Kisah Pilu Seorang Kembang Desa

Kisah Pilu Seorang Kembang Desa
#56. Sari menganggap putus dengan Beni.


__ADS_3

Setelah mendengar perkataan Sonia kepada Sari secara langsung, Sari menangis terisak di dalam kamar, tidak ada semangatnya lagi untuk melakukan aktifitas.


Sari merasa tersinggung di bilang tidak berpendidikan, bahkan SD pun tidak tamat, tidak selevel. "Apa cuma orang kaya kah yang bisa bermimpi", gumam Sari dalam hati. Sari terus menangis, sedih diremehkan seperti itu.


Sita berusaha menghibur kakaknya Sari, tetapi Sari malah menyuruh Sita untuk keluar, Sari ingin sendiri saja, tidak mau diganggu.


Dunia terasa runtuh bagi Sari, Sari sudah pernah merasakan sakit yang seperti ini, ketika Queen menulis surat palsu, mengatakan bahwa Beni lebih memilih Queen daripada Sari.


Sari ikhlas kalau Beni yang mengatakannya langsung, tetapi kali ini beda, Sari tidak terima dihina dan dicaci maki begitu. Begitu sakit rasanya, kalau sudah membawa bawa keluarga.


Sudah 2 hari Sari mengurung diri dalam kamar, makan pun hanya sekali sehari, itupun karena dipaksa Sita. Tidak ingin Sari sakit dan pikirannya terganggu, Sita memberanikan diri untuk menghibur dan memberi semangat Sari.


"Kak, jangan terlalu menyiksa diri begitu, bagaimana kalau kakak berkirim surat langsung kepada kak Beni, supaya tidak terjadi kesalahpahaman, mungkin saja ini hanya perkataan Sonia saja, bukan kah kakak bilang kalau orangtua Beni mendukung dan setuju atas hubungan kalian?.


Kakak harus semangat dong, kami khawatir kakak nanti sakit, setidaknya makan dong kak sedikit saja", sambil menangis Sita membujuk Sari.


Sita pun memeluk erat Sari untuk memberi semangat "Kak, kalau kakak sakit atau meninggal, bagaimana dengan kami kak, ibu sudah meninggalkan kami, apa kakak juga akan meninggalkan kami, bagaimana nasib kami nanti kak", Sita terus membujuk Sari sambil menangis terisak-isak.

__ADS_1


Mendengar Sita menangis seperti itu, kemudian datang ke tiga adiknya yang lain serta merta ikut menangis dan berkata "Kakak, makan dong kak, jangan diam begitu, kakak harus semangat, bagaimana nasib kami kalau kakak meninggal".


Melihat adik adiknya ikut menangis, Sari tersadar, bahwa Sari mempunyai tanggung jawab yang besar, jangan gara-gara laki-laki, adik-adiknya jadi terlantar.


Sari pun lantas memeluk erat adik-adiknya dan berkata "Iya dek, kakak tidak akan meninggalkan kalian, tapi tolong tinggalkan kakak sendiri dulu, kakak mau menangis sepuasnya, kakak janji bahwa hari ini saja kakak menangis untuk ini, besok kakak tidak akan menangis lagi, biarkanlah kakak menuangkan segala kesedihan kakak, agar kakak puas dan dada ini tidak terasa sesak", seluruh adik-adiknya segera keluar dari kamar dan meninggalkan Sari sendirian di kamar.


Tiur, ibu tiri Sari, heran melihat Sari sudah 2 hari tidak menenun. Tiur pun lantas berteriak dengan kencang.


"Sari, apa sudah tidak peduli lagi kah kamu terhadap keluarga ini?, kamu mau membiarkan semua kelaparan?, mengapa mengurung terus di kamar. Hanya gara gara laki-laki, yang belum sah jadi suamimu, bagaimana pula jika suamimu nanti selingkuh dan meninggalkan mu, mungkin kau sudah bunuh diri atau sakit jiwa karena tidak terima hal itu terjadi. Tolong pikir kan keluargamu, jangan gara gara 1 orang, kamu mengorbankan adik adikmu dan keluarga mu", Tiur menasihati Sari.


Mendengar perkataan ibunya seperti itu, Sari pun tersadar "iya iya, mengapa juga aku jadi mengorbankan keluarga ku, hanya gara-gara seorang laki-laki yang belum sah jadi suami ku", pikir Sari dalam hati.


Sari pun keluar dari kamarnya dengan tidak bersemangat dan masih lemas. Pelan pelan Sari ke dapur untuk makan sekedar mengisi perut nya, yang sudah dalam keadaan lapar. "Pelan-pelan Sari akan melupakan Beni, sia-sia janji yang telah diukir selama ini, kalau akhirnya tetap berpisah", bathin Sari.


***


Seminggu berlalu setelah Sonia memberitahu kalau Sari tidak selevel dengan Beni dan Beni telah dijodohkan dengan Sonia.

__ADS_1


Sari menjalani hari-hari terasa berat dan lelah, sungguh sangat tidak bersemangat.


Menenun pun di lakukan Sari dengan keadaan terpaksa. Sedang asik menenun datang pengantar surat "pos...pos", dengan senyum lebar pak pos memberikan surat kepada Sari karena sudah terbiasa ada surat untuk Sari, tetapi Sari tidak tertarik. Tidak seperti biasanya bila surat dari Beni datang Sari selalu tersenyum bahagia. "Terimakasih iya pak", ucap Sari setelah menerima surat dari pak pos.


Setelah pak pos berlalu, Sari langsung mengoyakkan surat itu. Sita melihat apa yang sedang dilakukan Sari "Kak, bukan sebaiknya kakak baca terlebih dahulu isi surat itu, entah mengapa Sita yakin, kalau itu adalah akal-akalan Sonia saja, mungkin Sonia cinta mati, sama seperti Queen, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Beni. Mungkin ini adalah surat Beni yang sebenarnya ungkapan perasaan Beni yang terdalam terhadap kakak, seperti surat surat Beni biasanya", ucap Sita menasihati Sari.


"Sita, sekalipun itu hanya akal-akalan Sonia, tetapi kakak sudah tidak respect keluarga nya, keluarga Beni akan selalu meremehkan keluarga kita, kakak tidak suka diremehkan begitu. Setelah menikah dengan Beni pun, akan membuat kakak tertekan bathin, kakak tidak mau Sita, sudahlah kerjakan saja pekerjaan mu, biarkan lah urusan ini menjadi urusan kakak", ucap Sari tegas.


"Apakah kakak tidak memikirkan perasaan kak Beni, bagaimana kalau kak Beni tidak tahu apa-apa, betapa hancur dan sedihnya kak Beni, Kakak tolong pikir kan baik-baik kak, menurut Sita, kakak harus terbuka menceritakan semua ini kepada kak Beni, barang kali salah paham ini bisa diluruskan, sehingga kakak dan kak Beni hubungan nya tetap berlanjut dan baik-baik saja", Sita terus membujuk dan menasihati Sari.


"Sudahlah Sita, yang menjalani semua ini adalah kakak", ucap Sari sambil berlalu meninggalkan Sita.


Tetapi Sita terus mengejar Sari dan berharap Sari masih mau berubah pikiran dan terus membujuk dan menasihati Sari.


"Kak Sari, Sita hanya berharap, kak Sari tidak menyesal di hari kemudian, penyesalan selalu datang terlambat kak, jadi tolong kakak pikirkan baik-baik", Sita masih terus membujuk Sari.


"Sita, kakak sudah tidak mau lagi nangis-nangisan, cukup lah kemarin kakak menangis, sekarang kakak mau membuka lembaran baru, mudah-mudahan besok kakak bisa ketemu dengan pria yang selevel dengan kakak, yang tidak meremehkan keluarga kakak, dan yang mau peduli dan perhatian sama kakak. Cukup Sita, jangan mengganggu kakak, kakak lagi sibuk dan tidak ingin diganggu, tinggalkan kakak sendiri, tolonglah Sita, kakak capek mengurusi ini terus", ucap Sari tegas dan dengan suara keras. Sita pun terdiam, takut Sari marah besar, Sita pun tidak berani lagi bicara mengenai Beni.

__ADS_1


Sari kembali melakukan aktifitas menenun nya, karena sudah berhari-hari tidak menenun, dan ingin ada yang mau dijual ke pekan, Sari menenun dengan kencang dan cepat, seperti meluapkan emosi nya.


__ADS_2