Kisah Pilu Seorang Kembang Desa

Kisah Pilu Seorang Kembang Desa
#14. Sari senang bisa membahagiakan adik adiknya


__ADS_3

Minggu pertama Sari pergi ke pekan untuk menjual hasil tenunan Sari, mantaf berkegiatan untuk menenun, biasanya Sari menenun setengah hari, itu dilakukan setelah pulang sekolah.


Sekarang setelah selesai memasak untuk sarapan dan makan siang, Sari lanjut untuk menenun ulos, sebelum nya mengisi perut dulu tentunya, agar kuat menenun sampai Sore hari. Sari mampu membawa ulos sebanyak 6 lembar untuk dijual ke pekan. Hasil penjualan ulos digunakan Sari untuk membeli kebutuhan lauk dan sayur di rumah selama 1 Minggu, tak lupa Sari membeli martabak dan jajanan untuk adik adiknya, sudah lama Sari tidak makan martabak, karena Tiur pelit untuk membeli martabak ketika pergi ke pekan. Melihat ada aksesoris ikat rambut dan kaos kaos untuk anak perempuan, Sari tertarik untuk membelinya, tidak salah aku sekali kali memanjakan adik adikku gumam Sari dalam hati.


Dengan perasaan senang dan hati yang sangat bangga, bisa menyenangkan adik adiknya, tidak sabar rasanya Sari ingin cepat cepat sampai, tidak sabar ingin melihat raut wajah adik adiknya bila melihat makanan ringan dan aksesoris yang dibeli kan Sari untuk adik adiknya.


Ternyata benar ketika adik adiknya melihat Sari masih di halaman rumah, seluruh adik adiknya berlari mengejar mendapatkan Sari dan mengangkat seluruh barang belanjaan Sari dan dengan antusias membongkar keranjang belanjaan Sari.


Begitu bersemangat nya dan bahagia nya Sita, Siti, Vina dan Ita membongkar dan mengeluarkan isi keranjang belanjaan.


Segera mereka lahap martabak ketika ada martabak, tidak lupa dengan aksesoris rambut dan kaos kaos yang dibelikan Sari, semua kebagian tidak lupa juga Sari memberikan sebungkus martabak untuk Alex dan Tiur, Sari tidak membalaskan apa yang telah di perbuat Tiur kepada Sari dan adik adiknya bila Tiur pulang dari pekan, Tiur selalu menyimpan dan memakan di dalam kamarnya apabila ada yang dibawanya dari pekan tidak pernah dibagi kepada Sari dan adik adiknya.


Tiur tidak merasa malu menerima nya malah tidak berterima kasih. Sari tidak terlalu menanggapi nya, bahkan hasil tangkapan ikan ayahpun tidak pernah Tiur berikan untuk dimasak dan dimakan bersama, selalu Tiur jual ke tetangga dan hasil penjualannya pun Tiur tidak pernah mau membeli keperluan dapur. Tidak masalah bagi Sari, Sari tidak pernah komplein perbuatan ibu tirinya.


Melihat tingkah laku adik adiknya hari ini, Sari semakin bersemangat untuk menenun, agar bisa sedikit demi sedikit membeli sesuatu yang berharga untuk adik adiknya. Karena kebahagiaan Sari saat ini adalah bila melihat adik adiknya bahagia, Sari sudah bahagia.


Tiur jarang sekali melakukan pekerjaan rumah, bawaan Tiur selalu tidur, bahkan Reni selalu di jaga oleh Ita, sekedar bermain boneka bonekaan dan masak masak an.

__ADS_1


Seharusnya kalau hamil pun harus banyak bergerak atau sekedar berjalan jalan, kata orang agar anaknya tidak susah keluar, tetapi Tiur tidak pernah mendengarkan nya, para tetangga pun selalu mengingatkan nya bila datang ke rumah dan melihat Tiur lagi tidur padahal waktu menunjukkan pukul 10 pagi.


"Hei Tiur, jangan banyak tidur kau, pergilah jalan pagi, supaya gampang kau nanti melahirkan kan", tegur Bu Tio, tetangga depan ketika datang ke rumah hendak meminjam cangkul kecil.


Tiur ketus menjawab sambil marah marah "Sudahlah, urus saja urusanmu sendiri, tidak usah mengurus orang lain".


Bu Tio pun geram mendengarnya "Mudah mudahan lah kau sehat sehat dan tidak susah nanti melahirkan ya Tiur", ucap Bu Tio sambil meninggalkan rumah.


****


Sudah sembilan bulan 10 hari Tiur mengandung anak keduanya. Jadwal melahirkan Tiur sudah lewat dari prediksi bidan. Tiur pun was was, memang belum ada tanda tanda melahirkan gumam Tiur dalam hati.


"Banyak kau bergerak Tiur, rajin jalan pagi atau jalan sore, supaya gampang bayi mu keluar", tegur tetangga yang lain.


Tiur hanya diam saja sambil menunjukkan raut wajah masam, tetapi karena prediksi melahirkan sudah lewat, akhirnya Tiur rajin berjalan pagi dan sore, bahkan Tiur mau sekedar menyapu rumah dan halaman, agar bisa bergerak dan melakukan aktifitas, agar tidak mengantuk, sehingga banyak tidur.


***

__ADS_1


Tiur sedari pagi hanya mengurung diri di kamar, hingga tiba waktu makan siang Tiur pun belum keluar kamar, sebenarnya setelah menjual hasil tangkapan ikan ayah kepada tetangga sekitar Tiur masih sempat melakukannya tetapi setelah itu Tiur tidak ada keluar kamar.


Sari menyuruh Siti pergi melihat Tiur ke kamar.


tok..tok...tok.. pintu kamar di ketuk berulang ulang, tidak ada sahutan dari kamar. Di ketuk lagi tok...tok...tok...Bu...ibu...sahut Siti.


Karena sudah lama mengetuk pintu, akhirnya Siti berani untuk mendorong pintu. Ternyata Tiur pingsan, Tiur tidak bergerak, Siti berteriak "Bu, ibu, bangun... Bangun Bu". Mendengar teriakkan Siti, akhirnya Sari juga segera menyingkirkan pekerjaan menenun nya dan segera berlari menghampiri Siti di kamar Tiur, dan ternyata Tiur memang benar pingsan. Sari menyuruh adiknya Sita untuk pergi ke rumah Bu bidan, dan menyuruh Bu bidan segera datang ke rumah dan mengatakan kalau Tiur pingsan. Segera Sita lari sekencang kencangnya menuju rumah Bu bidan dan setelah 30 menit kemudian Bu bidan dan sita akhirnya tiba di rumah. Sebelumnya Sari berusaha mengipas Tiur, dan memberi minyak kayu putih untuk di hirup Tiur, dan berusaha mengusuk kaki dan tangan Tiur, agar peredaran darah lancar, sebelum Bu bidan sampai di rumah, Tiur sudah sadarkan diri.


Tiur langsung teriak kesakitan, Tiur merasa nyeri perutnya, dan Bu bidan segera memeriksa kondisi Tiur, Tiur sudah buka 5, "Tiur kalau bisa, harusnya kamu berjalan jalan, agar bisa cepat melahirkan", ucap Bu bidan kepada Tiur, tetapi karena Tiur baru pingsan, Tiur lemas untuk melakukan rutinitas jalan jalan.


Tiur terus menjerit jerit karena kesakitan, " aduh, sakit sekali, tolong sakit sekali", teriak Tiur kencang. Bu bidan menasihati Tiur agar tidak banyak berteriak karena itu akan menghabiskan tenaganya, padahal saat waktunya tiba melahirkan Tiur butuh tenaga ekstra, takut Tiur tidak ada tenaga nanti bila tiba waktunya melahirkan.


Anak pertama juga Tiur susah melahirkan, Bu bidan menasihati Tiur untuk minta maaf kepada Sari dan adik adiknya karena jahat selama ini. Kali ini juga melahirkan anak kedua Tiur juga susah untuk melahirkan, bu bidan juga menasihati Tiur, "Jangan jangan kamu juga harus minta maaf kepada Sari dan adik adiknya agar minta maaf sewaktu melahirkan anak pertama dulu", tetapi Tiur tidak peduli perkataan Bu bidan, Tiur tetap berkeras tidak mau minta maaf. Tiba tiba Tiur berteriak. "Aduh sakit, sakit sekali, tolong", teriak Tiur kencang.


"Sudahlah Tiur, minta maaf saja kepada Sari dan adik adiknya, untuk kebaikan mu juga akhirnya, nanti kamu kehabisan tenaga karena terus berteriak teriak", pinta Bu bidan menasihati Tiur.


Karena tidak tahan lagi menahan sakitnya, akhirnya Tiur mengalah dan mau minta maaf "Sari, Sita, Siti, Vina dan Ita maafkan ibu ya, sudah jahat sama kalian", ucap Tiur memohon maaf kepada Sari dan adik adiknya.

__ADS_1


Karena kasihan melihat ibu tirinya berteriak terus dan Reni juga ikut menangis melihat ibunya teriak teriak kesakitan dengan serentak Sari dan adik adiknya memaafkan Tiur " iya Bu, kami memaafkan ibu".


Tidak lama setelah Tiur minta maaf kemudian Tiur teriak "Bu bidan, aku mau BAB". Bu bidan pun sigap memperhatikan bagian bawah Tiur, dan memang bagian kepala baby sudah kelihatan. Tiur pun melahirkan anak laki laki. Semua senang termasuk Alex dan Tiur


__ADS_2