
Walaupun kehamilan Sari, kelihatan besar dan sudah mendekati bulannya, Bu Jeni, tetangga Sari menyarankan Sari untuk banyak bergerak, seperti berjalan, tidak usah yang jauh-jauh atau kelamaan, sekitar 15 menit dengan berjalan pelan-pelan saja sudah cukup,
atau menyapu dan mengepel lantai dengan cara jongkok di lantai juga sangat di sarankan, tetapi harus pelan-pelan tidak terburu-buru, dan tidak boleh kelamaan, ini berfungsi, agar saat melahirkan tidak kepayahan dan lancar.
Sari pun melakukan saran dari ibu Jeni rutin setiap hari, terkadang Veni segan dan tidak tega melihat Sari harus mengepel Lantai dan menyapu rumah.
"Sudah lah kak, Veni saja yang mengepel atau menyapu" Veni mengambil alih tugas Sari.
"Ini bukan karena capek lho Veni, ini untuk kepentingan dan kebaikan kakak, agar nanti saat melahirkan tidak kepayahan, agar jalan lahir anaknya gampang keluar, itu maksud dan tujuannya.
Kakak juga melakukannya bukan harus sampai kecapean, kakak melakukan harus dengan santai dan tidak memaksakan diri dan tidak kelamaan" Sari memberi tahu.
Veni hanya bisa menurut, apa yang diperintahkan Sari.
setelah Sari menyelesaikan pekerjaan mengepel lantai dan menyapu, Sari langsung mengajak Veni untuk makan pagi, Veni pun langsung bergerak menyediakan piring, gelas, nasi, lauk pauk dan sayuran. Semua sudah tersaji di meja makan, lalu Sari dan Veni pun segera melahap habis menu sarapan yang disajikan.
Tiba-tiba Sari merasa nyeri pada perutnya.
"Apa ini tanda melahirkan, kak" tany Veni ketakutan, karena Veni harus memanggil bidan yang rumah nya lumayan jauh.
" kakak tidak tahu, Ven. Tunggulah sebentar lagi, apa rasa nyerinya sudah hilang atau masih berlanjut" Sari memberitahu Veni.
Setelah beberapa jam Sari menunggu rasa nyeri itu hilang, dengan terus rebahan di tempat tidur.
Rasa nyeri tidak kunjung hilang juga, malahan Sari makin terasa nyeri di bagian perut, semakin sering dan beraturan.
"Veni, tolong panggilkan bidan Dewi, sepertinya ini adalah tanda-tanda melahirkan kan, karena rasa nyerinya tidak hilang-hilang malah makin sering dan beraturan" teriak Sari kesakitan.
"Baik kak, Veni pergi dulu ya kak, sebentar Veni akan panggil kan ibu Jeni, agar kakak ada yang menemani" Veni memberitahu Sari dan segera berlari tergesa-gesa, sebelum memanggil bidan Dewi, Veni terlebih dahulu menghampiri rumah Bu Jeni, dan sekalian memanggil Bu Jeni untuk menemani kak Sari di rumah, ketika Veni sedang tidak di rumah, memanggil bidan Dewi.
tok... tokk
Veni mengetok rumah Bu Jeni,
__ADS_1
"Ada apa Veni" ucap Bu Jeni bingung.
"Bu, tolong datang ke rumah untuk menemani kak Sari, Veni mau memanggil bidan Dewi, sepertinya ini adalah tanda-tanda kak Sari melahirkan kan, karena sejak tadi pagi setelah sarapan kak Sari merasa nyeri pada perutnya, dan sekarang rasa nyeri itu semakin sering dan beraturan, ibu tolong ke rumah, ya, Veni mau segera memanggil bidan Dewi" ucap Veni memberitahu dengan tergesa-gesa dan panik.
Ibu Jeni pun langsung tersentak mendengar Sari hendak melahirkan, "Baiklah aku segera ke rumah sekarang, kamu segera pergi ke rumah bidan Dewi, suruh bidan cepat datang kemari, bilang kakak mu mau melahirkan" Bu Jeni mengingat kan Veni.
Veni pun segera berlari dengan secepat kilat menuju rumah bidan Dewi, setelah sampai di rumah bidan Dewi Veni berteriak memanggil bidan Dewi.
"Permisi, ada bidan Dewi?" teriak Veni kencang, sambil mengetuk pintu berulangkali dengan suara agak keras, supaya langsung di dengar, maklum ini keadaannya sangat gawat, pikir Veni didalam benaknya.
Untung lah bidan Dewi ada di rumah, bidan Dewi yang membukakan pintu. "Ada apa" tanya bidan Dewi ingin tahu.
"Kak Sari, Bu bidan, sepertinya akan melahirkan, sebenarnya sejak tadi pagi kakak merasa nyeri pada perutnya, tetapi kakak coba menunggu beberapa jam, agar rasa nyeri itu hilang, tetapi tidak kunjung hilang, Bu, kakak bilang malah makin nyeri, semakin sering beraturan" ucap Veni memberitahu bidan Dewi.
"Baiklah kalau begitu, ayo Sama-sama kita ke rumah mu, kamu ikut saja ku bonceng naik sepeda motor" ajak Bu bidan.
Sesampainya di rumah, Sari semakin merintih kesakitan.
"Bagaimana perasaan kamu Sari?" tanya bidan Dewi.
"Jangan di edankan Sari, kalau kamu ada perasaan ingin buang air besar, kamu harus menahan nafas panjang, dan kemudian hembuskan, begitu seterusnya.
Kalau kamu malah mengedan terus, kepala bayi mu akan lonjong, karena keluar masuk, atau kamu akan kehabisan tenaga, bila saatnya nanti tiba melahirkan, kamu tidak sanggup lagi untuk mengedan, jadi kamu harus irit tenaga, kumpulkan tenagamu untuk nanti mengedan bila tiba waktunya" bidan Dewi mengarahkan Sari dan menasihati Sari.
Sari hanya manggut-manggut, tanda mengiyakan pernyataan Bu bidan, tetapi bila hasrat buang air besar keluar, Sari tidak tahan untuk menahan nafas, malah terus mengedankannya.
Veni memegangi terus tangan Sari, dan melap keringat Sari, sebelumnya Bu bidan memeriksa tensi darah kak Sari normal, "tinggal hanya menunggu sebentar lagi, ini sudah buka 8" ucap bidan Dewi setelah memeriksa kondisi Sari.
"Nanti kalau kamu hasrat buang air besarnya semakin besar kasih tahu cepat-cepat ya Sari" bidan Dewi mengarah kan Sari.
Sari hanya bisa mengangguk kan kepalanya, karena untuk berbicara, Sari merasa tidak bertenaga.
Tidak beberapa lama, Sari berteriak "Bu, Sari ingin mengedan" teriak Sari kencang, dan dengan sekuat tenaga Sari mengedan, dan setelah diperiksa bagian ******** Sari, kepala bayinya sudah kelihatan.
__ADS_1
"Benar, kepalanya sudah kelihatan" teriak bidan Dewi.
Bidan Dewi segera mengarahkan Sari untuk mengedan panjang tidak putus-putus, agar bayinya tidak keluar masuk.
"Ayo Sari, lebih panjang lagi" teriak bidan Dewi.
"aaa.....aaaaa" teriak Sari dengan kencang.
oe....oe...
bayinya sudah keluar,
"laki-laki Sari" ucap bidan Dewi tersenyum
"Syukurlah lah" ucap Sari dengan senyum lebar, Sari memang sangat mengharapkan lahir anak laki-laki, karena dulu Sari 5 bersaudara semua perempuan, sampai ayahnya memaksa kawin lagi karena tidak ada penerus nya.
Bu Jeni pun langsung sigap di samping bidan Dewi mana tahu ada segera yang dibutuhkan, Bu Jeni bisa cepat mengambilnya.
Bu Jeni langsung menyediakan air panas untuk mengelap baby-nya dan mengelap segala pendarahan.
Bu bidan sibuk mengurus babinya memutus tali pusar, dan segera mengelap bersih bayinya dan segera membungkus dengan kain lampin,
setelah baby-nya selesai di urus dan sudah tenang.
Giliran Sari yang diurus, mengeluarkan sampai bersih plasentanya dan dirasa sudah bersih Sari langsung diberesi di beri pembalut untuk menahan darah yang keluar dari bagian ********, dan mengikat perut Sari dengan gurita besar, dan segera mengganti baju Sari dengan pakaian bersih.
Sari lega sudah melahirkan anak laki-laki dengan sehat dan selamat, begitu juga Sari sehat dan selamat.
Bidan Dewi pun permisi pamit untuk pulang.
"Selamat ya Sari, sudah lahir anak laki-laki sesuai keinginan kamu, jaga kesehatan, jangan banyak bergerak dulu dan beberes, karena bisa-bisa kamu pendarahan nanti" bidan Dewi menasihati Sari.
"Baik Bu" ucap Sari.
__ADS_1
"Okelah saya pamit pulang dulu ya" bidan Dewi pamit.