Kisah Pilu Seorang Kembang Desa

Kisah Pilu Seorang Kembang Desa
#52. Beni Menolak Cinta Sonia


__ADS_3

Hari ini Beni bersemangat sekali, selain karna Beni akan belajar mengemudi mobil, Beni harus membuktikan kepada Sonia, bahwa Beni adalah orang yang pintar, daya tangkap nya cepat. Untuk itu belajar mengemudi ini harus bisa lulus dalam satu hari. Padahal Beni belum pernah mengemudi mobil.


Dirumah Beni hanya ada mobil pick up, di pergunakan untuk mengangkut hasil panen ke rumah, karena jarak sawah sangat jauh.


Beni tidak terpikir untuk belajar mengemudikan pick up tersebut, lagian Beni juga sekolah ke kota, pulang disaat Sabtu dan balik ke kota di minggu sore, sehingga Beni tidak pernah merasakan ikut panen, biasanya juga kalau keluarga Beni panen, selalu mengupahkan orang, artinya orang lain digaji untuk menyelesaikan panen tersebut.


Begitu lah kondisinya, mengapa Beni tidak tahu mengemudi mobil, karena tidak terpikir, dan itu bukan kebutuhan Beni saat itu. Beni menjelaskan, ketika Sonia menanyakan mengapa tidak tahu mengemudi mobil, padahal Sonia ingat, ketika kecil Sonia pernah diajak pulang kampung singgah di rumah Beni, ada mobil pick up parkir di depan rumah. Saat itu Beni sedang berada di sekolah jadi tidak berjumpa dengan Beni, secara om Burhan hanya singgah sebentar saja di rumah Beni tidak sampai menginap pada waktu itu.


Beni baru tahu kalau Sonia dulu pernah datang ke rumah nya, setelah mendengar penjelasan Sonia. "Ingatanmu luar biasa sekali", puji Beni kepada Sonia.


"Iya dong, aku kan pintar ", ucap Sonia bangga.


"Dipuji sedikit saja, langsung naik kuping mu", ledek Beni sambil mencibir.


"Kapan kita latihan nya, aku sudah tidak sabar ni, dari tadi asik cerita aja, sudah jam berapa ini, menyia nyiakan waktu saja", ucap Beni sedikit kesal.


"Iya deh, yang lagi bersemangat", ledek Sonia.


"Kita latihan di lapangan aja, tempatnya sepi dan luas, sehingga tidak mencelakai orang, apabila salah salah injak gas", ajak Sonia.


Akhirnya mobil pun segera di laju ke arah lapangan.


"Sebelum praktek, terlebih dahulu saya menjelaskan beberapa hal yang harus di perhatikan", ucap Sonia.


"yang pertama, pengenalan dulu mana dasboard, apa saja yang ada di dashboard, mana gas, rem, dan kopling, sebelum praktek kamu harus mengetes penggunaan gas, rem dan kopling nya, agar tidak merasa canggung apabila sudah terjun, setelah itu posisi jok harus tegak lurus, agar bebas dan tidak terhalang pada saat melakukan, pengereman, injak gas dan kopling", ucap Sonia menambahi penjelasannya.

__ADS_1


Beni sangat antusias memperhatikan setiap penjelasan dan diucapkan Sonia.


"Ok, kalau udah paham, sekarang lanjut ke tahap praktek langsung", Sonia menawarkan. Dan segera bergerak pindah dari tempat duduknya, dan mempersilahkan Beni menduduki jok supir, agar langsung praktek menyetir.


'Agaknya Beni masih takut takut, tetapi memang awalnya seperti itu, nanti juga akan terbiasa', bathin Beni dalam hati.


Beni memberanikan diri ''yang pasti harus fokus, posisi duduk nyaman, rem, gas dan kopling jangan sampai salah''. Beni menuruti apa apa yang diperintahkan Sonia. Pelan pelan Beni melajukan mobilnya, untuk membiasakan rem, gas dan kopling.


Begitu terus menerus, sampai merasa sudah hapal. Beni pun memberanikan diri untuk menyetir di jalan yang agak ramai, seperti di pemukiman komplek perumahan. Dan setelah sudah mahir, akhirnya Beni pun memberanikan diri mengemudi di jalan raya, seharian Beni sudah berlatih, berlatih saat di Medan tanjakan, turunan, dan batu batu berlubang, bahkan Beni juga sudah latihan cara memarkirkan dan cara keluar dari parkiran.


Beni pun puas dan tersenyum lebar, 'ternyata tidak sesulit yang aku bayangkan', bathin Beni dalam hati.


"Hebat kamu Ben, 1 hari belajar mengemudi langsung sudah bisa, aku salut deh sama kamu", Sonia memuji kepintaran Beni, sambil menjabat tangan Beni.


"Sekarang kamu sudah mengakui kepintaran ku kan!", ucap Beni.


"Sekarang ku tagih janji kamu, kalau aku segera bisa mengemudi kamu akan traktir aku makan kan!, ayo kita sekarang makan, tiba tiba aku menjadi sangat lapar, padahal waktu belajar mengemudi tadi rasa laparku tidak begitu terasa", tagih Beni kepada Sonia.


"Oh iya, apa kamu setuju kita makan di tempat yang kemarin?", tanya Sonia.


"Siip setuju, tempat yang kemarin menunya enak enak semua, aku juga suka", Beni mengacungkan jempol menyetujui usul Sonia.


Setelah menu datang, Beni pun langsung lahap menyantap makanan yang tersaji. Tiba tiba mulut Beni terhenti mengunyah, karena Sonia sedari tadi hanya menatap sambil tersenyum ke arah Beni.


"He. mengapa kamu memelototi ku terus, memang ada apa di wajahku", ucap Beni sambil mencoba melap dan memperhatikan tangannya, apakah ada kotoran yang lengket, sehingga itu jadi bahan tontonan Sonia.

__ADS_1


Dan setelah memperhatikan tangannya ternyata tidak ada kotoran melekat di wajahnya.


"Tidak ada kotoran di wajah kamu Ben, pengen aja memelototi wajah kamu, ternyata kamu ganteng", rayu Sonia.


Dibilang ganteng, Beni langsung memerah dan grogi, tetapi Beni berusaha menutupi rasa grogi nya.


"Memangnya kenapa kalau ganteng, memang sedari dulu aku ganteng", ucap Beni berseloroh, tetapi Beni pun penasaran ada apa, Sonia berkata seperti itu.


"Ben, apakah kamu tidak suka sama aku?, kulihat kamu begitu dingin dan cuek sama aku", ucap Sonia jujur.


"Sonia, kamu cantik, energic, dan modern, siapa pun laki laki yang melihatmu pasti tertarik, maaf aku sudah punya pacar, aku menganggap kamu sebagai adik ku, tidak lebih dari itu", ucap Beni.


"Tetapi kita kan cocok, keluarga sudah saling mengenal, sehingga tidak susah susah lagi untuk beradaptasi", ucap Sonia.


"Kamu benar, tetapi hatiku hanya untuk Sari, sebelum aku mengenalmu, aku sudah memadu janji untuk saling setia dengan Sari pacarku, aku berjanji akan menjemput nya dan menikahinya setelah merantau selama 2-3 tahun ", Beni menjelaskan sosok Sari.


"Tetapi Ben, ayah pernah menjodohkan aku dengan kamu, ayah yang suruh aku datang liburan ke Indonesia, agar aku bisa dekat dan kenal dengan kamu, bahkan ayah yang menyuruh aku, supaya pergi liburan dengan kamu kemana saja yang kita inginkan", Sonia menjelaskan maksud dan tujuan om Burhan.


Lantas Beni marah ternyata om Burhan yang menyuruh dan memaksa untuk liburan keluar kota, sehingga Beni sampai tidak kerja. Tetapi Beni tidak mengungkapkan kemarahan nya, yang penting Beni sudah tahu maksud dan tujuan om Burhan. Bulan depan, aku akan pindah dan kos kosan saja, agar tidak disetir dan diatur atur lagi oleh om Burhan, pikir Beni dalam hati dengan penuh kekesalan.


"Tidak bisakah kita mencoba-cobanya Beni?", tanya Sonia kembali.


"Tidak bisa Sonia, hati tidak bisa dipaksakan, hatiku dan rinduku sudah milik Sari, maaf kamu datang terlambat", Beni berkata dengan sopan, agar tidak membuang Sonia marah dan sedih.


"Sekali lagi kutekankan, hubungan kita hanya sebatas kakak adik, tidak lebih dari itu", ucap Beni tegas, agar tidak usah berharap lagi.

__ADS_1


.


__ADS_2