Kisah Pilu Seorang Kembang Desa

Kisah Pilu Seorang Kembang Desa
#55. Sonia Menemui Sari


__ADS_3

Momen akhir tahun digunakan keluarga Burhan untuk pulang kampung menemui Abang nya Doni, ayah Beni.


Semua anggota keluarga turut serta termasuk Sonia dan Joni. "Pasti bang Doni dan kakak ipar Indri senang melihat kita pulang kampung, karena kita sudah lama tidak pernah pulang kampung, karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan", ucap Ibu Sonia, Xena.


"Iya iya sudah cukup lama kita tidak pernah pulang kampung, hampir 15 tahun rasanya tidak dari sini", ucap Burhan menegaskan.


"Wah, tidak terasa, cukup lama juga ya pa?", ucap Indri sambil melihat lihat perubahan rumah rumah, sekarang rumah rumah dipinggir jalan ini sudah ramai dan padat, dibandingkan ketika 15 tahun yang lalu.


"Yang mana ya, rumah bang Doni, aku rada rada lupa", ucap Burhan bingung.


"Coba kita tanya orang yang lagi lewat ini pa", ucap Xena menunjuk, pria yang lewat dari depan mereka.


"Pak, boleh numpang tanya?", ucap Xena sambil membuka kaca mobil untuk bertanya pada seorang pria yang baru saja lewat dari depan mereka.


"Iya, ada apa Bu?", jawab pria itu.


"Rumah Beni dimana ya pak", tanya Xena.


"Beni yang sedang merantau ke Medan?", ucap pria itu memperjelas sosok Beni.


"Iya, iya, benar, Beni yang sedang merantau ke Medan, dimana rumahnya pak?", tanya Xena.


"Lurus saja terus, nanti ada Simpang empat, pilih simpang yang ke kanan, seterusnya rumah yang ke 3 sebelah kiri, itulah rumah Beni", ucap pria itu menjelaskan denah rumah Beni.


"Ok pak, terimakasih banyak ya ", ucap Xena, sambil menutup kaca, dan segera melaju menuju arah yang di tunjuk pria tadi.


Sampailah mereka di rumah Beni.


"Benar ini rumahnya, rumah ini tidak berubah, sama seperti kondisi 15 tahun yang lalu", ucap Xena. Segera membuka pintu mobil dan turun dari mobil, selanjutnya melangkah menuju rumah dan segera mengetuknya.


Tok...tok... tokkk


Abang Doni,....Kakak Indri.....


Berulang-ulang diketuk dan dipanggil-panggil.

__ADS_1


Xena fokus mendengar, apabila ada sahutan suara dari dalam.


"Iya, sebentar", ucap suara dari dalam rumah.


Lantas Xena pun menghentikan ketukannya karena sudah ada sahutan, tidak beberapa lama,


krek.... pintu dibuka, muncul Indri dari balik pintu, penasaran siapa gerangan yang datang mengunjunginya. "Siapa ya", tanya nya masih bingung dan tidak mengenali tamunya. Tidak beberapa lama lagi muncullah Doni, ayah Beni, langsung memperhatikan siapa tamu yang sedang berkunjung ke rumah nya dan langsung teriak "Burhan", sambil memeluknya erat.


Indri pun memperhatikan terus lalu tersenyum malu, dan langsung teriak "kalian rupanya", memeluk Xena, menjabat tangan Burhan.


"Ini siapa cantik sekali", teriak Indri kepada Sonia dan segera mengulurkan tangannya kepada Sonia.


"Sonia Bi", ucap Sonia menjabat tangan Indri


"Sudah anak gadis kamu ya, kemarin kamu masih kecil sekali, ketika datang kesini", ucap Indri.


"Iya Bi", ucap Sonia sambil senyum malu-malu.


"Bukan kah, Beni tinggal di rumah kalian?, mengapa Beni tidak ikut pulang?", tanya Doni melirik ke arah Burhan.


"Mungkin Beni ingin mandiri, Beni juga tidak ingin kami khawatir kepada nya, makanya beni tidak memberi tahu", balas Indri.


"Silahkan silahkan masuk, gimana ini, tamu belum masuk sudah ditanyain macam-macam, sampai lupa menyuruh masuk", ucap Doni sambil mengarahkan untuk masuk ke rumah.


"Silahkan di minum", ucap Indri sambil meletakkan tatanan gelas berisi minuman jus.


"Begini bang, maksud kedatangan kami datang kesini, selain ingin bersilaturahmi di momen akhir tahun, kami ingin menjodohkan Sonia dengan Beni, bagaimana menurut Abang?", tanya Burhan kepada Doni.


"Mengapa harus dijodohkan!, biarlah mereka bebas memilih", ucap Doni santai.


"Iya sih bang, maksudnya kan, kita sudah satu keluarga, tidak susah-susah lagi untuk menyesuaikan diri, dan menantu pun bisa kompak dengan mertua nya, karena sudah saling kenal, tidak seperti kebanyakan orang lain, antara menantu dan mertua tidak langgeng karena salah paham", ucap Burhan menjelaskan panjang lebar.


"Iya juga sih, tetapi hati kan, tidak bisa dipaksakan juga", ucap Burhan simple.


"Begini dek, sebelum Beni pergi merantau, Beni ada membawa perempuan untuk diperkenalkan kepada kami, Beni ingin menjalin hubungan yang serius dengan perempuan itu, Sari namanya.

__ADS_1


Sari memang berasal dari kampung ini, Sari orang miskin, tetapi Sari dari kecil sudah terbiasa bekerja keras, dan Sari juga sudah seperti ibu dari adik adiknya, karena Sari ditinggal ibunya ketika kelas 3 SD, secara masih ada 4 orang adiknya yang masih kecil-kecil saat itu.


Hingga sekarang Sari masih bertanggung jawab terhadap kebutuhan keluarga", ucap Indri memperkenalkan sosok Sari.


Sonia cemberut, ibu Beni lebih memuji Sari.


"Kami tidak bisa memaksakan kehendak kami terhadap Beni, kami menyerahkan semua keputusan ada ditangan Beni, kan Beni nantinya yang menjalani rumah tangga nya. Keberhasilan rumah tangga bukan bergantung terhadap orang lain, tetapi komitmen suami istri yang saling mengenal dan melengkapi", ucap Indri lembut dan tegas.


"Tetapi kak, Sari tidak selevel dengan kita", ucap Burhan keras.


Indri menarik napas panjang, sepertinya Burhan akan terus memaksakan kehendaknya.


"Semua keputusan ada ditangan Beni, biar Beni yang memilih", ucap Indri pasrah.


Ada raut kecewa di muka Burhan, Xena, serta Sonia.


"Kalau boleh tahu, dimana rumah Sari Bi?, aku penasaran dengan sosok Sari!", ucap Sonia.


"Rumah Sari berada di dekat pelabuhan kapal yang mau ke pekan (pasar)", ucap Indri memberitahu Sonia.


Ketika Doni, Indri, Burhan dan Xena asik berbicara, Sonia bermaksud keluar sebentar, menghirup udara sejuk pedesaan alasannya.


Ternyata Sonia mencari rumah Sari, berdasarkan keterangan dari informasi para warga, akhirnya Sonia menemukan rumah Sari.


Kebetulan Sari berada di teras rumah sambil menenun, Sonia menghampiri Sari dari kejauhan Sonia memperhatikan wajah Sari "cukup cantik, sederhana tanpa polesan make up, putih dan tinggi, kalau Sari diberi polesan make up mungkin akan lebih cantik lagi", pikir Sonia dalam hati, tetapi Sonia tidak mau kalah, "aku berpendidikan sedangkan Sari tidak bersekolah, bahkan tamat SD saja tidak", Sonia membandingkan dirinya dengan Sari.


Sonia menghampiri Sari "Hai, kamu Sari ya", tanya Sonia menjabat tangan Sari.


"Iya benar, kakak siapa?, kok tahu aku Sari?", tanya Sari bingung.


"Oh iya, aku sepupunya Beni, orangtua kami sedang membicarakan pernikahan kami, kamu tidak usah merasa kepedean mau mengambil Beni dariku, kamu itu orang miskin, kamu dan keluarga mu tidak layak bergabung dengan keluarga Beni, yang semua orang kaya. Kamu juga tidak tamat SD, sedangkan aku orang kaya, sekolah di Amerika, aku cantik, jadi lupakan saja Beni, tidak tahu diri kamu mau mengharapkan Beni, Beni sekarang milik ku", ucap Sonia lantang dan kencang.


Sita dan adik Sari lainnya datang menghampiri Sari, "Beraninya kamu marah-marah sama kakakku, pergi kamu dari sini, kalau kamu berpendidikan tidak seperti itu harusnya gaya bicaramu, cepat pergi dari sini, atau kuteriak maling nanti", usir Sita, sambil memeluk Sari yang menangis mendengar perkataan Sonia. Sari tidak sanggup lagi menghadapi Sonia akhirnya Sari lari ke kamarnya menangis terisak-isak.


Melihat Sari menangis seperti itu, Sonia merasa menang, dan senang. Akhirnya dengan senyum bahagia Sonia kembali ke rumah Beni menemui orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2