Kisah Pilu Seorang Kembang Desa

Kisah Pilu Seorang Kembang Desa
#6 .Alex mengetahui segala kebohongan Tiur.


__ADS_3

Setelah Tiur dimarahi Alex, karena Tiur kepergok Alex, telah memberikan sesuatu kepada orang tua Tiur, tanpa sepengetahuan Alex. Dan Alex selalu membanding bandingkan Tiur dengan Sari, kebencian Tiur makin dalam terhadap Sari. Sekarang Tiur semakin kejam dan sering marah marah, bahkan mau main pukul, apabila ada melakukan kesalahan dalam melakukan pekerjaan Tiur langsung mencubit paha, Sari dan adik adiknya.


Sari kasihan terhadap adik adiknya terlebih Ita, Ita tidak mengerti apa apa, yang dia tahu hanya makan, kalau Ita merasa lapar, pasti Ita akan menangis merengek rengek.


Sari terkadang bingung harus membujuknya, karena tidak ada makanan di rumah, lauk untuk menu makan, hanya dimasak untuk sekali makan, bahkan pas Pasan sepotong/orang. Semisal waktunya untuk makan siang, menu nya yah dimasak siang. Kalau waktu nya untuk makan malam, menunya yah di masak untuk malam.


Jadi tidak ada lauk yang tersisa, terkadang Ita menangis sebelum tiba waktunya untuk jam makan, jadi tidak ada yang bisa diberikan Sari kepada adiknya Ita, sehingga Ita menangis berkepanjangan, sehingga membuat Tiur geram dan mencubit Ita, mengancam untuk diam, kalau tidak akan dipukul terus. Akhirnya Ita pun terdiam dan langsung tidur karena kelelahan menangis.


****


Alex sakit, kurang enak badan, sehingga seminggu lamanya Alex tidak menjaring ikan ke danau. Karena tidak ada pemasukan dari Alex, Tiur sering uring uringan, bahkan marah marah, Tiur sering teriak teriak memanggil adik adik, padahal baru sekali manggil tetapi kata katanya sudah panjang lebar sampai berkata kasar.


"Siti..Siti...", teriak Tiur dengan suara kencang sekali sampai memekakkan telinga.


Siti berlari menghampiri Tiur "Iya, apa Bu", ucap Siti ketakutan.


"Apa tidak dengar aku sudah memanggil manggil mu berulang kali, pasang telingamu ya, jangan pura pura tidak mendengar, dasar kamu tidak diajari ibu mu ya, bagaimana cara nya sopan santun, memang kamu itu ya anak kurang ajar", ucap Tiur membabi buta, mengucapkan segala makiannya, sehingga Siti menangis.


"Dengarnya aku Bu, bahkan akupun langsung berlari kok, menuju ibu", ucap Siti sambil menangis.


"Sudahlah, stress aku melihat kalian semua, satu pun kalian tidak ada yang membuat hatiku senang, semua bikin jengkel saja, lama lama aku bisa jadi gila di rumah ini", ucap Tiur, sambil mencoba menyingkirkan badan Siti, sehingga Siti hampir terjatuh.


Alex terbatuk-batuk dari kamar, dan Tiur pun segera menemui Alex di kamar. Tiur segera mengambil air minum dari dapur dan kemudian memberikan kepada Alex yang sedang terbaring sakit di kamar.


"Tadi kudengar suaramu agak keras dan kencang di luar, ada apa?", ucap Alex ingin tahu.


"Oh tidak, itu karena ada kucing mencuri ikan, makanya aku teriak teriak", ucap Tiur gugup sambil berbohong.


"Aku mau makan duluan, tolong ambilkan nasi ku, agar setelah selesai makan aku bisa langsung minum obat", ucap Alex kepada Tiur.


"Tidak ada lauknya, kalau makan sekarang. Tunggu dimasak dulu", ucap Tiur kepada Alex.


"Apakah tidak ada sisa lauk tadi siang?", ucap Alex kepada Tiur.

__ADS_1


"Kebetulan lauk tadi siang, habis untuk siang tadi", jelas Tiur gagap menjawab pertanyaan Alex.


"Berarti, kau selalu membuat lauk pas Pasan tidak boleh lebih, begitukah, padahal Ita selalu minta makan sebelum waktu makan tiba, berarti Ita tidak pernah kau beri makan ya!", teriak Alex geram.


"Tidak, memang hari ini saja langsung habis, biasanya selalu tersisa kok", ucap Tiur terpatah patah, karena bingung, kedoknya hampir terbongkar oleh Alex, suaminya.


Satu persatu semua kebohongan Tiur terungkap dengan sendirinya tanpa diberitahukan anak anaknya, kalau anak anak kutanya mengenai tingkah laku Tiur pasti juga mereka akan takut memberitahu kannya, mungkin saja Tiur telah mengancam agar tidak memberitahu Alex, dan jangan jangan Tiur ini mau main pukul kepada anak anaknya, gumam Alex sedih didalam hatinya.


Bagaimana kalau yang kupikir kan tadi benar benar kenyataan, kalau Tiur memang jahat kepada anak anaknya, Ya Tuhan begitu jahatnya aku, telah membuat anak anak menderita, Alex semakin penasaran, dan Alex bermaksud untuk menyelidiki segala perbuatan Tiur kepada anak anak nya kalau Alex sedang tidak di rumah.


*****


Alex sudah sembuh dari sakitnya, dan sudah merasa fit untuk menjaring ikan di danau. 'Mudah mudahan kali ini tangkapan ikan ku banyak', harap Alex dalam hati. Dan memang benar saja, hari ini tangkapan ikan Alex banyak, dan Alex pulang dengan senyum yang bahagia, sebelum menyerahkan ikan tersebut untuk dijual oleh Tiur, Alex memberikan separoh tangkapan ikannya kepada Sari, supaya dimasak, Alex bermaksud untuk menyenangkan anak anaknya dengan makan ikan hari ini dengan sepuasnya. "Sari ini ikan kamu bersihkan dan segera olah, maksudnya segera kau masak, mau digoreng boleh juga, di arsik juga boleh, terserah kamu saja lah, mana yang kau rasa enak", ucap Alex penuh semangat kepada Sari.


Sari pun menerimanya dengan senang hati, tetapi beda dengan Tiur, Tiur merasa kalau ikan itu di masak separuh, maka uang hasil tangkapan ikan itu akan berkurang, Tiur mencoba membujuk Alex agar tidak usah memasak separuh tangkapan ikan Alex. "Pak, tidak usahlah dimasak begitu banyak, dijual saja semua, ikan asin yang kemarin kan masih ada sisa, itu saja dulu kita makan, bukan kah selama seminggu yang lalu bapak juga tidak menjaring ikan karena sakit, hasil tangkapan ikan hari ini dijual saja untuk nambah nambah menutupi kebutuhan kita", bujuk Tiur kepada Alex.


"Tidak, kubilang dimasak ya, masak saja, besok kan aku menjaring ikan lagi, ya tangkapan ikan besok, yang dijual semua, cepat bersihkan ikannya Sari", perintah Alex kepada Sari dengan suara yang keras dan membentak.


Makanya Tiur tidak berani lagi membantah, termasuk Sari pun langsung pergi ke dapur bermaksiat membersihkan ikan dan segera memasaknya, termasuk semua adik adik Sari semua pergi ke dapur untuk membantu Sari meracik bumbu yang diperlukan untuk memasak ikan tersebut, kali ini Sari memilik untuk mengarsik ikan tersebut.


****


Seperti biasa Tiur pergi ke pekan, Tiur sangat bersemangat untuk pergi ke pekan, bagaimana tidak bersemangat, ke pekan itu seperti pergi liburan, karena bisa keluar rumah, dan melihat dunia luar, bahkan bisa sebagai penghilang stress dan kejenuhan karena bisa cuci cuci mata istilahnya.


Lain halnya dengan Sari dan adik adiknya, mau Tiur ke pekan atau tidak ke pekan, perasaan mereka biasa saja, karena Tiur tidak pernah mau membeli martabak dan popcorn sebagai jajanan kesukaan mereka.


Seperti biasa Alex kalau hari pekan selalu nongkrong di warung kopi ibu Tio, tidak seberapa jauh jaraknya dengan rumah Alex.


Tibalah waktunya Tiur sampai di rumah, membawa hasil belanjaannya. Anak anak biasa saja sikapnya, bahkan untuk mengeluarkan isi keranjang saja tidak berani, takut Tiur akan marah, mereka pun hanya di dapur ketika Tiur pulang dari pekan, tiba tiba Tiur teriak "Siti..Siti", Tiur teriak dengan kencang,


Siti langsung menyahut dan dengan secepatnya langsung berlari menuju tiur "Iya Bu, ada apa?", tanya Siti kepada Tiur.


"Cepat kau bawa ikan asin ini, apa tidak kau lihat aku dari tadi disini, maunya segera kau beresin semua belanjaan aku ini", ucap Tiur ketus sambil marah marah kepada Siti. ' Serba salah sebenarnya, nanti keranjang di bukain malah marah marah, untuk apa juga ditungguin toh, jajanan tidak ada dibawa, seperti membuat rasa jengkel saja', gumam Sari dalam hati.

__ADS_1


Tok..tok. tok. pintu di ketok


Tiur gelagapan tiba tiba pintu diketok, Tiur segera membuka pintu, terkejut ternyata Alex yang mengetuk pintu, dengan manis dan penuh kepura-puraan Tiur menyapa Alex "Hai pak, sudah pulang, mari masuk pak", sapa Tiur senyum senyum manja.


"Mengapa tadi kamu teriak, teriak, aku dengar suaramu kencang sekali dari luar, ada apa memang", tanya Alex kepada Tiur.


"Tidak apa apa pak, hanya menyuruh Siti tadi untuk menyimpan ikan asin hasil belanjaan aku dari pekan", bela Tiur lembut.


"Kebetulan kamu pulang dari pekan, kamu beli apa?, pasti beli martabak kan?", tanya Alex ingin tahu.


Tiur bingung harus menjawab apa, kenyataan nya Tiur memang tidak ada membeli martabak, dan memang Tiur tidak pernah beli martabak, pernah awal awal berumah tangga sebelum kepergok Alex, Tiur membeli martabak untuk diberikan kepada orang tua nya, sekarang Alex sudah melarang nya pergi ke rumah orang tua nya tanpa seizin Alex.


Tiur pura pura mencari cari, di keluarkan seluruh belanjaannya sambil berbicara"Dimana ya, martabak itu, kok tidak ada, apa jangan-jangan tinggal, atau ada yang mencuri nya tadi ketika di kapal?", Tiur mencoba mencari cari alasannya.


"Pembohong, bentak Alex kepada Tiur, tidak usah kau berpura pura lagi, aku sudah tahu semua kebohongan mu", ucap Alex marah marah.


"Jujur kau, selama ini kamu tidak pernah membelikan martabak untuk anak anak bukan, ternyata kamu pembohong, dulu kamu berkata akan menganggap anak anakku sebagai anak kandungmu sendiri, ternyata kamu jahat kepada mereka", ucap Alex geram.


Anak anak tidak pernah cerita tentang semua tingkah laku mu, mungkin anak anak sudah kau ancam agar tidak bercerita dengan sebenarnya.


"Sekarang kita bercerai saja lah, aku tidak mau anak anak ku menderita, tanpa kamu mereka pasti bahagia, bahkan terpenuhi semua kebutuhan nya tidak ada yang kurang", ucap Alex dengan tegas kepada Tiur.


Tiur langsung bersimpuh di kaki Alex meminta maaf "Maafkan aku pak, aku bersalah, tolong jangan ceraikan aku, berikan aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku, aku salah, maaf kan aku pak", bujuk Tiur terus memohon mohon kepada Alex.


"Sudah lah, aku capek, dan aku memikirkan masa depan anak anakku, toh kamu juga belum punya anak dari aku", ucap Alex. Dan memang sudah 3 bulan menikah Tiur belum hamil juga.


Alex tetap ngotot tidak mau lagi melanjut pernikahan ini, dan bersikukuh untuk bercerita saja.


Tetapi Sari memohon kepada ayahnya" jangan bercerai ayah, maafkan saja kesalahan ibu, toh ibu juga sudah minta maaf dan tidak mengulangi lagi perbuatannya, berikanlah kesempatan kepada ibu untuk berubah", bujuk Sari kepada Alex.


"Baiklah, tiga hari ini kulihat perubahan mu, kalau kau tetap jahat kepada anak anak, aku tidak akan segan segan untuk langsung menceraikan kamu", ancam Alex kepada Tiur".


Tiur pun hanya bisa pasrah. Tiur segera kembali ke kamar segera ganti baju lalu melakukan pekerjaan rumah, tidak pernah pernah nya menyapu, terpaksa harus dilakukan Tiur, mengambil hati Alex, agar tidak diceraikan Alex.

__ADS_1


__ADS_2