
Juan pulang setelah 14 hari dalam perjalanan ke luar kota.
Sebelumnya Juan belum mengetahui kalau Sari sudah balik ke Sibolga.
Tok ..tok...
Pintu di ketuk.
Sari mengintip sedikit dari balik gorden, melihat siapa yang datang hampir larut malam begini.
Ternyata Juan yang telah mengetuk pintu.
Tahu Juan yang mengetuk pintu, Sari langsung membukakan pintu.
Juan agak terkejut melihat Sari yang membuka pintu, "Kamu sudah sembuh dan sudah pulang sari?, saya pikir Vina tadinya yang membuka pintu", ucap Juan lembut kepada Sari.
"Syukurlah kamu sudah sembuh Sari", ucap Juan datar.
Sari hanya tersenyum sedikit.
Juan langsung memeluk Sari dari belakang, begitu Sari hendak membalikkan tubuhnya setelah mengambil tas berisi kain kotor Juan selama 14 hari, bermaksud kain kotor itu akan di bawa ke kamar mandi.
Pelukan Juan tidak mungkin ditepis Sari, karena bagaimana pun Sari dan Juan sudah lebih sebulan tidak melakukan hubungan suami istri.
Juan dan Sari saling melepas rindu, kecupan di bibir, menjalar hingga ke seluruh tubuh masing-masing, Juan dan Sari pun melakukan hubungan suami-istri. Dengan nafas yang menggebu-gebu dan hasrat yang sudah lama terpendam, masing-masing pun tidak ingin melewatkan momen indah ini. Juan dan Sari pun segera menyelesaikan momen romantis mereka dengan penuh kepuasan.
Dengan nafas masih terasa lelah Sari mencoba berkata kepada Juan "Kamu mandi sana, supaya kamu segera makan", ucap Sari pada Juan sambil mencoba beranjak dari tempat tidur hendak menuju dapur.
Hendak melihat stok makanan apa yang bisa di masak untuk menu makan malam Juan, karena Sari dan Vina telah menghabiskan lauk dan sayur, tidak ada yang tersisa.
"Iya sebentar, aku masih lelah, 10-15 menit aku istirahat dulu ya, nanti kamu bangunkan aku setelah 15 menit", Juan memerintahkan Sari.
Menunggu Juan lagi istirahat, Sari segera mempersiapkan menu untuk makan malam untuk Juan, agar ketika sudah selesai mandi, Juan bisa segera makan malam.
__ADS_1
15 menit pun telah berlalu, Sari segera membangun kan Juan untuk segera mandi, takut menu makan malam yang sudah dimasak Sari keburu dingin.
"Juan, bangun, ini sudah 15 menit berlalu, kamu mandilah sana, agar segera makan, aku sudah mempersiapkan makan malam mu di meja makan, nanti keburu dingin", Sari memberitahu Juan.
Juanpun segera beranjak dari tempat tidurnya, dan bergegas pergi ke kamar mandi untuk segera mandi. Perut Juan pun sudah terasa lapar ingin segera di isi.
Setelah selesai mandi, Juan langsung menuju meja makan. Walaupun Sari sudah makan, sebagai istri yang baik Sari selalu menemani Juan di meja makan.
"Bang, Aku ingin berjualan kecil-kecilan di rumah ini, menjual kebutuhan dapur saja dan jajanan anak-anak", Sari mencoba membuka topik pembicaraan.
"Kamu tidak merasa kerepotan?", tanya Juan datar.
"Tidak, kan ada Vina yang membantu, secara bergantian dengan ku", ucap Sari memberi alasan.
"Terserah kamu saja", Juan bicara seadanya saja.
Sari pun senang Juan tidak merasa keberatan. Setelah kejadian Sari kesurupan, Juan tidak berani menentang Sari, Juan hanya bisa menuruti apa yang diperintahkan Sari.
Sari ingin berjualan sembako, kebutuhan rumah tangga dan jajanan anak-anak, karena di lingkungan tempat tinggal sari lumayan banyak anak-anak, "Setiap pagi dan sore anak-anak selalu rame untuk membeli jajanan, ini adalah suatu peluang", pikir Sari di benaknya.
Sari segera mengisi rak-rak yang telah di tukangi Juan. Sari pun memulai kesibukannya dengan berjualan di rumah.
Sebelum matahari terbit pada pukul 05:30, Sari pergi ke pasar untuk membeli buah-buahan untuk di jual di warung Sari, dan sore hari Sari belanja lagi dari grosiran untuk mengisi stok barang yang habis terjual.
Warung Sari lumayan ramai, Sari mendapat keuntungan yang lumayan, lama-kelamaan stok barang-barang di warung Sari bertambah banyak dan beragam, usaha Sari sedikit demi sedikit mulai berkembang.
Sari sangat senang usaha nya berkembang dengan baik, 3 tahun Sari berjualan dengan lancar dan aman. Sari tidak pernah lagi kepikiran, masalah Juan yang memberikan uang belanja kurang, karena Sari sudah ada pegangan uang.
Dan Sari juga sehat-sehat saja, mengasuh anak dan berjualan tidak menjadi halangan buat Sari untuk maju, ada Vina yang siap sedia membantu Sari.
****
Vina menikah. Vina mengikuti suaminya tinggal di depan mertuanya.
__ADS_1
Sari menjadi kewalahan mengurus warung dan mengurus anak. Penjualan Sari sedikit berkurang, karena Sari lebih sering tutup.
Melihat warung Sari sering tutup, tetangga menganggap itu sebagai peluang, ada tetangga yang berjualan sama seperti Sari. Sari jadi ada saingan berdagang, sehingga penjualan Sari berkurang.
Ditambah adik laki-laki Juan, hendak bersekolah lagi ikut tinggal bersama Juan dan Sari, artinya Juan harus menambah pengeluarannya untuk biaya sekolah adik Juan Feliks.
Sari semakin pusing pemasukan Sari berkurang, padahal Juan juga memberi uang belanja tidak seperti biasanya, karena Juan secara sembunyi selalu memberi Feliks untuk jajan dan ongkos transportasi.
Suatu hari Juan bercerita kepada Sari.
"Sari, adik ku yang perempuan, Ita akan menikah, kamu tahu ibu dan ayah tidak punya tabungan. Ayah dan ibu mengatakan kalau biaya untuk perkawinan Ita, kita yang harus menanggung nya", ucap Juan memberitahu Sari.
"Apakah ayahmu, tidak tahu kalau kamu profesinya supir?", tanya Sari meledek.
"Maksud kamu apa?", tanya Juan agak emosi.
"Semua tanggung-jawab selalu dilimpahkan kepada mu, seolah-olah kamu itu seorang pejabat, yang gajinya selangit.
Kamu posisinya sebagai kakak buat Ita atau sebagai orang tua buat Ita, kok kamu yang harus bertanggung-jawab.
Kalau untuk membantu seadanya tidak apa-apa, jangan jadi semua tanggung-jawab dilimpahkan kepada mu", ucap Sari penuh emosi.
"Kamu jangan terlalu emosi dan menghina keluarga ku seperti itu, ya! memang aku harus bertanggung-jawab sebagai kakak", ucap Juan tegas.
Sari hanya terdiam dan tidak bisa berkata-kata lagi, apa yang Sari ucapkan selalu salah di mata Juan. Sari seperti tidak bisa membuat pembelaan dan pandangan kepada Juan.
Padahal kalau untuk keluarga dari pihak Sari, tidak pernah Juan begitu peduli dan perhatian. Malah Juan cuek tidak mau tahu.
Untuk perkawinan Vina saja, Juan tidak ada memberi. "Vina, sebentar lagi akan menikah, kita akan memberi apa buat Vina, itung-itung sebagai terimakasih kita, karena Vina sudah pernah bantu-bantu di rumah kita", ucap Sari memberitahu.
Juan hanya berkata "Aku tidak ada uang, tidak ada yang bisa kuberikan", Juan hanya menjawab dengan enteng tanpa rasa bersalah.
Perkataan Juan sangat membuat Sari sakit hati.
__ADS_1