
Sari tidak mau menerima surat yang dititipkan Beni kepada Hendra, Hendra bingung apa yang sebenarnya telah terjadi.
'Sari tahu mengenai Queen, darimana Sari tahu mengenai Queen, apa isi surat Beni kepada Sari yang telah diterima Sari 1 Minggu yang lalu', pertanyaan pertanyaan itu, hilir mudik di kepala Hendra, "Uhhhh pusing", teriak Hendra sambil mengacak acak rambutnya.
'Pasti sudah terjadi kesalahpahaman disini, aku harus segera memberitahukannya kepada Beni', pikir Hendra dalam hati.
Hendra lantas segera pergi ke telepon umum yang pada saat itu disebut Wartel (Warung Telekomunikasi).
Hendra menghubungi telepon rumah ibu kos.
Hendra memencet setiap nomor yang tertera, mencoba memastikan nya, agar tidak salah pencet nomor, setelah selesai nomor dimasukkan lantas mengokekannya,
Tut...Tut....Tut... ternyata telepon tidak diangkat, kemudian Hendra terus mencoba Tut....Tut...Tut...
"Halo", ucap seorang wanita di seberang telepon
"Halo, Bu saya Hendra penghuni kamar no 3, saya 1 kamar sama Beni, tolong panggil kan Beni Bu, saya mau bicara penting ", ucap Hendra membalas sahutan di balik telpon.
"Oh, sebentar ya, ibu panggil kan", ucap ibu kos, sambil meletakkan gagang telpon di meja, lalu berlari kebelakang rumah mencari Beni. Karena kos kosan tersebut posisinya berada dibelakang rumah induk.
Kebetulan Beni sedang mencuci pakaian, dan Kran air khusus tempat mencuci pakaian berada ditengah kos kosan dengan posisi terbuka tanpa pintu, ibu kos langsung melihat sosok Beni sedang mencuci. Karena yang dicari langsung ketemu, kemudian ibu kos langsung berteriak, "Beni, cepat sini, ada telpon untuk mu", teriak ibu kos.
Beni bingung siapa yang menelpon pikirnya dalam hati.
"Dari siapa Bu", ucap Beni bingung.
"Dari temanmu Hendra", ucap ibu kos.
Makin bingung Beni, 'dari Hendra, ada apa ya', pikir nya dalam hati.
"Iya, iya Bu", ucap Beni Sambil berlari menuju rumah induk, dan segera menghampiri telepon, dan segera mengangkat gagang telpon dan membalas suara yang ada diseberang.
"Halo", ucap Beni membuka percakapan.
"Ben, aku Hendra, gawat Ben", ucap Hendra setelah tahu yang diujung telpon adalah Hendra.
__ADS_1
"Apanya yang gawat", ucap Beni makin bingung.
"Sari, Sari Ben", ucap Hendra.
Spontan Beni langsung panik, Beni mengira Sari kecelakaan atau telah terjadi sesuatu yang fatal pada Sari.
"Ada apa dengan Sari ", ucap Beni dengan suara yang keras.
"Sari, tidak mau menerima surat mu yang kamu titip kemarin kepadaku, 'kata Sari, untuk apalagi menerima surat Beni, toh Beni lebih memilih Queen', aku bingung darimana Sari tahu mengenai Queen?", ucap Hendra bercerita mengenai apa yang telah terjadi.
"Mengapa bisa begitu iya, Apa mungkin Queen yang memberi tahukannya kepada Sari?", ucap Beni mencoba menebak.
"Queen memberitahu Sari!, darimana Queen tahu alamat Sari?", ucap Hendra tidak percaya.
"Iya, pasti Queen yang memberitahu, Kemarin Queen datang ke rumah, dan aku menitipkan surat agar diantar Queen ke kantor pos, karena rumah Queen berdekatan dengan kantor pos", ucap Beni.
"Apa mungkin Queen mengganti isi surat mu?, Sari bercerita telah menerima surat yang berasal dari kamu", ucap Hendra.
"Apa, mengganti isi surat ku, aku tidak terima kalau itu yang diperbuat Queen, aku akan memberi pelajaran kepada Queen", ucap Beni marah.
"Sekarang bagaimana menjelaskan nya kepada Sari, kau baliklah ke kampung dan jelaskan semua apa yang telah terjadi, agar Sari tidak salah paham", ucap Hendra memberi solusi kepada Beni.
Langsung tancap gas pergi ke loket untuk naik angkutan menuju kampung, lumayan lama bila ditempuh jalur darat. Karena kapal tidak ada lagi menuju kampung Beni, maka harus ditempuh jalur darat.
****
Pukul 23.00
Sudah larut malam Beni sampai di kampung, Beni langsung ke rumah Sari. Beni tidak sabar untuk menunggu sampai besok, rasa penasaran itu selalu bergejolak di dalam hatinya. Kalaupun surat itu telah diganti Queen, Beni bisa merasakan betapa hancur dan terlukanya hati Sari.
tok...tokkk.tok....
Pintu diketuk, tidak ada sahutan dari dalam.
Kembali Beni mencoba mengetuk pintu.
__ADS_1
Tok..tok...tokkk.
"Ya", jawab seseorang dari dalam rumah.
Mendengar ada yang mengetuk pintu, Sita langsung membukakan pintu.
Krek....pintu dibuka.
Terkejut Sita melihat sosok Beni di depan rumah dan sudah larut malam.
"Kak Beni, ngapain kakak malam malam begini?", ucap Sita terkejut melihat sosok Beni larut malam begini di depan pintu. Sita tahu bahwa Beni telah berkirim surat mengatakan bahwa lebih memilih Queen.
"Ada Sari?, Sita!. Tolong panggil kan Sari sekarang", ucap Beni minta tolong.
"Baiklah, sebentar sita panggil ya kak", ucap sita.
Sita pun masuk kedalam segera memanggil Sari, awalnya Sari tidak mau bertemu dengan Beni, tetapi karena sita memaksa dan menjelaskan baiknya terlebih dahulu mendengar dari mulut Beni tersebut, mungkin saja telah terjadi kesalahpahaman, barulah Sari mau keluar.
"Ada apa lagi, untuk apa kamu datang menemui ku", ucap Sari marah.
" Sari, dengarkan dulu penjelasan ku, aku pikir, Queen telah memberikan surat yang dia tulis sendiri, boleh kah aku melihat surat itu?", ucap Beni, dan berharap Sari mau mendengarkan penjelasan Beni.
"Untuk apa, kamu mau bilang, kalau itu bukan tulisan tangan kamu, lalu tulisan tangan siapa, pastilah kamu menyuruh Queen kan untuk menulisnya!", ucap Sari masih kesal terhadap Beni.
"Tolong dengar kan penjelasan ku dulu Sari, tunjukkan dulu surat itu kepadaku, kumohon, aku tidak ingin kita berantam seperti ini, aku masih memegang teguh janji kita Sari, tolong percayalah kepada ku", ucap Beni me kepada Sari.
Akhirnya Sari pun luluh, dan segera mengambil surat yang diterima 1 minggu yang lalu.
Sari menyerahkan surat itu kepada Beni, Beni pun segera mengambil dan membaca isi surat tersebut.
Benar isinya kalau Beni memilih Queen, Beni kembali menanyakan Sari, apakah kamu tidak mengenali bentuk tulisanku Sari?, Jelas jelas ini bukan tulisanku, coba kamu membandingkan surat suratku yang terdahulu, coba bandingkan saja bentuk tulisannya", ucap Beni mencoba mencari perbedaan surat itu.
"Sari, benar, aku telah menulis surat, dan menyuruh Queen untuk mengirimkan nya ke kantor pos, karena Queen kebetulan datang kerumah ku untuk belajar, memang Queen sering datang ke rumah, tetapi aku menganggapnya hanya sebagai teman biasa, hanya itu saja, tetapi Queen agaknya menghalalkan segala cara untuk mendapatkan aku", jelas Beni kepada Sari.
Sari sedikit melunak, dan mau menerima penjelasan Beni.
__ADS_1
"Maafkan aku Sari, akibat surat ini, mungkin kamu jadi terluka, dan berpikir aku telah mengkhianati cinta suci kita, aku masih cinta sama kamu Sari, aku masih memegang teguh janji suci kita, harapan dan cita-cita kita untuk masa depan yang lebih baik", ucap Beni serius dan menyakinkan Sari, sambil memegang erat tangan Sari dan memeluk erat Sari.
"Percayalah padaku Sari, harusnya kamu memperjelas dan menanyakan ulang kebenaran surat itu, agar tidak terjadi kesalahpahaman, kuharap apabila ada hal serupa seperti ini, tanyakan kepadaku atas kebenaran nya ya", ucap Beni menasihati Sari.