Kisah Pilu Seorang Kembang Desa

Kisah Pilu Seorang Kembang Desa
#61. Pernikahan Sari tidak sesuai harapan nya


__ADS_3

Latar belakang keluarga Juan


Kakek Juan adalah orang terkaya di kampung nya pada saat itu, mempunya sawah dan ladang yang sangat luas. Istri kakek Juan tidak mempunyai anak laki-laki, bermaksud agar ada penerus dari marganya, kakek Juan bermaksud untuk mengambil istri kedua. Setelah menikahi istri kedua, lahirlah 2 anak laki-laki dari istri kedua yakni Yudha, kakek Juan dan Rangga.


Karena telah lahir anak laki-laki dikeluarga, akhirnya Judha sangat dimanja. Hingga dewasa Judha malas bekerja.


Sebelum Ayah Judha meninggal, harta warisan berupa sawah dan ladang dibagi kepada semua anak-anak nya. Judha mendapatkan harta warisan lebih banyak dari anak-anak yang lain.


Karena Judha malas bekerja, akhirnya banyak sawah dan ladangnya digadaikan kepada orang lain, hanya untuk berfoya-foya.


Juan anak yang rajin dan pekerja keras. Seluruh sawah dan ladang yang masih tertinggal, yang belum di gadaikan, di kelola untuk mendapatkan uang untuk menyambung hidup.


Juan mengerjakan ladang dan sawah itu dengan penuh kerja keras ketika pulang dari sekolah. Tetapi ketika panen tiba, hasil panen padi yang dalam pikiran Juan lumayan hasilnya, ternyata habis untuk membayari hutang Judha.


Ternyata sebelum panen Yudha sudah banyak berutang hanya untuk berfoya-foya dengan menjaminkan hasil panen dari sawah yang dikelola Juan.


Juan merasa kesal atas sifat orang tuanya, capek-capek bekerja di ladang dan sawah, ketika panas dan hujan setiap hari, hanya untuk membayari hutang orang tuanya yang tidak pernah selesai selesai.


Akhirnya Juan pergi merantau ke kota, bermaksud agar tidak melulu di perbudak orang tuanya, Juan merasa bahwa ketika ada Juan orang tua nya jadi malas bekerja, setelah Juan merantau ke kota, dengan keadaan terpaksa harus bekerja di ladang dan disawah untuk menyambung hidup.


...****************...

__ADS_1


Tetapi walaupun Juan merantau ke kota, dan mempunyai istri, Juan diharuskan tetap memberi sedikit uang untuk biaya hidup kedua orang tua nya, begitu perjanjian Juan dengan kedua orang tua nya, ketika kumpul-kumpul di ruang tamu ketika para tamu sudah pergi.


Orang tua Juan membeberkan dan merincikan segala hutang yang harus dibayar Juan untuk biaya pernikahan, ditambah Juan pun harus mengirim bulanan untuk kedua orangtuanya di kampung.


Sari tidak kuat mendengar semua tuntutan kedua orang tua Juan, sehingga Sari meninggalkan mertuanya di ruang tamu, dan masuk ke kamarnya.


Dengan profesi Juan, hanya sebagai supir expedisi, Juan minta tolong kepada pemberi hutang, agar hutang untuk biaya pesta pernikahan nya dicicil setiap sekali 2 minggu, karena untuk 1 trip Juan menghabiskan waktu pulang-pergi Juan menghabiskan waktu 2 minggu.


Seperti keinginan Sari ketika sebelum menikah dengan Juan, Sari tidak ingin tinggal di kampung di rumah mertua, Sari ingin merantau, dimana saja Sari bersedia asal tidak tinggal di kampung, karena ketika Beni pulang dari rantau, Sari tidak ketemu dengan Beni.


Juan menyanggupi, Sari dan Juan pun tinggal di kota Sibolga. Karena cuti yang diberikan perusahaan kepada Juan hanya 3 hari, 2 hari setelah menikah, Juan dan Saripun berangkat ke kota Sibolga untuk memulai kehidupan baru, yang mandiri dan jauh dari campur tangan orangtua.


Ketika Sari dan Juan sampai di terminal Sibolga, Sari sebelumnya bertanya kepada salah satu penumpang di dalam bus yang mereka tumpangi, bahwa ada rumah yang hendak di sewakan di samping rumahnya.


Ketika Juan dan Sari menikah umur Juan 23 tahun, sedangkan umur Sari 20 tahun. Adik Juan yang nomor 2, yang bernama Robert berumur 19 tahun, Kala itu Robert duduk di kelas 3 SMA, daripada Robert sekolah harus indekos.


Juan menyuruh Robert untuk pindah sekolah. Akhirnya Robert ikut tinggal bersama Sari dan Juan dalam satu atap. Tetapi Robert akan menyusul ketika Sari dan Juan mendapatkan rumah sewa.


Perkawinan Sari sungguh diluar ekspektasinya, "bagaimana nasib adik-adik ku, bagaimana aku membantu adik-adik ku, sedangkan aku tidak bekerja, mengandalkan gaji suami sangat tidak mungkin, menutupi untuk biaya makan sehari-hari pun tidak cukup" pikir Sari pusing, menyesal dan tidak habis pikir, bahwa Sari telah salah memilih suami, bukannya meringankan beban pikiran malah menambah pikiran.


Saripun hanya bisa pasrah dan menjalani hidup, mungkin suatu saat nanti ada harapan indah, itu saja yang bisa dipegang Sari.

__ADS_1


Setelah habis masa cuti, Juan pun pergi berangkat ke luar kota.


Juan menceritakan bagaimana resiko dan bentuk pekerjaannya sebagai supir kepada Sari sebelum Juan berangkat ke luar kota.


"Sari, aku berangkat ke luar kota, kantor letaknya di Medan dan Jakarta. Sekarang aku berangkat dulu ke Medan, dimedan barulah isi muatan ke dalam truk, kalau ada muatan syukur, kalau tidak ada muatan, yah tidak berangkat sampai ada muatan barulah bisa berangkat, untuk biaya makan kita yang tanggung sendiri.


Bila ada muatan, muatan ini di antar ke Jakarta, dari Jakarta balik lagi ke Medan, yah harus isi muatan lagi, begitulah silih berganti.


Resiko di perjalanan sangat beresiko terjadi kecelakaan, untuk itu kamu harus baik-baik di rumah, doakan aku selalu di perjalanan lancar dan aman" curhat Juan kepada Sari istrinya.


Sari hanya bisa menjawab "Baiklah hati-hati di jalan ya" ucap Sari pelan, baru menikah sudah ditinggal pergi, bukan mengharapkan bulan madu, tetapi setidaknya seminggu bersama dengan suami tidak bisa di lakukan, karena Juan memang harus berangkat, kalau tidak berangkat bagaimana hutang di lunasi, dan bagaimana kebutuhan sehari-hari akan tertutupi, Sari ikhlas menerima, karena ini lah hidup Sari sekarang.


Tidak bisa dibayangkan Sari bahwa, Sari harus ditinggal pergi oleh Juan selama kurang lebih 2 minggu.


Sebelum Juan berangkat ke kota , Juan memberikan sedikit uang belanja kepada Sari, sebagai tanggungjawab Juan sebagai kepala rumah tangga, lagian ada Robert di rumah, biaya hidup pasti bertambah.


Sebenarnya Sari masih menyimpan sedikit uang dari hasil menenun nya, tetapi tidak diberitahukan kepada Juan, biarlah itu sebagai uang jaga-jaga, apabila ada kebutuhan yang suatu waktu terdesak, pikir Sari dalam benaknya.


Hari pertama ditinggal Juan di rumah, Sari bingung mau belanja kemana, Sari pun mencoba memberanikan diri keluar dari rumah untuk membeli sembako. Sari mencoba mengingat arah jalan ketika Sari keluar dari rumah, agar tidak tersesat.


Kalau di kampung, kebutuhan beras dan kebutuhan lauk pauk, masih bisa di dapat dari hasil menangkap di danau, untuk kebutuhan sayur mayur dan buah pisang, terkadang masih bisa dari berkebun.

__ADS_1


Kalau tinggal di kota, lahan untuk menanam tidak tersedia, segala kebutuhan harus dibeli, bahkan untuk tinggal pun harus bayar.


Sari harus pintar-pintar membagi uang. Sesusah susahnya Sari di kampung, Sari merasa lebih susah menjalani hidup ketika sudah menikah.


__ADS_2