, bukan tidak mau bersekolah, tetapi Sari lebih memikirkan adik adiknya.
'Biarlah aku tidak sekolah, asal adik adikku bisa bersekolah, aku akan menenun untuk biaya sekolah adik adik', pikir Sari dalam hati.
Bu guru Nina tahu Sari sudah tamat dari SD, kembali Bu guru Nina menawarkan agar Sari mau tinggal di rumah Bu guru Nina, nanti biaya sekolah untuk lanjut ke jenjang SMP dan SMA Bu guru Nina yang akan membiayai nya.
__ADS_1
Tetapi Sari lagi lagi menolak ajakan Bu guru Nina, karena Sari memilih untuk berhenti sekolah, agar bisa bekerja untuk membiayai adik adiknya bersekolah.
Sari pun mantaff untuk berhenti bersekolah. Sari ingin mengusulkan kepada Alex agar Sari menenun ulos sendiri untuk kebutuhan Sari dan adik adiknya, biarlah hasil tangkapan ikan ayah dari danau diberikan kepada Tiur.
Sari bicara kepada Alex "Ayah, Sari mau menenun ulos sendiri, penjualannya untuk Sari memenuhi kebutuhan adik adik, hasil tangkapan ikan ayah tidak apa-apa diberikan semuanya kepada Tiur, kami mau mandiri ayah, tidak bergantung hidup lagi kepada ayah".
"Mengapa kamu bicara seperti itu, nak", tanya Alex bingung.
"Karena selama ini memang, Sari yang menenun ulos, tetapi kebutuhan adik adik tidak pernah di penuhi oleh ibu. Adik adik tidak pernah beli baju baru, semua karena pemberian tetangga dan bibi Ati, ayah juga tidak peduli kepada kami, terlebih sikap ayah terhadap Ita, setelah ibu meninggal dunia, dan setelah ayah menikah dengan Tiur, ayah tidak peduli lagi kepada kami, selama ini kami sudah merasa seperti anak yatim-piatu ayah", ucap Sari sambil menangis terhadap Alex.
Alex diam saja, Alex sadar bahwa benar yang dikatakan Sari.
Sari pun berani mengatakan seperti itu kepada ayahnya, karena Sari merasa mantap tidak mau melanjut lagi kejenjang SMP, Sari tidak mau sia sia tidak melanjutkan ke SMP, untuk bekerja menenun ulos hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup dan sekolah adik adiknya. Biarlah ayah nya mandiri, toh ayah sudah di rawat oleh Tiur.
Alex memberi tahu Tiur maksud Sari untuk menenun ulos sendiri, dan penjualan nya untuk Sari dan adik adiknya.
Tiur langsung marah marah dan tidak setuju. "Mengapa harus seperti itu?, kalau mereka seperti itu, lebih baik mereka juga langsung angkat kaki dari rumah ini", ucap Tiur dengan penuh amarah.
Alex langsung marah, melihat tingkah Tiur dan perkataan Tiur, untuk mengusir Sari dan adik adiknya.
Prang.. pipi Tiur di tampar ayah.
__ADS_1
Kali ini Alex tegas, terhadap Tiur, mungkin Alex sadar atas perlakuannya terhadap Ita, karena Ita sekarang telah lumpuh seumur hidup. Tiur yang membujuk Alex, agar tidak menjual kerbau untuk keperluan berobat untuk mendapatkan keturunan laki-laki.
"Biarkan Sari mandiri bersama adik adiknya, toh hasil tangkapan ikan dari danau, akan kuberikan semua kepada mu untuk dijual, kau pun bisa menenun sendiri", ucap Alex dengan tegas kepada Tiur.
Tiur pun masih tidak terima. Dalam hati Tiur, akan berkurang lah pendapatan nya, karena selama ini hasil menenun Sari di nikmati semua oleh Tiur, Tiur tidak pernah menenun, Tiur hanya bergosip dan tidur, ke ladang juga tidak pernah. Tiur mencoba mencari cari alasan agar Sari tidak mandiri dengan adik adiknya.
Sambil menangis Tiur mencoba bersandiwara"Sekarang aku lagi hamil, mana bisa aku menenun ulos dengan kondisi hamil", ucap Tiur sedih.
Alex bingung "Apa, kamu hamil?", tanya Alex.
"Iya, aku sudah 4 bulan hamil", jawab Tiur tunduk.
Alex menatap Sari, diam tidak tahu harus berkata apa apa lagi.
Sari menanggapi tatapan Alex "Selama ibu hamil dan selesai melahirkan. Sambil menunggu ibu bisa menenun sendiri, biarlah kebutuhan dapur Sari yang memenuhi nya, penjualan ulos tetap Sari yang pegang", ucap Sari tegas.
Tiur sebenarnnya kurang terima, kalau Sari yang pegang hasil penjualan menenun ulos, tetapi apa daya Tiur, kali ini Alex tegas terhadap dirinya dan tidak mendukung dirinya, Tiur pun hanya diam saja. Menerima keputusan Alex.
"Baiklah kalau seperti itu, begitu pun lebih baik", kata Alex setuju.
Sari senang Alex mendukung nya kali ini. Mudah mudahan dengan diberikannya hasil penjualan menenun ulos, Sari bisa menabung dan bisa menyekolahkan adik adiknya ke jenjang yang lebih tinggi. Adik adik Sari pun senang, kalau Sari berhak atas hasil penjualan menenun ulos. Sebenarnya Sari sudah pernah mengelola keuangan keluarga. Kebutuhan adik adiknya bisa terpenuhi, bahkan Sari bisa membeli kerbau, tetapi kali ini hasil tangkapan ikan dari danau Tiur yang berhak, dan Sari harus memenuhi kebutuhan dapur, padahal anggota keluarga sudah bertambah, yakni Tiur dan adik tirinya.
__ADS_1
Sari tidak bisa pesimis, harus tetap berusaha dan semangat. Mudah mudahan ini bukan keputusan yang salah gumam Sari dalam hati.