
Setelah Vina tinggal serumah dengan Sari, lumayan bagi Sari jadi ada yang menemani,
tetapi pengeluaran untuk biaya makan sehari-hari sedikit bertambah.
Syukur Vina tidak banyak mengeluh walaupun menunya itu-itu saja.
Sekedarnya saja, terkadang hanya ceplok telor, dadar telur 1 butir bagi 2 orang, dan terkadang makan tanpa sayur,
tetapi kalau Juan datang dari luar kota, seperti biasa menunya lengkap harus ada sayur, dan lauk berupa ikan atau daging,
tidak pernah Sari menyajikan telor untuk menu lauk pauk Juan,
Juan berpikir Sari menunya sama seperti yang dimakannya.
Bila Juan datang, Sari tidak pernah bilang kalau uang belanja nya sisa, selalu dibilang cukup.
Juan datang dari luar kota.
"Sari, minggu-minggu ini mungkin Robert akan datang dan akan menetap disini sampai ia lulus SMA" ucap Juan memberi tahu.
"Iya tidak apa-apa, asal Robert bisa terima, apa yang kita makan, itu juga yang Robert makan, tidak mengeluh bila menunya sekedar atau itu-itu saja" ucap Sari, agar Robert tahu kondisi dan keadaan ekonomi Juan.
"Iya aku akan memberi tahu kannya mengenai kondisi ekonomi kita" dukung Juan.
Sebenarnya Sari tidak rela membiayai Robert sekolah, anak saja belum ada, tetapi sudah harus menanggung beban untuk menyekolahkan adik-adik Juan.
Mending uang belanja yang diberikan banyak, malah hanya cukup untuk makan saja, kalau Sari tidak irit menu makan, mungkin uang belanja yang diberikan akan kurang, hanya sisa sedikit saja sebenarnya.
Tetapi menurut Sari, walaupun menabung sedikit, tidak apa-apa, daripada tidak sama sekali.
Sari ikhlas harus menyekolahkan Robert, pikir Sari "Keluarga Juan adalah keluarga nya saat ini, sudah konsekuensi Sari harus menerima kondisi Juan sebagai anak tertua dari empat bersaudara.
Sari sadar, bahwa dirinya pun adalah anak tertua dari 7 bersaudara, sama halnya dengan Juan, Sari juga ingin bertanggung jawab terhadap adik-adiknya.
Sari hanya memegang prinsip, Dengan memberi mudah-mudahan bisa menjadi berkat, sehingga rezeki Juan bisa bertambah-tambah dan terus mengalir. Nasihat itu menjadi penguat dan penyemangat Sari untuk tidak berkeluh-kesah dan senantiasa bersyukur.
*****
__ADS_1
Tok..tok .tok . pintu diketuk, Sari segera bergegas untuk segera membuka pintu. Ternyata Robert datang lebih awal, tidak sesuai dengan yang dikatakan Juan.
"Hai Robert, ternyata kamu, kakak pikir siapa tadi yang datang" tegur Sari memberi salam.
"Iya kak" jawab Robert membalas sapaan Sari.
"Robert, disini tidak ada peraturan yang harus dan wajib kamu lakukan, semua santailah.
Kakak hanya berharap kamu mengerti situasi dan kondisi di rumah ini, apa yang bisa kamu kerjakan, kerjakan tidak harus disuruh-suruh.
Begitu juga mengenai hal makanan, tidak ada menu yang mewah untuk hal makanan, seadanya saja, kamu harus mengerti tentang kondisi dan keadaan ekonomi keluarga kita" ucap Sari memberi pengertian kepada Robert.
"Iya kak" jawab Robert patuh.
Esoknya Robert bangun pagi-pagi sekali, karna memang Robert harus berangkat pergi ke sekolah sebelum pukul 7 pagi.
Sebelum beres-beres untuk mempersiapkan keperluan untuk berangkat ke sekolah, terlebih dahulu Robert menyapu rumah, memasak teh dan memasak nasi, kebetulan kalau ada sisa ikan semalam itu yang menjadi menu sarapan pagi Robert, tetapi bila tidak ada sisa menu kemarin, Robert tinggal ceplok telor saja.
Begitu tiap hari kegiatan Robert sebelum berangkat ke sekolah.
Roberto juga tidak pernah mengeluh mengenai menu makanan yang disajikan,
karena Robert pun sadar telah disekolahkan oleh abangnya Juan, di sekolah swasta, yang membutuhkan biaya sekolah setiap bulannya lumayan besar.
****
Robert lulus dari SMA.
"Sari, Robert sekarang sudah lulus SMA, aku berharap Robert bisa melamar ke polisi, bisakah kamu membantu nya?" Juan ingin minta Tolong ke pada Sari, agar Sari mau berkorban membayar segala keperluan pendaftaran.
Karena Juan melihat Sari mempunyai perhiasan lengkap anting, cincin, gelang dan kalung.
"Apa yang bisa kubantu bang" tanya Sari penasaran.
"Untuk segala keperluan biaya pendaftaran, maukah kamu membayar nya?" tanya Juan.
"Abang kan tahu sendiri, Abang kasih berapa ke Sari, untuk biaya kebutuhan sehari-hari saja kurang, dari mana Sari dapat uang bang!" jawab Sari bingung.
__ADS_1
"Maksud Abang, bolehkah kamu menjual perhiasan mu untuk sementara waktu, nanti kalau ada rezeki nanti Abang ganti" ucap Juan terbata-bata, takut Sari langsung marah dan sakit hati.
Sari diam, sesungguhnya Sari kurang ikhlas hasil kerja kerasnya untuk keperluan biaya Robert,
padahal perhiasan itu dipersiapkan Sari apabila ada kebutuhan mendesak atau bisa dijadikan modal usaha, karena itu adalah hasil kerja keras Sari menenun sebelum kawin dengan Juan.
Juan tahu Sari tidak mau, tetapi Juan terus membujuk Sari agar mau menjual perhiasannya.
"Sari tolonglah!, kiranya kamu mau berkorban untuk Robert, nanti kalau Robert sukses, Robert pasti akan mengganti nya" bujuk Juan terus agar Sari mau menjual perhiasannya.
Lama Sari berpikir dan terus diam tidak menjawab. Juan terus membujuk Sari.
"Tolonglah Sari, apa kamu tidak kasihan kepada Juan, bukankah Robert adalah adik kamu juga?, nanti kalau Juan sudah diterima jadi polisi dan sudah dapat gaji, akan kusuruh untuk mengganti perhiasan mu yang sudah terjual" bujuk Juan kepada Sari.
Sari pun tidak bisa mengelak lagi, kalau Sari ngotot tidak mau menjualnya, pasti Juan akan marah, karena dianggap tidak peduli terhadap Robert.
Kalau nanti misalnya Robert tidak lulus diterima jadi polisi padahal perhiasan sudah terjual, pasti Juan tidak akan bisa mengganti nya,
mengingat Juan memberikan uang belanja saja tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari,
terkadang sebelum Juan datang dari luar kota, atau lebih 14 hari karena tidak ada muatan, Sari pinjam dari tetangga, untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.
Dan setelah Juan datang barulah dibayar, sehingga uang bulanan yang diberikan ke Sari jadi berkurang.
Juan terus membujuk Sari "Tolonglah Sari, kamu mau membantu biaya pendaftaran Robert, ini adalah kesempatan dan peluang besar, tidakkah kamu peduli terhadap adik ku?"
Sari tidak suka Juan berkata seperti itu, "bukan tidak peduli, ini kan hasil kerja keras ku sebelum menikah dengan Juan?", pikir Sari dalam hatinya.
Lama Sari termenung, akhirnya Sari luluh mau menjual perhiasannya.
"Baiklah bang, aku mau menjualnya, kira kira berapa yang akan dibutuhkan", tanya Sari dingin.
"Pendaftaran nya kan bertahap, dan langsung sistim gugur, hanya untuk perdaftaran awal saja, untuk keperluan memenuhi berkas-berkasnya, dan ongkos-ongkosnya saja dulu, untuk selanjutnya nanti kita pikirkan lagi, untuk sementara jual saja dulu cincin kamu" ucap Juan.
"Baiklah bang" ucap Sari pelan, menyetujui perkataan Juan.
Sari mempunyai cincin yang lumayan tebal, seberat 10 gr. pada jaman itu harga se gramnya masih 15.000/gr.
__ADS_1