
Tiba lah waktunya bagi Tiur untuk melahirkan anak ketiganya, pinggang sudah terasa sakit, semua terasa serba salah, mau tiduran juga salah, posisi terlentang terasa sesak, mau tidur menyamping juga perut terasa sakit, takut anak yang ada di dalam perut terasa terhimpit.
Mata tidak bisa terpejam. Padahal kantuk sudah luar biasa hendak tidur rasanya. Ingin terbangun dan hendak tidur sambil duduk juga terasa tidak nyaman. Sudah 3 hari belakangan ini tidur rasanya tidak nyaman.
Sebentar tertidur karena sudah terlalu lelah dan kantuk yang luar biasa, setelah tersadar dari tidur, perut terasa tidak enak, kembali mengambil posisi menyamping, tidak juga membuat merasa nyaman dan bisa terlelap kembali.
Berkeluh kesah rasanya tidak ada arti, karena rasa ini tidak bisa berpindah atau di bagi kepada Alex, malah Alex marah karena merasa terganggu atas tingkah Tiur, sebentar ke kanan, sebentar ke kiri, sebentar duduk, membuat tempat tidur bergoyang goyang sehingga membuat Alex terjaga.
Stress dan lelah rasanya, untung Reni dan Mariot tidur bersama Sari dan adik adiknya. Tempat tidur jadi longgar dan Tiur tidak terjaga ketika Reni dan Mariot ngompol di tempat tidur.
Tiur tersadar bahwa memang selama ini, begitu jahat dan tidak adil nya Tiur terhadap Sari dan adik adiknya, terlebih kondisi Ita saat ini, lumpuh seumur hidup, Ita hanya bisa berpindah tempat dengan ngesot di lantai, untuk berdiri harus memegang pegangan yang kuat dan bertumpu agar tidak terjatuh, kondisi dapur sudah di desain seperti ada pagar pagarnya agar Ita bisa memasak sendiri, sekarang Ita dilatih untuk bertugas memasak terkadang dibantu oleh Siti dan Vina, setidaknya apabila akhirnya Ita tinggal sendiri di rumah, Ita sudah mampu beraktifitas sendiri tanpa bantuan orang lain.
Tiur merasa bersalah dan punya andil atas lumpuhnya Ita, karena ketika Ita jatuh dari punggung kerbau, Tiur yang melarang agar kerbau tidak dijual untuk berobat secara medis, sekarang sudah terlambat pengobatan nya, malah mengutamakan kepentingan nya untuk berobat mendapatkan keturunan anak laki laki, ' Harusnya lebih mengutamakan pengobatan Ita secara medis, Harusnya Tiur lebih bersabar kalau Tuhan berkehendak pasti diberikan, apabila kita baik dan tulus kepada orang lain', pikir Tiur dalam hati.
Tetapi apabila sudah bertemu dengan Sari dan adik adiknya tindakan terasa tidak sinkron, susah rasanya untuk mengalah dan berbuat baik di depan Sari dan adik adiknya, malah merasa rendah bila harus mengalah, bawaan nya selalu marah dan emosi bila melihat Sari dan adik adiknya.
Hingga ayam berkokok, mata tidak bisa terpejam. Alex terbangun untuk segera pergi menangkap ikan ke danau, aktifitas itu memang selalu dilakukan nya subuh jam 05.00.
__ADS_1
Bersiap siap untuk melengkapi perlengkapannya, memakai jaket yang tebal, karena suasana dingin terasa sangat menusuk hingga ke tulang, selain karena lokasi perkampungannya daerah pegunungan dan memang masih pagi pagi buta, matahari belum terbit, harus membawa bantuan lampu minyak sebagai penerangan melangkah, dan mencari arah dimana letak perahu disandarkan dan kemana arah jala akan ditebar.
Alex menjala ikan tidak sendirian, ada kaum pria dari kampung sebelah, dan kaum pria yang hanya menjala untuk sekedar hobi dan sekedar untuk mendapatkan kecukupannya lauk di rumah, bukan khusus untuk dijual.
Dinginnya pagi tidak membuat semangat Alex luntur, tampaknya Alex sudah terbiasa dengan dinginnya cuaca pegunungan di kampung tersebut. Itu merupakan suatu bentuk tanggung jawab Alex sebagai suami sekaligus sebagai ayah dari anak anak nya, kelak akan membutuhkan biaya yang banyak untuk kebutuhan hidup dan kebutuhan biaya sekolah.
cuaca cukup bagus dan bersahabat tidak ada hujan, dan tentunya suatu berkat, tidak menunggu lama sekali Alex menebar jalanya, ikan yang masuk lumayan banyak.
Cukup bagi Alex, untuk tangkapan ikan hari ini, Alex segera pulang membawa hasil tangkapan nya dan menyerahkan nya kepada Tiur istrinya untuk selanjutnya di jual kepada warga.
Kemudian Tiur pun segera berangkat untuk menjual tangkapan ikan Alex, tetapi sebelumnya ada yang berbeda dengan Tiur hari ini, biasanya Tiur langsung menjualnya kepada warga, tidak menyisakan untuk lauk dimakan bersama. Kali ini Tiur terlebih dahulu menyisakan untuk lauk dimakan bersama hari ini.
Bingung Sari mendengarnya, hampir tidak mempercayai pendengaran nya, antara menerima dan tidak menerima ikan yang diberikan Tiur, karena Sari merasa kalau dia salah dengar.
"Iya ibu, ada apa", ucap Sari.
"Kenapa kamu seperti bingung begitu?, ini ikan kamu masak untuk lauk kita hari ini", ucap Tiur mengulangi perintah nya.
__ADS_1
"Ah, oh, iiiiya Bu", ucap Sari terbata bata, karena masih tidak percaya atas kejadian hari ini. Lantas Saripun langsung mengambil ikan yang diserahkan Tiur dengan segera, takut Tiur akan memarahinya karena masih bingung bingung tidak percaya.
Tiur pun segera pamit untuk segera menjual hasil tangkapan ikan Alex hari ini karena takut terlambat. Tiur pun merasa bahagia bisa melakukan kebaikan hari ini. 'Ternyata berbuat baik itu, membuat kita bahagia', gumam Tiur dalam hati.
Sari pun langsung mengolah hasil tangkapan ikan Alex, Sari juga merasa bahagia, karena 'Tiur tidak berbicara keras dan kasar lagi mudah mudahan ibu Tiur selamanya akan berubah baik', gumam Sari dalam hati.
Bukan hanya Sari yang bahagia melihat perubahan Tiur hari ini, Alex juga sangat senang, 'Syukurlah istriku bisa berdamai dengan Sari dan adik adiknya, ternyata istriku bisa berubah, semoga apa yang kami idam idamkan bisa terwujud dan semakin ditambahkan Tuhan berkat berkat buat keluarga kami', gumam Alex dalam hati.
Tidak lama kemudian Tiur datang, Alex senyum bahagia melihat Tiur datang, Tiur pun bingung melihat Alex tiba tiba tersenyum kepadanya, biasanya Alex sudah tidur lelap ketika Tiur pulang dari menjual ikan, untuk beristirahat sekedar melepaskan lelah dan ngantuk karena subuh sudah harus bangun.
"Kenapa, senyum senyum seperti itu?", tanya Tiur bingung. Alex pun langsung mencium kening Tiur.
"Terima kasih iya ma, sudah mau berdamai dengan Sari dan adik adiknya, mudah mudahan keluarga kita semakin diberkati dan tercapai semua apa yang kita cita citakan", ucap Alex lembut dan penuh harap. Alex pun segera naik ke tempat tidur dan segera menarik selimut untuk beristirahat.
Tiur masih saja bingung, belum pernah rasanya Alex mencium keningnya dengan lembut dan penuh cinta, tetapi Tiur pun juga merasa bahagia Alex lembut kepada Tiur.
'Mengapa aku tidak melakukan nya sedari dulu, toh Sari dan adik adiknya adalah anak yang patuh, penurut, tidak kasar dan selalu hormat kepada Tiur, walapun sudah dikasari dan dibentak bentak Tiur, Sari dan adik adiknya tidak pernah membantah nya', gumam Tiur dalam hati dan penuh penyesalan.
__ADS_1
Dengan kebaikan kebaikan dan sikap baik yang dilakukan Tiur. Tiur pun merasa tidak lelah, dan tidak terlalu kepikiran atas segala keluhan keluhan yang dialaminya karena sudah hamil tua.