Kisah Pilu Seorang Kembang Desa

Kisah Pilu Seorang Kembang Desa
#69. Juan sangat tidak pengertian


__ADS_3

Beruntung hamil pertama ini, tidak membuat Sari kerepotan, Sari tidak merasa mual berkepanjangan, Sari juga tidak pilih-pilih makanan.


Syukurlah Vina ada di rumah untuk menemani Sari, ada yang bantu mencuci pakaian, mencuci piring dan memasak, setidaknya Sari tidak merasa kecapean, sehingga kandungan Sari bisa terjaga dengan baik.


Terkadang bila Vina sedang mencuci pakaian Sari datang untuk membantu "Sudahlah kak, Vina saja yang mengerjakan, nanti kakak kecapean" tolak Vina ketika Sari ingin ikut membantu.


"Sudah tidak apa-apa, aku juga bosan dan malas tidak ada pekerjaan, kayak kamu tidak tahu Kakak saja" Sari tetap membantu Vina, "Iya,iya kak Sari memang sedari dulu selalu giat bekerja, tidak mau berhenti", pikir Vina di dalam hatinya.


Vina pun hanya pasrah Sari tetap ikut membantunya mencuci pakaian.


Agar Sari tidak merasa bosan, karena tidak ada kerjaan yang dilakukan, sesekali Sari pergi kerumah tetangga sekedar bersilaturahmi dan memperkenalkan diri agar tetangga mengetahui Sari dan Juan.


Dan berbagi pengalaman, menanyakan sesuatu yang tidak dipahami, bukan untuk bergosip membicarakan hal-hal buruk orang lain, terkadang tetangga juga memberi nasihat-nasihat dan saran yang positif, berbagi pengalaman dan ilmu.


****


Keberangkatan Juan kali ini ke Jakarta akan membawa Robert serta


Karena Robert tidak lulus dari pengambil test melamar untuk jadi polisi, Robert akhirnya pergi merantau ke Jakarta untuk mencari pekerjaan, karena mengandalkan mencari pekerjaan di Sibolga, kota tempat tinggal sari dan Juan sungguh sangat tidak mungkin, karena tidak ada pabrik maupun perusahaan besar berdiri di kota tersebut.


Robert ikut numpang di dalam truknya Juan, lumayanlah untuk menghemat ongkos, daripada naik angkutan umum.


Agar Robert juga tahu, bagaimana susahnya, resikonya Juan sebagai supir luar kota,


dengan mengetahui bagaimana susahnya Juan, Robert bisa mengerti perjuangan Juan menyekolahkan Robert, sehingga Robert bisa lebih baik dan lebih bagus hidupnya daripada Juan, dan Robert bisa berterima kasih akhirnya kepada Juan.

__ADS_1


Robert pamit pada Sari


"Kak, aku permisi mau ke Jakarta, kakak doakan aku supaya berhasil ya, aku juga minta maaf telah menyusahkan kakak, aku akan menggantikan cincin kakak, kalau aku sudah dapat pekerjaan" sambil mengulurkan tangannya pada Sari.


"Tidak usah dipikirkan dulu untuk mengganti cincin kakak, kamu fokus saja dulu dalam mencari pekerjaan, kamu harus pandai menabung, dan jaga diri kamu baik-baik" Sari menasihati Robert sambil menjabat tangan Juan.


Juan dan Robert pun segera balik badan meninggalkan rumah, naik becak menuju pool tempat truknya dititipkan.


Sebelum Juan dan Robert berangkat, Juan memberi uang belanja ke Sari. Belakangan Juan memberikan uang belanja tidak seperti biasanya.


"Kenapa belakangan ini uang belanja dapur semakin berkurang?" tanya Sari dengan pelan dan lembut.


"Iya, karena sering sekali tidak ada barang tepat waktu, sehingga harus menunggu beberapa hari, terkadang 2-4 hari, biaya hidup selama 2-4 hari itu sudah menjadi hutang, dan sebelum berangkat kalau sudah gajian, aku terlebih dahulu menutupi hutang, jadi gajiku selalu berkurang. Begitulah ceritanya sehingga uang belanja padamu jadi berkurang" Juan memberi penjelasan secara mendetail.


Selama ini Robert sekolah di swasta, pemberian uang sekolah dan yang uang saku Robert tidak pernah diberitahukan Juan seberapa jumlahnya kepada Sari,


bahkan untuk membayar hutang untuk biaya pesta perkawinan mereka yang terutang dan biaya hidup orang tuanya Juan, Juan tidak pernah memberitahukan seberapa jumlahnya pada Sari,


terkadang melihat sifat Juan yang tertutup dan sembunyi tangan memberi kepada orang tua dan keluarganya Juan, Sari merasa tidak dianggap, tetapi Sari mau protes takut Juan akan marah dan salah paham, tetapi kali ini Sari mencoba minta penjelasan Juan.


"Bang, bukannya aku tidak setuju kamu perhatian kepada keluargamu, tetapi yang membuat aku sakit hati, kamu tidak pernah memberitahukan kepada ku, kesannya kamu seperti sembunyi tangan dari ku, untuk memberi kepada keluarga mu" tanya Sari penuh kelembutan dan sopan santun.


Juan langsung tempra mental dan salah paham "maksud kamu apa?" tanya Juan balik.


"Maksud nya apa salahnya kamu jujur dan terbuka kepada ku, aku jadi seperti tidak dianggap disini" ucap Sari dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Sudah lah tidak perlu kamu tahu, aku adalah pelindung untuk keluargaku terkhusus adik-adik ku" jawab Juan penuh Amarah dan salah paham.


"Berarti kamu tidak menganggap aku sebagai istri kamu" ucap Sari berurai air mata.


"Yang mencari duit adalah aku, uang yang dipakai untuk keperluan adik-adik ku adalah dari hasil keringat ku, jadi tidak usah kamu ikut campur" ucap Juan tegas.


Sungguh sakit perasaan Sari Juan berkata seperti itu, sebenarnya tinggal Juan mengatakan yang sebenarnya apa susahnya, malah Juan marah-marah, "sebenarnya yang tersakiti disini siapa, kok jadi aku yang disalahkan" pikir Sari dalam benaknya dengan rasa yang amat sakit.


Sari pun langsung lari dan masuk ke kamarnya, Sari merasa tidak dihargai sebagai istri, sekarang Juan pun tega berkata kasar seperti itu.


Sari menangis menumpahkan segala beban perasaannya, selain Juan yang kaku, tidak bisa mengambil hati istrinya, Juan pun orangnya kasar dan tidak pengertian, lagi-lagi Sari sangat menyesal, tetapi apa yang bisa Sari perbuat, Sari hanya bisa pasrah, entah bisa mentolerir sifat Juan atau terus memendam sakit hati.


"Bagaimana menjalani kehidupan rumah tangga dengan penuh sakit hati kepada pasangan" pikir Sari dalam hati.


Lagi-lagi Juan tidak ada minta maaf, Juan merasa kalau Juan tidak ada menyakiti perasaan Sari.


Sari pun hanya bisa mengalah, didiamkan, Juan tetap diam membisu, bagaimana menjalani bahtera rumah tangga seperti ini, kalau harus diaman terus, karena kalau cerai sungguh sangat membuat aib yang sangat besar nantinya buat keluarga, Sari pun hanya bisa memendam sakit hati dan perasaan tidak enak.


***


Kehamilan Sari semakin membesar dan butuh popok dan pakaian bayi nantinya setelah melahirkan, Sari mencoba menjahit nya dari kain, bekas karung tepung, karena Sari pandai menenun, Sari cepat belajar menyulam dan menjahit tangan,


dari hasil menabung Sari selama ini, Sari juga membeli mesin jahit bekas, "suatu hari mesin jahit ini akan sangat berguna" pikir Sari dibenaknya, sehingga Sari memaksakan untuk membeli mesin jahit bekas.


Satu persatu popok dan pakaian bayi diselesaikan Sari, setiap hari Sari mencicilnya dan membuatnya, agar setelah lahiran nanti bisa tersedia popok dan pakaian bayi yang banyak, termasuk aksesoris topi, sarung tangan dan penutup kaki, Sari rajut dari kain wool, agar bisa menghemat biaya.

__ADS_1


__ADS_2