
Terkadang Sari merasa jenuh menjalani biduk rumah tangga nya bersama Juan,
karena Juan pun seperti seorang diri menjadi nahkoda bahtera rumah tangga mereka, Juan terkadang lebih peduli dan lebih memprioritaskan kebutuhan adik-adiknya dan kedua orangtuanya,
kebutuhan Sari hanya sebatas diberi uang belanja cukup atau tidak cukup, harus terima.
Bukan Sari tidak menerima kondisi Juan sebagai supir, yang gajinya pas-pasan,
Juan tidak pernah memberitahukan kepada Sari,
berapa gaji Juan, tidak pernah tahu biaya uang sekolah Robert. Uang saku Robert diberi diam-diam dibelakang Sari,
padahal uang belanja kepada Sari selalu berkurang, terkadang keluarga Juan pun termasuk ayah dan ibunya, tidak peduli bagaimana kondisi anaknya, yang mereka pikirkan,
Juan sebagai anak, sifatnya atau berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan orang tua atau berbakti terhadap orang tua.
Uang belanja yang diberi ke Sari saja kurang, bagaimana mungkin bisa memberi atau membantu adik-adik Sari, padahal Sari pun merasa terbebani dan punya kewajiban untuk membantu adik-adiknya.
"Ingin rasanya Sari bekerja, untuk mencari uang tambahan, tetapi kerja apa?, buka usaha, Sari tidak punya keberanian, Ahhh, Sari pusing memikirkan penyelesaian nya , seolah-olah tidak ada", pikir Sari dalam benaknya.
Terkadang putus asa sering datang menghantui pikiran Sari, tetapi Sari kembali kuat karena dorongan dan support dari,
Adiknya Vina dan ada tetangga yang dianggap Sari sebagai orang tuanya, yakni Bu Jeni, sangat mengerti Sari, terkadang Sari curhat mengenai sifat Juan,
Bu Jeni yang selalu menyemangati Sari "Sari kamu harus kuat menghadapi suamimu, yang perlu kamu pikirkan adalah kesehatan mu dan janin mu, kamu sebentar lagi akan melahirkan, kamu akan mempunyai keluarga kecil,
mungkin saat ini suamimu lebih memikirkan adik dan orang tuanya, orang tuanya juga pasti akan meninggal dan adiknya pasti akan berkeluarga, suatu saat suamimu juga akan lebih memikirkan keluarga nya sendiri, yakni istri dan anak-anaknya,
suamimu kalau sakit, kamu pasti yang merawat nya, tetapi bila kamu yang sakit, kamu akan dipulangkan ke rumah orangtua mu, mana mau suamimu merawat mu!,
ingatlah kehidupan ini seperti roda berputar, mungkin kamu sekarang merasa kekurangan, tetapi mungkin suatu waktu, bila tiba waktunya kehidupan mu pasti lebih baik dari sekarang" ucap Bu Jeni menasihati dan memberi gambaran.
Sari sadar dan berpikir dalam hatinya "Betul juga, iya", akhirnya Sari jadi bersemangat dan tidak mau berputus asa lagi, perkataan dari Bu Jeni selalu diingat Sari bila Sari lagi sedih, perkataan Bu Jeni bisa menjadi kekuatan dan semangat buat Sari.
__ADS_1
***
Kini kehamilan Sari sudah memasuki bulan ke-9.
Segala popok, pakaian dan segala perlengkapan pun sudah di persiapkan jauh-jauh hari, Sari sudah meletakkan dalam sebuah box keranjang.
"Dek, perlengkapan baby semua ada di dalam box keranjang ini ya!" ucap Sari memberi tahu Vina, agar Vina tidak kewalahan.
"Baiklah kak" Vina menundukkan kepalanya tanda sudah mengerti maksud Sari.
Selain menunjukkan tempat perlengkapan baby Sari, Sari juga mengajari Vina, belanja sayur dan ikan dimana, sebelumnya Sari membawa Vina belanja di pasar atau di warung terdekat, yaitu beberapa rumah di sebelah kanan rumah Sari.
Pagi ini Sari merasa lemas tidak berdaya, segala rutinitas mulai dari memasak dikerjakan Sari dengan tidak bersemangat, Vina bingung dan merasa kuatir atas sikap dan tingkah Sari.
"Kak, kakak kenapa kelihatan seperti lemas, apa ini sudah tanda-tanda nya kakak untuk melahirkan?" tanya Vina ketakutan, melihat kondisi Sari yang lemas tidak berdaya.
"Tidak tahu Vin, badan kakak memang seperti tidak berdaya, tetapi nyeri pada perut tidak ada kakak rasakan" Sari bingung dan ingin segera berbaring di tempat tidur.
"Bagaimana ini kak, Vina takut, takut kakak kenapa-kenapa, apa perlu Vina panggil kan bidan kemari kak" tanya Vina dan menangis, panik Sari tiba-tiba menutup matanya ingin tertidur.
"Vin, pergi dulu ya kak, untuk memanggil bidan, kakak disini dulu, jangan bergerak dari tempat tidur, nanti kakak jatuh" Vina berpesan dan langsung berlari untuk memanggil bidan, takut Sari terlambat ditangani.
Tidak beberapa lama bidan pun datang bersama Vina.
Bidan Dewi langsung memeriksa detak jantung Sari yang lemah dan segera mentensi darahnya, ternyata Sari tensi darah nya rendah, itu yang menyebabkan Sari lemas dan tidak berdaya.
"Sakit apa kak Sari Bu bidan ?" tanya Vina penasaran dan ingin tahu.
"Tidak apa-apa, tidak sakit berbahaya kok, tensi darah rendah, itu yang menyebabkan kakak mu lemas tidak bertenaga" ucap Bu bidan sambil memberikan resep obat untuk diberikan kepada Sari.
"Ini ya obatnya, diminum secara teratur, bila sudah habis, obat penambah darah itu lanjutkan saja terus, selesai melahirkan pun itu tetap dilanjutkan saja, supaya kondisi kandungan kamu tidak lemah,
beli saya sesuai merek ini, atau merek lain juga boleh, yang penting penambah darah,
__ADS_1
atau secara alami juga boleh, kacang hijau sangat bagus untuk penambah darah, buah beet, yang seperti umbi-umbian itu, kamu blender, dijadikan jus dan diminum sekali sehari juga tidak apa-apa" ucap bidan Dewi panjang lebar dan secara mendetail.
"Terimakasih Bu bidan" ucap Sari masih lemah.
"Kamu harus semangat Sari, jangan terlalu banyak beban pikiran, kalau kamu banyak pikiran akan berpengaruh lho ke janin kamu,
kamu juga akan susah dan kerepotan melahirkan, bisa-bisa kamu juga jadi pendarahan nanti setelah melahirkan,
kalau bayi kamu sudah lahir, kamu pendarahan siapa yang akan merawat bayimu, jadi jangan banyak pikiran, mengerti kamu Sari" bidan Dewi memberi nasihat dan jengkel kalau pasiennya bandel tidak mau menuruti apa yang sudah diberitahukan.
"Baik Bu bidan" ucap Sari lemas sambil tersenyum.
"Langsung dimakan saja" perintah bidan Dewi.
Vina pun langsung cekatan mengambil obat yang ada pada Sari, karena obat itu tadinya diserahkan bidan Dewi kepada Sari,
dan menyerahkan satu persatu obat itu untuk segera di minum Sari.
"Sudah minum obat, istirahat ya Sari, minum obat penambah darahnya harus rutin setiap hari, untuk untuk tambah tenaga, supaya kamu tidak lemas" bidan Dewi mengarahkan Sari.
"Baik Bu bidan" ucap Sari patuh.
"Saya permisi dulu ya, nanti kalau kakak mu sudah ada tanda-tanda melahirkan, cepat datang ke rumah ya, Vin" ucap bidan Dewi kepada Vina.
"Terimakasih banyak ya Bu bidan" ucap Sari lemas.
"Iya" balas bidan Dewi.
Vina pun ikut mengantar bidan Dewi sampai depan rumah.
Vina pun segera menghampiri Sari ditempat tidur.
"Itu kan, kakak bandel, jangan banyak pikiran kak, supaya kakak tidak kerepotan melahirkan nanti" Vina mengingatkan Sari.
__ADS_1
"Iya.iya" ucap Sari.