Kisah Pilu Seorang Kembang Desa

Kisah Pilu Seorang Kembang Desa
#26. Sari dan Beni resmi berpacaran.


__ADS_3

Sesampainya di kamar, Sari tampak bahagia dan berseri seri, Sari mencium tangannya bekas genggaman tangan Beni, masih terasa wangi, bekas parfum Beni seolah menempel ditangan itu.


Sita mengejutkan Sari berteriak sambil menepuk pundak Sari " Ta...da..", teriak sita.


"Cie...cie...cie..", goda sita kembali.


"Ada apa sih", ucap Sari sambil membelakangi Sita dan langsung merebahkan badannya di tempat tidur.


"Kakak lagi jatuh cinta kan?", kembali sita menggoda Sari.


"Apaan sih", ucap Sari sambil menyembunyikan wajahnya di balik bantal.


"Sudah lah kak, jujur saja, semua orang sudah tahu, kakak pacaran dengan Beni ", ucap sita memancing terus kejujuran kakaknya Sari.


"Apa, kamu sudah tahu juga", ucap Sari heran sambil melotot kan matanya kepada sita.


"Iya, aku tahu dari Tia adeknya Cantika", ucap sita.


"Aduh gimana ini, nanti ayah tahu bagaimana ini", ucap Sari panik, karena gosip kedekatan nya dengan Beni sudah diketahui banyak orang, Sari takut kalau Alex tahu juga gosip ini.


"Tidak usah panik begitu, kakak sendiri perasaan nya terhadap Beni bagaimana?, apakah kakak menyukai nya juga?", tanya Sita penuh selidik.


"Perempuan mana yang tidak mau di pacari seorang Beni, kamu tahu sendiri kan, bagaimana orang nya yang bernama Beni?", tanya Sari balik.


"Berarti kakak juga suka kepada Beni, bukan?", goda Sita.


"Itu dia masalah nya, kakak takut menyimpan rasa suka itu, takut nanti ujung ujungnya kecewa", ucap Sari sedih.


"Maksud kakak gimana sih, sita jadi bingung, tinggal suka saja kok ribet, toh Beni menyukai kakak kan?", ucap Sita asal.


"Kamu tidak mengerti maksud kakak", ucap Sari diam, dan kembali melanjutkan perkataannya.


"Beni itu anak orang kaya, apa keluarga Beni bisa menerima keluarga kita yang miskin", ucap Sari sedih.

__ADS_1


"Kakak terlalu jauh berpikir dan terlalu banyak pertimbangan, yang menikah dengan kakak itu kan Beni, bukan keluarga nya, sekarang kakak harusnya melihat bagaimana perjuangan dan usaha Beni untuk mendapatkan cinta kakak. Tidak usah yang ribet ribet mikirnya, kakak jalani saja dulu", ucap Sita memberikan saran kepada Sari.


Sari pun diam saja, sejenak Sari berpikir, 'mengapa harus mengorbankan perasaan nya, Beni pun sepertinya serius dan tidak main main dengan hubungan mereka', bathin Sari dalam hati.


*****


Sepulang ibadah, Beni mengajak Sari jalan jalan, mereka pun pergi ke pelabuhan, di dekat pelabuhan ada warung kopi, juga menjual makanan ringan seperti mie goreng, mie rebus, gorengan, dan banyak makanan lain tersedia disana, karena lokasinya mengarah ke danau, tempat itu ramai dikunjungi keluarga dan muda mudi yang sekedar bercerita.


Setelah memesan makanan dan minuman. Beni pun basa basi sekedar membuka percakapan mereka berdua, karena dari tadi mereka berdua tidak berkata apa-apa.


"Bagaimana makanan nya, enak tidak", tanya Beni kepada Sari.


"Enak", ucap Sari sambil menundukkan kepalanya.


"Habisin ya, kalau mau tambah lagi boleh kok, nanti kita pesan lagi", ucap Beni.


"Tidak, ini saja sudah terlalu banyak porsinya, aku sampai kekenyangan", ucap Sari malu malu dan begitu hati hati menyendok makanan ke mulutnya, takut bibirnya belepotan kecap, atau sambal.


Walaupun Sari sudah begitu hati hati nya, menyendok kan makanan ke mulutnya, tetapi bibirnya masih juga kotor. Entah trik Beni, Tiba tiba Beni mengelap bibir Sari dengan tisu.


Sari pun langsung mengelapnya spontan, tetapi Beni bilang " masih ada", dan langsung spontan mengelap bibir Sari.


Sari jadi memerah pipinya, karena jaraknya begitu dekat Beni, jantungnya berdegup kencang. Antara senang dan malu perasaan Sari saat ini.


Setelah Beni dan Sari selesai melahap makanan yang tersaji di depan mereka. Beni mencoba ingin mengatakan sesuatu, antara grogi dan bingung, bingung mau mulai darimana. Tetapi hatinya terus berontak harus mengatakan perasaan nya kepada Sari sekarang.


"Sari, aku ingin mengatakan sesuatu kepada mu", ucap Beni pelan.


"Apa itu", ucap Sari datar.


"Bagaimana seandainya perasaan mu, kalau ada orang yang suka sama kamu?", tanya Beni mencoba menyelidik perasaan Sari.


"Bagaimana ya, aku takut untuk menyukai seseorang, karena takut nanti akhirnya kecewa", balas Sari.

__ADS_1


"Kecewa, bagaimana maksud kamu Sari?", tanya Beni penasaran.


"Kecewa, kalau akhirnya si pria tidak menyukainya lagi, atau mungkin kecewa pihak keluarga si pria tidak menerima situasi dan kondisi pihak si perempuan ", ucap Sari sedih, seolah mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya.


Beni pun tahu kekhawatiran hati Sari, dan segera menggenggam erat kedua tangan Sari.


"Sari, sebenarnya aku sangat menyukai mu, jujur saja, rasa ini berbeda dengan saat aku ketemu dengan perempuan lain, bersama mu, aku merasa nyaman", ucap Beni.


Sari berusaha melepaskan genggaman tangan Beni, tetapi Beni begitu erat memegangnya, sehingga Sari pasrah tangan itu terus digenggam Beni.


"Sari, percayalah, aku tulus mencintai mu, kamu tidak usah memikirkan keluarga ku, keluarga ku pasti tidak akan memaksakan kehendak mereka kepada ku", ucap Beni menyakinkan Sari.


"Bukan hanya itu Beni kendala nya, banyak sekali, aku tidak bisa mengatakan semuanya kepada mu", ucap Sari sedih.


"Lantas apa, tolong kamu berbagilah sedikit bebanmu kepadaku, jangan kamu memikulnya sendiri ", harap Beni.


Sebenarnya Sari, berusaha untuk tidak terlalu memberitahu kan segala kondisi keluarga nya kepada Beni, karena Beni saat ini masih orang lain. Tetapi Beni terus mendesak Sari "Ayolah Sari, tolong kamu berbagilah sedikit bebanmu kepadaku, mana tahu aku bisa bantu, kalau kamu mau berbagi atau bercerita jujur kepadaku itu berarti kamu menganggap aku dekat denganmu, tetapi kalau kamu tidak mau berbagi bebanmu atau tidak mau terbuka mengenai perasaan mu, itu berarti kamu menganggap aku orang lain ", ucap Beni tegas.


Sari tahu, kalau kali ini Beni serius dan tidak lagi bercanda atau bermain main. Sehingga Sari mantap untuk terbuka dan berbagi segala beban pikiran nya kepada Beni.


"Beni, kamu tahu kan, kalau aku itu anak pertama dari 8 bersaudara, aku merasa bertanggung jawab terhadap kebutuhan dan kehidupan adik adikku, secara ayahku sudah tua, apakah kamu nanti nya bisa menerima adik adik ku, seandainya mereka tinggal bersama kita nanti ", ucap Sari sedih sambil mengeluarkan air mata, tetapi air mata itu buru buru di hapusnya takut ketahuan Beni.


Beni dengan sikap tegas dan bertanggung jawab atas pernyataan Sari, sambil terus menggenggam tangan Sari Beni pun berkata "Sari, bagaimana pun kondisi keluarga aku akan menerima nya apa adanya, mengenai adik adikmu, aku senang kalau nantinya mereka tinggal bersama dengan kita, sehingga kamu tidak kesepian kalau aku tinggal kerja, dan adik adik mu nanti bisa menjaga anak anak kita nanti. Apapun rezeki yang kudapat ku mau kita berbagi bersama", ucap Beni tegas, sambil menatap mata Sari.


Sari jadi tersentuh, 'begitu dewasa dan seriusnya Beni, berarti Beni tidak main main dengan perasaannya', gumam Sari dalam hati.


"Sekarang apakah kamu percaya dan serius dengan perasaan ku Sari?", balik Beni yang bertanya kepada Sari.


Sari hanya diam dan menunduk.


"Sekarang kita resmi berpacaran ya, kamu jangan membuka hati lagi untuk orang lain iya!, cukup hanya aku di hati kamu", ucap Beni tegas kepada Sari.


"Sebagai tanda sah kita berpacaran jabat dulu tanganku", ucap Beni.

__ADS_1


Sari pun menjabat tangan Beni.


Sekarang Sari dan Beni resmi berpacaran.


__ADS_2