
Kunjungan paduan suara muda mudi ke luar kota berjalan dengan lancar dan sukses. Mereka menjamu tamunya dengan sangat baik, mereka menyambut dengan senyum ramah dan hormat, makanan dan minuman di sajikan setelah selesai ibadah.
Pada saat tampil di depan, banyak yang memuji kekompakan suara Beni dan teman teman anggota paduan suara.
Tibalah saatnya Beni dan teman teman anggota paduan suara pamit pulang, mereka pun berharap Beni dan teman teman anggota paduan suara bisa datang berkunjung kembali.
Kedua belah pihak saling mengucapkan sepatah, dua patah kata perpisahan dan ucapan terimakasih atas kunjungan dan sambutannya.
Sekarang waktunya balik ke kampung,
Semua anggota paduan suara naik dan masuk ke bus, duduk di tempat semula.
Sebelum bus berangkat, tiba tiba Beni permisi untuk keluar, Beni tidak bilang alasan nya hendak pergi kemana.
Supir merasa semua penumpang sudah masuk, pak Simon selaku pemandu dan penanggung jawab seluruh anggota paduan suara juga memberi perintah kepada supir untuk segera berangkat, bus pun mulai bergerak.
tok...tokkk..tokkk
Sari mengetuk kaca jendela bus disamping tempat duduknya sembari berteriak "Pak,. pak,. stop... berhenti", teriak Sari kencang.
Tiba tiba bus di rem mendadak, semua mata tertuju kepada Sari sambil teriak " Ada apa Sari, mengapa kamu menyuruh pak supir berhenti?", ucap Hendra, yang tidak menyadari kalau Beni tadi turun dari bus, dan sekarang belum kembali.
"Beni belum naik", jawab Sari panik.
Ditengah kepanikan itu, tiba tiba Beni muncul dengan napas kecapean.
"Kamu darimana sih Ben", teriak semua teman teman yang lain secara bersamaan.
__ADS_1
Beni hanya tersenyum dan tertawa kecil. Sambil berjalan kearah bangkunya dan membawa kantongan plastik penuh berisi minuman dan makanan.
Tidak lama kemudian bus kembali berjalan meneruskan perjalanan balik ke kampung setelah berkunjung dari kota.
Kemudian Sari marah marah kepada Beni "Mengapa sih harus, beli beli makanan segala, kamu itu tadi hampir ditinggalkan tahu, akupun panik kamu pergi tidak bilang bilang, hampir saja kamu ditinggalkan", ucap Sari marah.
"Iya maaf, aku pergi tidak bilang mau kemana", ucap Beni merasa tidak dihargai karena telah capek capek berlari, agar selama diperjalanan tidak membosankan, karena ada makanan dan minuman.
"Aku tidak suka yang begituan, justru selama diperjalanan aku itu maunya tidur agar tidak mual dan muntah", ucap Sari kesal.
Merasa pengorbanan nya sia sia, Beni kembali yang balik marah kepada Sari "Ok lah kalau kamu tidak suka, biar ku buang saja semua makanan ini", ucap Beni marah hendak membuka jendela kaca bus bermaksud membuang semua makanan yang baru saja dibelinya dengan perjuangan yang keras.
Sari tahu Beni sudah marah, Sari pun berusaha membujuk Beni.
"Maaf ya Beni, aku sudah marah marah, dan tidak menghargai perjuangan kamu, sebenarnya aku itu tadi khawatir sekali, kamu lama sekali kembalinya, hanya demi membeli makanan ini, yang aku pikir tidak perlu", ucap Sari berusaha membujuk Beni, agar tidak marah marah lagi.
Sari.
Sari menundukkan kepalanya mengiyakan ucapan Beni.
"Terus makanan ini diapakan, kamu tidak suka berkendara sambil makan minum, karena takut muntah, di buang saja lah kalau begitu", jawab Beni kesal.
Sari prinsipnya tidak suka buang buang makanan, segala sesuatu itu harus dihargai, sekalipun itu benda mati. Merasa sayang dan mubajir untuk dibuang, akhirnya Sari mengambil kantong plastik berisi makanan dan minuman yang dipegang Beni sedari tadi dan memang jumlahnya lumayan banyak, kemudian membagi bagikannya kepada semua teman teman yang berada di dalam bus.
Semua senang dan mengambil makanan itu dengan sukacita "Terima kasih ya Beni, sering sering saja begini, beli beli makanan untuk kita, tidak sia sia kamu datang terlambat", ledek teman teman yang lain.
Beni pun pasrah makanan itu dibagi bagi ke teman teman yang lain, daripada mubajir. Untuk menghargai Beni, Sari juga mengambil secukupnya dan memakannya.
__ADS_1
Beni pun berucap "Jangan dipaksa makan, nanti kamu muntah".
"Tidak apa apa, asal uap makanan nya tidak membuat perutku mual, pasti tidak akan muntah", ucap Sari.
🎶🎶Sepanjang jalan kenangan kita slalu bergandeng tangan, sepanjang jalan kenangan, kau peluk diriku mesra, hujan yang rintik rintik diawal bulan itu, penambah nikmatnya malam syahdu 🎶🎶 .
Kebetulan lagu itu diputar di dalam bus, Setiap di reff Beni bersenandung bernyanyi melantunkan syair itu.
Sari memecamkan mata sambil menyandarkan kepalanya di kaca jendela yang ada disamping bangku duduknya, Sari pun mengikuti syair lagu tersebut didalam hatinya.
Kali ini Sari tidak bisa memejamkan mata untuk sekejap tertidur melepas lelah, sebenarnya mata begitu terasa ingin tidur, tetapi mata tidak bisa terpejam.
Begitu juga Beni, banyak hayalan dan rencana rencana kedepannya hilir mudik diotaknya. Yang ada dalam pikiran nya, kapan bisa segera mungkin untuk melamar Sari.
Sari sendiri tidak ingin cepat cepat menikah, karena masih punya tanggung jawab yang besar terhadap kehidupan ke empat adik adiknya, terlebih saat ini Ita si bungsu yang sudah berusia 12 tahun, hanya bisa ngesot di lantai agar bisa berpindah tempat, mengharap Ita ada yang meminangnya itu sangat tidak mungkin, seluruh keluarga pasrah Ita akan selamanya cacat, tidak ada yang tahu sampai umur berapa Ita bisa bertahan hidup.
Sari hanya bisa pasrah, terkadang Sari menjadi menangis bila melihat kondisi fisik Ita saat ini. 'Lebih baik Ita mati saja, daripada harus menderita seumur hidup, apalagi kalau ayah meninggal dan adik adiknya sudah pada berumah tangga dan kelak akan meninggalkan Ita seorang diri di kampung', pikir Sari sedih di dalam hatinya.
Sudahlah hanya bisa pasrah dalam menjalani hidup, terkadang suka sedih dan putus asa bila memikirkan sesuatu terjadi tidak sesuai harapan.
Untung saja segera sadar masih punya Tuhan, kalau tidak, mungkin sudah bunuh diri rasanya, jalani sajalah pelan pelan.
Sepanjang panjangnya jalan, pasti ada ujungnya, hanya itu yang bisa di lakukan saat ini, agar bisa optimis menjalani hidup, pikir Sari dalam hati.
Sambil memejamkan mata dan menyandarkan kepala di kaca jendela bus, seolah Beni berpikir bahwa Sari telah terlelap.
Ingin rasanya berbagi perasaan dan beban ini kepada orang lain, tetapi kepada siapa?, gumam Sari dalam hati. Kepada Beni sungguh belum waktunya, Sari merasa ada beberapa hal yang tidak perlu diungkapkan kepada Beni, takut Beni menjadi sepele, dan ada perasaan malu, Beni tahu situasi dan kondisi keluarga Sari.
__ADS_1
Sari saat ini masih mendalami keseriusan hati Beni, apakah betul betul tulus mencintai Sari ataukah hanya sekedar ingin menyandang status tidak jomblo saja. Sejauh ini Sari merasa memang Beni serius, tetapi Sari tidak mau terlalu banyak berharap.