
H-2. Keberangkatan Beni ke kota.
Beni dan Sari telah berjanji untuk ketemuan di bukit peraduan, Sari dan Beni pernah pergi ketempat ini. tempatnya berbukit-bukit, dari atas bukit terlihat pemandangan Danau Toba yang indah.
Perahu sampan warga yang sedang menangkap ikan di danau terlihat dari atas bukit dan kapal kapal yang mengangkut penumpang dan batu pun terlihat hilir mudik.
Banyak muda mudi datang ketempat ini sore hari, tempat nya luas, ada pepohonan yang besar dan rimbun sebagai pelindung dari teriknya sinar matahari, ada tempat yang tidak terlihat dari jalan, tempatnya agak menuju danau dibalik bukit, disitu lah Beni dan Sari nongkrong duduk duduk bercanda dan bercerita menumpahkan segala suka dan duka. Ditempat ini juga lah Beni mencium bibir Sari untuk yang pertama kalinya.
Tempat ini cocok untuk para muda mudi memadu kasih karena tidak terlihat dari khalayak ramai, agar tidak menjadi gunjingan para warga juga.
Setelah mengambil tempat yang nyaman Beni mengulang lagi perkataan nya agar lebih menyakinkan Sari dan mengingatkan Sari atas cita cita dan harapan mereka.
"Sari tolong jaga janji suci kita ini, tetaplah setia, bersabarlah dan jangan berpaling dari ku, aku pasti pulang menjemput mu.
Aku pasti akan berkirim surat, kamu juga harus begitu membalas setiap surat suratku yang datang, besok aku mau berangkat, kamu ikut kan mengantar aku sampai terminal? (Terminal berlokasi di Pekan, harus ditempuh dengan naik kapal), kita ketemu di pelabuhan, kemudian naik kapal bersama menuju pekan, setelah itu langsung ke terminal", Beni menjelaskan tentang rencana keberangkatan nya besok.
"Baiklah, aku akan ikut menemani mu ke terminal", Sari menyanggupi untuk ikut mengantar Beni ke terminal.
"Ingin sekali aku membawamu bersamaku Sari, aku sudah tidak sabar menikah dengan mu, apakah kamu pengen kita menikah sekarang?", tanya Beni ingin tahu jawaban Sari.
__ADS_1
"Tidak Beni, aku juga tidak ingin menikah muda, aku masih punya tanggung jawab terhadap adik adikku, aku juga ingin suamiku nanti mapan dulu tidak minta minta dan tergantung terus terhadap orang tua ", ucap Sari menjawab pertanyaan Beni.
"Iya betul Sari, walaupun orang tuaku mapan dan sanggup memberi materi untuk kehidupan rumah tangga kita, tetapi aku tidak suka seperti itu, aku ingin mengaplikasikan ilmu ku di masyarakat, aku ingin orang tua ku bangga kepada ku, aku ingin berhasil dengan usaha dan upaya ku sendiri, kamu mendukung aku kan atas prinsip ini?", tanya Beni kembali kepada Sari.
"Iya sayang aku mendukungmu kok, mudah mudahan tercapai semua apa yang dicita-citakan dan diharapkan ya ", dukung Sari menyemangati Beni.
"Tolong sedikit bersabar dan jaga janji suci kita ya, tetap lah setia, jangan kamu menduakan cinta ku, dan jangan pernah meragukan cintaku, kupastikan aku juga tidak akan melirik perempuan lain disana, akupun akan tetap setia menjaga cinta dan janji suci kita", ucap Beni sambil menggenggam erat kedua tangan Sari, dan memeluk erat tubuh Sari, air mata Sari tumpah, sedih kekasih hatinya akan lama meninggalkan nya. Beni mengusap air mata itu "Jangan sedih sayang, ini untuk masa depan kita, yang lebih baik", Beni terus menyakinkan Sari dan menyemangati Sari.
Tidak sengaja mata mereka pun beradu, mulut diam membisu, napas mereka menggebu gebu seolah ingin melepaskan bahwa mereka akan lama baru ketemu lagi. Beni pun ******* bibir Sari lebih dalam dan tidak curi curi seperti pertama kalinya, kali ini perasaan tidak ingin melepaskan Sari.
Sari pun tersadar, tidak ingin jatuh kelembah yang paling dalam, dan melenyapkan segala impian yang telah di idam idamkan. Sari mendorong tubuh Beni, agar tidak larut dalam gejolak nafsu yang membara.
"Kita sudah cukup terlalu lama disini, ayo kita pulang, atau kita mengisi perut dulu, perut ku sudah keroncongan ini, dari tadi cacing dalam perutku sudah berteriak teriak", ucap Sari menyadarkan Beni dan menghindari agar tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan, karena bisik bisik setan selalu ada ditempat tempat sunyi dan sepi.
"Oh, baiklah sekarang kita makan dulu", ucap Beni, sedikit agak kesal dan menarik nafas karena nafsunya tadi hampir membara dan menggebu gebu.
Sari dan Beni pun segera meninggalkan tempat itu, bukit peraduan sebagai saksi bisu, atas ikrar yang telah mereka ucapkan dan saksi bisu atas cium pertama dan ciumankedua yang mereka lakukan.
Mereka lalu pergi mencari penjual makanan, hanya ada di dekat dermaga pelabuhan kapal yang akan pergi ke pekan.
__ADS_1
Sari dan Beni sudah pernah ketempat ini, warung makan ini juga saksi bisu, atas ikrar pertama mereka, masing masing mengucapkan saling cinta. Tepatnya warung makan tersebut tempat mereka menyepakati resmi berpacaran.
"Aku berharap, ketika aku pulang warung makan ini masih ada, dan kita berdua bisa kembali makan disini, apakah kamu bisa berjanji Sari?", ucap Beni berharap. Beni pun memanggil pemilik warung "Bu, aku Beni dan ini pacarku Sari, kami sudah datang kesini dua kali, saya akan pergi merantau untuk waktu yang cukup lama, tolong jaga Sari ya Bu, akupun berharap ketika aku balik ke sini, kami berdua akan makan lagi disini", ucap Beni kepada pemilik warung makan.
"Baik, saya akan menjaga Sari, dan aku berdoa supaya cinta kalian bisa menyatu hingga ke jenjang pernikahan", ucap ibu warung sambil mendoakan Sari dan Beni.
"Memang kapan kau berangkat merantau", tanya ibu warung kepada Beni.
"Apakah hubungan kalian direstui kedua belah pihak", tanya ibu warung penuh selidik.
"Hubungan kami lancar dan baik baik saja Bu, keluarga kedua belah pihak sudah merestui", Beni menyakinkan ibu warung.
"Oh, baguslah kalau begitu, berarti sudah tidak ada lagunya kendala, mengapa kalian tidak menikah saja", tanya ibu warung ceplos.
"Kami masih muda Bu, lagian saya belum kerja, mau makan apa anak dan istri saya nanti", ucap Beni datar.
"Oh. iya lah, cari kerja dulu lah, baru menikah", ibu warung jadi mendukung perkataan Beni.
"Ceritanya kalian ini, pertemuan untuk terakhir kali yah", ledek ibu warung sontak Sari dan Beni hanya senyum senyum saja.
__ADS_1
"Ok lah, silahkan melanjutkan makannya, tidak usah takut, tidak apa apa kalian lama nongkrong nya, ibu maklum maklum saja lah tidak akan mengusir kalian, tetapi kalau penumpang ramai dan banyak yah, silahkan kalian pergi kalau tidak pesan makanan atau minuman lagi", ucap ibu warung terus mencandai Sari dan Beni. Sontak Sari dan Beni pun hanya bisa senyum senyum saling bertatapan mata dan menunduk malu.