Kisah Pilu Seorang Kembang Desa

Kisah Pilu Seorang Kembang Desa
#23. Keteguhan Beni untuk mendapatkan Sari.


__ADS_3

Beni masih begitu penasaran dengan Sari yang begitu cuek, padahal teman Sari, Ratna, Rani dan Cantika, begitu bangga dan senang bisa berkenalan dengan Beni, karena Beni mempunyai wajah yang ganteng, kulit putih, dan berpendidikan, selain dari pada itu Beni juga anak orang kaya.


Sial bagi Beni tidak bisa berjabat tangan dengan Sari, karena pertemuan pertama kemarin ketika pulang dari acara latihan paduan suara, Sari tidak mau mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, hanya menyebut saja, kalau namanya Sari.


'Tidak apa apa, yang penting aku bisa dekat berjalan berdampingan dengan Sari', bathin Beni senang.


Sayang bagi Beni, kalau Beni harus pergi ke kota lain, untuk bersekolah, karena sekolah setingkat SMA tidak ada di kampung mereka, harus pergi ke kota. Bisa dilalui dengan jalur darat maupun dengan naik kapal.


Waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB, waktunya bagi Beni untuk berangkat ke kota, harus tepat waktu, kapal sudah berlabuh di dermaga, lewat sedikit saja pasti di tinggal, karena biasanya menjelang malam, ombak akan terasa kencang, dan lampu penerangan tidak ada di kapal maupun di danau, kalau hari sudah gelap.


Anak sekolah yang ingin bersekolah ke kota, sudah ramai, masing masing membawa perlengkapannya, baik pakaian yang bersih, kebutuhan untuk makan, biasanya rata rata membawa beras, untuk keperluan makan di kota. Rata rata anak desa yang datang ke kota, mereka akan masak sendiri untuk menghemat biaya.


Tidak sabar rasanya bagi Beni untuk menunggu malam minggu tiba, tentunya untuk ketemu Sari, untuk keperluan latihan paduan suara muda mudi itu hanya modus alasan bagi kedua orang tua Beni, agar mendapat izin keluar malam.


Selain malam minggu Sari tidak pernah keluar rumah malam hari, keluar malam hari di malam minggu itupun karena ada kegiatan latihan paduan suara muda mudi, Alex masih memberikan izin keluar malam kalau ada kegiatan yang berbau positif.


Sesampainya di kota, Beni langsung tidur rebahan di tempat tidur, Beni tidak segera membereskan segala perlengkapan yang dibawanya dari kampung, semua dibiarkan tergeletak dilantai, di tempat tidur yang hanya beralaskan tikar saja, tampak nya Beni sudah terbiasa, tidur di lantai beralaskan tikar, awal awal kos kemarin, Beni tidak bisa tidur selama 6 hari, karena tidak terbiasa tidur dilantai yang keras, karena Beni terbiasa tidur ditempat tidur yang empuk.


Beni tidur rebahan sambil memandangi langit langit kamar, yang catnya sudah hampir kusam, sesekali Beni tersenyum raut wajahnya begitu sukacita dan bersemangat.


Didalam kamar kosan, terdiri dari 2 orang, ini merupakan kamar kosan yang harga dan fasilitas nya lumayan, lain di tempat lain, satu kamar kosan bisa ditempati oleh 5 orang untuk menghemat pembayaran uang kosan.


Beni satu kamar dengan Hendra, sedangkan temannya yang lain, Hendri, Roni berada di kosan sebelah, yang berbeda rumah.


Hendra mencari cari Beni, karena dari tadi tidak keluar kamar. Harusnya Beni dan Hendra akan nongkrong di warung, Beni tadi pamit kepada Hendra izin untuk terlebih dahulu menyimpan tas ke kamar kosan.


Tidak sabar rasanya, Setelah beberapa menit berlalu Hendra langsung mendatangi Beni, bingung juga Hendra mengapa Beni tidak muncul muncul, Hendra sedikit takut, 'jangan jangan Beni kenapa napa', bathin Hendra dalam hati.

__ADS_1


"Beni..beni ..beni", Hendra terus memanggil manggil Beni.


Beni masih asik dengan lamunan nya, dan sama sekali tidak mendengarkan Hendra memanggil manggil nama Beni.


Kali ini Hendra memanggil Beni di depan pintu kamar sambil mengetuk pintu.


"Beni, Beni", ...tok...tokk.tokkk


Hendra berusaha melihat melalui jendela kamar yang terbuka, Hendra pun mengetuk dengan sekencang kencangnya, karena tahu kalau Beni sedang rebahan di lantai, senyum senyum sambil menatap langit langit kamar.


Sambil berteriak " Beni" prang.... diketuk dengan keras sekali, sehingga mengangetkan Beni. Beni pun langsung terperanjat bangun dari lamunannya.


Hendra tertawa terbahak bahak melihat tingkah Beni yang terkejut setengah mati.


"Aduh, kamu membuat jantung ku hampir copot saja", ucap Beni sambil memukul pundak Hendra.


"Ahhh, kamu juga telah menghilangkan lamunanku, padahal aku tadi menghayal yang indah indah", ucap Beni kesal.


"Ngelamunin apa sih?, pasti Sari ya", goda Hendra kepada Beni.


"Ya Iyalah Sari, memangnya siapa lagi?", ucap Beni.


"Dari tahu aku sudah menunggu kamu diwarung, aku pikir kamu segera datang setelah mengantar tas ke kamar, padahal aku sudah pesan minuman, sekarang mungkin minumannya sudah dingin, kita cerita nya di warung saja yuk, sambil melihat cewek cewek di kosan sebelah", ucap Hendra.


Karena lokasi tempat kosan Beni dan Hendra adalah memang lokasi kos kosan, dan sekolah mereka juga tidak jauh dari kos kosan, bisa ditempuh dengan berjalan kaki.


Akhirnya Beni setuju untuk nongkrong di warung, tidak beberapa lama, Beni dan Hendra sudah duduk santai di warung. kamar kos kosan mereka seperti terletak dibelakang yang punya rumah, dan warung tersebut berada di depan rumah yang punya kos kosan.

__ADS_1


Mereka pun melanjutkan obrolan mereka tentang Sari.


"Menurut mu Sari bisa ditaklukkan ga?", ucap Hendra pesimis.


"Sari mungkin tidak yakin dan pasti ragu ragu kalau kamu tembak Sari, karena Sari orang nya tahu diri, mungkin Sari takut kecewa, kalau orang tua mu tidak setuju atas hubungan kalian kelak", ucap Hendra menambahi.


"Iya sih, tetapi kali ini aku serius sama Sari, aku tidak akan membiarkan nya terluka sekalipun keluarga tidak terima Sari, aku akan berjuang", ucap Beni serius.


Hendra tahu kalau kali ini Beni berbicara serius, Hendra tahu kalau Beni orangnya tangguh dan pantang menyerah.


"Aku mendoakanmu semoga berhasil ya Ben!", ucap Hendra memberi semangat kepada sahabatnya Beni.


"Terima kasih Hendra, kamu memang sahabat ku yang paling mengerti aku", ucap Beni.


"Bantu aku ya, untuk mendapatkan Sari", ucap Beni menambahi.


"Kita lihat saja nanti bagaimana pertemuan kedua, aku juga tidak sabar menunggu malam minggu datang, aku kan ingin ketemu dengan temannya Sari yang bernama Ratna", ucap Hendra tidak mau kalah,


"Tetapi memang yah, lebih cantik Sari daripada Ratna, kulihat kau cinta berat banget sama Sari, ya udah deh, aku mengalah buat kamu deh", ucap Hendra menambahi.


"Sari itu beda dari cewek cewek yang lain, Sari itu anaknya sopan, pendiam, tidak banyak bicara, sepertinya ada alasan lain, dia tidak mau dekat dekat dulu sama laki laki, tetapi alasan apa ya, aku harus mencari tahu", ucap Beni bersemangat.


Mereka pun lalu menenguk minuman yang sedari tadi di pesan. "Sudah gelap nih, kita keasikan ngobrol sampai lupa waktu, kita balik ke kosan yuk", ajak Hendra.


"Oh iya, aku juga ada ulangan besok, aku harus mempersiapkan bahan ujianku", ucap Beni, tiba tiba Beni ingat kalau besok ada ulangan.


Mereka pun berjalan beriringan menuju kamar kosan.

__ADS_1


__ADS_2