
Mendengar penjelasan Sita mengenai Sonia, Beni menjadi geram dan marah, "Ternyata Sonia jahat telah membuat Sari ingin berpisah dengan nya, tetapi Sari mengapa tidak menanyakan secara langsung kepadanya, agar tidak terjadi kesalahpahaman", Beni tidak habis pikir, lagi-lagi Sari tidak mengklarifikasi nya terhadap Beni.
"Mengapa Sari langsung percaya terhadap omongan Sonia" tanya Beni kepada Sita.
"Kak Sari berpikir, bagaimana Sonia tahu tentang Sari dan alamat Sari, kalau tidak di beritahu ibu kak Beni, kak Sari pikir memang orang tua kak Beni telah sepakat untuk menjodohkan kak Beni dengan Sonia" Sita menjelaskan prinsip Sari.
"Apakah Sari segampang itu melupakan Aku?" tanyanya dengan putus asa.
"Tidak kak, kak Sari selalu menangis dan mengurung diri di kamar, bahkan tidak mau makan, Sari juga menjadi kurus, bahkan saat jalan-jalan ke luar kota dari kelompok paduan suara muda-mudi, kak Sari kesurupan karena lemas tidak mau makan, pikiran nya selalu kosong, tidak menyangka bahwa cintanya akan putus ditengah jalan" ucap Sita menjelaskan kondisi Sari saat itu.
"Bagaimana Sari kok bisa menerima perjodohan itu" tanya Beni penasaran.
" Kak Sari Sebenarnya malas untuk berhubungan lagi dengan laki-laki, tetapi karena orang tua Juan datang dan ingin menjodohkan Juan dan Sari, kak Sari merasa, baiklah menerima perjodohan itu, mungkin kalau dijodohkan sudah langsung yakin untuk menikah, daripada pacaran dulu, belum tentu menikah" Sita menjelaskan pemikiran Sari.
"Mengapa Sari tidak ingin bertanya kepada ku, tidak peduli kah Sari mengenai perasaan ku" Beni menangis, tidak mampu lagi membendung perasaannya yang terlalu sakit dan kecewa saat ini. Tangis Beni tertumpah di hadapan Sita.
"Sekarang kak Sari menyesal telah setuju mengenai perjodohan itu, ketika pernikahannya, orang tua kak Beni datang, dan menanyakan kepada kak Sari "Mengapa begitu tega telah meninggalkan Beni', kak Sari sadar kalau orangtua kak Beni tidak ada menyepakati perjodohan Sonia dan kak Beni, akhirnya Sari menangis sejadi-jadinya dipernikahannya, nasi sudah menjadi bubur, sekarang tidak mungkin lari dari kenyataan, secara kak Sari sudah sah menikah secara agama" ucap Sita.
Walaupun menurut cerita Sita, Sari begitu menderita, tetap saja menurut Beni Sari jahat, karena tidak memperjuangkan cinta, tidak peduli terhadap Beni "Mengapa Sari tidak mau menanyakan nya secara jelas kepadaku" tangis Beni terus dan tetap menyalahkan Sari tidak peduli dirinya.
"Aku juga telah mengingatkan kak Sari untuk menanyakan langsung ke kak Beni, bahkan surat-surat kak Beni yang datang, tidak pernah dibuka dan dibaca" Sita menunjukkan surat Beni yang masih utuh.
__ADS_1
"Kamu jahat Sari, dan kamu tidak berusaha memperjuangkan cinta kita, pikir Beni, sekarang Beni berpikir, Sari lah yang jahat" Beni meninggalkan Sita dengan mengatakan kalau Sari yang jahat, satu yang bersalah. Beni langsung tancap gas memacu sepeda motornya, dan segera meninggalkan Sita.
Pikiran Beni saat ini begitu kalut dan kecewa, Sari tidak berjuang demi cintanya, pikir Beni dalam hati, beni pergi ke bukit peraduan, ketempat Sari dan Beni mengikat janji, dan pertama kali mencium bibir Sari, bahkan saat terakhir kali saat mencium bibir Sari yang kedua, Beni ingat momen itu. begitu indah.
Beni sering mengingat momen itu kala rindu melandanya. Sekarang Beni begitu kacau, Beni menendang apa saja yang ada di depannya, Beni berteriak sekencang-kencangnya ke Danau untuk menumpahkan segala kesalnya, begitu dalam rasa kecewa Beni, Beni pun menangis sejadi-jadinya, sungguh sangat kecewa perasaan nya, separuh napasnya terasa hilang, begitu sesak dadanya dirasakan.
Beni hanya bisa berucap "Kamu jahat Sari, kamu jahat, kamu tidak peduli perasaan ku, kamu tidak memperjuangkan cinta kita, bahkan surat-surat ku pun tidak kamu baca, aku benci kamu Sari" teriak Beni sekencang-kencangnya.
"Untuk apa perjuangan ku selama ini, semua sia-sia" Beni menangis sambil terduduk di pinggir Danau.
Beni bersandar pada batu yang besar, sakit dan lemas dirasakannya saat ini, sampai-sampai tidak bisa berdiri dan bangkit lagi.
Setelah tidur beberapa jam, Beni bingung dimana dirinya, Beni melirik jam yang melingkar di tangan nya, pukul 18:30.
Matahari sudah tenggelam, Beni pun meninggalkan lokasi itu terasa lunglai dan tidak bertenaga, Beni tidak bersemangat dalam menjalani hidup, Beni putus asa, Beni pun tidak sanggup mengendarai sepeda motornya, karena pikiran nya kalut saat ini, Beni meninggalkan sepeda motornya di pinggir danau dan berjalan sempoyongan ke arah rumahnya.
Sesampai di rumah Beni, Beni mengetuk pintu. Tok...tok ..tok...
pintu di buka.
Indri menyapa "Beni"
__ADS_1
Beni pun langsung menangis memeluk ibunya "Sari jahat Bu, Sari jahat meninggalkan aku, Sari tega Bu, Sari tidak memperjuangkan cinta kami" Beni terus menangis membagi bebannya kepada ibunya.
"Menangis lah terus Beni, agar bebanmu berkurang, ibu tidak ingin kamu terus merasa sesak dan putus asa, teriak terus dan tumpahkan segala perasaan sakit mu kepada ibu" Indri terus menyemangati anaknya, Beni.
Beni pun terus menangis. Indri membopong Beni masuk ke dalam rumah. Beni tergeletak di bangku lemas, dan langsung tertidur.
Indri pun membiarkan saja Beni tergeletak, Indri tahu betapa sakit perasaan Beni saat ini.
Indri hanya berharap, semoga anaknya Beni bisa segera melupakan Sari, dan menjalani hidup dengan semangat dan bersukacita. Mungkin sementara ini Beni belum bisa melupakan Sari, Indri tidak memaksa, semua butuh proses, Indri akan terus menyemangati Beni agar tidak berputus asa.
Tidak beberapa lama, Beni bangun dan segera menemui ibunya."Ibu Beni lapar"
Indri pun segera menyiapkan makanan untuk anaknya, sebenarnya Beni tidak pernah diladeni makan, kali ini Beni manja kepada Indri. Indri mengerti karakter Beni, hanya menurut saja apa yang diperintahkan Beni.
"Apa yang harus Beni lakukan Bu" tanya Beni pelan.
"Terus bersemangat nak, lupakan Sari, Sari telah memilih jalan hidupnya, begitu juga kamu, harus tetap semangat menjalani hidup, banyak wanita di luar sana Beni, bahkan yang jauh lebih baik dari Sari, ibu yakin kamu bisa, kamu laki-laki yang mandiri dan pantang menyerah, pasti kamu bisa nak" Indri terus memberi dorongan dan kepercayaan diri kepada Beni.
Kini Beni sedikit agak bersemangat, Beni sudah menerima keadaan, kenyataan bahwa tidak ada gunanya lagi mengharapkan Sari.
"Beni pun bertekad tidak akan pernah datang lagi ke kampung ini, terlalu banyak kenangan indah bersama Sari di kampung ini. Sedikit demi sedikit aku akan melupakan kenangan itu", pikir Beni antusias.
__ADS_1