Kisah Pilu Seorang Kembang Desa

Kisah Pilu Seorang Kembang Desa
#45. Beni terima ijazah


__ADS_3

Sebelum penyerahan ijazah dimulai, dan kebetulan kepala sekolah belum datang, dihadapan semua teman teman yang berkumpul diruangan tempat mengambil ijazah, Beni menyempatkan diri untuk meminta maaf kepada teman temannya.


"Maaf kan aku ya teman teman bila selama ini ada perkataan ku yang kasar dan telah menyinggung perasaan kalian, atau tingkah laku ku yang kurang menyenangkan. Tidak usah diingat ingat lagi ya, mudah mudahan di lain waktu kita bisa bertemu lagi dan semoga apa yang kita cita-citakan dan yang kita harapkan terkabul", ucap Beni sedih karena akan berpisah dengan teman temannya.


Semua siswa serentak mengucapkan "Amin".


Ketika turun dari podium kelas, Queen datang menghampiri Beni "Aku minta maaf ya Beni, atas tingkah lakuku selama ini yang tidak baik kepada mu, kuharap kita selamanya bisa menjadi teman baik".


"Sama sama Queen, aku sudah memaafkan mu sejak lama, aku juga minta maaf kalau ada menyinggung perasaan mu ya", sambil menjabat tangan Queen dan menepuk nepuk pundaknya,


"Tetap semangat ya, jangan mudah putus asa, masih banyak pria diluar sana yang peduli dan sayang sama kamu, kamu sekarang harus membuka diri dong", ucap Beni menambahi sambil bercanda.


"Makasih banyak ya Beni, kamu telah mensupport aku", ucap Queen.


"Sama sama", jawab Beni.


Satu persatu nama siswa dipanggil dan dibagikan ijazahnya masing masing, hingga semua siswa telah mendapatkan ijazah nya masing masing.


Beni pun segera pamit kepada teman teman, Beni ingin cepat cepat balik ke kampung memberitahukan kabar gembira ini kepada Sari, dan tidak lama lagi Beni akan merantau ke kota meninggalkan Sari dengan waktu yang cukup lama. Beni pun tidak ingin menyia-nyiakan waktu dan ingin punya banyak waktu dengan Sari sebelum berangkat ke kota.


Beni lari meninggalkan ruangan sambil berteriak "Aku pamit duluan ya teman teman, da...da...".


Beni pun terus berlari menuju terminal angkutan kota, yang tidak jauh dari lokasi sekolahnya.


****


Beni sampai di kampung jam 14.00


Beni langsung mampir dan singgah di rumah Sari. Tidak perlu mengetuk pintu rumah, dan tidak perlu menanyakan ada Sari atau tidak di rumah, karena memang Sari menenun ulos di teras rumah, yang langsung kelihatan, karena rumah Sari tidak memiliki pagar rumah.


Beni memberikan surprise dan ingin mengejutkan Sari, Beni datang dari samping dengan pelan pelan tanpa diketahui Sari. Beni pun menutup mata Sari dengan kedua tangan nya.


Sari bingung dan teriak "Siapa sih, usil banget deh".

__ADS_1


Sita keluar dari dalam rumah dan tersenyum melihat tingkah Sari dan Beni "Tebak siapa", ucap Sita.


"Siapa sih, Siti, Vina, Ita", Sari menyebut semua nama adik adiknya sambil berusaha keras melepas genggaman tangan yang menutup matanya.


"Salah, tebak dong siapa", teriak Sita.


"Tidak tahu siapa, nyerah deh", ucap Sari.


"Masak sih tidak tahu siapa, percuma dong...", ledek Sita tidak meneruskan perkataannya.


"Iya beneran, kakak tidak tahu", ucap Sari. Kemudian Beni tertawa, Sari tidak asing dan tahu tawa itu, Sari pun berusaha keras melepaskan genggaman tangan Beni sambil berkata "Ben..ni". sambil merangkul leher Sari Beni senyum senyum dan tertawa kecil.


"Bikin kaget aja deh", ucap Sari manja.


"Iya dong, namanya juga surprise", Beni tidak mau kalah.


Sari pun langsung menyudahi tenunan nya, dan langsung menyuruh Beni untuk duduk di teras rumah "Duduk dulu dong, sebentar aku ambil minum dulu ya" Sari meninggalkan Beni dan masuk ke rumah untuk mengambil secangkir teh untuk Beni.


"Bagaimana berita gembira nya, pasti lulus dong", ucap Sari sambil menawarkan secangkir teh dihadapan Beni.


"eitss, Selamat ya, ini langkah awal untuk lanjut ke langkah berikutnya", ucap Sari menyemangati Beni.


"Terima kasih sayang, begitu dong selalu memberikan motivasi dan semangat, supaya sayang kamu ini lebih bersemangat lagi", ucap Beni berapi api sambil tersenyum.


"Terus kapan kamu berangkat", tanya Sari sedih, karena sebentar lagi Beni akan pergi merantau mencari pekerjaan untuk waktu yang cukup lama.


"2-3 hari lagi mungkin aku akan berangkat", ucap Beni.


"Jangan sedih begitu dong sayang, semangat dong, itu tidak akan terasa lama, kalau kita saling berkirim kabar melalui surat", Beni menyemangati Sari.


Sari hanya manggut manggut tertunduk, dan segera menatap langit, untuk menahan air matanya agar tidak menetes di pipinya.


Agar Sari tidak kepikiran terus atas keberangkatan Beni ke kota, lantas Beni berusaha mengalihkan pembicaraan "Aduh, aku lapar sekali, tolong masakin aku sesuatu dong sayang", canda Beni sambil memegang perutnya.

__ADS_1


"Kamu belum makan siang?, padahal ini sudah jam 14, baiklah ayo ke dapur aku akan memasak mie goreng buat mu", ajak Sari memegang dan menarik tangan Beni menuju dapur.


Beni pun duduk di meja makan, sambil Sari memotong dan mengiris bawang merah, bawang putih dan cabai serta memotong tipis sayur sawi. Beni pun ikut membantu mengupas bumbu.


"Tidak usah sayang, nanti tangan kamu bau bawang, biar saja aku yang mengerjakan nya", Sari mengambil bawang yang dipegang Beni, bermaksud agar Beni tidak usah ikut mengupas bumbu.


"Tidak apa apa sayang, di rumah juga aku sering membantu ibuku memasak, aku yah bagian mengupas bumbu", ucap Beni mengambil kembali bumbu yang diambil Sari dari tangan nya.


"Nanti juga, kalau kita berumah tangga, aku akan membantu kamu untuk beres beres rumah dan sesekali kalau aku tidak sibuk, aku pun akan membantu kamu di dapur, bahkan memasak untuk kamu pun aku mau", ucap Beni.


"Kamu tidak malu nanti dibilang suami takut istri?", tanya Sari.


"Aku tidak malu, lagian aku melakukan itu, supaya aku bisa dekat dekat dengan istriku dan aku ingin selalu mesra dengan istriku nantinya" ucap Beni, perkataan Beni seperti itu membuat Sari makin cinta dengan Beni.


Sari senang dengan momen ini, momen kebersamaan memasak.


Benar kata orang kebahagiaan itu tidak melulu harus makan di restoran, harus jalan jalan lihat pemandangan indah. Hal kecil pun bisa mendatangkan kebahagiaan, seperti sekarang ini Beni membantu Sari memasak, sungguh sangat menyenangkan pikir Sari dalam hati.


Setelah bumbu selesai di kupas dan di iris, waktunya untuk memasaknya. Beni pun turun tangan untuk mencampur segala bumbu dalam kuali. "Selesai, kita makan bareng yuk", ajak Beni sambil meletakkan piring berisi mie goreng di meja makan.


"Kamu aja yang makan aku ngeliat aja, aku masih kenyang", tolak Sari.


"Ayo temani aku makan", Beni memaksa Sari.


"a...a..aaaa", ucap Beni menyuapi sesendok mie ke mulut Sari.


"Kamu dulu yang makan, aku sudah kenyang", tolak Sari, Beni memaksa untuk menyuapi Sari, sehingga Sari tidak bisa menolak, tetapi Beni nakal, mencolek hidung Sari dengan kecap manis yang menempel di piring, sehingga hidung Sari pun hitam, Sari buru buru melap kecap yang menempel di hidungnya.


Supaya Beni ikut makan, Sari pun lantas bergantian menyuapi Beni "a...aa....aaa", tidak mau kalah dengan kenakalan Beni.


Ketika Beni hendak melahap sendok berisi mie, Sari langsung menjauhkannya dari mulut Beni, sehingga Beni sedikit kesal, akhirnya Beni mencubit kecil pinggang Sari, barulah Sari serius menyuapi Beni.


Terdengar tawa manja Sari yang membuat risih adik adiknya, lantas semua adik adik Sari masuk ke kamar.

__ADS_1


Dunia terasa milik Sari dan Beni saat ini, maklum sebentar lagi mereka akan berpisah.


__ADS_2