
Ada sebuah mobil pribadi parkir di depan rumah Sari. Sari yang sedang menenun ulos di depan teras rumah, merasa bingung dan heran dengan sesosok pria dewasa yang sudah putih rambutnya, tetapi karena pria itu seorang yang punya jabatan, penampilannya nya tidak menunjukkan bahwa pria dewasa itu sudah tua dan berumur.
Lain halnya dengan orang orang yang tinggal di kampung lelaki umur 37 tahun pun, bisa tampak tua, atau kelihatan seperti umur 45 tahun, karena kulitnya sudah sering terpapar sinar matahari yang sangat menyengat ketika sedang ke sawah atau ke ladang.
Karena memang keseharian orang orang yang tinggal di desa adalah mengandalkan hidup dari bertani dan berladang.
Tamu yang datang berkunjung ke rumah Sari tersebut, Umurnya yang sepertinya sekitar 50 tahun, tidak tampak dari penampilannya karena, kulitnya putih bersih, dan penampilan berpakaian nya lumayan modis, karena menggunakan stelan kemeja lengan panjang dan celana panjang hitam dan memakai sepatu pantofel, lumayan rapi dan berwibawa, sepertinya datang dari kota.
Turun dan keluar dari dalam mobil hitam, disusul wanita dewasa yang juga sudah beruban, tetapi masih kelihatan modis, karena memakai setelan batik model babydoll dan memakai rok dibawah lutut, sungguh modis, bila dibandingkan dengan penampilan wanita yang tinggal di desa.
Wanita di desa cenderung tidak memperhatikan penampilannya, penampilan sehari hari hanya biasa saja, bahkan wajah hampir tidak pernah dipolesi bedak dan lipstik. Kalau pergi ke pesta atau beribadah, barulah penampilan tampak tidak seperti biasanya, itupun hanya sekedar saja.
Sayang rasanya bila ke ladang atau kesawah menghias diri, toh juga akan menjadi kotor dan dekil, setelah masuk ke dalam sawah dan bergelut dengan tanah.
Pria dewasa itu menyapa Sari" Selamat pagi nak, apakah kamu tahu rumahnya Alex", tanya pria dewasa itu.
"Selamat pagi pak, Alex?", ucap Sari, tapi masih bingung, apakah Alex yang ditanyakan pria dewasa itu Alex ayah Sari atau Alex yang lain. Sari mencoba bertanya dan memperjelas bahwa siapa Alex yang dimaksud.
"Alex yang siapa maksud bapak, soalnya ayah saja juga bernama Alex", ucap Sari bertanya ulang supaya tidak salah orang.
"Alex, yang istrinya sudah meninggal, kemarin meninggal di danau, karena kecelakaan, kapal yang ditumpangi nya terbakar dan tenggelam di danau. Alex merupakan Abang sepupu saya, ibuku berkakak beradik dengan ayahnya ayahmu", ucap pria dewasa itu memperjelas.
"Ia itu betul, saya adalah anak pertama Alex, tetapi sekarang ayah sedang tidak di rumah, silahkan om masuk dulu ke rumah sembari saya pergi memanggil ayah pulang ke rumah", ucap Sari sambil mempersilahkan tamunya untuk masuk kedalam rumah.
"Oh kamu Sari kan?", tanya pria dewasa itu dengan antusias.
"Iya benar, saya Sari pak", ucap Sari bingung.
__ADS_1
"Waktu ibu kamu meninggal, saya datang, mungkin kamu tidak kenal saya, dan memang waktu itu saya masih agak kurusan, dan kamu juga masih kecil sekali, mungkin saat itu kamu masih kelas 3 SD kan?", ucap pria dewasa itu mengingatkan Sari.
"Iya om, saat ibu meninggal saya masih kelas 3 SD", ucap Sari membenarkan ucapan pria dewasa itu.
"Sekarang kamu sudah besar ya, cantik pula, sangat cocok untuk anak saya", ucap pria dewasa itu dengan muka penuh senyuman.
Sari merasa risih dibilang sangat cocok untuk anak saya, seperti ada aroma di jodohkan, gumam Sari dalam hati. Buru buru Sari permisi meninggalkan pria dewasa itu, bermaksud untuk memanggil Alex dari warung karena ada tamu.
"Om, saya permisi dulu sebentar iya, untuk memanggil ayah dari warung", ucap Sari, sebelum Sari pergi untuk memanggil Alex terlebih dahulu Sari memanggil adiknya Sita, untuk menyuguhkan teh manis untuk tamu yang sedang berada di ruang tamu.
**
"Sita, tolong buatkan 2 cangkir teh manis, untuk tamu yang ada di ruang tamu saat ini, aku akan memanggil ayah dari warung", perintah Sari kepada Sita.
"Baik kak, siapa tamu kita itu kak, apakah kakak kenal mereka?", tanya Sita penasaran.
Sita pun manggut manggut "Mau urusan apa mereka kak?", tanya Sita ingin tahu.
"Mana saya tahu mereka mau apa, sudahlah aku mau pergi memanggil ayah, takut tamu itu menunggu lama", ucap Sari sambil berlalu meninggalkan Sita untuk selanjutnya pergi ke warung untuk memanggil Alex.
**
Dari kejauhan Sari memperhatikannya sosok Alex apakah benar sedang nongkrong di warung. Ternyata benar Alex sedang asik bermain catur sambil minum kopi dengan teman temannya. Sari pun datang menghampiri Alex " Ayah, di rumah ada tamu, katanya saudara sepupu ayah, ibunya berkakak beradik dengan kakek", ucap Sari memperkenalkan tamu yang sedang berada di rumah nya.
Alex pun mungkin sudah kenal dan tahu maksud Sari, dengan cepat Alex permisi kepada teman temannya dan izin untuk balik ke rumah.
Setelah Sari membawa Alex ke rumah, pintu di buka, pria dewasa itupun langsung berdiri menghampiri menjabat tangan Alex dan memeluknya erat.
__ADS_1
"Halo bang, sehat Abang", ucap pria dewasa itu menyapa Sambil menjabat tangan Alex dan memperkenalkan juga istrinya kepada Alex.
"Halo Benhard, Abang sehat sehat saja", ucap Alex sambil tersenyum bahagia.
"Terlihat tua kali Abang sekarang", ucap Benhard bercanda
"Bagaimana tidak kelihatan tua, sehari hari hanya berladang dan bersawah, kena sengatan sinar matahari, kamu sih enak, kerja di kantor di ruangan yang sejuk", ucap Alex merendah.
"Aduh, Abang ini ada ada saja, perkataan nya", ucap Benhard sambil tersenyum.
"Oh ya, tumben kamu datang kesini, ada urusan apa kamu", tanya Alex penasaran.
Sari pun segera meninggalkan kan Benhard dan istrinya, karena Sari merasa asing dengan tamu Alex, dan Sari merasa juga tidak ada kepentingan diantara obrolan mereka.
"Begini bang, saya bermaksud menjodohkan Sari dengan anak saya Juan, anak saya karena terlalu sibuk bekerja, akhirnya lupa mencari jodoh untuk dirinya, dan Juan pun tidak keberatan kalau saya yang mencari kan jodoh untuk nya", ucap Benhard memperjelas maksud kedatangan nya pulang kampung.
"Itu sangat baik, tetapi saya tidak bisa memaksakan kehendak saya kepada Sari, semua tergantung dari Sari sendiri", ucap Alex.
"Iya sih, tetapi bagusnya memang mereka saling kenal, mana tahu mereka jadi suka, dan tidak keberatan untuk di jodohkan", ucap Benhard.
Sari sedikit banyak masih bisa mendengar percakapan antara Alex dan Benhard, sepertinya ingin menjodohkan Sari dengan anaknya Benhard.
Sari mencoba mengingat ingat siapa sebenarnya Benhard ini. Saripun sudah tahu siapa Benhard ini dan anaknya. 'Siapa ya, nama anaknya', gumam Sari dalam hati, dan mencoba mengingat ingat, oh iya si Freddy, si Freddy aku ingat sekarang, gumam Sari dalam hati.
Freddy terpaut usia 3 tahun diatas Sari, Sari berteman baik dengan Freddy. Tetapi Freddy sudah dianggap Sari sebagai Abang, karena memang Sari tidak punya Abang.
Freddy merupakan pelindung bagi Sari ketika masa kanak kanak dulu, Sari adalah anak anak yang terbilang tomboi selalu berteman dengan laki laki, bila berkelahi dengan teman yang lain, Sari selalu mengadu kepada Freddy.
__ADS_1
'Aku tidak mau dijodohkan dengan Freddy, aku tidak punya perasaan cinta atau suka kepadanya, aku sudah menganggap Freddy sebagai sosok Abang', gumam Sari dalam hati.