Kisah Pilu Seorang Kembang Desa

Kisah Pilu Seorang Kembang Desa
#25. Langkah pertama untuk mendekati Sari


__ADS_3

Pukul 13.30.


tit...tit... Bel tanda pelajaran sudah berakhir, waktunya bagi semua siswa-siswi untuk pulang ke rumah masing-masing.


Hendra segera menghampiri Beni, bermaksud untuk pulang bersama.


Hendra menepuk jidat Beni "Hebat kamu Ben, bisa menjawab pertanyaan pak Albert tadi, aku sempat khawatir tadi kamu tidak bisa jawab, aku pikir pak Albert pasti akan mengusir mu, keluar dari kelasnya karena tidak fokus terhadap pelajaran yang diajarkan pak Albert tersebut", ucap Hendra.


Tetapi Beni hanya tertawa saja.


"Ah biasa saja, intinya jangan panik, gunakan akal supaya tidak ketahuan kalau tidak tahu apa apa", jawab Beni relex dan seadanya.


Kagum Hendra melihat watak sahabatnya itu, mandiri, pintar, tidak sombong, mau berteman kepada siapa saja, bahkan yang lebih hebatnya lagi Beni mau tinggal dikosan yang sederhana, walaupun Beni adalah anak orang kaya, Beni juga masak dan mencuci pakaian sendiri, tidak pernah Beni mau membawa kain kotor, apabila sudah balik ke kampung.


Kebanyakan teman teman yang lain, walaupun orang yang biasa saja, pulang dengan membawa kain kotor. Karena malas mencuci, kebanyakan waktunya hanya nongkrong di warung ketimbang melakukan hal yang positif.


Sesampainya di tempat kosan Beni buru buru untuk mencuci pakaian sekolah nya, sebentar di jemur kalau sudah setengah kering lantas memasukkan pakaian yang sudah selesai dicuci, untuk di jemur dan dianginkan di dalam kamar.


Waktu pun hampir menunjukkan pukul 15:30. Buru buru Hendra dan Beni segera bergegas ke pelabuhan, karena kapal yang akan berlabuh ke kampung Beni cuma satu, maka sebelum berangkat semua penumpang harus berkumpul di dermaga agar tidak ketinggalan kapal.


Hampir saja Beni dan Hendra di tinggal. Beruntung Roni dan Hendri segera melihat kedatangan Hendra dan Beni, jadi keberangkatan sedikit tertunda.


Setelah berlabuh beberapa menit sampailah mereka dikampung. Penuh sukacita dan keceriaan tersendiri, bahkan ada sedikit kebanggaan seolah kita pulang dari rantau dan kembali ke kampung halaman membawa ilmu dan mengaplikasikan nya kepada seluruh warga di kampung.


*****

__ADS_1


Malam sudah menunjukkan pukul 19.00. Suasana di kampung terasa dingin dan sepi, biasanya jam segini warga yang sudah siap siap untuk mengambil selimut, sembunyi didalam kehangatan nya, melepas lelah dan penat karena seharian sudah melakukan aktifitas dan rutinitas di ladang dan sawah.


Tidak bagi Beni, Hendra, Hendri, Roni dan muda mudi laki laki yang lain. Mereka pergi untuk latihan paduan suara muda mudi, kumpulan ini sangat membangun sifat para pemuda untuk bersosialisasi dengan yang lain, belajar mengenal karakter orang lain, dan belajar bekerja secara team, melatih vokal dan membentuk sifat spritual mengenal Tuhannya, agar tidak menjadi mental yang lemah melainkan kuat dan mampu dalam menjalani hidup walau dalam suasana apapun.


Mata Beni mencari cari sosok Sari. Momen ini adalah yang paling ditunggu tunggu Beni, waktu terasa lama berganti, tidak tahan rasanya ingin segera bertemu, begitu suasana hati Beni setiap di perantauan.


Akhirnya Beni bertemu dengan Sari, cepat cepat Beni menjumpai nya dan segera duduk disamping Sari.


"Hai Sari", sapa Beni sambil tersenyum manis.


"Hai juga", jawab Sari datar tanpa senyuman.


Tidak penduli bagi Beni, bagaimana ekspresi Sari, yang penting Beni akan berjuang terus untuk mendapatkan Sari. Beni pun duduk disamping Sari.


"Hai, boleh aku duduk disini?", ucap Beni membuka percakapan.


"Kemana ya pak Simon?, kenapa lama sekali datang padahal ini sudah jam 20.00 lewat", ucap Beni pura pura bertanya kepada Sari.


"Iya iya, sudah lewat jam 20.00 ternyata, mengapa pak Simon belum datang, biasanya pak Simon tidak pernah terlambat", ucap Sari membenarkan pernyataan Beni.


Sebelum mereka menyuruh ketua muda mudi untuk mencari tahu kabar pak Simon.


Ada bagian humas kepemudaan datang, sepertinya ingin memberitahukan sesuatu mengenai kabar kenapa pak Simon tidak bisa datang. Seketika semua terdiam yang tadinya riuh seperti 1suara tawar menawar barang di pasar.


"Anak anak semua, pak Simon hari tidak bisa datang berkumpul disini sekarang, karena ada keperluan keluarga yang harus segera dia tangani di luar kota, pak Simon berharap kepada semua anak anak semua agar berlatih sendiri, sesuai yang diajarkan oleh pak Simon, karena minggu depan kita akan kunjungan ke luar kota, melihat perkembangan dan kemajuan dari muda mudi di kota, kepada semua anak anak agar maklum dan menjalankan apa yang diperintahkan oleh pak Simon. Mengerti semua anak anak", ucap pak Edward.

__ADS_1


Semua riang gembira karena Minggu depan ada kegiatan ke luar kota, itu berarti akan ada jalan jalan. Seketika beni pun tersenyum lebar "yes", ucap nya dalam hati.


Ketua muda mudi pun segera mengambil komando, setelah pak Edward selesai dengan pengumuman yang dibawakan nya.


"Teman teman, kita latihan 1 atau 2 kali, dengan catatan masing masing semua harus serius mengeluarkan suaranya, setelah itu kita selesai, kita akan membawakan lagu ini besok diibadah dan Minggu depan di luar kota", ucap ketua pemuda.


Semua anak anak pun turut perintah dan bernyanyi dengan serius.


Setelah selesai bernyanyi semua pun bubar tanpa dikomandoi, begitu juga Beni segera mengambil posisi untuk bisa dekat dan sejajar berjalan dengan Sari. Momen ini adalah momen yang paling ditunggu oleh Beni, yakni pulang bareng dengan Sari bercerita sepanjang jalan, dan tidak terasa hingga sampailah didepan rumah Sari.


Beni tahu rumah Sari akan segera sampai, dan tidak ingin merasa penasaran dengan Sari. Beni pun memberanikan diri untuk memegang tangan Sari.


Beni berusaha menggenggam tangan Sari dengan erat, tetapi buru buru di lepas dengan cepat oleh Sari.


Sambil Beni berucap " Sari, aku ingin serius dengan mu", ucap Beni sambil berusaha menggapai lagi tangan Sari. Kuat sekali Beni menggenggamnya sampai Sari kewalahan tidak bisa melepaskan genggaman tangan Beni. Sari pun pasrah di gemgam oleh Beni.


Sebenarnya Sari begitu bahagia digemgam oleh Beni, Perempuan mana yang tidak tertarik terhadap Beni yang tampan, tinggi dan putih, Beni juga sifatnya tidak sombong dan mau bergaul dengan siapa saja, walaupun Beni adalah anak orang kaya.


Tetapi Sari takut perasaan itu terlalu jauh, Sari tidak mau kecewa dan segera membuang perasaan suka didalam hatinya, karena 'bila berharap terlalu jauh takut kecewa nanti', gumam Sari dalam hati.


Sari tidak mau munafik, Sari pun menikmati momen indah bersama Beni. Sepanjang jalan Beni begitu erat menggenggam tangan Sari, sesekali Sari berusaha melepaskan tangan itu, bila ada orang yang kebetulan berpapasan, takut juga Sari, jangan jangan kebetulan berpapasan dengan Alex atau saudara yang kebetulan lewat, sehingga memberitahu kepada Alex. Tangan Beni begitu kuat menggenggam, beni tidak peduli dilihat orang, yang ada dalam pikiran Beni adalah ingin selalu dekat dan bersama dengan Sari.


Setelah sampai didekat rumah Sari, Sari pun buru buru melepaskan tangan Beni, Beni pun tidak kuasa lagi menahannya, karena memang Sari pamit untuk berpisah dan segera masuk ke rumah.


"Sampai ketemu lagi Sari ", ucap Beni dengan mesra. Tidak disahuti oleh Sari.

__ADS_1


Beni puas dan bahagia bisa menggenggam tangan Sari.


__ADS_2