
Ternyata betul, Alex dan Tiur baru kembali ke rumah setelah larut malam. Sari dan adik adiknya sudah lelap tidur.
Sari tersentak ada suara pintu terbuka, dan kemudian Sari memfokuskan pendengaran nya siapakah yang telah membuka pintu rumah nya.
Dengan fokus Sari mendengarkan suara suara yang berasal dari ruang tamu, dan kemudian seperti suara pintu terbuka, ada suara khas dari pintu itu, agak lengket dilantai dan berisik, Sari tahu dan yakin bahwa suara pintu itu adalah suara pintu kamar Alex, tidak beberapa lama terdengar suara rengekan Reni.
Dari suara suara itulah, Sari yakin bahwa Alex dan Tiur sudah sampai di rumah. Tidak mungkin Sari menanyakan perihal kerbau itu malam ini, bisa bisa nanti Alex marah. Sari berusaha memendam lagi rasa penasaran nya dan harus menunggu besok untuk menanyakan kembali kepada Alex.
***
Setelah sampai di rumah sepulang sekolah, Sari masih harus menunggu sampai sore, karena kebiasaan Alex untuk keluar ke warung kopi, sedari tadi Alex tidur setelah makan siang, Sari tidak berani untuk membangun kan ayahnya.
Sari sudah siap siap menunggu di ruang tamu, ketika Alex membuka pintu kamarnya.
"Ayah, ada yang ingin Sari tanyakan", ucap Sari pelan.
"Iya, ada apa", ucap Alex, pura pura sibuk bersisir di depan cermin, yang ada di ruang tamu dekat pintu keluar.
"Untuk keperluan apa, ayah menjual kerbau itu, mengapa ayah tidak memberitahu Sari", tanya Sari pelan, untuk mengetahui rasa penasarannya.
"Untuk keperluan berobat ibumu", tanya Alex singkat.
"Apa!, mengapa untuk Ita ayah sulit sekali menjualnya, giliran untuk ibu ayah cepat sekali", ucap Sari, sambil menahan amarahnya.
"Maksud mu ini tidak penting?", ucap Alex, agak meninggi.
Sari tahu, kalau Alex mau marah, Sari berusaha tenang dan menanggapi alasan Alex menjual kerbau adalah untuk pengobatan Tiur, Sari kemudian bicara dengan lembut, "Memangnya Tiur sakit apa ayah?", tanya Sari dengan lembut dan ingin tahu, menurut Sari, Tiur selama ini baik baik saja, tidak pernah berkeluh kesah, mengapa Alex mengatakan Tiur sakit, pikir Sari dalam hati.
"Bukan sakit secara fisiknya, Tiur berobat agar bisa mendapatkan keturunan anak laki-laki", ucap Alex dengan tegas.
"Apa!, Sepenting itu kah ayah, berdoa saja kepada Tuhan, mudah mudahan dikabulkan", ucap Sari.
"Maksud kamu ini tidak penting Sari?", tanya Alex dengan suara meninggi.
" Bukan begitu maksud Sari ayah, maksud Sari, apakah betul pengobatan itu manjur, bagaimana nanti seandainya tidak berhasil", ucap Sari
"Bagaimana kau tahu kalau tidak berhasil, kau senang ya tidak berhasil?, seharusnya kau mendukung", ucap Alex dengan penuh amarah kepada Sari.
__ADS_1
"Bukan seperti itu ayah, bukan nya Sari tidak mendukung, kemarin Sari menyarankan untuk menjual kerbau untuk pengobatan Ita secara medis ayah tidak setuju, harusnya ayah lebih mengutamakan Ita terlebih dahulu, nanti kalau anak kerbau nya sudah besar ayah bisa menjualnya untuk kebutuhan pengobatan ibu, begitu maksud Sari ayah", ucap Sari sedih kepada ayahnya.
"Sudahlah, setiap hari itu itu saja yang dibahas, sakit kepalaku", ucap Alex meninggalkan Sari yang sedang menangis sedih.
Tidak banyak yang bisa diperbuat Sari, segala cara dan pemikiran sudah Sari berikan kepada Alex. Sari bingung mengapa Alex sulit sekali untuk mengerti.
Kondisi Ita saat ini, sudah 3 bulan masih belum bisa berjalan, masih hanya duduk itupun harus dibantu, atau mengggapai benda benda untuk dijadikan pegangan.
Tok...tok..tok..
Pintu diketuk dari luar
Sari memusatkan kan pendengaran nya, seperti ada suara ketukan pintu, pikir Sari dalam hati.
Tok...tok ..tok .
kembali pintu diketuk.
Sari...Sari..Sari...
Ternyata benar, ada suara pintu diketuk. Sari segera berlari menghampiri pintu untuk segera membukakan pintu.
"Hai bibi, mengapa kok tiba tiba datang", tanya Sari kepada bibinya.
"Hai Sari, memangnya mengapa kalau bibi datang?, kamu tidak suka ya bibi datang?", ucap bibi Ati bercanda.
"Bukan begitu bibi, Sari senang sekali bibi datang, ayo masuk bibi", ucap Sari mengajak bibi Ati masuk, sambil Sari membawakan tas bibi Ati masuk kedalam rumah.
"Sebentar Sari, apa yang sedang terjadi?, sepertinya firasat bibi tidak enak, hati bibi ingin selalu datang kesini, tetapi karena keadaan pamanmu kurang enak badan, sehingga bibi mengurungkan niat datang kemari, tunggu sampai pamanmu pulih, makanya sekarang bibi datang", ucap bibi kepada Sari.
"Tidak ada apa apa bi, semua sehat sehat saja", ucap Sari meyakinkan bibi Ati.
"Benar kah, baik lah kalau begitu, ternyata firasat bibi salah", ucap bibi.
"Ayahmu sehat Sari, adik adik mu juga semua sehat kah?", ucap bibi Ati mencoba menyelidiki.
"Sehat bibi, adik yang paling bungsu si Ita, kemarin jatuh dari punggung kerbau, sudah tiga bulan, belum pulih, belum bisa berjalan", ucap Sari sedih.
__ADS_1
"Tadi kutanya kamu katanya sehat, ini lah mungkin firasat bibi. bagaimana bisa sampai jatuh dari punggung kerbau?" tanya bibi Ati ingin tahu.
"Ketika mau menjemput kerbau dari lapangan, Sita dan Siti menaikkan Ita ke atas punggung kerbau, maksudnya supaya Ita tidak kelelahan berjalan jauh, entah mengapa kerbau itu tiba tiba berlari kencang, sehingga Ita terjatuh dari atas punggung nya", ucap Sari menjelaskan.
"Bagaimana pengobatan nya, apa tidak diobati?", tanya bibi Ati penuh selidik.
"Diobati bi, tetapi pengobatan secara kusuk, sebenarnya Sari menyarankan ayah untuk berobat secara medis, biaya nya dengan menjual kerbau, tetapi ayah tidak setuju, malah menjual kerbau untuk pengobatan ibu tiur", ucap Sari.
"Memangnya Tiur sakit apa?", tanya bibi Ati bingung.
"Bukan sakit secara badan bibi, ibu Tiur berobat untuk mendapatkan keturunan anak laki laki", ucap Sari.
"Mengapa ayahmu tidak mendahulukan pengobatan Ita terlebih dahulu?", ucap bibi
"Sebenarnya Sari sudah menyarankan seperti itu bibi, tetapi ayah tidak mau menerima saran sari", ucap Sari.
"Nanti bibi coba berbicara kepada ayahmu", ucap bibi.
Setelah semua bangun pagi dan melakukan aktifitas seperti biasa, begitu juga Sari, Sita, Siti, dan Vina seperti biasa bersiap siap untuk berangkat ke sekolah. Hanya Ita yang tinggal bersama Alex, Tiur dan Reni. Makanan dan minuman untuk sarapan dan makan siang Ita disajikan di dekat Ita, agar Ita tidak kewalahan untuk menggapainya.
Alex dan Tiur keluar dari kamarnya, mereka terkejut melihat bibi Ati ada di ruang tamu.
"Hai kakak, kapan datang", tanya Alex kepada bibi Ati.
"Hai juga, aku datang tadi pagi, sebelum kalian bangun, Sari yang membukakan pintu", balas bibi Ati.
Alex diam saja, bingung tidak tahu harus bertanya apalagi. Bibi Ati tahu gelagat Alex, kembali bibi Ati menanyai Alex.
"Oh ya, mengapa kamu tidak melakukan pengobatan secara medis terhadap Ita, tega kamu ya, padahal anakmu perempuan, kamu tega ya, melihat dia cacat seumur hidup", tanya bibi Ati kepada Alex ingin tahu alasan dari Alex.
"Apakah kakak datang kemari untuk memarahi aku?", ucap Alex ketus.
"Semua orang pasti menyalahkan aku, semua orang pasti tidak mengerti dan perhatian terhadap apa yang menjadi beban pikiran ku", bela Alex.
"Bukan seperti itu Alex, setidaknya kau dahulukan dulu mana yang terlebih dahulu di utamakan", jelas bibi Ati.
"Sudahlah kak, nanti kita malah berantam hebat", ucap Alex meninggalkan bibi Ati.
__ADS_1
Bibi Ati tidak tahu lagi harus bicara apa kepada Alex. Bibi Ati kasihan melihat kondisi Ita.