
"Beni, maju ke depan!", ucap kepala sekolah sambil menyuruh maju ke depan untuk sidik jari. Beni maju menuju meja yang disediakan,
"Celupkan tangan kamu disini", ucap kepala sekolah menunjukkan tinta stempel.
" Selanjutnya tempelkan jari kamu yang telah diolesi tinta diatas foto yang telah ditempel di atas surat ijazah ini!, ketiga jari yang diolesi tinta harus menempel!, jangan terlalu panjang ke bawah harus sampai batas kertas putih ini!" kepala sekolah mengarahkan tangan Beni.
"Ok sudah selesai, sekarang kembali ketempat", perintah kepala sekolah.
Sebelum balik badan, mata Beni melihat nilai ijazah yang baru saja di sidik jari nya. Kepala sekolah tidak menutupi nilai itu, siswa boleh melihatnya. Itu sudah merupakan nilai akhir dari siswa tidak ada perubahan lagi.
Walaupun belum menerima ijazah, tetapi Beni sudah tahu nilainya, bangga Beni melihat nya, ' 96, hampir mendekati sempurna, syukuri saja lah, ini pun sudah merupakan pencapaian yang luar biasa', pikir Beni dalam hati.
Satu persatu siswa dipanggil maju kedepan untuk sidik jari, hingga semua siswa telah terpanggil dan selesai sidik jari.
Beragam jenis raut muka siswa setelah mengetahui nilai ijazah mereka, ada yang senang, puas, ada yang cemberut merasa tidak puas atas nilai yang diperoleh, bahkan ada yang merasa sial, sehari hari nilai akademik nya lumayan bagus dan saat terima raport siswa tersebut selalu menduduki ranking 10 besar, tetapi sial, nilai ijazahnya rendah, tidak tahu salahnya dimana, mau protes tentu saja tidak bisa, karena ijazah sudah dicetak, hanya bisa pasrah.
Keempat sekawan Beni, Hendra, Hendri dan Roni merasa senang dan puas atas nilai yang mereka peroleh. Keempatnya pun merayakannya dengan nongkrong di cafe. Suasana cafe sangat menyenangkan, pemandangan danau Toba bisa dinikmati, bahkan yang mau naik speed boat pun ada disediakan pihak cafe.
Beni dan teman temannya tidak mau kehilangan kesempatan untuk menikmati kebersamaan ini. Mereka berempat ingin bermain speed boat, berkeliling sekitar Danau Toba.
"Ayo kita naik speed boat itu", ajak Beni kepada ketiga temannya.
"Ahh takut, ombaknya kencang, bagaimana kalau aku jatuh?, aku tidak pandai berenang", ucap Hendra menolak.
"Tidak apa apa lagi, kita dilengkapi pelampung rompi, kita juga selalu diawasi para penjaga pantai, untuk jaga jaga, apabila ada penumpang yang jatuh", ucap Beni menyakinkan teman temannya agar tidak perlu takut.
__ADS_1
Akhirnya Hendra, Hendri dan Roni pun menuruti untuk mau bermain speed boat.
"Yes, gitu dong baru namanya teman sejati", Beni mengepalkan tangannya sambil berteriak.
Beni, Hendra, Hendri dan Roni berjalan beriringan mengikuti para pemandu untuk selanjutnya naik speed boat.
Awalnya Hendra, Hendri dan Roni merasa takut, karena belum terbiasa, akibat kecepatan speed boat yang lumayan kencang, dan hembasan ombak yang masuk ketika speed boat dinyalakan dengan laju yang kenceng.
Bummm.. Beni terlempar ke danau, kru langsung melempar pelampung bulat ke arah Beni, agar Beni mengambil dan memakai pelampung itu, dan Beni pun segera ditarik ke kapal penyelamat.
Speed boat kemudian langsung laju dengan kencang, serasa terbang jadinya "aaaa....aaaa" teriak mereka serentak, sehingga sangat memicu adrenalin. Puas berkeliling area Danau Toba mereka pun segera turun dan kembali ke cafe.
Baju mereka telah basah kuyup akibat hembasan ombak, masing masing mereka segera berganti baju masuk ke toilet.
Tidak ingin langsung balik ke kos kosan mereka masih menikmati kebersamaan dengan bernyanyi karoke sambil menikmati makanan dan minuman yang disediakan di cafe.
"Mudah mudahan kita nanti bisa ketemu lagi ya, setelah perpisahan kita nanti", ucap Beni sambil menepuk pundak Hendra yang duduk tepat disamping kanannya.
"Iya, aku juga tidak sabar melihat Beni dan Sari menikah, karena diantara kita kan kalian berdua yang paling jelas hubungan nya", ucap Hendri berharap.
Mendengar suara Sari disebut Beni jadi tidak sabar untuk bertemu Sari, memberi kejutan kejutan mengenai kelulusannya dan nilai nilainya. 'Besok menerima ijazah, setelah menerima ijazah Beni akan langsung balik ke kampung dan langsung memberi kabar gembira ini kepada sari', gumam Beni dalam hati.
"Lihat Beni teman teman mendengar nama Sari disebut, pikiran Beni langsung kemana mana, pasti pikiran Beni sekarang dipenuhi Sari...Sari...dan Sari", ledek teman teman Beni sambil tertawa terbahak bahak.
"Sekali lagi kalian meledek aku, aku tidak akan membayar semua biaya pengeluaran dicafe ini", ancam Beni kepada teman temannya.
__ADS_1
Semua sontak tertawa dan berkata" baik lah..baiklah Beni, kami tidak akan meledek kamu dan Sari".
"Oh iya teman teman, sepertinya ini adalah hari terakhir kita berjumpa, besok kan kita ambil ijazah, aku ingin cepat balik ke kampung, dan langsung ketemu dan mengabari berita gembira ini kepada Sari, dan setelah itu aku akan sibuk beres beres semua keperluan dan perlengkapan untuk merantau, mungkin 2 atau 3 hari kemudian aku akan berangkat merantau mencari pekerjaan di Medan.
Kita kabar kabari lah ya mengenai kondisi kita masing masing, siapa tahu setelah kita nanti masing-masing berumah tangga kita juga bisa reunian membawa istrinya masing masing, akupun ingin istri istri kita bisa kompak dan bersahabat seperti kita", harap Beni.
"Bagus juga ide kamu Beni, mudah mudahan iya, kita semua sukses dan berhasil dalam karir dan percintaan", Hendri menambahi harapan dan keinginan nya.
"Kalau bisa pun, anak anak kita juga boleh tu, kita suruh bersahabat seperti kita", Roni juga tidak kalah memberi ide, semua sontak tertawa terbahak bahak.
"ha...ha ....ha.",
"Anak anak kita juga seperti siapa nanti rupanya iya", tidak kalah juga Hendra semakin menambahi ide ide konyolnya di ikuti tawa keras semuanya "ha...ha..ha" .
"Anakku pasti lebih ganteng lah dari aku, karena kan Sari dan aku cantik dan ganteng. Dari anak anak kita juga nanti, pastilah anak anak ku dong yang paling ganteng", Beni juga tidak mau kalah dalam memberi ide ide kocak, serentak diikuti gelak tawa teman temannya sambil berseru " iya iya, anak Beni dong yang paling cantik atau yang paling ganteng".
"Belum tentu, kalau aku dapat istri orang luar, bagaimana pula itu, pastilah anak anak ku yang paling cantik dan yang paling ganteng", Roni juga tidak mau kalah mengeluarkan ide konyol yang membuat kocak, serentak teman temannya lagi tertawa terbahak bahak "ha..ha...ha..
Ada ada saja kamu Ron, kalau kamu merantau nya disini sini saja, bagaimana mau dapat istri orang luar, adanya si Butet juga jodoh mu", canda Hendra yang membuat serentak tertawa " ha...ha...ha...".
"Tetapi bisa juga itu terjadi, jodoh kan siapa yang tahu, kita tidak tahu siapa jodoh kita nanti", Beni mendukung Roni, agar tidak diledek terus teman temannya, semua pun terdiam dan manggut manggut tanda setuju.
"Hampir malam ini, kita bernyanyi lagi lah satu lagu, kemudian kita cabut balik ke tempat kos", ucap Beni.
"Ok ok, tarik", teriak Hendra
__ADS_1
Mereka pun lanjut bernyanyi dengan riang.