Kisah Pilu Seorang Kembang Desa

Kisah Pilu Seorang Kembang Desa
#65. Beni ikhlas merelakan Sari


__ADS_3

Besoknya Beni pamit kepada Indri ibunya untuk pamit balik ke Medan.


"Ibu, Beni pamit harus balik ke Medan" ucap Beni sambil mencium tangan ibunya.


"Kamu yakin sudah siap berangkat Beni?, menginap lah dulu barang satu malam lagi disini, supaya kamu balik ke Medan dengan kondisi fresh dan penuh semangat" ucap Indri menyakinkan Beni.


"Beni yakin untuk balik hari ini Bu, Beni banyak kerjaan di kantor yang sudah menumpuk, karena Beni sudah tidak bekerja selama 2 hari" ucap Beni beralasan.


"Baiklah kalau begitu nak, tetap semangat dan optimis menjalani hidup ya nak, jangan berputus asa, tetap berdoa, pasti Tuhan berikan yang terbaik, mungkin Sari bukan jodoh mu, berpikir lah yang positif" Indri terus menyemangati dan memberi terus memberi dorongan terhadap Beni.


"Oh iya Bu, Beni mungkin tidak akan pernah lagi datang ke kampung ini, ayah dan ibu berangsur-angsur nanti akan pindah ke Medan saja, nanti Beni akan beli rumah, ayah dan ibu bisa tinggal bersama Beni nanti " ucap Beni berencana kepada ayah dan ibu nya.


"Beni ayah dan ibu sudah tua, tinggal di kota sangat tidak menyenangkan, biarlah kami yang sudah tua ini tinggal di desa, karena tinggal di desa membuat kami merasa senang, sebentar kami bisa berladang atau berkebun untuk menghilangkan rasa jenuh, kalau badan banyak bergerak kan semakin bagus, agar otot-otot tidak kaku.


Lain halnya kalau kami tinggal di kota, otot akan terasa kaku karena tidak pernah beraktifitas, dan pikiran akan terasa jenuh karena tidak bisa melihat pemandangan sawah yang membentang, ladang-ladang jagung, ubi atau kopi itu semua sudah cukup pembuat pikiran fresh daripada dikota yang penuh sesak dan sepi karena saling cuek" ucap Indri menolak untuk tinggal di kota.


"Ibu, kalau ibu tinggal bersama Beni, Beni kan bisa merawat dan menjaga ibu setiap hari" ucap Beni.


"Kamu percayalah, ibu dan ayah akan lebih baik bila tinggal di desa daripada harus tinggal di kota" ucap Indri dan Doni menyakinkan Beni.


Beni kecewa, karena ayah dan ibunya menolak untuk tinggal di kota dengan banyak alasan dan pertimbangan.


Sekarang Beni harus berangkat ke kota "Nanti bisa membujuk ayah dan ibu di lain kesempatan, lagian Beni belum membeli rumahnya, Beni masih berencana, tetapi saat ini Beni sudah punya tabungan cukup" pikir Beni dibenaknya.


Beni pun segera menyalakan sepeda motornya " Beni pamit ya Bu, pak " ucap Beni sambil melambaikan tangannya.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan ya nak" ucap Indri dan Doni berbarengan sambil melambaikan tangan nya kearah Beni.


Beni pun berbalik melajukan sepeda motornya.


Beni berkendaraan dengan pelan, membuka harapan baru, lembaran baru, dan rencana-rencana baru di hatinya, belum bisa menerima kenyataan bahwa tidak ada Sari lagi di mimpinya dan hayalannya.


Beni menarik nafas dalam dan membuangnya, dengan maksud harus bisa ikhlas dan melepaskan apa yang tidak bisa digenggam, toh ini mungkin sudah takdir tidak bisa berjodoh dengan Sari, Beni optimis dan menyemangati dirinya sendiri untuk tidak berputus asa dan menyerah, pasti ada harapan dan masa depan yang indah yang cerah menanti untuk digenggam.


Kita hanya memilih mau masa depan yang indah dan cerah, tentunya harus semangat, kerja keras dan pantang menyerah.


Sebaliknya kalau masa depan yang suram, yah tidak semangat, tidak bekerja keras dan terus berputus asa, tidak bekerja dan selalu menyerah dengan keadaan.


Beni melaju sepeda motor melewati rumah Sari, Walaupun Sari tidak jadi menjadi teman hidup nya, bagaimana pun Sari pernah mengisi ruang hatinya, Sari pun pernah menjadi penyemangat bagi Beni dan Sari pernah menjadi kenangan terindah bagi Beni.


Sebenarnya berat bagi Beni untuk melepaskan kenangan Sari, tetapi untuk apa "Hanya membuat luka yang tidak akan pernah sembuh, hidup terus berjalan harus ikhlas dan rela melepaskan semua" pikir Beni di benaknya dan terus menyemangati dirinya.


Aku harus berprinsip, tidak peduli Sari dimana aku harus bangkit, Sari adalah masa lalu, saatnya memikirkan masa depan", Terus menerus Beni menyemangati diri nya.


Diperjalanan dekat terminal bus yang ada di pekan, Beni dikejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba memukul pundaknya, "Hei Ben", teriak Hendra.


Beni terkejut dan segera memperhatikan siapa yang telah menegur nya, ternyata Hendra sahabat nya ketika di SMA dulu, Beni tidak menyangka akan ketemu dengan Hendra. Mereka pun langsung berpelukan.


"Hai Hendra, bagaimana kabar kamu?, sekarang kamu kerja dimana?, kamu tinggal dimana sekarang?, tanya Hendra bertubi-tubi.


"Aduh, kamu tanya nya, satu persatu dong, aku jawab yang mana duluan, pertanyaan mu saja sudah tidak kuingat lagi, habis kebanyakan pertanyaan nya" ucap Hendra bingung.

__ADS_1


Beni hanya bisa senyum-senyum dan tertawa lebar "Ha ..ha...ha.., kamu itu ya, ada-ada aja celoteh nya" ucap Beni.


"Ok deh sekarang kamu kerja dimana?" tanya Beni.


"Aku kerja di pabrik pembuatan sparepart barang-barang eletronik, seperti saklar, pitting lampu, dudukan lampu, dan berbagai jenis barang yang lain" ucap Hendra menjelaskan pekerjaan nya.


"Kamu bagaimana Ben, kalau kamu jangan ditanya, mungkin sekarang kamu sudah jadi manajer iya kan?" goda Hendra kepada Beni.


"Ahhh kamu ngeledek aja, karyawan biasa saja, hanya kerja seadanya saja" Beni merendah, agar Hendra tidak merasa kecil dan down atas pekerjaan nya sekarang.


"Bagaimana hubungan mu dengan Sari, apakah baik-baik saja?" tanya Hendra penasaran.


"Sudahlah tidak usah membicarakan Sari, kita bicara topik lain saja" ucap Beni dengan raut wajah sedih dan menunduk.


"Apa yang terjadi dengan hubungan kalian berdua?" tanya Hendra penasaran.


"Sari sudah menikah dengan laki-laki lain sesuai dengan pilihannya sendiri" ucap Beni sedih.


"Bagaimana bisa, bagaimana ceritanya?" Hendra tidak percaya.


"Akhir tahun kemarin, Sonia sepupu ku datang memberitahu kepada Sari, bahwa aku dan Sonia dijodohkan, kemudian Sonia menghina Sari, mengatakan Sari tidak tamat SD, tidak selevel dengan aku. Sari percaya semua perkataan Sonia dan tidak terima disepelekan.


Sari pun berpikir, bahwa orang tuaku benar-benar telah menjodohkan Sonia dan aku, sehingga Sari memutuskan aku secara sepihak tanpa mengklarifikasi semua itu kepada ku, sehingga surat-suratku pun tidak pernah dibaca lagi oleh Sari, kemudian Sari menerima perjodohan yang telah di buat orangtuanya dengan temannya" Beni bercerita bagaimana bisa putus dengan Sari.


Hendra pun hanya bisa menyemangati sahabat nya "Sabar ya Ben, tetap semangat ya, pantang menyerah dan jangan putus asa"

__ADS_1


"Terima kasih banyak ya Hendra, atas perhatian kamu" ucap Beni.


__ADS_2