
Terima kasih ya masih mau membaca.ππ
hari ini adalah hari terakhir ramadhan otomatis besok hari raya aidil fitri. entahlah dari pagi aathif agak rewel, tapi badannya gak demam, dia juga gak mau di baringkan maunya digendong.
agak siang mamak baru pulang dari pasar, beliau melihatku menggendong aathif "masih rewel?" tanya mamak. aku mengangguk
"coba mamak pijitin ke bu sirah di ujung jalan sana" mamak mencuci tangannya dan mengambil alih. kami pun segera memijitkan aathif.
sore hari pun aathif masih rewel, tidurnya juga gak nyenyak. dia minta gendong terus. sebenarnya aku lelah tapi ku tahan demi buah hatiku.
mamak yang dibantu Sarah dan adiknya memasak di dapur,untuk lebaran besok.kami sudah menganggap Sarah saudara sendiri, seperti saat ini, sarah diajak masak dirumah dan akan diberikan padanya juga.
sesekali mamak melihat aathif yang masih kugendong , "belum anteng? " tanya mamak sambil menyentuh kening aathif. aathif menggeliat seperti menolak sentuhan mamak.
"gak demam" gumam mamak heran.
"coba kamu awal ke bidan tan"
"iya mak." jawabku singkat. aku masuk kekamar mengambil dompet
"mamak antar ya? " kata mamak saat aku keluar kamar,
"gak usah mak, cuma di depan ini aja" tolakku. memang rumah bidan tak jauh, hanya beberapa rumah dari kontrakan,
"mak pergi dulu assalamu'alaikum" pamit ku
untung bidan ada dirumah, setelah diperiksa bidan memberi ku vitamin da sirup pereda nyeri takutnya ada yang dirasakan oleh aathif.
ketika pulang aku menyempatkan mampir mini market di ujung gang, hawa dingin menyeruak ketika aku masuk kedalamnya. kulihat aathif sudah tertidur di gendonganku.
aku menuju ke rak diapers. saat aku mengambil salah satu merk diapers, tiba-tiba aathif menangis, kebetulan dibelakang ku ad seorang lelaki yang melintas, karena aku sibuk menenangkan aathif yang tak mau diam, aku tak sadar menjatuhkan kan Dompetku.
aku keluar dari mini market, aku menuju kursi diujung yang ada di depan mini market, aku menyusui aathif dengan menghadap tembok dan menutupi dengan kain gendong.
aathif sudah mulai tenang walau masih sedikit agak gelisah menurutku. tiba-tiba aku dikejutkan sebuah tangan yang mengulurkan dari belakang, aku melihat Dompetku di tangannya "dompetnya jatuh mbak" suara itu.. . .
__ADS_1
deg
tiba-tiba aku diam membatu aliran darahku seperti berhenti, pelan mataku menyusuri dompet yang ada ditangan seseorang itu. ketika pandangan ku sudah tepat di arah belakangku, sungguh aku benar-benar gemetar,
orang itupun sama sepertiku. pandangan kami beradu beberapa menit. hingga tangisan aathif membuyarkannya.
seketika aku mengambil Dompetku dan segera berdiri.aku segera pergi. langkahku terhenti ketika sebuah cekalan di lenganku menahanku.
kupejamkan mataku menahan sakit dan sesak di dadaku. air mataku pun mengalir begitu saja.
"lepaskan atau aku akan berteriak" aku berusaha melepaskan cekalan itu tanpa melihatnya.
"Tan... "suara itu terdengar lagi dan membuatku sekuat tenaga melepas cekalan itu. aathif pun seolah merasakan hatiku. dia menangis ku rasa mulutnya tak lagi menghisap asi.
dengan cepat aku menutup baju atasku tanpa mengancingnya. dan dengan sekuat tenagaku akhirnya cekalan lelaki itupun terlepas. aku berlalu dengan cepat tanpa memperdulikan panggilannya. dan kurasa dia juga mengejarku.
aku menaiki angkot yang kebetulan berhenti. aku ingin segera pergi, aku harus menghindarinya." mbak, ada yang ngejar tu"kata sopir angkot disebelahku"biar pak. terus aja. agak ngebut ya"jawabku sambil mengusap air mataku.
sopir itupun melajukan angkotnya dengan agak sedikit kencang. ketika dirasa sudah jauh sopir itu memerankan angkotnya lagi
"suaminya ya mbak? " tanya sopir angkot tetap melihat kedepan.
"tapi kok segitunya mengejar"
aku yang sibuk dengan aathif tak menjawab pertanyaan sopir itu. "kiri bang" aku menyerahkan ongkos kemudian turu
"kembaliannya mbak. "sopir itu mengulurkan kembalian
" untuk bapak aja. Terima kasih pak"
tanpa mendengar jawaban aku berlalu menyebrang jalan. karena aku naik angkot yang tak searah dengan kontrakan.
aku menyetop angkot yang melintas dan naik.
di dalam angkot aku menangis pelan sambil memeluk aathif. rasanya hatiku sakit. kenapa aku musti bertemu denganya di sini. semoga aku tak akan bertemu dengannya. harapku dalam hati
__ADS_1
aku berhenti di depan kontrakan, setelah membayar aku masuk kedalam rumah, "assalamu'alaikum" sapaku dan langsung berlalu menuju ke kamarku lalu menutup pintu.
kuletakkan aathif di tempat tidur. untung dia sudah terlelap. akupun duduk dilantai sambil memegang tangan aathif. aku berharap aathif bisa menyalurkan kekuatan padaku, pada hatiku, aku menangis lagi mengingat pertemuan dengan seseorang yang membuatku hancur
aku memang bukan seorang pendendam. tapi aku juga bukan seorang yang mudah melupakan, apalagi dengan luka yang harus aku tanggung seumur hidupku.
aku masih ingat sore setelah aku selesai kerja aku berniat berkunjung dirumah sahabatku yang baru datang dari ibukota. ya dia Sindy sahabatku dari SD sampai SMK.
walau kami tidak tinggal 1 desa tapi kami begitu akrab. Sindy anak juragan beras di desa tetangga. dia tidak sombong, dia mau berteman denganku yang bukan dari orang kaya.
kami biasa mengerjakan tugas sekolah bersama-sama, aku memang tak dekat dengan keluarga nya,tapi dia menganggapku saudaranya sendiri.
Sindy adalah bungsu dari 3 bersaudara. kakaknya yang pertama kerja di ibukota makanya setelah Sindy lulus SMK dia ke ibukota ikut kakaknya dan melanjutkan kuliah di sana.
sedang kakanya yang ke dua ada dirumah. dia adalah anak mama, selalu di manja oleh ibunya. sikapnya juga tak baik. aku pernah sekali bertemu denganya saat mengerjakan tugas dirumah Sindy. orangnya agak tengil, untung saat itu Sindy mengajakku kekamarnya, jadi aku tak melihat tatapan nya yang menututku menakutkan.
sore itu setelah pulang kerja aku menyempatkan diri ke rumah Sindy. aku mengetuk pintu beberapa kali, ketika pintu terbuka aku melihat kakak kedua Sindy. Lukman namanya.
aku merasa ngeri saat dia melihatku dari kepala sampai kaki dengan pandangan yang menakutkan. "maaf Sindy nya ada? " tanyaku. Lukman tersenyum miring padaku. itu membuatku takut.
"dia lagi di kamar, masuklah" Lukman membuka pintu lebar mempersilahkan aku masuk
dengan ragu aku melangkah masuk
"duduklah aku panggilin dulu" dia berlalu masuk kedalam. aku duduk di sofa panjang.
tak lama Lukman datang dengan membawa segelas air putih."minumlah, kata Sindy suruh nunggu dulu, dia lagi mandi."Lukman pun berlalu masuk lagi.
"kok tumben dia memberi minum. dulu dia enggan melihatku, bahkan memandangku sebelah mata" batin ku
20 menit aku menunggu tapi Sindy belum datang. karena aku merasa haus aku meminum air yang di suguhkan untukku.
tak berapa lama tiba-tiba kepalaku merasa pusing. badanku terasa panas, seperti ada sesuatu yang mendorong dari dalam tubuhku. aku seperti menginginkan sesuatu tapi tak tahu apa. yang aku rasa panas menjalar di tubuhku. aku mengibaskan tanganku di depan wajahku berharap kehilangan panas yang aku rasakan.
dari dalam aku lihat Lukman masuk dengan wajah yang menyeringai. "kenapa... "tanyanya masih tetap menatapku.
__ADS_1
" panas. aku pulang dulu ya mas" ketika aku berdiri dan akan pergi tiba-tiba badanku lemas dan aku tak tahu lagi.
jangan lupa like komentar nya ya