
Sekarang Sari sudah berumur 16 tahun, Sari tumbuh menjadi perempuan yang cantik, tinggi semampai, rambut hitam panjang sedikit bergelombang, berat badan ideal, tidak terlalu kurus dan tidak juga terlalu gendut, Sari merupakan perempuan yang pemalu, tidak banyak bicara, tetapi tidak juga menjadi wanita yang gampang di tindas, bila ada orang yang menyepelekan nya atau merendahkan, Sari tegas langsung menanyakan kepada orang yang
bersangkutan bila disepelekan atau direndahkan.
Walaupun Sari hanya tamat SD, bukan berarti Sari menjadi orang yang bodoh, bisa dibilang kemampuan berpikir Sari setingkat dengan orang yang berpendidikan setingkat SMA.
Sari memang berlatar keluarga dari keluarga tidak mampu, tidak ada sanak keluarga yang bisa diandalkan atau punya pangkat tinggi dan kehidupan mewah.
Kondisi rumah Sari merupakan, rumah semi permanen, lantai nya beralaskan semen biasa tanpa susunan dari keramik warna warni yang licin dan indah, dinding rumah terbuat dari kayu, yang hampir lusuh, karena hanya dicat dengan warna putih yang sudah hampir pudar, rumah hanya memiliki 2 kamar tidur, 1 untuk Sari dan adik adiknya yang perempuan, kalau dalam keadaan tidur harus disusun seperti menjemur ikan asin, harus disusun secara beraturan, itupun tidak boleh banyak bergerak, karena hanya memiliki luas 3m*4m saja.
Dan kamar kedua diperuntukkan untuk Tiur dan Alex, ukuran nya lebih kecil yaitu 2*3 karena hanya ditempati dua orang saja. Sedangkan anak laki laki Mariot dan Raden tidur di ruang tamu.
Ruangan rumah seperti gelap tidak berlampu karena, warna dari alas lantai yang gelap tidak berwarna, perabotan rumah juga biasa, seperangkat meja dan kursi yang terbuat dari kayu yang sudah tidak ada busanya, itupun pemberian dari tetangga, karena membeli satu set kursi dan meja tamu jepara, ruang tamu itu juga di isi dengan sebuah lemari hias tua dan kusam yang berisi piring piring, dan gelas biasa, dan untuk bagian yang mempunyai pintu diperuntukkan untuk menyimpan pakaian . Bukan berisikan kristal ataupun keramik keramik cantik.
Sari ikut perkumpulan keagamaan muda mudi, yang kegiatannya, sekali seminggu setiap malam Minggu harus latihan paduan suara pergi ke gereja, dan untuk hari Minggu nya mengisi acara paduan suara dari kumpulan muda mudi ketika ibadah berjalan.
Karena Sari merupakan perempuan yang cantik, banyak lelaki yang suka menggoda dan ingin menjadi pacar Sari.
Sari, Ratna, Rani dan Cantika merupakan satu geng, kemana mana mereka selalu pergi bersama, begitupun kalau latihan paduan suara muda mudi, mereka selalu duduk bareng.
Karena ada perempuan yang cantik cantik yang menjadi anggota paduan suara muda mudi, sehingga banyak pria yang hanya sekedar ikut ikut latihan paduan suara hanya bertujuan untuk bisa ketemu dan berkenalan dengan Sari dan teman temannya.
Termasuk Beni, Roni, Hendra dan Hendri. Boro boro ikut latihan paduan suara, menginjak kan kaki ibadah ke gereja pun tidak pernah. Sekarang karena tahu ada banyak cewek cewek cantik ikut paduan suara muda mudi, Beni, Roni Hendra dan Hendri ikut ikutan latihan paduan suara muda mudi.
Beni begitu terkesima dengan kecantikan dari Sari, matanya tidak berhenti menatap Sari. Beni tidak pernah mendengar nyanyian paduan suara yang dinyanyikan karena memang tidak pernah Greja, tetapi Beni tidak berusaha mengikuti setiap syair yang dinyanyikan, walaupun beni tidak mengetahui lagunya.
Tiba tiba lagu berhenti penatua Greja yang bernama pak Simon, bertugas mengajari lagu untuk paduan suara muda mudi marah dan menegur Beni.
"Hei, laki laki yang ditengah, yang rambutnya ikal dan yang berbaju biru", ucap pak Simon.
__ADS_1
Seluruh mata mencari sosok yang ditunjuk pak Simon. Semua mata tertuju kepada Beni. Beni pun pura pura merasa kalau bukan dia yang ditegur, mata Beni pura pura mencari sosok yang diceritakan pak Simon.
"Pura pura tidak tahu kamu", ucap pak Simon. Lantas semua yang ada ditempat itu spontan ketawa terbahak-bahak.
"Kamu, yang baju biru, rambut ikal yang berada di tengah", ulang pak Simon kepada Beni, setelah Beni bertemu mata dengan pak Simon.
Beni tertunduk malu, kaget dan takut karena ditegur dan dimarahi pak Simon.
"Kalau kau punya tujuan lain datang kemari, tempatnya bukan disini, silahkan keluar dari tempat ini, ini bukan tempat ajang mencari pacar", ucap pak Simon penuh amarah.
Semua yang mendengarkan ketawa ketawa kecil sambil menundukkan kepalanya, takut di lihat pak Simon, apabila ketahuan ketawa oleh pak Simon, pastinya akan dimarahi.
"Hei, kau yang baju biru, siapa namamu?", tanya pak Simon kepada Beni.
"Beni pak", jawab Simon gugup.
"Ingin latihan paduan suara pak, tentunya ingin menunjukkan yang terbaik pak", ucap Beni memberi jawaban bohong, agar tidak dimarahi pak Simon lagi.
"Bagus lah kalau begitu, sekarang latihan yang bagus, jangan yang aneh aneh yang kau perhatikan, dan tetap fokus untuk bernyanyi, ikuti syair nya dengan bagus.
"Baik pak", semua spontan menjawab serentak.
Setelah latihan selesai, semua bubar dengan penuh keceriaan. Beni, Roni, Hendra dan Hendri duluan keluar dengan tergesa gesa, mereka ingin menggoda Sari, Rani, Cantika dan Ratna mereka ingin menyelidiki dimana rumah keempat perempuan itu.
Beni, Roni, Hendra dan Hendri mencoba mengikuti dari belakang, sesekali mereka menyapa.
"Hai cewek cewek, boleh ga kenalan?", tanya Beni dan ketiga temannya.
"Tidak boleh", ucap Sari dan ketiga temannya serentak.
__ADS_1
"iihhh, pelit kali, untuk kenalan aja pun tidak boleh", ucap Beni.
Tapi Beni dan ketiga temannya tidak mau menyerah. Lantas mereka pun mengambil posisi didepan Sari dan ketiga temannya, seperti sedang menghadang tidak boleh lewat.
Karena terus memaksa akhirnya Sari dan ketiga temannya mau berkenalan, entah mengapa seperti otomatis saja, semua punya pasangan masing masing.
Sari berpasangan dengan Beni, Ratna berpasangan dengan Hendra, Rani berpasangan dengan Hendri, sedangkan Cantika berpasangan dengan Roni. Beni memang lebih ganteng dari ketiga temannya, secara otomatis mereka pun merelakan Sari dipasangkan dengan Beni.
Tetapi Sari tidak terlalu peduli dan tidak tertarik dengan gombalan Beni. Sari tahu diri, Sari merasa tidak layak disandingkan dengan Beni, Sari takut kecewa, Sari cuma tamat SD, dan orang miskin dan orang tidak mampu.
Sedangkan Beni orang yang berpendidikan dan orang kaya, sanak saudara Beni juga banyak orang orang berpendidikan tinggi dan orang kaya. 'Ibarat bumi dan langit', pikir Sari dalam hati.
Tetapi Beni tulus dan sangat cinta kepada Sari, 'sulit sekali untuk menaklukkan hati Sari', bathin Beni.
Tidak lama kemudian Ratna sampailah di rumahnya, demikian dengan Rani, dan Cantika. Rumah Sari paling jauh dari antara ketiga teman temannya, Beni pun mengikuti dan mengantar Sari hingga sampai ke rumah Sari.
Beni tahu kondisi rumah Sari, Sari merupakan anak orang miskin. Teman teman Beni melarang Beni meneruskan hubungan nya.
"Sudahlah, tidak usah kamu lagi mengikuti Sari", ucap Hendra.
"Memangnya mengapa?", ucap Beni.
"Dia anak orang miskin, apa keluarga mu bisa menerimanya nanti", ucap Hendri.
"Yang menikah kan aku, bukan keluarga ku", jawab Beni ketus.
"Iya sih, ayahmu pasti tidak setuju", ucap Hendra lagi.
"Aku akan berjuang", ucap Beni penuh semangat dan merasa yakin.
__ADS_1