
Sari dan Sita sama tamat SD nya, ketika ibu Sari Meninggal dunia, Sari mengganggur tidak sekolah selama setahun, karena tidak ada yang menghidupi keluarga, pekerjaan di rumah terbengkalai, kala itu Ita masih baby belum bisa berjalan, dan masih minum susu, Sari miris melihat adik adiknya terlantar, makanya Sari memutuskan untuk tidak bersekolah.
Setahun kemudian Alex menikah dengan Tiur, kemudian Sari kembali kesekolah dan kembali mengulang di kelas 3 SD, sehingga sekelas dengan Sita.
Sari rela biarlah Sita saja yang melanjut ke SMP, Sari yang mencari biaya hidup keluarga. Lagian Sita, agak sedikit tinggi hati, Sita kalau tidak dipaksa kerja tidak mau kerja, tetapi terhadap Sari, Sita tidak berani membantah Sari, karena Sita tahu, Sari yang banyak berkorban untuk keluarga.
Tidak ada keluarga yang mau menawarkan supaya Sita diasuh dan disekolahkan, lain halnya dengan Sari banyak keluarga yang menawarkan, agar Sari mau dijadikan anak angkatnya, tetapi Sari menolak, karena Sari ingin menghidupi dan menyekolahkan adik adiknya.
Kehidupan ekonomi keluarga Sari berangsur angsur semakin membaik, Sari pandai mengelola uang, Sari pandai berhemat, membeli keperluan yang penting penting saja, bahkan Sari menyisihkan sisa uang belanja dengan menabung, dan setelah dirasa cukup Sari kembali membeli kerbau untuk dijadikan investasi, untuk jaga jaga bila suatu waktu ada kebutuhan yang mendadak.
Beda dengan Tiur, Tiur tidak ada pengeluaran untuk keperluan dapur, semua dipenuhi dan dicukupkan Sari. Pemasukan Tiur dari penjualan hasil tangkapan ikan Alex entah dibelikan Tiur apa, bahkan sesekali Sari selalu membeli pakaian anak anak untuk adik tirinya Reni dan Mariot, Reni sudah berusia 2.5tahun, sedangkan Mariot sudah berusia setahun.
Sari telah menganggap Reni dan Mariot sebagai adik kandung Sari. Begitu sebaliknya Reni dan Mariot juga menganggap Sari dan adik adiknya sebagai kakaknya, Reni dan Mariot patuh kepada Sari dan adik adiknya. Karena Sari dan adik adiknya lah yang banyak mengasuh Reni dan Mariot.
****
Alex merasa tidak puas hanya 1 orang saja penerus keturunannya, Alex ingin minimal tambah 1 orang lagi, sesungguhnya Tiur sudah tidak ingin lagi melahirkan, karena trauma asal melahirkan Tiur selalu kesakitan luar biasa, tetapi Tiur tidak berani membantah Alex, bahkan Alex sampai mengancam Tiur, kalau Tiur tidak mau melahirkan sekali lagi, Alex akan menikah untuk yang ketiga kalinya.
"Ma, kita buat lagi lah ya adiknya Mariot", bujuk Alex terhadap Tiur.
"Sudah lah pa, 2 anak kan cukup", pinta Tiur merayu Alex.
"Iya sih, tetapi aku ingin satu lagi anak laki laki", ucap Alex.
"Papa kan tahu, asal aku melahirkan selalu kesusahan, karena sakitnya luar biasa", Tiur berusaha memberi penjelasan kepada Alex.
__ADS_1
"Itu karena kamu jahat kepada Sari dan adik adiknya, makanya kamu harus menganggap Sari dan adik adiknya sebagai anak kandungmu sendiri, karena ibu kandung Sari sepertinya selalu menjaga Sari dan adik adiknya, ibu kandung Sari tidak rela kamu menjahati Sari dan adik adiknya, makanya stop kamu jahat sama Sari dan adik adiknya", nasihat Alex kepada Tiur.
"Elleh, mana ada orang mati bisa menjaga yang masih hidup, itu hanya kebetulan saja, aku memang kesusahan melahirkan, iya memang karena bawaannya seperti itu", bela Tiur tidak mau mengalah.
"Sudahlah, kalau kamu tidak mau melahirkan lagi untuk ku, maka aku akan menikah kembali", ancam Alex kepada Tiur.
Tiur hanya diam saja, Tiur tahu, kalau Alex ada kalanya tidak bisa di bantah, apa yang di Maui Alex, iya memang harus di patuhi.
*****
Ternyata cepat sekali dikabulkan Tiur langsung hamil, kehamilan kali ini, sepertinya Tiur tidak mengalami mual, muntah, dan pusing, bahkan Tiur merasa anteng dan tidak menyangka kalau dia sedang hamil, barulah dia menyadari kalau sedang hamil, karena melihat pembalutnya yang diletakkan disudut ruangan belum terbuka, Tiur sadar bahwa 2 bulan dia tidak memakai pembalut itu, seharusnya pembalut itu sudah habis dalam pemakaian 2 bulan, karena dia ingat pembalut itu dibelinya 2 bulan yang lalu.
*****
"Ibu Tiur sepertinya hamil lagi sekarang!", ucap Sari membuka percakapan mereka.
"Kakak tahu darimana?", tanya Sita penasaran.
"Kemarin aku mendengar pembicaraan ayah dan Ibu Tiur, Ibu Tiur sedang memberi tahu ayah, bahwa dirinya sedang hamil", jelas Sari memberitahu kan kepada adik adiknya.
"Dia sih enak, kita yang kewalahan, karena kita yang selalu direpotin untuk menjaga anak anaknya", canda Sita, sambil raut muka masam.
"Hussh, nanti ayah dengar, bisa kena marah kita", nasehat Sari.
"Kenyataan nya kan benar, selalu kita yang mengasuh anak anaknya, terus Tiur selalu banyak permintaan, pengen makan inilah, pengen makan itulah, pengen dikusuk lah, ada ada saja permintaannya", keluh Sita, sambil memperagakan gaya Tiur ketika menyuruh Sari dan adik adiknya.
__ADS_1
"Sudahlah, kita doakan saja semoga anak yang ketiga ini lahir lagi anak laki laki, paling paling memang ayah yang menyuruh Tiur hamil lagi supaya mendapat kan kembali keturunan laki-laki", ucap Sari dengan tegas kepada adik adiknya.
"Sepenting itukah seorang anak laki laki?", gumam Sita.
"Tentu saja penting, iya supaya ada penerus marganya, supaya silsilahnya berlanjut sampai ke cucu dan cicitnya dan tidak berhenti sampai di ayah, lagian kamu akan disepelekan atau kurang dihormati, ayah tidak bisa menjadi pembicara adat, kalau tidak ada anak laki lakinya, dan parahnya lagi tidak bisa di masukkan kedalam tugu keluarga bila sudah meninggal nanti", ucap Sari panjang lebar.
"iih seram banget, mudah mudahan aku punya banyak keturunan anak laki laki", ucap Vina
"Dan parahnya lagi, suatu hal yang wajar bila istri pertama tidak ada anak laki-laki, suami wajar kawin lagi untuk kedua kalinya, supaya nanti ada keturunan anak laki-laki dari istri ke 2, seperti ayah kita, seandainya pun ibu tidak meninggal dunia, ayah tetap akan menikah lagi untuk yang kedua kalinya", ucap sita sedih.
"Mudah mudahan kita semua, dianugerahkan anak laki laki yang banyak ya", canda Sari sambil membubarkan obrolan mereka.
Dan tidak disangka sangka waktu telah menunjukkan pukul 17.00. waktunya mempersiapkan makan malam, karena terlalu asik berbicara panjang lebar, tidak terasa pekerjaan mereka jadi terbengkalai.
Terdengar suara rengekan Mariot minta makan. "Kakak, lapar", ucap Mariot sambil merengek.
"Oh iya, sebentar ya dek, kakak ambilkan", ucap Siti, sambil menyendok kan nasi ke piring Mariot dan memberikan sepotong lauk dan sayur.
Siti pun membantu Mariot membawakan piring nasinya ke ruang tamu. Sambil mengawasi Mariot makan, Siti membiarkan Mariot makan sendiri, walaupun masih yang belepotan, dan mengawasi Mariot mana tahu tersedak dan segera memberinya minum.
Kebiasaan Mariot makan hanya beberapa sendok saja, namun Siti mencoba membujuk Mariot supaya mau makan lagi dan memang terpaksa harus disuapi, agar perut Mariot tidak kosong.
Walaupun hanya menyuapi makan, terkadang lelah juga, karena Mariot kadang tidak mau makan dan segera meninggalkan makanannya dan lari kemana mana dengan kondisi nasi yang lengket di seluruh pakaian nya, terkadang menyuapinya harus jalan kemari, jalan kesini sesuka Mariot saja, mau tidak mau kita harus menurutinya, sampai seluruh nasi dalam piring nya habis tidak bersisa.
Begitulah kerepotannya, tetapi Tiur tidak pernah bisa menghargai apa yang dilakukan orang, tidak pernah sekali pun menurut Tiur Sari dan adik adiknya benar, selalu saja salah, menyuruh terkadang harus dengan berteriak dan memaki maki.
__ADS_1