
Sonia kesal telah di tolak Beni cinta nya. Merasa tidak terima telah di tolak, Sonia emosi dan langsung berencana balik ke Amerika.
Sonia menelepon Burhan, papanya.
"Pa, tolong ambil tiket ku, hari ini juga Sonia akan balik ke Amerika" ucap Sonia kesal.
"Apa, kenapa mendadak sekali, ada masalah apa, coba nanti kita selesaikan bersama sama, tunggu papa pulang dari tempat kerja ya, papa lagi meeting, jam 20.00 papa sudah sampai di rumah", bujuk Burhan, kepada Sonia putri kesayangannya.
"Pa, kalau papa tidak mau mengambil tiket Sonia, biar Sonia deh yang ambil", ancam Sonia.
"Ada masalah apa sih, kok sampai segitunya", bujuk Burhan penasaran.
"Pa, Sonia sudah tidak ada artinya disini, mendingan Sonia balik ke Amerika ", ucap Sonia.
"Tuh kan, masih tidak jelas gitu!, Tolong jelaskan secara detail, papa bingung jadinya", ucap Burhan kesal.
"Beni, menolak cinta Sonia pa, Beni sudah punya pacar", ucap Sonia marah marah.
"Sonia, walaupun Beni sudah punya pacar, tetapi keputusan tetap ada pada orang tuanya, nanti bisa diatur lah itu, jangan emosi gitu dong, jangan terlalu memaksakan Beni saat ini, apa yang diputuskan Beni saat ini kita turuti saja, anak kesayangan papa tolong bersabar sedikit saja, pandai pandailah mendekati Beni ", bujuk Burhan dengan manja kepada putri kesayangannya, Sonia.
"Kamu tidak usah cepat cepat balik ke Amerika ya, bagaimana rencana liburan ke Bali, apa Beni menolaknya?", tanya Burhan penasaran.
"Sonia tidak tahu pa, Beni sepertinya kesal, karena tahu papa terlibat atas perjodohan ini, tidak tahu apa rencana Beni selanjutnya", ucap Sonia memberi tahu kan sikap Beni.
"Kamu santai saja, bersikaplah seperti biasa seolah olah tidak ada yang terjadi" saran Burhan kepada Sonia.
"Ga bisa pa, bawaannya masih kesal", ucap Sonia marah dan kesal.
"Sudah dulu ya sayang papa, tutup dulu teleponnya, papa lagi meeting ini, kita ketemu dan bicarakan ini di rumah saja", Burhan mematikan teleponnya dan segera bergabung keteman meetingnya.
Sonia kesal, Burhan mematikan teleponnya. Mendengar penjelasan Burhan yang mengatakan untuk bersikap biasa dan seolah olah tidak ada masalah yang terjadi, Sonia akan mencobanya.
Sonia asik menonton di ruang tamu sambil menunggu kedatangan mama dan papanya pulang dari tempat kerja, untuk membicarakan bagaimana selanjutnya. Sudah kebiasaan mama dan papanya sedari dulu pulang malam malam. Sonia dan Joni hanya mendapat kasih sayang dari si bibi yang sudah meninggal 1 tahun yang lalu.
__ADS_1
Sedang asik menonton Sonia di kagetkan dengan suara Beni yang menegur nya "Sedang asik nonton apa Sonia". tanya Beni. "Oh iya ini ada film komedi Dono Kasino Indro, untuk menghilangkan rasa jenuh saja", ucap Sonia masih kaget.
"Boleh nimbrung ikutan nonton ga, aku juga lagi malas di kamar, suntuk ga tahu harus melakukan apa", ucap Beni.
"Oh iya, silahkan, aku senang kalau kamu menemaniku ikut nonton, lebih enak kan kalau ketawa rame rame, dari pada ketawa sendiri dikira malah sakit jiwa", ucap Sonia sambil menawarkan segelas minuman jus jeruk kepada Beni.
Separuh kesal Sonia hilang kala Beni menemani nya untuk nonton bareng. Sesekali mereka tertawa terbahak bahak, 'lumayan walaupun nonton bareng nya di rumah, tetapi bila ditemani pujaan hati akan terasa mesra dan nikmat', gumam Sonia dalam hati. 'Aku juga tidak boleh memperlihatkan kalau aku masih mengharapkan cinta Beni, aku harus benar-benar menganggap Beni sebagai kakak', pikir Sonia menambahi.
Tidak beberapa lama Bell rumah berbunyi. Sonia langsung terperanjat dari tempat duduknya bermaksud untuk membukakan pintu, 'itu pasti mama dan papa', pikir nya dalam hati. ''Siapa yang datang?'', teriak Beni.
"mama dan papa mungkin", jawab Sonia sambil berlari ke arah pintu untuk membuka pintu.
"Halo, putri kesayangan papa, lagi ngapain?", tanya Burhan melihat putri kesayangannya tidak kesal dan ngambek lagi, dan sambil berjalan menuju ruang tamu karena ada kedengaran suara TV menyala.
"Lagi nonton Dono Kasino Indro bersama Beni", ucap Sonia sambil menutup pintu dan berjalan mengikuti Burhan masuk menuju ruang tamu.
Melihat Beni menonton dan sambil senyum senyum dan sesekali tertawa terbahak bahak. Burhan menyapa Beni "Hai jagoan, asik banget nonton nya, sampai tidak melihat om datang", sindir Burhan menyapa Beni.
"Hai om, iya lagi seru dan lucu banget filmnya, sampai tidak memperhatikan om datang", jelas Beni.
Sonia dan Beni pun kembali asik menonton, Sonia kembali menuangkan jus jeruk ke gelas Beni, karena sudah habis.
"Cukup Sonia, aku sudah kebanyakan minumnya", ucap Beni menolak.
"Tidak apa apa lagi, ini kan minuman sehat yang mengandung vitamin c, agar tubuh tidak dehidrasi dan membantu untuk kekebalan tubuh supaya tubuh tidak mudah sakit", Sonia memberi penjelasan.
"Iya deh Bu dokter, ada juga gunanya kamu disekolahkan ke Amerika ya, makin pintar dan tahu bidang lain juga, secara kamu jurusan management", ucap Beni meledek dan segera meneguk minuman jus jeruk yang barusan di tuang ke gelas nya.
"Meledek terus", ucap Sonia mau mengambil jus jeruk yang tadi di tuang ke gelas Beni, "Ha, sudah habis!, tadi diledek, sekarang malah sudah habis seketika, tadinya aku mau mengambil balik minuman jus tersebut, tidak tahunya malah sudah habis", ucap Sonia mencibir dan meledek Beni.
"Iya aku tahu kamu pasti akan mengambilnya, karena ku ledek terus, makanya langsung kuhabisin", ucap Beni tersenyum.
"Asik sekali ngobrol nya", ucap Burhan yang datang tiba tiba nimbrung di ruang tamu.
__ADS_1
"Eh om, mau nonton juga?", ucap Beni menyapa membuka percakapan dengan om Burhan, sambil Sonia menuang jus jeruk di gelas Burhan "Ini minumannya pa", ucap Sonia."Makasih sayang", balas Burhan.
"Mau dong nonton bareng kalian, asyik sekali dan om juga mau tertawa bareng kalian", Burhan menjawab pertanyaan Beni.
"Bagaimana, kalian jadikan liburan nya ke Bali?", tanya Burhan.
Sonia dan Beni terdiam sesaat. Kemudian Beni membuka percakapan memecah keheningan.
"Om, Beni mau indekos saja", ucap Beni sedikit takut, takut om Burhan marah.
Burhan saling menatap dengan Sonia.
"Apa, mengapa kamu tiba-tiba ingin indekos, apa di rumah ini makanan nya tidak enak?", ucap om Burhan bingung dan terkejut
"Bukan begitu om, Beni hanya ingin mandiri saja, Beni tidak mau merepotkan orang lain", ucap Beni mencari alasan.
"Orang lain, kamu menganggap om dan bibi, orang lain?", ucap Burhan agak marah.
"Bu-- bu--kan itu maksud Beni om", ucap Beni terbata bata. Beni langsung mengklarifikasi perkataan nya takut om Burhan salah paham.
"Maksud Beni, supaya Beni mandiri om, Beni kan terbiasa indekos, Beni tidak biasa di ladeni, supaya Beni bisa menghargai dan bertanggung jawab saja om" bela Beni.
Sesuai kesepakatan Burhan dan Sonia, menuruti keinginan Beni, Burhan pun setuju Beni indekos.
" Baiklah Beni, kalau itu untuk kebaikan kamu, om tidak bisa menghalanginya, tetapi kalau kamu berubah pikiran atau suatu waktu ingin tinggal disini, jangan sungkan sungkan ya, untuk balik ke rumah ini, pintu selalu terbuka lebar untuk kamu, oh ya Kapan Beni mau indekosnya?", ucap om Burhan pasrah.
"Besok om", ucap Beni tegas, melihat ekspresi om Burhan tidak marah, Beni pun bicaranya tegas dan jelas.
"Secepat itu?, Berarti jalan jalannya tidak jadi?", tanya om Burhan kaget.
"Maaf om, Beni mau kerja saja, cutinya tidak jadi, nanti lah kalau ada libur Beni mau menemani Sonia jalan jalan", ucap Beni.
Burhan terdiam, sedikit kesal dengan pernyataan Beni menolak untuk menemani Sonia jalan jalan.
__ADS_1
Tetapi Burhan pasrah dengan keputusan Beni.
"Baiklah Beni, lagi lagi om hanya bisa pasrah, walaupun sebenarnya om kurang setuju dengan keputusan kamu", ucap om Burhan pasrah.