Kisah Pilu Seorang Kembang Desa

Kisah Pilu Seorang Kembang Desa
#35. Kedua orang tua Beni merestui hubungan Beni dengan Sari.


__ADS_3

Selama di perjalanan menuju rumah Beni, Sari hanya membisu tidak bicara sepatah kata pun. Diperjalanan Beni banyak bicara, supaya Sari tidak terlalu stress, " Jangan terlalu tegang begitu, santai saja", ucap Beni menasihati Sari, tetapi hanya dijawab Sari seadanya saja "iya".


"Adik adikmu cantik cantik ya", ucap Beni mencoba membuka obrolan selanjutnya.


"Iya dong, aku kan cantik", ucap Sari sambil tersenyum.


Melihat ada senyum di bibir Sari, Beni pun senang, karena sedari tadi Sari begitu tegang dan merasa tertekan selama dalam perjalanan menuju rumah Beni.


"Tetapi dari semua adik adikmu, kamu kok yang paling cantik", ucap Beni tersenyum sambil melirik spion melihat senyum Sari yang mencibir karena beni sedang merayu dan menggombal nya.


"Gombal", ucap Sari spontan sambil mencibir Beni.


"ga kok, aku serius deh, kamu kok yang paling cantik dari semua adik adikmu", jawab beni serius.


Merasa digoda beni terus, Sari mencoba mengalihkan pembicaraan, "Oh ya, rumah kamu masih jauh ga sih, pegal aku lama lama duduk di motor ini", ucap Sari gelisah.


"Ga kok, satu belokan lagi, masuk kebelokan sebelah kanan, kira kira 100 m, nyampe. Sabar ya, bentar lagi kita akan sampai di rumah ", ucap Beni.


Karena beni mengatakan bahwa rumah Beni hampir sampai, giliran Sari sekarang yang grogi, jantungnya tiba tiba berdetak kencang, karena sebentar lagi bakalan ketemu dengan kedua orang tua Beni.


Tidak beberapa lama, Beni berkata "Sudah sampai, inilah rumah ku", ucap Beni sambil menghentikan sepeda motornya dan segera memarkirkan sepeda motornya di samping rumahnya.


Saripun segera turun dari boncengan sepeda motor, dan berjalan pelan masuk ke rumah.


Beni segera memegang tangan Sari, mengajak Sari masuk ke rumah sambil berucap " Tenang, santai saja. Jangan tegang gitu dong", ucap Beni, karena melihat muka Sari sedikit pucat.


Beni dan Sari pun segera melangkah masuk kearah rumah dan segera mengetuk pintu sambil berteriak.


Tok... tok..tok..."Ibu...ibu...ayah..ayah..", teriak beni memanggil ayah dan ibunya secara bergantian dan berulang ulang.

__ADS_1


Tidak lama kemudian pintu dibuka.


muncul ibu Beni dari balik pintu.


"Kamu Ben, bersama siapa?", ucap Indri ibu Beni bingung, karena Beni membawa seorang perempuan, ternyata Beni belum cerita akan membawa Sari ke rumah.


"Iya, Bu kenalin ini pacar Beni ", ucap Beni antusias. mengenal kan Sari kepada ibunya dengan semangat.


"Tumben kamu bawa perempuan ke rumah, biasanya kamu adalah yang paling cuek kepada perempuan, kamu biasanya tidak mau tahu dengan perempuan dan selalu sibuk dengan hobi kamu yang mengotak atik listrik " ledek Indri terhadap anaknya Beni.


"Iya Bu, beni sekarang kan sudah besar, sudah harus dewasa dan serius terhadap masa depan ", ucap Beni tegas.


"Iya benar, anak ibu sudah dewasa, sudah mikirin masa depan ", ledek Indri kembali sambil senyum senyum.


"Oh ya, ayah mana Bu", ucap Beni sambil mencari dan melihat ke sekeliling untuk mencari sosok Doni ayah Beni.


"Ayahmu, sedang di ruang keluarga, sedang menonton", ucap ibu.


Tidak lama kemudian Beni datang dengan membawa ayah nya untuk dikenalkan dengan Sari.


Mencoba membuka pembicaraan, Beni memperkenalkan Sari kepada kedua orangtuanya " Ayah, ibu ini Sari, pacar Beni", ucap Beni serius .


Indri dan Doni langsung berjabat tangan dengan Sari. mencoba menebak, Indri spontan bertanya "Teman sekolah kamu Ben?", tanya Indri ingin tahu.


"Tidak Bu, Sari satu kampung kita, Sari tinggal di dekat dermaga tempat berlabuh kapal yang hendak ke pekan, Sari satu kumpulan paduan suara muda mudi", ucap Beni menjelaskan sosok Sari.


"Oh", ucap Indri dan Doni bersamaan sambil manggut manggut.


Kemudian Beni langsung membuka pembicaraan, takut ibunya bertanya banyak hal terhadap Sari.

__ADS_1


"Ayah, ibu, Beni serius menjalin hubungan dengan Sari, Beni tidak mau buru-buru menikah, setelah tamat sekolah nanti, Beni akan pergi merantau ke luar kota, beni akan minta tolong kepada om Burhan yang bekerja sebagai kepala bagian di kantor PLN Medan, agar Beni bisa berkesempatan memberikan lamaran kerja, selanjutnya untuk test dan segala ujiannya Beni akan berusaha agar memberikan yang terbaik, Om hanya sebagai pembawa lamaran Beni saja, setelah bekerja beberapa tahun kira kira 2-3 tahun, Beni akan melamar Sari", ucap Beni panjang lebar atas segala rencana rencananya.


Indri dan Doni hanya bisa senyum senyum. "Kamu serius Beni?", tanya Indri, menyakinkan Beni.


"Iya Bu, Beni serius", ucap Beni tegas.


"Sari bagaimana pendapatmu?", ucap Indri, tetapi sebelum Sari menjawab pertanyaan ibu Beni, ibu beni terlebih dahulu menanyakan Beni" Beni sebelumnya kamu sudah berbicara serius kepada Sari, mengenai hubungan kalian?" tanya Indri kepada Beni.


"Sudah dong Bu, Sari masih ragu sama Beni, Sari merasa tidak yakin ayah dan ibu merestui hubungan kami", ucap Beni sedih.


"Alasan Sari apa?, ragu terhadap ibu? ", ucap Indri ingin tahu.


" Sari merasa minder karena Sari anak orang miskin, ibu Sari sudah meninggal sejak Sari berumur 9 tahun, dan sekarang Sari punya ibu tiri, dan 3 orang adik tiri, sebelumnya Sari merupakan tulang punggung dari keempat adik adiknya, sejak kecil Sari sudah bekerja keras keladang dan sawah, bahkan sudah menjadi penenun ulos, untuk mencukupi kebutuhan keluarga", ucap Beni menjelaskan kondisi keluarga Sari.


Sari pun hanya menunduk membiarkan beni bercerita tentang keluarganya kepada kedua orang tua Beni.


Ayah dan ibu Beni merasa sedih dan iba mendengar kisah pilu Sari.


Justru mereka mendukung Sari, karena sejak kecil sudah menjadi tulang punggung keluarga, berarti nanti kalau sudah berumah tangga sudah terbiasa dan semakin dewasa dalam menghadapi segala rintangan dalam berumah tangga.


"Sesungguhnya kami tidak melarang hubungan kalian, Kami sangat merestui nya, tetapi pertanyaan ibu kepada Sari, tolong dijawab jujur ya Sari, apakah serius dengan Beni?", tanya Indri kepada Sari.


Sari diam sejenak, tidak langsung menjawab, tidak lama kemudian Sari menjawab "Iya Bu, Sari serius terhadap Beni".


"Sepertinya saya tidak asing dengan nama kamu Sari, kamu cantik, kayaknya banyak para pria yang ingin melamar kamu, karena kamu cantik sekali Sari.


Saya pernah dengar kamu dibicarakan ibu ibu disekitar sini, ternyata itu kamu Sari, kamu polos, sederhana, saya suka kamu Sari, bagaimana pun kondisi dan keadaan ekonomi keluarga mu, sesungguhnya ibu tidak melihat itu, semua tergantung dari komitmen dari kalian berdua, kalau kalian suami istri sehati dan sepikir, saling pengertian dan saling menghormati, pasti rumah tangga kalian akan bahagia, harta itu sifatnya dicari, kalau kalian aman dan damai maka rezeki pun secara otomatis akan mengalir.


Bukan karena orang tuanya kaya atau miskin, kalau orang tuanya kaya, tetapi anak menantu tidak sehati dan sepikir maka semua pun bisa habis, sebaliknya jika orang tua nya miskin, jika suami istri aman damai, pasti akan dibukakan rezeki. Hanya itu nasihat ibu kepada kalian berdua", ucap Indri panjang lebar menasihati Sari dan Beni.

__ADS_1


Sari dan Beni manggut manggut mengiyakan segala nasihat orangtuanya. Mendengar tanggapan kedua orang tua Beni, memberi dukungan terhadap hubungan Sari dan Beni, Sari jadi lega, tidak seperti yang dibayangkan nya sampai membuat Sari tidak bisa tidur semalaman.


Sari kagum terhadap pemikiran kedua orang tua Beni, walaupun kaya, tetapi tidak sombong. karakter Beni memang gambaran dari kedua orang tua nya.


__ADS_2