
Sudah hampir sebulan surat dari Sari tidak kunjung datang, Beni bingung "Masih tidak ada waktu kah Sari untuk meluangkan sebentar waktunya, walaupun sibuk dan kelelahan menenun, setidaknya hanya mengucapkan aku sehat, aku rindu.
Atau tidak rindu kah Sari padaku, tidak cinta lagi kah Sari?", Semua pertanyaan-pertanyaaan itu terpesir dipikiran Beni, apalagi akhir-akhir ini Beni bermimpi sesuatu yang aneh, biasanya Beni tidak pernah mengingat mimpinya, entah mengapa kali ini Beni ingat akan mimpinya.
Beni juga tidak terlalu ambil pusing mengenai makna dari sebuah mimpi. Mimpi itu adalah Beni seperti kehilangan cincin dari jarinya.
Kembali bergejolak firasat dan perasaan Beni, ingin sekali mencari tahu, apa makna dari mimpinya.
"Apa ya makna dari mimpiku, apakah terjadi sesuatu kepada Sari?", pikir Beni di benaknya, tetapi entah mengapa Beni juga merasa saat ini ingin menangis, badan terasa lemah dan tidak bertenaga, seperti tidak semangat untuk melakukan kegiatan.
Beni mencoba mencari tahu, kabar Sari dari Indri, ibunya. Beni pun menelepon Indri.
"Selamat pagi Bu, Ibu bagaimana kabarnya?, apa ibu sehat-sehat saja? tanya Beni bertubi-tubi karena sudah kangen mendengar suara ibunya.
"Sehat-sehat saja Ben, kamu juga apa kabarnya, tumben sekali kamu menanyakan kabar ibu, biasanya juga tidak pernah, kamu pasti ada maunya ini? ucap ibu mencandai Beni.
"Iidih ibu paling tahu deh, bagaimana perasaan anaknya" Beni merasa malu dan ketahuan karena diketahui segala akal bulusnya.
Indri hanya tertawa kecil, karena Beni sudah mengakui bahwa untuk menelepon dirinya adalah ada sesuatu yang ingin diketahuinya dari Indri.
" Bu, Beni mau tanya mengenai Sari!, apakah Sari baik-baik saja dan sehat-sehat saja Bu? tanya Beni ingin tahu.
Indri pun bingung mau menjawab apa, "bila Indri mengatakan kalau Sari sudah menikah, pasti anaknya Beni akan kecewa dan putus asa, biarlah saat ini Indri berbohong untuk kebaikan Beni saat ini" pikir Indri dalam benaknya.
"Sari baik-baik saja dan sehat-sehat saja Ben, ada apa ya kok nanya Sari sama ibu, bukannya kalian surat-suratan? ucap Indri balik menanya Beni.
"Beni selalu mengirimkan surat Bu, tetapi sudah satu bulan Sari tidak pernah membalas surat Beni" ucap Beni jujur dan ingin tahu bagaimana keadaan Sari dari ibunya, Indri.
__ADS_1
"Oh, Sari baik-baik dan sehat sehat-sehat saja kok Ben, kamu tidak usah banyak pikiran, kamu lakukan aktifitas kamu ya seperti biasa" Indri memotivasi Beni.
Tetapi Beni merasa tidak puas akan jawaban yang diberikan Indri, ibunya. "Seperti ada sesuatu yang disembunyikan", pikir Beni di dalam benaknya.
Beni ingin mencari tahu yang sebenarnya, Beni tidak mau Indri, ibunya khawatir. Beni akan mencari tahu kepada orang lain, agar ibunya merasa tenang dan tidak menghawatirkan kondisi Beni.
Beberapa hari kemudian setelah Beni mengurus cutinya, Beni berkeinginan untuk pulang kampung, mencari tahu apakah yang sebenarnya terjadi kepada Sari, karena Beni sudah merasakan banyak firasat mengenai Sari, melalui mimpi Beni dan perasaan dan feeling Beni.
Setelah membawa segala keperluan, Beni pun balik ke kampung dengan menggunakan angkutan umum yang biasa ke kampungnya. Setelah beberapa jam dalam perjalanan dan tentunya sangat melelahkan.
Beni langsung singgah di rumah Sari, "Beni tidak mau menanyakan kepada teman atau orang lain, karena semua pasti akan menutupi nya", pikir Beni didalam hatinya.
Tibalah Beni di rumah Sari, dari kejauhan Beni sudah memperhatikan sosok yang sedang menenun di teras rumah Sari, Beni pikir yang menenun ulos di depan rumah Sari adalah Sari, tetapi sosoknya berbeda tidak seperti Sari, pikir Beni. Dan semakin dekat Beni terhadap sosok itu, dan memang bukan Sari melainkan Sita, Beni bingung dimana Sari mengapa bukan Sari yang menenun, Beni pun makin penasaran dan ingin tahu.
"Hai sita" sapa Beni kepada Sita.
Sita terkejut, siapa gerangan yang menyapanya, pikirnya. Sita semakin lebih terkejut dan terhentak tidak percaya ternyata yang menyapanya adalah Beni.
"Lho, mengapa kamu yang menenun Sita, mengapa bukan Sari?, dimana Sari?" Beni bertanya bingung dan bola matanya kesekeliling rumah mencari sosok Sari pujaan hatinya.
"Apa yang membuat kakak balik ke kampung?" tanya Sita ingin tahu mengapa Beni tiba-tiba pulang ke kampung.
"Kakak bingung mengapa Sari tidak pernah lagi mengirim surat, kakak pikir karena kesibukan Sari, sehingga kakak mentoleransi nya,
tetapi Sari memang sama sekali tidak pernah lagi mengirim surat, kakak berharap hanya satu dua kata mengapa Sari kok tidak bisa meluangkan waktunya, jadi kakak penasaran dan ingin mencari tahu masalah sebenarnya" Beni menjelaskan panjang lebar mengenai perasaannya.
Sita bingung harus menjawab apa, apa harus membohongi Beni, pikirnya dalam hatinya.
__ADS_1
"Kak Sari sedang tidak di rumah kak" jawab Sita pelan.
"Memangnya kemana Sari " Beni semakin penasaran, "sebenarnya apa yang telah terjadi kepada Sari?", pikirnya bingung.
"Sari sedang ke luar kota kak" jawab Sita singkat.
"Apa, sedang keluar kota!, mengapa Sari merantau ke luar kota?" tanya Beni tidak puas.
Sita terdiam tidak menjawab pertanyaan Beni.
"Mengapa kamu terdiam Sita, tolong jujurlah kepada kakak, Sebenarnya apa yang telah terjadi, tidak usah lagi membohongi kakak, kakak ingin tahu yang sebenarnya, apa yang terjadi kepada Sari!, jangan berbelit-belit!" ucap Beni tegas dan dengan nada tinggi.
Sita ketakutan melihat Beni sudah mulai marah, sita pun berpikir akan mengatakan yang sebenarnya.
"Kak Sari sudah menikah kak dengan pria lain" jawab Sita pelan.
"Apa, Sari sudah menikah" jawab Beni tidak percaya, hampir Beni jatuh dari pijakan kakinya karena kakinya tidak kuat lagi menopang tubuhnya karena terkejut dan lemas mendengar kabar Sari, Beni pun mencoba untuk jalan pelan-pelan menuju kursi di sebrang agar tetap kokoh tidak terjatuh.
Sita pun segera mengakhiri aktivitas menenun untuk segera menolong Beni agar tidak jatuh pingsan.
"Mengapa Sari melakukan itu Sita?" tanya Beni menangis dan menitikkan air mata karena tidak sanggup lagi menahan kesedihannya.
Sita pun terdiam dan mencoba berpikir, darimana seharusnya Sita mulai bercerita.
"Pada akhir tahun kemarin, Sonia datang kemari menemui Sari disini sedang menenun ulos, kami tidak tahu darimana Sonia tahu alamat Sari, Sari pikir dari ibunya kak Beni yang menyuruh Sonia" Sita pun terdiam.
"Apa Sonia datang menemui Sari, apa yang dikatakan Sonia?" jawab Beni marah.
__ADS_1
"Sonia mengatakan bahwa kak Beni dan Sonia telah di jodohkan, dan kedua orang tua kalian telah sepakat, Sonia mencaci maki kak Sari dengan mengatakan "Tidak usah kepedean bermaksud untuk memiliki Beni, tidak selevel, karena tidak sederajat. Tidak tamat SD saja tetapi punya mimpi selangit, sangat tidak sebanding dengan Beni yang berpendidikan dan orang kaya.
Kak Sari tidak terima karena disepelekan dan diremehkan begitu, Kak Sari merasa walaupun kakak menikah dengan Sari, Sari akan disepelekan terus oleh keluarga kak Beni, begitu pikiran Sari" ucap Sita menjelaskan.