
Hasil penjualan dari warung milik Sari sudah berkurang, karena Sari terkadang buka dan terkadang tutup. Tetangga Sari menganggap ini sebagai peluang.
Tetangga Sari membuka warung. Sehingga warung milik Sari tidak seramai dulu lagi, hanya seadanya saja.
Juan juga memberi uang belanja kepada Sari seadanya saja, malah tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 14 hari.
Bila Juan pergi berangkat keluar kota. Juan berbagi penghasilan dengan adiknya Feliks, Juan selalu sembunyi tangan untuk membayar uang sekolah dan uang jajan nya selama Juan di luar kota.
Ketika pernikahan adik perempuan Juan yang bernama Ita, Juan harus berutang, karena orang tua Juan menyuruh Juan untuk berutang untuk biaya pernikahan Ita. Kembali gaji Juan harus berkurang untuk jatah ke Sari, Sari terkadang ingin lari dan meninggalkan Juan.
Karena 6 tahun menikah, Juan seperti hanya peduli terhadap keluarga nya saja.
Sari putus asa dan terus kepikiran terhadap Juan yang lebih mementingkan keluarga nya, Juan tidak tegas kepada orangtuanya, toh orang tuanya juga masih sehat.
Masih bisa bekerja tetapi selalu malas-malasan mereka rasanya lebih baik meminta-minta kepada Juan, daripada harus bekerja. Padahal ladang dan sawah, terbilang luas, tetapi dibiarkan menjadi lahan yang tidak berguna.
Semua itu menjadi beban pikiran bagi Sari, Sari terus kepikiran atas semua perbuatan Juan, tidak sanggup rasanya beban itu dipikul Sari.
Kembali Sari kesurupan dan tidak seperti diri Sari biasanya. Tatapan kosong, terkadang bicara sendiri dan marah-marah mengungkit masa lalunya.
Sari tidak fokus mengerjakan rumah, belum selesai ini dikerjakan sudah mengerjakan yang lain, bahkan memasak nasi sampai gosong. Semua itu adalah ciri-ciri Sari bila kesurupan.
Anak pertama Sari mengambil kendali untuk memasak nasi dan Lauk seadanya, agar adik-adiknya bisa makan .
Untung lah Juan sudah datang, kemarahan Sari begitu memuncak bila melihat Juan.
__ADS_1
Memang selama ini sikap cuek dan ketidakmengertian Juan selalu menjadi beban pikiran Sari. Dalam keadaan kesurupan pun semua itu seperti tertumpah dan terlampiaskan kepada Juan,
"Pergi kamu dari rumah ini, kamu jahat kamu tidak peduli terhadap perasaan ku. Kamu selalu menyakiti perasaan ku", teriak Sari kepada Juan dengan kencang dan sambil melempar sesuatu kepada Juan.
Bila melihat Juan Sari selalu ingin memukul Juan dan melempar sesuatu kepada Juan. Takut Juan akan memukul Sari, Saripun akan lari dan pergi dari rumah untuk beberapa hari, dan kemudian datang lagi.
Juan takut Sari pergi jauh dan tidak pulang lagi, lagian pun Juan tidak bisa tidak bekerja untuk waktu yang lama. Juan membawa Sari pulang kampung, Sari tidak mungkin hilang di kampung, karena Sari tahu seluk beluk kampung.
Orang-orang kampung akan memasung Sari agar tidak ribut, kalau Sari sudah tenang, Sari akan pulih sendiri.
Setelah berulang-ulang Sari kambuh, dan sudah bertahun-tahun sakitnya selalu kambuh dan berulang dengan waktu yang cukup lama.
Orang kampung dan tetangga akan menganggap biasa dan tidak memasung Sari lagi, dibiarkan saja Sari beraktifitas sesuai keinginannya, setelah hampir sebulan Sari akan pulih sendiri.
Begitu lah Sari, bila Sari banyak berpikir, dan berputus asa, Sari akan kambuh kesurupan, biasanya Sari dalam setahun bisa 2 kali kesurupan, bahkan dalam setahun pun bisa tidak kesurupan, tergantung beban pikiran Sari sendiri.
Sungguh sangat di luar nalar, Sari sudah berobat ke paranormal, tetapi Sari tidak kunjung sembuh. Tetapi ketika Sari kesurupan. Sari mengenali orang dan anak-anak nya, hanya emosinya tidak terkendali, suka menangis dan marah-marah, tidak fokus terhadap pekerjaan yang sedang dikerjakannya.
Setelah pulih Sari akan balik lagi ke Sibolga dan melakukan aktifitas normal seperti biasanya. Para tetangga sudah maklum dengan kondisi dan keadaan Sari.
Juan menyesali kesalahannya dahulu yang tidak mau meminta maaf dengan tulus, mengakui kesalahan nya kepada Sari.
Sekarang nasi sudah menjadi bubur, penyesalan sudah datang terlambat, Sari tidak bisa lagi di sembuhkan secara normal, artinya tidak kesurupan saat mengalami beban pikiran yang berat.
*****
__ADS_1
Anak kedua Sari sudah tamat SMA, bermaksud untuk kuliah ke Medan, menyusul 1 tahun kemudian anak ketiga pun berencana kuliah. Juan tidak sanggup hanya mengandalkan gaji sebagai supir, akhirnya rumah di Sibolga di jual untuk biaya kuliah anak-anak Sari dan Juan.
Sari dan Juan berencana, akan tinggal di kampung setelah ayah dan ibu Juan meninggal dunia, Sari ingin mengelola sawah dan ladang untuk menambah pemasukan.
Entah karena apa, setelah tamat kuliah dan menjadi sarjana anak kedua sari menderita gangguan jiwa.
Sari dan Juan tidak sanggup mengobati nya ke rumah sakit jiwa, mereka hanya pasrah pada nasib, pernah di periksakan ke dokter jiwa, anak kedua sari, menderita kecanduan nikotin.
3 tahun di rawat di rumah, diberikan makanan dan rokok, anak ke dua Sari dan Juan pergi entah ke mana rimbanya. Sari dan Juan sudah berusaha mencari kesana kemari tetapi tidak ditemukan. Sari sebagai ibu kandung merasa sakit kehilangan anaknya.
Entah dosa apa, anak ke empat Sari juga menderita gangguan jiwa, sempat mengenyam pendidikan di universitas negeri.
Karena terlalu terlena dengan pergaulan dengan teman-temannya, anak ke empat Sari tidak pernah masuk kuliah, 3 tahun melapor kepada Sari sebagai anak kuliah ternyata tidak pernah masuk kuliah, akhirnya memutuskan untuk berhenti kuliah.
Hanya berada di rumah, mengurung diri di dalam kamar, anak ke empat Sari tidak mau bersosial bahkan bergabung dengan orang lain, seluruh teman seangkatannya di kampung sudah menikah, sehingga semakin membuatnya mengurung diri di kamar.
3 tahun kemudian Juan meninggal dunia di perjalanan. Sari tidak ada firasat karena Juan meninggal tiba-tiba, karena sebelumnya masih bercerita kepada teman sesama supir hingga Jam 3 dini hari, baru ketika jam 8 pagi, hendak membangunkannya Juan di nyatakan telah meninggal dunia.
Tinggal sari membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, anaknya yang keempat dan kelima menjadi tanggungjawab Sari. Anak kelima yang sehat walafiat juga tidak mau membantu Sari bekerja di ladang. kerjanya hanya makan tidur dan bermain laptop.
Setahun setelah kepergian Juan menghadap Sang Pencipta, anak keempat Sari juga meninggal dunia, seperti meninggal seperti Juan, ketika pagi hendak di bangunkan sudah tidak bernyawa lagi.
Sari begitu sedih bila mengingat perjalanan hidupnya dan anak-anaknya. Entah dosa siapa dan apa yang menjadi penyebab semua yang terjadi dalam kehidupan Sari, Sari pun tidak tahu.
Sekarang Sari di hari tuanya pun harus membanting tulang bekerja di ladang untuk memenuhi kebutuhan hidup nya sehari-hari. anak-anak Sari yang sudah menikah pun tidak bisa memberikan sedikit berkatnya, agar Sari tidak usah membanting tulang. Bahkan yang tinggal di depan Sari, tidak bisa membantu nya bekerja, hanya tahu minta duit kepada Sari.
__ADS_1
Sari hanya bisa berdoa, agar kehidupan anak-anak nya bisa lebih baik dan tidak berharap untuk merepotkan dan meminta-minta kepada anak-anak nya yang sudah menikah.
Hari tua Sari di jalani dengan bekerja semampunya saja, tidak berharap mendapatkan barang-barang mewah. Hanya di cukupkan saja bisa makan dan tidak meminta-minta kepada anak-anak nya.